<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291</id><updated>2012-01-26T09:13:41.167+07:00</updated><category term='Tempo'/><category term='Alex R. Nainggolan'/><category term='Mustafa Ismail'/><category term='Seno Joko Suyono dkk.'/><category term='Bambang Sigap S.'/><category term='Cecep Syamsul Hari'/><category term='M. Fauzi Bodoh'/><category term='Ilham Khoiri'/><category term='Abdul Rozak Zaidan'/><category term='Hrd/Kompas'/><category term='Oyos Saroso H.N.'/><category term='Eric Sasono'/><category term='Anwar Holid'/><category term='Angela'/><category term='Fhatul A. Husein - Sapardi Djono Damono'/><category term='Agung Dwi Ertato'/><category term='Nirwan Dewanto'/><category term='Ananda Sukarlan'/><category term='M. Taufan'/><category term='Lok/Kompas'/><category term='Ismi Wahid'/><category term='Indra Darmawan'/><category term='Swarasonora'/><category term='Chicha DR'/><category term='Sapardi Djoko Damono'/><category term='G. Budi Subanar SJ'/><category term='Alferd Ginting - Goenawan Mohamad'/><category term='Novita Amelilawaty'/><category term='Jurnal Kalam'/><category term='Nirwan A. Arsuka'/><category term='Bandung Mawardi'/><category term='Hikmat Darmawan'/><category term='Nairiru'/><category term='Aminudin R.W.'/><category term='Jerome Kugan'/><category term='Herman J. Waluyo'/><category term='Mariana Amiruddin'/><category term='Putu Fajar Arcana'/><category term='Karlina Supelli'/><category term='Hasan Aspahani'/><category term='Dami N. Toda'/><category term='Ayu Utami'/><category term='Caray'/><category term='DHF/IAM-Kompas'/><category term='Okke K.S. Zaimar'/><category term='Endah Sulwesi'/><category term='Efri Ritonga/Angela'/><category term='J. Sumardianta'/><category term='F. Rahardi'/><category term='Sita Planasari A.'/><category term='Ignas Kleden'/><category term='Denny Ardiansyah'/><category term='Alia Swastika'/><category term='Hasif Amini'/><category term='Hasan Aspahani - Sapardi Djoko Damono'/><category term='Arie MP Tamba'/><category term='Bambang Sulistyo'/><category term='Dipo Handoko dan Mariana Ariestyawati'/><title type='text'>Jokpiniana</title><subtitle type='html'>Seputar Perpuisian Joko Pinurbo</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jokpin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>74</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-3903977410593137671</id><published>2011-04-05T10:37:00.008+07:00</published><updated>2011-04-14T13:31:35.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agung Dwi Ertato'/><title type='text'>Pacar Senja: Sebuah Biografi Estetika Joko Pinurbo</title><content type='html'>&lt;i&gt;(Pertunjukkan Estetik Joko Pinurbo Hingga Akhir dan Pasca-Orde Baru)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;b&gt;Agung Dwi Ertato&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puisi adalah suara lain.” (Octavio Paz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“These words were created by me with my blood, &lt;br /&gt;with my pains they were created!” (Pablo Neruda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quote Octavio Paz dan Potongan puisi Pablo Neruda mengawali esai saya ini. Ada sesuatu yang menarik di balik quotes tersebut. Pablo Neruda mengajarkan pada kita tentang puisi. Puisi yang dimaksudkan oleh Neruda adalah kumpulan kata-kata yang dibuat melalui darah melalui kepedihan dari pembuatnya. Kepedihan dan darah tersebut terbentuk melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami atau dengan kata lain sebagai pengalaman pribadi dari seorang pengarangnya. Sedangkan Octavio Paz, beranggapan bahwa “Puisi adalah suara lain”. Menurut Paz, “Puisi tidak menyuarakan sejarah atau antisejarah, namun suara yang dalam sejarah senantiasa mengatakan sesuatu yang berbeda.” Lalu bagaimana dengan kondisi sastra atau &lt;br /&gt;perpuisian khususnya di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini juga terjadi di Indonesia. Roman pertama Indonesia yang terbit pada prakemerdekaan, Siti Nurbaya, juga merupakan bagian dari darah Marah Roesli yang ia peroleh dari kehidupan kolonial di Hindia Belanda. Bagaimana dengan perpuisian? Puisi Indonesia Modern dipelopori oleh wacana estetika Chairil Anwar yang menawarkan (menjadikan tawar) perpuisian Indonesia dari pengaruh-pengaruh kesusastraan Melayu dan menggantinya dengan perpuisian yang lebih individualis. Wacana estetika tersebut kemudian diteruskan atau dirombak oleh penyair-penyair sesudahnya seperti Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Taufik Ismail, Danarto, Putu Wijaya, Afrizal Malna, Dorothea, Nenden Lilis, Oka Rusmini, hingga Joko Pinurbo. Namun, sebelum Chairil Anwar, Amir Hamzah juga telah menanamkan embrio dalam perpuisian Indonesia Modern. Embrio tersebut adalah konvensi tentang kesunyian yang dialami oleh penyair seperti yang terdapat pada buku kumpulan puisi Amir Hamzah, Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi. Kesunyian tersebut juga bisa diartikan sebagai darah dari penyair yang ia dapatkan dari perenungan tentang kondisi psikologi eksistensial atau kondisi sosial sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan keadaan sosial masyarakat yang menaungi penulis atau sastrawan. Sastrawan sendiri hidup di antara lingkungan sosial masyarakat. Menurut Sapardi Djoko Damono, “Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri merupakan kenyataan sosial.” ( Damono: 1978). Di Indonesia, sastra memang sangat dipengaruhi dengan kondisi sosial tempat puisi dibuat. Entah itu, sastrawan dalam membuat puisi memilih wacana estetik ‘perenungan akan kesunyian’ maupun ‘melihat kondisi sosial secara langsung’. Kondisi sosial sangat berpengaruh kuat dalam penciptaan karya sastra. Kondisi sosial politik merupakan sangat berpengaruh terhadap karya sastra di Indonesia, terutama ketika hegemoni Orde Baru berkuasa. Banyak sastrawan secara langsung atau tidak langsung menyoroti permasalahan yang disebabkan oleh hegemonik Orde Baru tersebut seperti Taufik Ismail, W.S. Rendra, Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Joko Pinurbo, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam esai ini, saya akan lebih memfokuskan pembicaraan saya pada nama terakhir yang saya sebut di atas yaitu Joko Pinurbo. Ada hal yang unik dari pertunjukkan estetik Joko Pinurbo hingga akhir Orde Baru dan pasca-Orde Baru. Pertunjukkan tersebut tentu saja sangat berkaitan dengan wacana yang sedang menaungi pada awal kepenyairan Joko Pinurbo. Awal kepenyairan Joko Pinurbo sendiri dimulai pada tahun 1979 dengan munculnya puisi Prajurit di Malam Sebelum Perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;PRAJURIT DI MALAM SEBELUM PERANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya akulah abdimu&lt;br /&gt;dari kandung leluhurku aku telah lahir&lt;br /&gt;kubawa namanya dalam berkatmu&lt;br /&gt;di tengah hutan memancar kesegaran mata air yang berlinang&lt;br /&gt;dengan jari-jari perkasa&lt;br /&gt;kauhembuskan napasku&lt;br /&gt;dan kualirkan darah&lt;br /&gt;dalam tubuhku yang mungil&lt;br /&gt;hingga sungai pun tetap mengalir&lt;br /&gt;dan bocah-bocah yang berbaris di tebingnya&lt;br /&gt;bersorak gembira&lt;br /&gt;lalu ingin kupersembahkan padamu:&lt;br /&gt;setetes darah yang amis&lt;br /&gt;sekerat daging yang tawar&lt;br /&gt;sehelai rambut yang rapuh&lt;br /&gt;sepotong tulang yang lapuk&lt;br /&gt;dan sebaris napas yang cair&lt;br /&gt;– korban ini begitu sederhana&lt;br /&gt;...&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;(dikutip dari “Humor yang Polits, Humor yang Tragis” , Bandung Mawardi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat secara seksama puisi tersebut masih terpengaruh oleh wacana estetik puisi lirik yang memang merebak pada masa itu. Sebelum membahas pertunjukkan estetika Joko Pinurbo hingga akhir Orde Baru dan pasca Orde Baru, tentu saja ada baiknya kita kembali membaca perkembangan Sastra Indonesia pada masa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus R. Sarjono pernah menulis esai tentang perkembangan Sastra Indonesia pada masa Orde Baru. Dalam tulisan tersebut Agus R. Sarjono membagi periodisasi menjadi empat yaitu Sastra dan Orde Baru I, Sastra dan Orde Baru II, dan Sastra dan Orde Baru III &amp; IV. Setiap periode tersebut mempunyai ciri-ciri tersendiri. Namun, dari semua periode tersebut, sejak periode Sastra dan Orde Baru II, 1980-an, pemerintahan di Indonesia mulai menunjukkan sikap represif terhadap para penentang pemerintahan termasuk sastrawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia sastra, sikap represif yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru adalah dengan politik bahasa. Pemerintah menggunakan jargon-jargon seperti bebas bertanggung jawab, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan lain-lain. Jargon-jargon tersebut tentu saja menyebabkan penguasa politik lebih hegemonik hingga puncaknya pada peristiwa Mei 1998 sebagai akhir kekuasaan hegemonik Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Bodden menyebutkan pula bahwa, “Pemerintahan Orde Baru melakukan kontrol kebudayaan hingga terbentuk kebudayaan yang sejenis.” Ia juga menambahkan bahwa, “Kontrol tersebut menyebabkan hegemonik dari pemerintahan Orde Baru di bidang Kebudayaan”(Bodden: 1998). Kekuasaan hegemonik memunculkan kaum-kaum postmodern di Indonesia yang ingin menentang kekuasan hegemonik Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo adalah penyair yang tumbuh dan berkembang pada era kekuasaan hegemonik Orde Baru. Seperti yang telah disebutkan di atas, Joko Pinurbo mulai menulis puisi sejak tahun 1979. Pria kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 melakukan metamorfosis estetik kepenyairannya. Metamorfosis tersebut merupakan pertunjukkan estetik yang ditampilkan oleh Joko Pinurbo dalam menentang hegemoni penguasa Orde Baru. Pertunjukkan tersebut terekam dalam buku kumpulan puisi Joko Pinurbo, Pacar Senja (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacar Senja merupakan buku puisi yang berisi puisi-puisi Joko Pinurbo yang tersebar dalam beberapa buku puisi sebelumnya, Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003, dan Kekasihku (2004). Melalui pertunjukkan estetikanya, ia mendapatkan Penghargaan Buku Puisi Pusat Kesenian Jakarta (2000), Hadiah Sastra Lontar (2001), Sih Award (2001), dan Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana metaforsis estetika yang dilakukan Joko Pinurbo hingga berakhirnya hegemoni Orde Baru yang ditandai dengan Reformasi 1998?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Pacar Senja, puisi yang berusia paling tua adalah puisi ‘Layang-layang’ (1980). Di dalam puisi tersebut kita bisa melihat wacana estetik yang digunakan Joko Pinurbo pada awal kepenyairannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;LAYANG-LAYANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pernah kau belikan sebuah layang-layang&lt;br /&gt;pada hari ulang tahun.&lt;br /&gt;Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak&lt;br /&gt;tapi hanya sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab layang-layang itu kemudian hilang,&lt;br /&gt;entah ke mana ia terbang.&lt;br /&gt;Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang&lt;br /&gt;dan kembali ketemu&lt;br /&gt;Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan&lt;br /&gt;selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.&lt;br /&gt;Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan&lt;br /&gt;meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.&lt;br /&gt;Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1980&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, Joko Pinurbo,hal. 133)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi tersebut dibuat Joko Pinurbo pada usia 18 tahun. Tergolong muda sekali, bahkan Chairil Anwar baru mempublikasikan puisinya pada umur 20 tahun. Di usia semuda itu, wacana estetik yang digunakan oleh Joko Pinurbo masih terpengaruh oleh wacana estetik penyair terdahulunya seperti Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono. Aku lirik masih sebagai aku yang individu dan sajak tersebut masih masih berkisar pada permasalahan eksistensi psikologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi puisi lirik juga masih kuat diikuti oleh Joko Pinurbo—memang pada masa itu wacana estetik puisi masih berkisar pada jenis puisi lirik yang dikembangkan oleh Goenawan Muhamad dan Sapardi Joko Damono. Pada tahun 1989, wacana estetik Joko Pinurbo mulai bergeser atau bermetamorfosis melalui puisi ‘Tukang Cukur’ walaupun pada tahun 1990, Joko Pinurbo masih menunjukkan pengaruh estetika puisi lirik seperti pada puisi ‘Hutan Karet’ dan ‘Pohon Bungur’. Puisi ‘Tukang Cukur’ setidaknya menjadi titik awal perubahan orientasi dalam puisi-puisinya pada masa menjelang akhir Orde Baru dan pasca-Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;TUKANG CUKUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuat padang rumput yang subur&lt;br /&gt;Di kepalaku. Ia membabat rasa damai&lt;br /&gt;Yang merimbun sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di bekas hutan ini akan kubangun bandar, &lt;br /&gt;hotel, dan restoran. Tentu juga sekolah, &lt;br /&gt;rumah bordil, dan tempat ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyayat-nyayat kepalaku, &lt;br /&gt;mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu.&lt;br /&gt;Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara guntingnya selalu menggangu tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1989&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi ‘Tukang Cukur’, wacana estetik Joko Pinurbo pelan-pelan bergeser. Ia sudah tidak lagi menggunakan wacana estetik puisi lirik yang dulu ia gunakan pada awal kepenyairannya. Ia mulai menggunakan gaya narasi dalam lirik-lirik puisinya. Menggunakan potongan cerita atau kisah pendek namun tetap menggunakan metafora-metafora yang menimbulkan ironi. Puisi ‘Tukang Cukur’ juga merupakan perlawanan terhadap modernisasi yang dilakukan kuasa Orde Baru. Simbol-simbol modernisasi terlihat pada kata bandar, hotel, restoran, sekolah, rumah bordil, dan tempat ibadah. Kata-kata tersebut merupakan penanda bagi kehidupan kota yang menuju metropolitan. Pada masa Orde Baru pembangunan sangat didengung-dengungkan melalui PELITA (Pembangunan Lima Tahunan). Pembangunan tersebut persis seperti yang digambarkan oleh Joko Pinurbo dalam puisi ‘Tukang Cukur’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi kuasa yang dibangun oleh pemerintah Orde Baru menginginkan Indonesia menuju modern melalui kerja-kerja budaya yang sangat diatur ketat guna menuju Indonesia yang berbudaya tunggal atau penyeragaman budaya. Relasi kuasa itu kemudian ditentang oleh beberapa penyair dan tentu saja Joko Pinurbo salah satunya. Relasi kuasa Orde Baru diciptakan menggunakan bahasa sebagai alat tersebut. Bahasa sengaja dimatikan oleh pemengang kekuasaan dengan pemaknaan seragam. Hal ini menjadi keresahan bagi beberapa penyair karena bahasa merupakan ‘rumah’ bagi puisi. Dampak dari penyeragaman pemaknaan bahasa oleh Orde Baru adalah kesadaran masyarakat Indonesia tentang kesusastraan mulai berkurang. Namun, beberapa penyair, termasuk Joko Pinurbo, menggunakan bahasa untuk melawan balik hegemoni Orde Baru. Pada tahun 1989, Afrizal Malna juga menggunakan bahasa sebagai sarana melawan arus hegemoni Orde Baru.&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Di stasiun, orang-orang berdiri. Mereka saling berdiam di hadapan spiker. Tahu, jam-jam berlalu, tidak membawa siapa pun pergi ke rumah sendiri. Sebuah kota penuh spiker, tahu, tidak perlu mendengar suaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1989&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Spiker di Jendela Kereta”, Afrizal Malna,dalam Arsitektur Hujan, hal. 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afrizal Malna juga mempersoalkan arus modernitas yang dibangun oleh penguasa Orde Baru, sama seperti Joko Pinurbo. Namun, bahasa yang digunakan oleh Afrizal dan Joko Pinurbo berbeda walaupun Joko Pinurbo masih cenderung sedikit menguntit wacana estetik yang dibangun Afrizal Malna. Penggunaan kata-kata yang digunakan Joko Pinurbo masih mencitrakan unsur-unsur gelap seperti menyayat. Unsur-unsur gelap juga terdapat pada klausa-klausanya. Ia menyayat-nyayat kepalaku, aku akan mencukur lentik bulu matamu. Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu. Citraan tersebut merupakan unsur gelap dan bersifat ironi. Bagi mereka yang hidup dan tumbuh dalam kekuasaan hegemonik Orde Baru seperti Joko Pinurbo, tentu saja akan merasakan getirnya pencukuran yang dilakukan oleh Tukang Cukur atau akan merasakan seperti Afrizal Malna, kota-kota yang tidak perlu mendengarkan suaramu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode awal 1990-an hingga mendekati masa keruntuhan kekuasaan hegemoni Orde Baru, wacana estetik yang dilakukan Joko Pinurbo terus berkembang dan menemukan bentuk khasnya. Pada tahun 1990-an, Joko Pinurbo membuat puisi dengan gaya yang berbeda, tidak lagi kembali pada tradisi puisi lirik ataupun terjebak pada kegelapan puisi à la Afrizal Malna. Ia mengembangkan gayanya sendiri berupa gaya humor dengan menggunakan bahasa yang sering kita jumpai sehari-hari seperti celana, ranjang, dan sarung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode itu pula, Orde Baru sedang gencar-gencarnya melakukan represif terhadap penentangnya. Buktinya adalah pembredelan sejumlah media massa seperti Tempo. Joko Pinurbo, dalam sajak ‘Tuhan Datang Malam Ini’, berhasil menangkap peristiwa pemberedelan Tempo. Kritiknya terhadap hegemoni Orde Baru memang tak sekeras W.S. Rendra, namun ironi muncul pada puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;....&lt;br /&gt;Tuhan datang malam ini&lt;br /&gt;di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus&lt;br /&gt;dan celoteh sepi. Ia datang dengan sebuah headline &lt;br /&gt;yang megah: “Telah kubredel ketakutan &lt;br /&gt;dan kegemetaranmu. Kini bisa kaurayakan kesepian &lt;br /&gt;dan kesendirianmu dengan lebih meriah.”&lt;br /&gt;Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai&lt;br /&gt;di atas halaman-halaman yang hilang,&lt;br /&gt;rubrik-rubrik terbengkelai.&lt;br /&gt;....&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Tuhan Datang Malam Ini”, Joko Pinurbo,dalam Pacar Senja, hal. 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora yang dilakukan oleh Joko Pinurbo untuk penguasa Orde Baru adalah Tuhan. Orde Baru pada masa tahun 1990-an memang seperti “Tuhan”. Penguasa dengan mudah membredel media massa yang menentang penguasa Orde Baru. Orde Baru seperti “Tuhan”, mempunyai kekuasaan tak berbatas di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;.....&lt;br /&gt;Dan Tuhan datang malam ini&lt;br /&gt;di gudang gelap, di bawah tanah, yang cuma dihuni&lt;br /&gt;cericit tikus dan celoteh sepi.&lt;br /&gt;Ia datang bersama empat ribu pasukan,&lt;br /&gt;lengkap dengan borgol dan senapan.&lt;br /&gt;Dengar, mereka menggedor-gedor pintu dan berseru:&lt;br /&gt;“Jangan halangi kami. Jangan lari dan sembunyi.&lt;br /&gt;Kami cuma orang-orang kesepian.&lt;br /&gt;Kami ingin bergabung bersama Anda&lt;br /&gt;di sebuah kolom yang teduh, kolom yang rindang.&lt;br /&gt;Kami akan kumpulkan senjata&lt;br /&gt;dan menyusunnya jadi sebuah komposisi kebimbangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, mereka sangat ketakutan.&lt;br /&gt;Antarkan mereka ke sebuah rubrik yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1997&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Tuhan Datang Malam Ini”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang dimetaforkan oleh Joko Pinurbo sebagai penguasa Orde Baru adalah orang-orang yang kesepian dan orang-orang yang mengumpulkan senjata dan menyusunnya jadi komposisi kebimbangan. Gambaran represif penguasa Orde Baru terlihat pada metafor Tuhan. Penguasa memang sering melakukan tindakan represif dengan senjata dan menciptakan ‘kedamaian’ yang dipaksakan tetapi sebenarnya adalah sebuah komposisi kebimbangan. Ironi, baru dimunculkan pada bait terakhir. Bait terakhir dicetak dengan huruf miring. Hal ini merupakan bagian yang coba ditekankan oleh Joko Pinurbo bahwa orang-orang yang ditekan oleh sikap represif penguasa Orde Baru ternyata masih memohonkan “doa” kepada Tuhan (yang sebenarnya) untuk penguasa Orde Baru agar mereka “sadar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa puisi Joko Pinurbo lainnya seperti “Celana 1”, “Celana 2”, “Celana 3”, “Boneka 1”, “Boneka 2”, dan “Boneka 3” tetap menggunakan gaya humor tapi masih disisipi permasalahan sosial. Ia tetap menyisipi kritik sosial yang terjadi pada masa hegemoni Orde Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;...&lt;br /&gt;Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih&lt;br /&gt;yang menunggunya di pojok kuburan.&lt;br /&gt;Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perempuan itu lebih tertarik&lt;br /&gt;pada yang bertengger di dalam celana.&lt;br /&gt;Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!”&lt;br /&gt;...&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Celana 3”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Joko Pinurbo melakukan kritik terhadap pengaruh asing dalam pemerintahan Orde Baru. Pengaruh asing tersebut disimbolkan pada Ini asli buatan Amerika. Amerika Serikat berpengaruh besar terhadap Indonesia terbukti dengan adanya Freeport di Indonesia bahkan hingga sekarang. Pengaruh tersebut juga terjadi di bidang ekonomi hingga menyebabkan krisis ekonomi pada tahun 1997-1998. Kritik tersebut terbungkus melalui bahasa humor –melalui percakapan sehari-hari. Puisi “Celana 3” memang tidak menggunakan bahasa puitik. Kekuatan puisinya adalah bahasa humor yang sederhana. Hal ini merupakan bagian dari metamorfosis wacana estetik yang diusung Joko Pinurbo dalam puisi-puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi “Boneka 1”, Joko Pinurbo kembali menampilkan kritik terhadap kehidupan bernegara di Indonesia. Ia tetap mengusung wacana estetiknya yaitu narasi humor melalui percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;BONEKA, 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terusir dan terlunta-lunta &lt;br /&gt;di negerinya sendiri,&lt;br /&gt;pelarian itu akhirnya diterima &lt;br /&gt;oleh sebuah keluarga boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami keluarga besar yang berasal &lt;br /&gt;dari berbagai suku bangsa.&lt;br /&gt;Kami telah menciptakan adat istiadat &lt;br /&gt;menurut cara kami masing-masing, &lt;br /&gt;hidup damai dan merdeka&lt;br /&gt;tanpa menghiraukan lagi asal-usul kami.&lt;br /&gt;Anda sendiri, Tuan, datang dari negeri mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya datang dari negeri yang pemimpin &lt;br /&gt;dan rakyatnya telah menyerupai boneka. &lt;br /&gt;Saya tidak betah lagi tinggal di sana &lt;br /&gt;karena saya ingin tetap menjadi manusia.”&lt;br /&gt;...&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Boneka 1”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengibaratkan pemerintah Orde Baru sebagai boneka. Boneka merupakan simbol mainan. Hal ini berarti bahwa pemerintah Orde Baru merupakan mainan asing terutama Amerika. Simbol lain dari boneka adalah sebagai benda mati. Pemimpin bangsa dan rakyat di Indonesia sudah menjadi benda mati, tidak lagi menjadi manusia yang mempunyai hati dan perasaan—manusia yang memanusiakan manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 1998 merupakan akhir dari hegemoni Orde Baru di Indonesia. Berakhirnya hegemoni Orde Baru berawal dari krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada medio akhir 1997 dan menyebabkan kerusuhan Mei 1998. Dalam buku Kerusuhan Mei: 1998 Fakta, Data, dan Analisa menyebutkan bahwa, “Kerusuhan Mei 1998 disebabkan oleh krisis ekonomi dan IMF memiliki peran penting dalam menciptakan krisis moneter yang meluas menjadi krisis ekonomi.” Program-program yang ditawarkan IMF lebih bersifat politis ketimbang ekonomis. Pemerintah Orde Baru juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak internasional. Akibatnya adalah harga-harga barang melambung dan menyebabkan kerusuhan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi negara yang carut-marut menggerakkan mahasiswa untuk berunjuk rasa menuntut reformasi di Indonesia. Puncak unjuk rasa tersebut adalah tertembaknya mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Pada tanggal 13 Mei 1998 hingga 15 Mei 1998 kerusuhan mulai menyebar di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kerusuhan berubah menjadi kerusuhan rasial terbukti dengan pembakaran pertokoan yang mayoritas didiami oleh etnis Tionghoa. Bulan Mei 1998 kemudian menjadi bulan mencekam bagi sejarah Indonesia. Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur dari jabatan presiden. Peristiwa tersebut kemudian disebut sebagai Reformasi Mei 1998 dan sebagai akhir dari hegemoni Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penyair kemudian menulis tentang Reformasi Mei 1998, seperti Taufik Ismail, W.S. Rendra, Agus R. Sarjono, Sitok Srengenge, Hamid Jabbar, Ikranegara, Danarto, Slamet Sukirnanto, Soni Farid Maulana, dan Iyut Fitria. Puisi karya nama-nama tersebut dimuat dalam majalah Horison bulan Juni 1998. Bahkan, penyair yang sering menulis tentang kegelisahan eksistensial ikut pula menulis puisi yang menggambarkan Reformasi Mei 1998. Wacana estetik pada periode ini berubah menjadi wacana estetik kontekstual karena sebagian besar sastrawan menulis tentang peristiwa Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo, dalam buku puisi Pacar Senja, juga mengikuti wacana estetik di akhir hegemoni Orde Baru. Peristiwa Mei 1998 disebut Agus R. Sarjono sebagai peristiwa terdahsyat di penghujung abad 20, sehingga tidak ada alasan lain untuk tidak menulis peristiwa tersebut kecuali alasan kemanusiaan dan kritik sosial terhadap kondisi tersebut. Perasaan carut marut Joko Pinurbo terhadap peristiwa tersebut terdapat pada puisi “Patroli”, “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, dan “Mei”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buah puisi Joko Pinurbo, “Patroli” dan “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, menggambarkan kondisi aksi unjuk rasa pada Mei 1998. Pada puisi “Patroli”, Joko Pinurbo tetap menggunakan wacana estetiknya, dengan gaya narasi humor penuh ironi. Puisi tersebut merupakan potongan cerita seperti yang terdapat pada puisi-puisi lain Joko Pinurbo namun perbedaannya dalam puisi “Patroli” lebih jelas kontekstualnya yaitu Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;PATROLI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iring-iringan panser mondar-mandir &lt;br /&gt;di jalur-jalur rawan di seantero sajakku.&lt;br /&gt;Di sebuah sudut yang agak gelap komandan &lt;br /&gt;melihat kelebat seorang demonstran&lt;br /&gt;yang gerak-geriknya dianggap mencurigakan.&lt;br /&gt;Pasukan disiagakan dan diperintahkan &lt;br /&gt;untuk memblokir setiap jalan. &lt;br /&gt;Semua mendadak panik. Kata-kata kocar-kacir&lt;br /&gt;dan tiarap seketika. Komandan berteriak, &lt;br /&gt;“Kalian sembunyikan di mana penyair kurus&lt;br /&gt;yang tubuhnya seperti jerangkong itu?&lt;br /&gt;Pena yang baru diasahnya sangat tajam &lt;br /&gt;dan berbahaya.”Seorang peronda &lt;br /&gt;memberanikan diri angkat bicara,&lt;br /&gt;“Dia sakit perut, Komandan, lantas terbirit-birit&lt;br /&gt;ke dalam kakus. Mungkin dia lagi bikin aksi &lt;br /&gt;di sana.” “Sialan!” umpat komandan geram sekali, &lt;br /&gt;lalu memerintahkan pasukan melanjutkan patroli. &lt;br /&gt;Di huruf terakhir sajakku si jerangkong itu &lt;br /&gt;tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil&lt;br /&gt;menepuk-nepuk perutnya. “Lega,” katanya.&lt;br /&gt;Maka kata-kata yang tadi gemetaran &lt;br /&gt;serempak bersorak dan merapatkan diri&lt;br /&gt;ke posisi semula. Di kejauhan terdengar letusan, &lt;br /&gt;api sedang melahap&lt;br /&gt;dan menghanguskan mayat-mayat korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1998)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi tersebut, sikap represif militer terhadap demonstran digambarkan melalui gaya narasi. Komandan, panser, patroli merupakan simbol militer sedangkan simbol demonstran digambarkan oleh kata-kata. Peristiwa Mei 1998 memang seperti yang digambarkan oleh Joko Pinurbo. Militer membubarkan para demonstran menggunakan panser dan menembaki demonstran tersebut hingga menimbulkan korban jiwa bagi demonstran. Humor yang muncul pada puisi tersebut terdapat pada bagian “Si jerangkong tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil menepuk-nepuk perutnya.” Si jerangkong kurus tersebut sampai harus bersembunyi di dalam kakus—tempat yang berkonotasi jorok—hanya untuk mengelabui militer yang represif terhadapnya. Hal itulah yang terjadi pada masa hegemoni Orde Baru hingga berakhirnya masa tersebut, para aktivis, yang disimbolkan melalui si Jerangkong, harus bersembunyi untuk menghindari sikap represif (sikap represif tersebut biasanya dengan cara penculikan) dari penguasa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, Joko Pinurbo lebih menggunakan ironi. Joko Pinurbo menggambarkan kerusuhan Mei 1998 seperti peristiwa penyaliban Yesus di bukit Golgota. Sebelum penyaliban, Yesus di arak menuju Golgota melewati via dolorosa. Via dolorosa kemudian penuh dengan darah Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;MINGGU PAGI DI SEBUAH PUISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah&lt;br /&gt;ketika hari masih remang dan hujan, hujan&lt;br /&gt;yang gundah sepanjang malam&lt;br /&gt;menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi&lt;br /&gt;berbasah-basah ke sebuah ziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara&lt;br /&gt;di sepanjang via dolorosa.&lt;br /&gt;Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.&lt;br /&gt;Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)&lt;br /&gt;berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.&lt;br /&gt;...&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja, hal. 114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kerusuhan Mei 1998, banyak korban berjatuhan di beberapa sudut kota Jakarta. Pembakaran terjadi di pertokoan-pertokoan Tionghoa. Darah-darah banyak tersebar di jalan-jalan kota Jakarta. Jakarta seperti via dolorosa yang banyak bercak-bercak darah. Bahkan pada kerusuhan tersebut langit kehilangan warna dan jejak kehilangan suara hanya untuk berduka pada kerusuhan tersebut. Simbol-simbol tersebut merupakan ironi yang diungkapkan oleh Joko Pinurbo untuk menggambarkan kerusuhan Mei 1998 melalui puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi “Mei” tidak ada lagi humor yang biasanya menjadi ciri khas puisi Joko Pinurbo. Joko Pinurbo kembali pada gaya liris yang penuh ironi. Puisi “Mei” sendiri di tulis pada tahun 2000, pasca-Orde Baru. Hal ini menunjukkan bahwa kerusuhan Mei 1998 sangat membekas dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;MEI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: Jakarta, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhmu yang cantik, Mei&lt;br /&gt;telah kaupersembahkan kepada api.&lt;br /&gt;Kau pamit mandi sore itu.&lt;br /&gt;Kau mandi api.&lt;br /&gt;Api sangat mencintaimu, Mei.&lt;br /&gt;Api mengucup tubuhmu&lt;br /&gt;sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.&lt;br /&gt;Api sangat mencintai tubuhmu&lt;br /&gt;sampai dilumatnya yang cuma warna&lt;br /&gt;yang cuma kulit yang cuma ilusi.&lt;br /&gt;Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei&lt;br /&gt;adalah juga tubuh kami.&lt;br /&gt;Api ingin membersihkan tubuh maya&lt;br /&gt;dan tubuh dusta kami dengan membakar habis&lt;br /&gt;tubuhmu yang cantik, Mei&lt;br /&gt;Kau sudah selesai mandi, Mei.&lt;br /&gt;Kau sudah mandi api.&lt;br /&gt;Api telah mengungkapkan rahasia cintanya&lt;br /&gt;ketika tubuhmu hancur&lt;br /&gt;dan lebur dengan tubuh bumi;&lt;br /&gt;ketika tak ada lagi yang mempertanyakan&lt;br /&gt;nama dan warna kulitmu, Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Mei”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca puisi “Mei” Joko Pinurbo mengingatkan saya pada puisi Sapardi Djoko Damono “Ayat-ayat Api” terutama fragmen pertama. Ada kesamaan kelirisan dari kedua sajak tersebut. &lt;br /&gt;&lt;small&gt;...&lt;br /&gt;mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan&lt;br /&gt;...&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Ayat-ayat Api”, Sapardi Joko Damono, dalam Ayat-ayat api, hal. 115)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua puisi tersebut sama-sama menangkap kerusuhan Mei 1998 dan mempunyai kemiripan lirisnya. Apa yang menyebabkan Joko Pinurbo menanggalkan sejenak wacana estetiknya berupa humor yang biasa ia gunakan dalam beberapa puisinya? Tentu saja, peristiwa kerusuhan Mei 1998 itu sendiri yang begitu pilu dan menyedihkan sampai-sampai Joko Pinurbo kembali pada wacana estetik tradisi puisi lirik, kembali pada aku lirik yang mengalami perenungan. Mei disimbolkan sebagai perempuan cantik yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat seksama diksi yang dipilih Joko Pinurbo sebagai judul puisinya, maka kita akan mendapatkan nama Tionghoa. Mei adalah nama perempuan Tionghoa yang berarti cantik. Kerusuhan Mei 1998 menjadi kerusuhan rasial. Banyak korban etnis Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan. Mei merupakan simbol korban Tionghoa yang dibakar tanpa tahu apa kesalahannya—tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascakeruntuhan hegemoni Orde Baru, wacana estetik Joko Pinurbo berubah sedikt demi sedikit. Beberapa puisinya ada yang berupa aforisma-aforisma pendek (pada puisi “Kepada Puisi”, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;KEPADA PUISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah mata, aku airmatamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi “Kepada Puisi”, Joko Pinurbo melakukan percobaan-percobaan estetik. Tidak lagi berupa narasi panjang maupun narasi humor. Joko Pinurbo mempertunjukkan kerja kreatifnya dengan kata-kata yang padat dan hanya menggunakan satu larik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa puisinya juga ada yang berbentuk puisi sentimentil (pada puisi “Pacar Senja”, 2003). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;PACAR SENJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. &lt;br /&gt;Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja&lt;br /&gt;mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk, &lt;br /&gt;setengah saja, pacar senja tersipu-sipu. &lt;br /&gt;“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta seperti penyair berdarah dingin &lt;br /&gt;yang pandai menorehkan luka. &lt;br /&gt;Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. &lt;br /&gt;Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu &lt;br /&gt;melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja&lt;br /&gt;yang masih megap-megap oleh ciuman senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat &lt;br /&gt;kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium &lt;br /&gt;menjadi bekas. Betapa curangnya rindu. &lt;br /&gt;Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. &lt;br /&gt;Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak &lt;br /&gt;dalam gemuruh ombak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal .45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak sentimental puisi tersebut adalah pada pemilihan tema yang digarap oleh Joko Pinurbo. Jarang sekali Joko Pinurbo menampilkan tema-tema percintaan. Pada periode pasca-Orde Baru, Joko Pinurbo mencoba memainkan tema percintaan. Yang menjadi unik, Puisi “Pacar Senja” tidak tenggelam pada arus romantik seperti penyair setelah Sapardi Djoko Damono, namun masih saja menimbulkan ironi. Ironi tersebut terdapat pada bait keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lagi masih terdapat wacana estetik yang orisinil dan khas yaitu narasi humor tragisnya (pada puisi “Celana Ibu”, 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;CELANA IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria sangat sedih menyaksikan anaknya&lt;br /&gt;mati di kayu salib tanpa celana&lt;br /&gt;dan hanya berbalutkan sobekan jubah&lt;br /&gt;yang berlumuran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit&lt;br /&gt;dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang&lt;br /&gt;ke kubur anaknya itu, membawakan celana&lt;br /&gt;yang dijahitnya sendiri dan meminta&lt;br /&gt;Yesus untuk mencobanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paskah?” tanya Maria.&lt;br /&gt;“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan celana cinta buatan ibunya,&lt;br /&gt;Yesus naik ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi tersebut, Joko masih menjaga eksistensi wacana estetik khasnya. Kekuatan puisi tersebut tidak pada diksi yang puitik namun pada alur narasi yang dibangun oleh tokoh-tokoh dalam sajak. Tokoh-tokoh tersebut menimbulkan ironi. Peristiwa paskah yang tragis masih bisa kita tertawakan. Kata paskah menjadi ambigu ketika dikaitkan dengan kata pas. Itulah kekuatan ironi yang dikembangkan dalam puisi-puisi Joko Pinurbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan wacana estetik merupakan kewajaran karena penyair pasti mengalami dinamika dalam pencapaian estetiknya sejalan dengan pengalaman hidupnya bersinggungan dengan dunia nyata, dunia yang penuh dinamika sosial.&lt;br /&gt;Yang menjadi unik, biografi estetika Joko Pinurbo diberi nama Pacar Senja yang diambil dari puisi sentimentilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;...&lt;br /&gt;Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. &lt;br /&gt;Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Cinta seperti penyair berdarah dingin &lt;br /&gt;yang pandai menorehkan luka. &lt;br /&gt;Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. &lt;br /&gt;...&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Pacar Senja”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukkan estetik Joko Pinurbo hingga 2004, seperti sebuah tragic comedy, berisi humor-humor yang tragis. Pacar Senja merupakan sebuah pertunjukkan estetik Joko Pinurbo yang terus bersinggungan dengan lingkungan sosialnya dari masa Orde Baru hingga pascaruntuhnya hegemoni Orde Baru. Pertunjukkan estetiknya seperti Pacar Senja yang sentimentil dan tak ada matinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodden, Michael. 2004. “Satuan-satuan Kecil dan Improvisasi Tak Nyaman Menjelang Akhir Orde Baru” dalam Keith Foulcher dan Tony Day (ed.), Clearing a Space. Jakarta: Yayasan Obor dan KITLV.&lt;br /&gt;Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;____________________. 2000. Ayat-ayat Api. Jakarta: Pustaka Firdaus.&lt;br /&gt;Jusuf, Ester Indahyani, dkk. 2007. Kerusuhan Mei 1998: Fakta, Data, dan Analisa. Jakarta: SNB dan APHI.&lt;br /&gt;Kleden, Ignas. 2004. “Membaca Kiasan Badan: Kumpulan Sajak Joko Pinurbo” dalam Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Freedom Institute.&lt;br /&gt;Malna, Afrizal. 1995. Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Bentang.&lt;br /&gt;Mawardi, Bandung. 2010. “Humor yang Politis, Humor yang Tragis” dalam Zen Hae (ed.), Dari Zaman Citra Ke Metafiksi: Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ. Jakarta: KPG.&lt;br /&gt;Paz, Octavio. 2002. Puisi dan Esai Terpilih terjemahan Arif. B. Prasetyo. Yogyakarta: Bentang.&lt;br /&gt;Pinurbo, Joko. 2005. Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;Redaksi Horison, Tim (ed.). 1998. “Puisi-puisi Reformasi” dalam majalah Horison, XXXII/6/1998.&lt;br /&gt;Sarjono, Agus R. 1998. “Sastra Indonesia dalam Empat Orde Baru” dalam Majalah Horison, XXXII/7-8/1998.&lt;br /&gt;Utami, Ayu. 2005. “Joko Pinurbo: Mengapa Kematian, Penyairku” dalam Joko Pinurbo, Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;b&gt;http://agungdwiertato.blogspot.com/&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-3903977410593137671?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/3903977410593137671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/3903977410593137671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2011/04/pacar-senja-sebuah-biografi-estetika.html' title='Pacar Senja: Sebuah Biografi Estetika &lt;br/&gt;Joko Pinurbo'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-839066911777320456</id><published>2011-01-10T23:59:00.003+07:00</published><updated>2011-01-11T14:32:29.026+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agung Dwi Ertato'/><title type='text'>Tragedi Pada Minggu Pagi</title><content type='html'>Oleh &lt;b&gt;Agung Dwi Ertato&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;MINGGU PAGI DI SEBUAH PUISI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah&lt;br /&gt;ketika hari masih remang dan hujan, hujan&lt;br /&gt;yang gundah sepanjang malam&lt;br /&gt;menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi&lt;br /&gt;berbasah-basah ke sebuah ziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara&lt;br /&gt;di sepanjang via dolorosa.&lt;br /&gt;Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.&lt;br /&gt;Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)&lt;br /&gt;berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu hendak ke mana?” Perempuan muda itu menyapa.&lt;br /&gt;“Aku akan cari dia di Golgota, yang artinya:&lt;br /&gt;tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu&lt;br /&gt;sambil menunjukkan potret anaknya.&lt;br /&gt;“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:&lt;br /&gt;surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa.&lt;br /&gt;Lalu katanya, “Ia telah menciumku &lt;br /&gt;sebelum diseret ke ruang eksekusi. &lt;br /&gt;Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata &lt;br /&gt;telah menjarah perempuan lemah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya&lt;br /&gt;pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;&lt;br /&gt;pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk;&lt;br /&gt;pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah&lt;br /&gt;ketika hari mulai terang, kata-kata &lt;br /&gt;telah pulang dari makam, &lt;br /&gt;iring-iringan demonstran makin panjang, &lt;br /&gt;para serdadu berebutan kain kafan, dan dua perempuan&lt;br /&gt;mengucapkan salam: Siapa masih berani menemani Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, 1998)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;/1/&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sajak-sajak Joko Pinurbo (Jokpin), kita akan dihadapkan pada retorika yang bersifat humor namun menampilkan tragedi. Dalam proses kreatif Jokpin, ia sempat mengalami ketegangan antara puisi lirik dan puisi naratif. Jika membicarakan puisi lirik, tidak akan terlepas pada nama-nama seperti Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono. Pada awal tahun 1970, perkembangan puisi lirik di Indonesia sangat pesat. Joko Pinurbo sendiri pernah mengaku bahwa dalam menulis puisi dia sangat terpengaruh pada Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, dan Sapardi Djoko Damono (Koran Tempo, Minggu, 3 Juni 2007). Jokpin kemudian mencapai pada penemuan estetikanya yaitu mentransformasikan aku lirik ke pengucapan epik dengan penguatan kisah dari sifat lirik murni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi di sekitar penyair kemudian ditangkap oleh penyair dan diubahnya menjadi sajak yang lebih humor namun menyimpan kepedihan yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang&lt;br /&gt;bertengger di dalam celana. Ia sewot juga.&lt;br /&gt;“buka dan buang celanamu!”&lt;br /&gt;Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang&lt;br /&gt;gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan burung&lt;br /&gt;yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana.&lt;br /&gt;(Celana, 3: 1996)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi tentang peristiwa tahun 1998 juga tidak luput dari kacamata Joko Pinurbo. Ada beberapa puisi yang sangat berkaitan dengan tragedi tahun 1998. Dalam puisi-puisi tersebut, Joko Pinurbo kembali menampilkan gaya yang khas—humor— namun kali ini Joko Pinurbo lebih banyak menampilkan unsur tragedi seperti yang ada pada sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;/2/&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kita ketahui, pada tahun 1998, Indonesia mengalami gejolak politik. Gejolak politik kemudian disebut Reformasi 1998. Reformasi 1998 menghasilkan perubahan politik yang cukup signifikan. Namun, perubahan dalam proses perubahan tersebut terjadi berbagai masalah yaitu masalah demonstrasi (penembakan mahasiswa), penjarahan, dan masalah etnis (etnis tionghoa banyak menjadi korban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1998, banyak penyair yang menyoroti permasalahan tersebut. Beberapa di antaranya adalah Acep Zamzam Noor, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, dll. Puisi-puisi yang dihasilkan oleh penyair tersebut sangat gamblang dan transparan dalam menyampaikan kemarahan terhadap tragedi 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;(3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada seorang perempuan &lt;br /&gt;diam saja berdiri &lt;br /&gt;di dekat tukang rokok &lt;br /&gt;di seberang jalan raya itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada satpam memperhatikannya &lt;br /&gt;dari ujung gang itu &lt;br /&gt;ada polisi sekilas melihatnya &lt;br /&gt;dari dekat gardu telepon itu &lt;br /&gt;ada anak tetangga sebelah &lt;br /&gt;menyapanya &lt;br /&gt;ada guru sd &lt;br /&gt;yang masih mengenalnya &lt;br /&gt;menepuk bahunya &lt;br /&gt;ada neneknya di rumah &lt;br /&gt;yang sudah suka lupa —&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada suaminya ada anak-anaknya &lt;br /&gt;(yang &lt;br /&gt;mungkin &lt;br /&gt;saja &lt;br /&gt;sedang &lt;br /&gt;memikirkannya &lt;br /&gt;juga) &lt;br /&gt;yang kini &lt;br /&gt;(tentunya &lt;br /&gt;mungkin &lt;br /&gt;moga-moga &lt;br /&gt;saja &lt;br /&gt;tidak!)&lt;br /&gt;berada dalam sebuah toko besar &lt;br /&gt;(atau &lt;br /&gt;tidak &lt;br /&gt;lagi &lt;br /&gt;bisa) &lt;br /&gt;yang sedang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Fragmen ketiga dari Ayat-ayat Api, Sapardi Djoko Damono, 2000)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kutipan sajak di atas, Sapardi dengan gamblang menggambarkan peristiwa 1998 dengan jelas dan kontekstual. Kebiasaan Sapardi dalam menulis puisi adalah ia jarang menulis puisi secara kontekstual pada peristiwa-peristiwa besar. Berbeda dengan Sapardi, Joko Pinurbo menangkap peristiwa 1998 menggunakan metafor-metafor yang mengaburkan peristiwa tersebut jika dibaca sepintas. Pada sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi, Joko Pinurbo menggunakan menggunakan analogi peristiwa 1998 dengan peristiwa paskah yang dialami oleh Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah&lt;br /&gt;ketika hari masih remang dan hujan, hujan&lt;br /&gt;yang gundah sepanjang malam&lt;br /&gt;menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi&lt;br /&gt;berbasah-basah ke sebuah ziarah.&lt;/small&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paskah menjadi suatu kisah yang pedih dan sendu pada hari Minggu pagi yang seharusnya diisi oleh suatu kebahagian.  Minggu pagi identik dengan hari libur yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk melepas kelelahan setelah bekerja selama seminggu. Kebahagiaan hari Minggu kemudian dirusak oleh berita pagi yang memberikan berita tentang tragedi. Tragedi tersebut kemudian dikuatkan dengan suasana hari yang masih remang disertai hujan yang gundah sepanjang malam. Ziarah menambah kengerian hari Minggu. Ziarah menandakan suatu perjalanan menuju kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditampilkan dalam bait pertama tidak lain adalah penggambaran suasana. Kata Paskah, remang, hujan, pergi, basah, dan ziarah memberikan efek suasana yang melankolia. Kata Paskah memberikan suasana yang mencekam. Paskah  dalam ajaran Kristiani adalah peristiwa Yesus disalib. Sebelum penyaliban, Yesus disiksa hingga berdarah-darah, hingga ia sangat tersiksa tak bisa lagi mengatakan sesuatu hal hingga pada akhirnya ia disalib di bukit Golgota. Dari kata Paskah saja gambaran tentang tragedi sudah tergambar penuh luka dan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait kedua sampai kelima kisah Paskah dijabarkan. Isian tragedi Pada Minggu Pagi kemudain berawal dari bait dua. Kengerian tragedi lebih ditampilkan. Darah-darah berceceran sepanjang jalan. Tidak ada suara sepanjang jalan. Yang tersisa adalah &lt;i&gt;langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara&lt;br /&gt;di sepanjang via dolorosa.&lt;br /&gt;Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.&lt;br /&gt;Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)&lt;br /&gt;berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah menandai keadaan yang penuh luka, penuh rasa perih dan pedih. Penderitaan yang terjadi menyebabkan suasana yang sunyi sehingga jalan kecil tak dilewati kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;“Ibu hendak ke mana?” Perempuan muda itu menyapa.&lt;br /&gt;“Aku akan cari dia di Golgota, yang artinya:&lt;br /&gt;tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu&lt;br /&gt;sambil menunjukkan potret anaknya.&lt;br /&gt;“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:&lt;br /&gt;surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa.&lt;br /&gt;Lalu katanya, “Ia telah menciumku &lt;br /&gt;sebelum diseret ke ruang eksekusi. &lt;br /&gt;Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata &lt;br /&gt;telah menjarah perempuan lemah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya&lt;br /&gt;pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;&lt;br /&gt;pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk;&lt;br /&gt;pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait ketiga sampai kelima, penyair menampilkan gaya naratif. Gaya tersebut menggunakan dialog-dialog yang sering digunakan pada karya sastra jenis prosa. Gaya tersebut menimbulkan efek yang tersirat melalui percakapan. Metafor-metafor menyelinap di antara percakapan antara dua perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait ketiga dan keempat, kata penculikan, perusuh, terperkosa, eksekusi, senjata, menjarah, perempuan, dan lemah merupakan penanda bagi keadaan kota yang chaos. Keadaan kota yang sangat berantakan. Kota yang tidak mempunyai norma dan bahkan agama telah menjarah perempuan lemah. Golgota menjadi anologi Jakarta yang merupakan tempat penculikan dan surga para perusuh.Golgota merupakan tempat penyaliban Yesus. Tempat tersebut merupakan tempat kejam. Kepedihan yang dialami Yesus terjadi di Golgota. Bisa dikatakan bahwa Golgota merupakan tempat yang kejam. Lalu bagaimana dengan Jakarta? Jakarta tidak ubahnya seperti Golgota. Jika Golgota adalah tempat penyiksaan Yesus, Jakarta lebih parah lagi. Jakarta menjadi surga para perusuh. Ini berarti bahwa Jakarta adalah tempat tindak kejahatan bermukim. Hal tersebut menjadikan Jakarta menjadi kota yang kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan kelamin dimunculkan pada bait kelima. Vagina secara harfiah mempunyai arti alat kelamin perempuan. Dalam sajak tersebut Vagina mempunyai makna kuburan. Kuburan yang sangat gelap dan sunyi-senyap. Kuburan tempat jasad yang penuh luka bermukim. Pada akhirnya kematian sangat identik dengan tragedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Paskah yang terdapat pada puisi tiba-tiba lagi muncul ketika hari mulai terang. Serombongan demonstran dihadang oleh para serdadu. Keadaan chaos akan terulang lagi dan tidak lagi terjadi pada sebuah puisi. Keadaan tersebut merupakan tragedi pada minggu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;/3/&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan makna-makna dari tanda-tanda yang terdapat pada sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi, kita akan mengkaitkan dengan peristiwa yang terjadi atau konteks sosial masyarakat pada tahun sajak tersebut dibuat. Sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi dibuat oleh Joko Pinurbo pada tahun 1998. Seperti yang kita ketahui bahwa pada tahun 1998, Indonesia mengalami keadaan yang chaos. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Jakarta menjadi tempat yang sunyi dan mencekam. Penjarahan, pembakaran, dan pemerkosaan terjadi di kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita-berita tentang kerusuhan Jakarta setiap hari menjadi headline di media massa maupun media elektronik. Bahkan, pada hari Minggu yang seharusnya diisi oleh berita ringan, diisi oleh berita tentang tragedi kerusuhan. Minggu yang seharusnya menjadi hari melepaskan kepenatan menjadi hari penuh kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo berhasil menangkap tragedi tersebut ke dalam sajaknya. Metafor-metafor yang digunakan berbeda dari penyair-penyair lain dalam menangkap peristiwa tersebut. Jika Sapardi menangkap peristiwa tersebut ke dalam metafor api, Joko Pinurbo menangkap peristiwa tersebut ke dalam metafor Paskah, via dolorosa, golgota, dan vagina. Kesemua metafor tersebut tetap menggambarkan tragedi yang sangat menyayat, tragis, kelam, dan sendu seperti tragedi pada tahun 1998. Tragedi Paskah yang terjadi pada sajak Joko Pinurbo dikisahkan pada Minggu Pagi di Sebuah Puisi sedangkan tragedi Mei 1998 dikisahkan pada media massa maupun media elektronik setiap hari pada bulan dan tahun tersebut bahkan pada Minggu pagi sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;/4/&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo sebagai penyair mempunyai ciri khas. Ia mampu mengolah bahasa, menampilkan, menerjemahkan peristiwa-peristiwa di sekitarnya menggunakan metafor-metafor yang tak lazim digunakan penyair-penyair lainnya. Ia mampu menangkap tragedi Mei 1998 sebagai Paskah bagi Indonesia—tragedi pada hari Minggu. Sapardi Djoko Damono menyebutkan bahwa Joko Pinurbo dengan teknik surealis berusaha memberikan tanggapan terhadap berbagai masalah sosial dan konflik batin manusia.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber Acuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Damono, Sapardi Djoko. 1999. “Burung dalam Celana” dalam Joko Pinurbo Celana. Magelang: Indonesia Tera.&lt;br /&gt;________. 2000. Ayat-ayat Api. Jakarta: Pustaka Firdaus.&lt;br /&gt;Pinurbo, Joko. 1999. Celana. Magelang: Indonesia Tera.&lt;br /&gt;________.  2005. Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.&lt;br /&gt;Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;________. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;Utami, Ayu. 2005. “Joko Pinurbo: Mengapa Kematian, Penyairku?” dalam Joko Pinurbo Pacar Senja. Jakarta: Grasindo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber&lt;/b&gt;: http://agungdwiertato.blogspot.com, Sabtu, 03 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-839066911777320456?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/839066911777320456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/839066911777320456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2011/01/tragedi-pada-minggu-pagi_10.html' title='Tragedi Pada Minggu Pagi'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-6595145691376229482</id><published>2011-01-10T23:50:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T00:00:13.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M. Fauzi Bodoh'/><title type='text'>Perempuan-perempuan Jokpin:  Tubuh, Luka, dan Kuasa</title><content type='html'>Oleh &lt;b&gt;M. Fauzi Bodoh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Tak ada yang benar-benar mengenalinya&lt;br /&gt;selain angin yang masih menyebutnya perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, “Penyanyi yang Pulang Dinihari”, 1991/2007)&lt;/small&gt;               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1/ mukjizat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM sejarah manusia, perempuan memiliki mukjizat yang datang dari bumi, bukan dari langit: dari tulang-belulang yang dibungkus daging, dari anggitan buas kekuasaan manusia, dari luka yang menggairahkan tragedi, di atas bumi makhluk manusia. Mukjizat ini tidak menjadikan perempuan nabi atau rasul, tapi sering menjadi aktor sekaligus korban tragedi dalam sejarah peradaban manusia. Inilah yang menjadikan perempuan menjadi mukjizat dalam arti yang sebaliknya: menggugah tapi digugat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukjizat perempuan itu terus-menerus menemani perjalanan manusia, khususnya perempuan, dalam mengalami tubuh, mengalami ingatan, mengalami pergolakan, mengalami kekuasaan, mengalami waktu: mengalami sejarah manusia. Sejarah itu perempuan: selalu bertumpu pada tubuh dalam luka, yang hendak dikuasai dan menguasai manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sastrawan-penyair, sepertinya, adalah yang selalu mendapatkan wahyu untuk menuliskannya. Atau, paling tidak, orang yang selalu beredekatan, bersinggungan, dan bersitegang dengan perempuan-perempuan zamannya. Lalu, mewartakan kepada segenap manusia. Sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul, seperti yang dialami Musa di tanah gunung Sinai, seperti yang dialami Muhammad di gua Hira, dan bahkan seperti seperti manusia-manusia yang beberapa saat yang lalu menyebut diri nabi-nabi: selalu dirundung protes, penentangan, pertikaian, peperangan, pengabaian, pengucilan, pengebirian, dan sebagainya, tapi hampir selalu menggairahkan: membentuk spektrum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektrum mukjizat perempuan yang datang dari bumi itu selalu menggairahkan sastrawan-penyair untuk mewarnai karya-karya mereka. Ada yang datang membawa ketakjuban; ada yang datang membawa pentungan agama; ada yang membawa kerajaan dan negara; ada yang datang membawa simbolisme; ada yang datang membawa gairah; ada juga yang membawa tawa yang tragis penuh luka; juga ada yang membawa protes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saat ini dan di Indonesia, berdasarkan pengalamanan dan pengetahuanku yang ceroboh dan bodoh, wahyu kenabian itu datang kepada Joko Pinurbo (Jokpin). Hampir sepertiga puisi-puisi Jokpin mengenai perempuan, terutama sebagai tokohnya, yang terhimpun dalam Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2007.  Jokpin datang membawa nubuwat, kisah, luka, gairah, kenaifan, melankoli, protes, pengakuan, kesadaran, dan sebagainya, yang diwartakan-disampaikan dalam bait-bait tubuh perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2/tubuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI Jokpin, sepertinya tidak ada kitab suci yang pantas untuk diwartakan selain kitab tubuh. Dan tubuh, sebagaimana terwahyukan dari bumi, adalah perempuan, manusia yang paling intens mengalami bertubuh. Perempuan adalah tubuh; tubuh adalah perempuan, demikian wahyu bumi mengatakan kepada kita melalui Jokpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh perempuan, dalam puisi-puisi Jokpin, menjadi kisah, tema, pokok, dan sekaligus, meminjam istilah Ignas Kleden, “tubuh sebagai suatu alat ucap”. Tubuh perempuan menjadi serangkaian huruf, yang membentuk kata dan kalimat, untuk menggapai isi dan makna. Pada akhirnya, membentuk kitab tubuh perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah dan apakah tubuh dalam kitab tubuh Jokpin? Aku tidak bisa menjawab dengan pasti. Tanya saja pada penyairnya sendiri jika Anda ingin jawaban pasti. Tapi aku menduga, sekali lagi menduga, Jokpin memang mengisahkan kitab tubuh perempuan sebagai “penjara/makam jiwa” seperti dikatakan Platon, bahwa ada dualisme tubuh-jiwa, yang membedakan antara yang materi dan ide, dan yang memposisikan nilai tubuh lebih rendah di bawah ide. Namun, lebih jauh, Jokpin lebih pas kalau dikatakan mengikuti pemikiran Aristoteles, muridnya Platon, yang menolak dualisme Platon tersebut. Aristoteles menggambarkan ketakterpisahan antara tubuh dan jiwa (ide) seperti lilin dan bentuknya lilin (Synnott: 2002, 14-15). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, Jokpin sepertinya lebih banyak menggambarkan dan bergolak tentang lilin itu sendiri. Ya, tubuh perempuan sebagai lilin yang bisa membakar diri sendiri, menerangi orang lain, pemicu kebakaran, dan selalu bermasalah. Tubuh lilin: metafor, pokok, dan makna. Dengan cara ini, Jokpin bebas memainkan tubuh dalam puisi-puisinya dengan elegan, estetis, tragis, melankolis, dan terkadang naif yang menantang. Dan dengan cara itu, Jokpin memasuki tubuh tidak hanya sebagai “bait Roh Kudus” seperti yang dikatakan Santo Paulus (dalam puisi Jokpin tubuh bahkan bisa tidak kudus), tapi juga memasuki wilayah eksistensialisme tubuh seperti yang dikatakan Jean Paul Sartre, “Tubuh adalah saya…Saya adalah tubuh” (Synnott: 2002, 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA beberapa perempuan yang laik dicatat dalam esai aneh dan jelek ini. Yang pertama adalah perempuan yang sudah termaktub dalam sejarah masa lalu: Kartini dan Maria Magdalena. Yang kedua adalah perempuan-perempuan kontemporer di sudut-sudut perkotaan seperti para penyanyi kelas bawah, PSK, dan sebagainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang termasuk dalam kategori yang pertama bisa kita lihatlah pada puisi Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem. Puisi ini dengan baik menangkap kegelisan, harapan, dan keputusasaan RA Kartini. Juga mampu menangkap suasana zaman dengan pernik-perniknya seperti kereta api, sawah-sawah, perempuan-perempuan tangguh, kebaya, batik, pabrik-pabrik gula, dan perahu layer. Tapi, dalam puisi ini, Jokpin tidak begitu intens menggunakan kepiawaiannya mengolah tubuh baik sebagai metafor, pokok masalah, atau alat ucap. Bisa dibilang, Jokpin gagal kalau kita mengaitkan dengan keintimanan dan kepiawaian Jokpin menggunakan tubuh perempuan. Padahal, kita tahu, kisah kasus RA Kartini sangat erat kaitannya dengan status dan identitas keperempuanan (femininitas) RA Kartini yang terkait dengan tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, penggambaran tubuh, pergolakan, dan pemberontakan perempuan bisa kita baca dalam Minggu Pagi di Sebuah Puisi. Puisi ini menggambarkan permasalahan seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang dan Maria Magdalena: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;“Ibu hendak kemana?” Perempuan muda itu menyapa.&lt;br /&gt;“Aku akan mencari dia di Golgota, yang artinya:&lt;br /&gt;tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu&lt;br /&gt;sambil menunjuk potret anaknya.&lt;br /&gt;“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:&lt;br /&gt;surga  para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa. &lt;br /&gt;Lalu katanya: “Ia telah menciumku sebelum diseret&lt;br /&gt;ke ruang eksekusi. Padahal Ia cuma bersaksi&lt;br /&gt;bahwa agama dan senjata telah menjarah&lt;br /&gt;perempuan lemah ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya&lt;br /&gt;pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;&lt;br /&gt;pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk; &lt;br /&gt;pada liang luka, pada ceruk yang remuk.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, “Minggun Pagi di Sebuah Puisi”, 1998/2007)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi ini, yang profan dan sakral, yang kudus dan yang kotor, yang lemah dan yang kuat, memiliki eksistensinya sendiri dalam persentuhan dengan bagian-bagian tubuh: bibir, jari, dan vagina. Kedua perempuan itu sama-sama kehilangan; yang satu kehilangan anaknya yang pernah bertemu dengan Magdalena; Magdalena kehilangan eksistensinya yang telah dijarah oleh agama dan senjata. Jopkpin menggunakan tokoh-tokoh sejarah dengan membuat puisi-cerita yang memukau, padat, dan penuh protes kalau tidak mau mengatakan mendekonstruksi pemahaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, saya tidak begitu banyak tahu tentang Magdalena. Yang aku tahu dia, konon, adalah seorang pelacur. Ada juga yang mengatakan bahwa dia termasuk santo perempuan pada zaman dahulu ketika perempuan masih memiliki kekuasaan dalam gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, pada akhir puisi ini, Jokpin memberikan gebrakan pertanyaan mistis-filosofis, bukan sekadar salam, “dan dua perempuan/mengucapkan salam: Siapa masih berani menemani Tuhan?” Ada pemberontakan dan gugatan dalam puisi ini. Penutup puisi ini menggugat dan memprotes dengan sopan dan satiris. Perempuan dan agama dalam puisi Jokpin, sangat kental dengan aroma pemberontakan dan perlawanan terhadap pemahaman yang selama ini menghinggapi benak masyarakat. Selain itu, penggambaran bagian-bagian tubuh perempuan yang dianggap tabu untuk diucapkan malah digambarkan dengan muram, sedih, dan tragis, tapi tidak pornografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah perempuan-perempuan Jokpin kontemporer. Eksistensi tubuh perempuan menjadi tema reflektif yang memukau dalam puisi Di Salon Kecantikan. Pergolakan, pertentangan, keinginanan, hasrat muda, penundaan kekalahan, dan gugatan dalam tanya-tanya filosofis, masuk ke dalam kehidupan perempuan melalui tarikan tubuh yang termanifestasikan dalam konsep kecantikan. Kecantikan merasuki kehidupan perempuan untuk dibawa ke alam cemas, gundah, gelisah, was-was, dan kesadaran yang kalah dan tak berarti lagi di hadapan hasrat cantik. Eksistensi tubuh perempuan seakan mau tidak mau harus ditautkan dengan kecantikan: konsep yang terus-menerus berubah oleh kehendak zaman dan kepastian usia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bisa kita baca pada penggalan puisi Di Salon Kecantikan: “Mata, kau bukan lagi bulan binal/yang menyimpan birahi dan misteri”//”Rambut, kau bukan lagi padang rumput/yang dikagumi para pemburu.”// “Dada, kau bukan lagi pengunungan indah/yang dijelajahi para pendaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sudah banyak yang membahas dan menulis tentang kecantikan. Tapi yang menulis puisi seintens, sedalam, dan sefilosofis Jokpin dengan menggunakan tubuh, aku belum menemukan bahkan dari para pemikir feminis. Apalagi yang menggunakan tubuh sebagai tema pokok dan alat pengucapan, aku belum pernah membacanya. Saat membacanya, aku bertanya-tanya: apakah Jokpin seorang perempuan? Apakah Jokpin sedang berada di salon berhari-hari untuk mengamati gejolak hati seorang perempuan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam Di Salon Kecantikan kita membaca kecemasan yang tak terelakan, kita tidak menemukan kecemasan serupa dalam Gambar Porno di Tembok Kota. Kita dihadapkan pada perempuan tegar menghadapi kegetiran hidup yang termanifestasikan dalam tubuh-tubuh penuh luka. Bahkan, perempuan dalam puisi ini tampak cuek dengan permasalahan yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Gambar Porno di Tembok Kota (juga dalam Perempuan Jakarta, Di Sebuah Vagina, dan Perempuan Senja, dan Mei, meski tidak begitu intens penggunaan tubuhnya)  kita dihadapkan pada bagian-bagian tubuh perempuan dalam suasana muram penderitaan yang disimpan. Tubuh perempuan ditempatkan dan digambarkan dalam situasi-kondisi paradoks, antara kegairahan pesona tubuh dengan penderitaan. Tubuh, dalam puisi ini, menjadi alat ucap yang estetis tragis yang tersimpan dalam tubuh perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Tubuhnya kuyup diguyur hujan.&lt;br /&gt;Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam. &lt;br /&gt;Tapi enak saja ia nongkrong, mengangkang&lt;br /&gt;seperti ingin memamerkan kecantikan: &lt;br /&gt;wajah ranum yang merahasiakan derita dunia;&lt;br /&gt;leher langsat yang  menyimpan beribu jeritan;&lt;br /&gt;dada montok yang mengentalkan darah dan nanah;&lt;br /&gt;dan lubang sunyi, di bawah pusar,&lt;br /&gt;yang dirimbuni semak berduri.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi malam cepat habis juga ya. Apa boleh buat, &lt;br /&gt;mesti kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar&lt;br /&gt;di puncak risau. Maaf, aku tidak punya banyak waktu&lt;br /&gt;buat bercinta. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara&lt;br /&gt;di papan-papan iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang&lt;br /&gt;dari Amerika cuma untuk jadi penghibur&lt;br /&gt;di negeri orang-orang kesepian?”                                                                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, gadisku.”&lt;br /&gt;“Peduli amat, penyairku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, “Gambar Porno di Tembok Kota”, 1996/2007)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jokpin mengembangkan konsep metafor tubuh menjadi alam semesta pada Kisah Semalam. Kita seakan dihadapakan dengan tubuh perempuan selaiknya kita berhadapan dengan alam. Tapi, kalau nuansa naturalisme bisa membuat kita merasa teduh, damai, dan tentram, kita malah dihadapkan pada tubuh dengan nuansa yang mengerikan, seperti saat kita menonton film 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Dan suntuklah ia bekerja, membangun kembali keindahan&lt;br /&gt;yang dikira bakal cepat sirna:&lt;br /&gt;kota tua yang porak poranda pada wajah&lt;br /&gt;yang mulai kumal dan kusam;&lt;br /&gt;langit kusut pada mata yang memancarkan&lt;br /&gt;cahaya redup kunang-kunang;&lt;br /&gt;hutan pinus yang meranggas pada rambut&lt;br /&gt;yang mulai pudar hitamnya;&lt;br /&gt;pada rumput kering pada ketiak&lt;br /&gt;yang kacau baunya;&lt;br /&gt;bukit-bukit keriput pada payudara yang sedang&lt;br /&gt;susut kenyalnya;&lt;br /&gt;pegunungan tandus pada pingul dan pantat&lt;br /&gt;yang mulai lunglai goyangnya;&lt;br /&gt;dan lembah duka yang menganga antara perut&lt;br /&gt;dan paha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, “Kisah Semalam”, 1996/2007)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan-perempuan Jokpin berhadapan dengan kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Kehidupan mereka tetap sama dan diceritakan dalam bait-bait tubuh penuh luka. Mereka berhadapan dengan budaya massa yang memperdayai tubuh-tubuh mereka. ”Memang tampak cantik ia/ dengan celana merah menyala// senja berduyun-duyun/mengejar petangmengejar malam// Pada sebuah billboard masih juga ia bertahan/dengan airmata yang disembunyikan//. Perempuan-perempuan Jokpin tak ubahnya hiasan moral yang di tembok-tembok kota. Mereka menjadi ornamen kota.Mereka menghadirkan kemeriahan penuh luka. ”Kota akan kehilangan dia bila ia tidak lagi di sana,” kata Jokpin pada penutup puisi Perempuan Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh perempuan, dalam puisi-puisi Jokpin, bukan hanya kulit-daging dan tulang belulang, yang dirangkai dari bagian-bagiannya. Tubuh perempuan membentuk semacam spektrum warna kelabu, yang membawa aroma tragis-puitis. Spektrum warna itu membentang dari atas kepala sampai dengan organ-organ intim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3/luka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI pembacaan saya terhadap puisi-puisi Jokpin, bisa disimpulkan bahwa perempuan-perempuan Jokpin merupakan  cerita-puisi yang kelam, penuh dengan luka di sekujur tubuhnya. Organ-organ tubuh perempuan terluka sayatan kekuasaan terutama pada bagian-bagian tubuh yang perlu atau harus menarik, bergairah, menawan, menggiurkan, dan penuh kontroversi seperti rambut, mata, bibir, wajah, buah dada, pinggul, vagina dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan tidak menemukan satu perempuan pun dengan sedikit suka-cita, bahagia, tanpa derita dalam kehidupan puisi-puisi Jokpin. Jika pun ada, itu adalah perempuan yang hendak mengelak dengan cara cuek dan mengekspresikan kelukaannya dengan kebahagiaan yang perih. Perempuan-perempuan Jokpin adalah perempuan luka pada sekujur tubuhnya tanpa ampun. Perempuan Jokpin adalah perempuan yang berada dalam kondisi ″dukamu abadi″. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4/kuasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA yang membubuhkan luka pada sekujur tubuh perempuan, penyairku? Siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi tubuh perempuan dalam puisi-puisi Jokpin selalu bersinggungan dengan berbagai kekuatan eksternal tubuh itu sendiri. Di sini, Jokpin memasuki daerah kekuasaan, apapun itu, dengan membawa tubuh  perempuan untuk bercerita, menjadinya tema, pokok  masalah, dan terkadang menantang pemahaman dan perlakuan kejam terhadap tubuh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan kisah, tema, pokok, dan alat ucap tubuh Jokpin adalah perempuan (luka). Kesadaran tubuh perempuan Jokpin ini memang tidak lepas dari pergolakan tubuh (perempuan) dalam sejarah manusia. Tubuh perempuan selalu menjadi masalah, pergolakan, permainan, pelecehan, pelarangan, perebutan, dan sebagainya atas nama kuasa-kuasa pemikiran filosofis, wahyu-wahyu agama, kerajaan-pemerintah, norma-norma tradisional, dan bahkan korporasi yang sekarang banyak menemani kehidupan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh bagi Jokpin adalah “mayat//yang saya pinjam//dari seorang korban tak dikenal// dan tergeletak di pinggir jalan” (“Tubuh Pinjaman” 1999/2007). Puisi ini memang agak aneh jika menempatkan tubuh sebagai korban yang tidak dikenal. Padahal, kalau kita membaca puisi-puisi Jokpin, kita akan melihat dengan jelas, korban itu adalah tubuh perempuan. Tubuh perempuan adalah korban, yang sudah menjadi mayat yang dipinjam. Dengan kata lain, tubuh yang tidak bisa lagi dikuasai oleh penggunanya, perempuan. Sekadar pemakai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, anehnya, akan selalu ada “petugas yang menanyakan status,//ideologi, agama, dan terutama harta kekayaan//.” Petugas itu bisa keluarga, negara, agamawan, politikus, media massa, atau bahkan pacar dan teman kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh memang, adakah tubuh berstatus, berideologi, beragama? Pada bagian mana tubuh itu beragama dan berideologi? Bagaimana tulang-belulang dengan segumplan daging dengan aneka warna dan coraknya bisa memiliki semua itu? Bukankah status, ideologi, dan agama, merupakan sebentuk non-materi, bagaimana cara memungkinkan semua itu melekat pada tubuh yang materi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;“Sudah kurambah seluruh//  kilometer tubuhmu&lt;br /&gt;sampai ke gua-guanya yang paling dalam&lt;br /&gt;dan tebing-tebingnya yang paling curam&lt;br /&gt;dan hanya labirin yang kutemukan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, “Perburuan”, 1999/2007)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat secara kronologis, petikan dua larik puisi ini mewakili puisi-puisi Jokpin yang paling terbaru sedangkan yang menggambarkan pergolakan tubuh perempuan kebanyakan ditulis pada tahun 1991 sampai tahun 1999. Itu artinya dalam permenungan Jokpin tentang tubuh perempuan ternyata hanya menemukan labirin. Jokpin mendapati jawaban jalan tak ada ujung tentang kuasa terhadap tubuh perempaun. Labirin, menurut pengamatanku terhadap puisi-puisi Jokpin, mengandaikan perjalanan derita dan luka yang tidak pernah selesai. Sepanjang perempuan memiliki tubuh, sepanjang itu pula, sepertinya, jalan tak ada ujung yang harus ditempuh dalam derita dan luka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan selalu ada kuasa pada tubuh-tubuh perempuan. Dan tubuh itu, memang, satu-satunya yang bisa didera, dipenjara, dibuat derita, dan dikuasai. Dalam puisi Jokpin, itu tidak sepenuhnya terpenuhi, bahkan setelah orang-orang menyerukan revolusi dan revolusi beberapa kali melanda dunia. Perempuan-perempuan Jokpin masih berada dalam kondisi setengah bebas dan setengah menderita. “Tinggallah airmata yang menetes pelan/ ke dalam segelas bir yang menempel pada dada/ yang setengah terbuka, setengah merdeka.”// (Joko Pinurbo, “Perempuan Pulang Pagi”, 1997/2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, beruntunglah, Jokpin mulai mengurangi penulisan puisi tentang perempuan pada tahun-tahun belakangan, sejak tahun 2000-an. Aku berharap, tubuh-tubuh perempuan Jokpin mulai sembuh. Sehingga mereka bisa menjadi perempuan tanpa luka-derita, sehingga penggalan puisi ini tidak akan pernah kita temukan lagi: "Tak ada yang benar-benar mengenalinya / selain angin yang masih menyebutnya perempuan"//. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di &lt;i&gt;Litera&lt;/i&gt; edisi Juli-September 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, 13 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;M. Fauzi&lt;/b&gt;, yang lahir di Madura, masih berstatus mahasiswa sastra Inggris UNS, tapi hampir tidak pernah membaca buku sastra apalagi yang berbahasa Inggris, dan tidak mengambil kajian sastra atau linguistik. Dia mengambil Kajian Amerika (American Studies). Lebih suka menulis catatan tentang dirinya dan teman-temannya. Tulisan esai ini sekadar kecelakaan. Email: fauzi_sukri@yahoo.co.id &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber&lt;/b&gt;: www.balesastrakecapisolo.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-6595145691376229482?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6595145691376229482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6595145691376229482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2011/01/perempuan-perempuan-jokpin-tubuh-luka.html' title='Perempuan-perempuan Jokpin:  &lt;br/&gt;Tubuh, Luka, dan Kuasa'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4746640312456097671</id><published>2011-01-10T23:27:00.000+07:00</published><updated>2011-01-10T23:27:38.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nairiru'/><title type='text'>Pergeseran Tradisi Lirik Menuju Bentuk Naratif</title><content type='html'>Joko Pinurbo adalah salah satu sastrawan yang cukup diperhatikan di dalam kesusastraan Indonesia, khususnya genre puisi. Jokpin (Joko Pinurbo) menawarkan hal baru dalam konvensi puisi. Ia berusaha untuk menggeser keberadaan kekuatan lirik dalam puisi. Ada beberapa hal yang mendasarinya untuk meninggalkan lirik dalam puisi-puisinya. (?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal karirnya menulis puisi, puisi-puisi Jokpin juga masih dipengaruhi oleh tradisi lirik. Namun, setelah lama begelut dalam perpuisian Indonesia, ia mulai mencoba untuk sedikit menggeser tradisi lirik tersebut menjadi bentuk naratif. Pada dasarnya, Jokpin juga tidak menampik adanya kekuatan lirik di dalam puisi karena lirik merupakan suatu pola ekspresi dengan kebeningan suasana, keindahan bunyi, dan kejernihan perasaan. Akan tetapi bagi Jokpin tradisi lirik tersebut haruslah diolah kembali agar tidak terlalu lugu. Pengolahan ini ditunjukkan oleh Jokpin dengan gaya humor dalam puisi-puisinya. Gaya inilah yang menjadikan puisi tidak terkesan lugu. Ada semacam belokan ketika puisi itu dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk naratif yang digunakan dalam puisi-puisi Jokpin menjadikan puisi tersebut mudah dinikmati oleh orang dalam berbagai kalangan. Sehingga puisi-puisi Jokpin pun dapat dikatakan sebagai cerita mini. Jokpin menggabungkan bentuk lirik dan naratif dalam puisi-puisinya. Hal inilah salah satu faktor yang menjadikan puisi-puisi Jokpin menarik untuk dibaca. Sebut saja salah satu puisinya yang berjudul Kredo Celana. Puisi tersebut masih menggunakan tradisi lirik dengan jeda-jeda dan ditulis dengan bait-bait. Akan tetapi setelah dibaca, akan terasa bahwa terdapat kekuatan naratif di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Kredo Celana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus yang seksi dan baik hati,&lt;br /&gt;kutemukan celana jeans-mu yang koyang&lt;br /&gt;disebuah pasar loak.&lt;br /&gt;Dengan uang yang tersisa dalam dompetku&lt;br /&gt;kusambar ia jadi milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada noda darah pada dengkulnya.&lt;br /&gt;Dan aku ingat sabdamu:&lt;br /&gt;“Siapa berani mengenakan celanaku&lt;br /&gt;akan mencecap getir darahku.”&lt;br /&gt;Mencecap darahmu? Siapa takut!&lt;br /&gt;Sudah sering aku berdarah,&lt;br /&gt;walau darahku tak segarang darahmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa gerangan telah melego celanamu?&lt;br /&gt;Pencuri yang kelaparan,&lt;br /&gt;pak guru yang dihajar hutang,&lt;br /&gt;atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?&lt;br /&gt;Entahlah. Yang pasti celanamu&lt;br /&gt;pernah dipakai bermacam-macam orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus yang seksi dan murah hati,&lt;br /&gt;Malam ini aku akan baca puisi&lt;br /&gt;Di sebuah gedung pertunjukan&lt;br /&gt;Dan akan kupakai celanamu&lt;br /&gt;Yang sudah agak pudar warnanya.&lt;br /&gt;Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2007)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan kutipan puisi di atas, dapat dilihat bahwa pola dalam puisi Jokpin masih berbentuk puisi lirik. Akan tetapi, Jokpin tidak lagi mengutamakan ekspresi perasaan, emosi personal, dan kualitas musikal, seperti yang ada pada puisi-puisi lirik pada umumnya. Ia justru memasukkan bentuk naratif dalam penceritaan puisinya. Bagi Jokpin sendiri, persoalannya bukan pilihan untuk meninggalkan lirik akibat dominasinya dalam puisi. Melainkan untuk mengatasi kurangnya dialog pada lirik. Serta mengembangkannya dengan diksi-diksi yang belum dituliskan oleh penyair-penyair sebelumnya. Lirik dalam perpuisian Indonesia terkesan monoton dan tidak ada usaha untuk memperkaya gaya penulisan. Seolah bahwa menulis puisi adalah seperti yang sudah ditulis oleh penyair-penyair besar masa lalu. Seperti tidak ada usaha untuk sedikit bergeser atau keluar dari pakem yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya puisi-puisi Jokpin tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi lirik. Namun dengan variasi pengembangan corak, dari segi kosa kata, dan juga penjelajahan tema. Ia hanya mencoba mengembangkan gaya tulisan naratif supaya tidak terlalu dikuasai oleh tradisi lirik. &lt;br /&gt;Mengenai diksi, Jokpin memilih kosa kata yang sederhana bahkan sering dipakai dalam bahasa keseharian, yang biasanya tidak digunakan dalam bahasa puisi. Hal itu kemudian divariasi dengan gaya humoris untuk mengiringi kedalaman maknanya. Sehingga sebelum mulai memahami isinya, pembaca akan merasa bahwa puisi-puisi Jokpin sangat ringan. Sebagai contoh penggunaan diksi “celana” dalam beberapa puisinya. Diksi tersebut dapat saja mengandung tema kesepian. Bagi Jokpin kesepian masa kini akan sangat berbeda ekspresinya dengan zaman dulu. Jadi kesepian tidak hanya dapat di ekspresikan seperti sepinya Amir Hamzah atau Sapardi. Ia menggunakan metafor celana yang di dalamnya pun dapat digali berbagai macam tema kesepian. Metafor itu ia pilih karena tidak ingin terkungkung oleh senja atau hujan saja dalam mengekspresikan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tersenyum juga membaca sajak Kredo Celana-nya Joko Pinurbo di hari minggu, dua hari sebelum hari Natal tiba. Lucu. Tapi kemudian aku meringis. Getir. Bukan karena merasa terhina karena Yesus jadi seperti bahan olok-olok. Malah sebaliknya, aku bisa merasakan bahwa seorang Joko Pinurbo bisa begitu bebasnya menikmati rasa keintiman dan kedekatan hubungan dia dengan Yesus-nya yang seksi dan murah hati dan rendah hati.&lt;br /&gt;Murah hati dan rendah hati? Ya. Dia yang adalah Tuhan bisa mau turun ke dunia.&lt;br /&gt;Mau menjelma jadi manusia dan sekaligus jadi Tuhan yang solider, mau merasakan bagaimana jadi manusia. Dan tak ada yang lebih seksi daripada orang yang mau murah hati dan rendah hati. Apalagi ia lahir sebagai bayi manis yang tertidur lelap di palungan dikelilingi bintang-bintang yang terang, serta sekumpulan gembala dan domba-dombanya yang riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lantas aku menjadi iri untuk punyai keintiman itu. Aku pun meringis dengan getir. Karena aku masih belum bisa membebaskan diri dari diriku sendiri untuk terjun bebas dalam keintiman yang dalam, yang membebaskan, yang penuh rasa, yang menggairahkan, bersama Yesus, yang tidak hanya dilihat seperti sekedar seorang junjungan, tapi seperti seorang teman lama SMA, dan seorang kekasih yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meringis. Getir. Dan rindu. Rindu celana-Nya. Dalam rangka mengungkap alam mimpi tersebut, ada semacam kehendak sang penyair untuk menyiasati soal menakutkan ini (kematian) dengan metafor-metafor humoristis. Puisi yang tampak bermain-main namun menyimpan kedalaman yang tak terduga.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber&lt;/b&gt;: www.nairiru.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4746640312456097671?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4746640312456097671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4746640312456097671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2011/01/pergeseran-tradisi-lirik-menuju-bentuk.html' title='Pergeseran Tradisi Lirik Menuju Bentuk Naratif'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4295659227934799617</id><published>2011-01-10T23:19:00.000+07:00</published><updated>2011-01-10T23:19:07.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicha DR'/><title type='text'>"Celana Tidur" dan Sindiran bagi Si Serakah</title><content type='html'>&lt;small&gt;CELANA TIDUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau punya bermacam-macam celana tidur,&lt;br /&gt;Ia lebih suka tidur tanpa celana,&lt;br /&gt;Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya&lt;br /&gt;Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wolfgang Iser dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;The Act of Reading&lt;/i&gt;, sebuah teks sastra hanya akan punya makna setelah ia diinterpretasikan oleh seorang pembaca (1987:21). Pendapat ini membuat saya berani mencoba menemukan makna puisi Joko Pinurbo yang paling menggelitik, yaitu puisi berjudul "Celana Tidur" (2003). Saya memang belum punya kemampuan analisa yang memadai, mungkin nanti kalau sudah semakin banyak membaca karya sastra atau barangkali kuliah di Sastra Inggris UTY. Tapi, sebagaimana kata Rimmon-Kenan, seorang pembaca punya kebebasan menginterpretasikan sebuah karya sastra sesuai dengan kemampuannya sendiri sehingga tidak ada benar dan salah dalam menganalisa (1989:4). Yang ada hanyalah bagaimana analisanya, menarik atau tidak, bagus atau biasa-biasa saja, atau malah kacau. Tapi, kalau mengacu Rimmon-Kenan, semua itu tidak masalah. Karenanya, saya "pede" saja mengutak-utik puisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu membaca puisi yang judulnya saja nyeleneh, "Celana Tidur," saya merasa ada sesuatu yang nyantol di benak. Selama ini puisi-puisi yang saya baca selalu berkaitan dengan cinta. Karenanya, ketika nemu puisi aneh ini saya jadi tahu, ternyata banyak hal lain selain cinta yang juga ditulis dalam puisi. Puisi ini juga sangat pendek. Saya bertanya-tanya, bisa berkata apa si penyair dengan puisi sependek itu? Akhirnya, justru karena begitu pendek, hanya terdiri empat baris dan ditampilkan dengan lucu, puisi ini mengundang rasa penasaran saya karena dia benar-benar tidak biasa. Sekilas, judul puisi ini, "Celana Tidur," bisa membuat pembaca berpikiran bahwa yang dimaksud oleh mas atau Pak penyair adalah frasa benda "celana tidur" yang berarti celana yang dikenakan untuk tidur atau dengan kata lain celana sebagai seragam tidur. Tetapi, orang juga bisa melihat judul ini sebagai sebuah kalimat yang ditampilkan dengan gaya personifikasi, "Celana tidur." Celana sebagai subyek kalimat, tidur sebagai predikatnya. Apakah seperti itu maksud Joko Pinurbo? Apakah dia ingin menampilkan sebuah puisi yang jenaka? Apakah cuma ingin membuat gurauan bahwa celanapun bisa tidur seperti manusia? Itulah yang membuat puisi ini menggelitik. Mana yang benar, "celana tidur" sebagai kata benda yang berarti seragam tidur, ataukah "Celana tidur," sebuah personifikasi yang sengaja ditampilkan oleh Joko Pinurbo, pasti akan terjawab bila kita coba runut baris-baris yang mengikuti judul ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan pertama, Joko Pinurbo bermaksud menampilkan celana tidur sebagai frasa benda dan celana tidur mungkin berarti sebuah seragam tidur. Hal ini tampak ketika di baris pertama dan kedua dia mengatakan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;i&gt;Walau punya bermacam-macam celana tidur,&lt;br /&gt;Ia lebih suka tidur tanpa celana.&lt;/i&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tokoh dalam puisi ini ditampilkan sebagai seseorang yang punya bermacam-macam celana tidur, namun memilih tidur tanpa celana. Inilah yang juga membuat pembaca mungkin bertanya-tanya. Ada seseorang yang punya koleksi beraneka macam celana tidur. Pastilah dia seseorang yang kaya karena tidur saja harus mengenakan pakaian khusus dan mungkin tiap tidur dia harus memakai celana tidur yang berbeda-beda. Kalau celana tidur saja punya seabreg, pastilah untuk busana lain, seperti busana kerja, busana datang kondangan, dan busana untuk keperluan lain, dia juga punya segudang. Setahu saya, tidak semua orang tahu tentang celana tidur alias seragam tidur. Itu gaya hidup kalangan menengah ke atas. Hanya orang kaya yang tidur saja musti berganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, dia mungkin seorang pejabat yang punya banyak seragam, termasuk diantaranya seragam untuk tidur. Seperti kita ketahui, celana tidur adalah celana yang memang khusus dikenakan ketika akan tidur. Celana tidur sama sekali tidak cocok dikenakan dalam kesempatan lain, bahkan dalam acara-acara di rumah selain tidur. Ketika menemui tamu, orang akan segera berganti celana yang lebih sopan atau pantas dan bukannya mengenakan celana tidur. Jadi, celana tidur memang semacam seragam tidur. Paling tidak, begitulah pendapat umum tentang celana tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas orang akan merasa kedua baris di atas bernada lucu, namun kalau disimak ternyata tidak hanya lucu tapi juga ada kesan ironis. Kalau memang si tokoh tidak suka mengenakan celana ketika tidur, buat apa dia membeli beraneka macam celana tidur? Baris ini membuat pembaca menangkap kesan bahwa celana atau seragam tidur tidaklah berguna bahkan mengganggu. Mungkin, si tokoh dalam puisi ini ingin menyatakan bagaimana dia benci mengenakan seragam tidur. Mungkin, sebagai orang kaya atau pejabat dia punya begitu banyak uang sehingga ingin memiliki beraneka macam celana tidur dengan beraneka warna dan model serta dengan merek-merek terkenal dari luar negeri. Sebagai orang yang punya kedudukan, mungkin dia merasa harus punya koleksi celana paling hebat di dunia. Selain itu, dia membeli seragam tidur karena kebanyakan orang kaya lainnya juga punya dan mungkin sebagai pejabat dia merasa harus punya aneka macam celana tidur untuk membedakannya dengan orang biasa yang hanya bisa beli dua setel pakaian, untuk kerja sekaligus untuk di rumah, yang sehabis dicuci segera dipakai kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain sekali dengan tokoh dalam puisi Joko Pinurbo ini. Dia punya banyak dan bermacam celana tidur tapi akhirnya tidak suka mengenakannya waktu tidur. Mungkin celana-celana itu membuatnya risih. Mungkin dia merasa tidak leluasa dan tidak nyaman tidur bercelana. Ada kemungkinan, dia justru ingin mencemooh dirinya sendiri karena memiliki banyak celana tidur padahal dia sendiri tidak suka. Bisa saja dia akhirnya tersadar, betapa anehnya tidur saja pakai diatur-atur, musti pakai seragam seperti anak sekolah musti berseragam sekolah, atau seperti pegawai kantor pakai seragam kantor. Mungkin akhirnya dia merasa sebel juga karena hidupnya penuh seragam, sampai-sampai dalam aktivitasnya yang paling pribadi dan tidak berhadapan dengan umum, yaitu tidur, pun musti mengenakan seragam. Seragam bagaimanapun merupakan simbol identitas suatu kelompok. Si tokoh dalam puisi ini tidak suka mengenakan seragam tidur karena dia tidak mau tidurnya diembel-embeli beban yang terkait dengan identitas kelompoknya. Dia tidak mau tidurnya diganggu oleh aneka kewajiban sebagai anggota sebuah lembaga seperti itu. Dia tidak mau hidupnya diatur orang lain. Dia ingin menjadi dirinya yang apa adanya ketika tidur. Tidur adalah saat seseorang beristirahat dari segala aktivitas dan nyaris tidak sadarkan diri. Dalam keadaan seperti itu, si tokoh tidak mau terbebani. Dia tidak mau diganggu bahkan oleh selembar celana. Dia ingin menjadi dirinya apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidur tanpa celana" berarti tidur telanjang, tanpa busana yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Bisa dibayangkan, tokoh yang ditampilkan ini adalah seorang laki-laki karena seragam tidur yang biasa dikenakan perempuan namanya gaun tidur atau daster, bukan celana tidur. Jadi, si laki-laki dalam puisi ini yakin bahwa ketika tidur dia tidak perlu mengenakan seragam karena dia tidak sedang tampil di hadapan orang lain yang menuntutnya "jaim" alias jaga image. Ketika tidur, mungkin yang ada di dekatnya hanya istri atau anggota keluarga lain yang sangat dekat sehingga dia tidak perlu malu-malu tampil apa adanya. Dalam hal ini dia seperti menandaskan bahwa tidak mau kemerdekaannya menjalani kehidupan pribadi diganggu oleh keharusan "jaim" oleh sebuah seragam tidur yang membuatnya harus bersikap seperti orang-orang lain pada umumnya. Laki-laki ini ingin menekankan bahwa dia punya identitas sendiri, dia punya kehidupan pribadi sendiri yang tidak bisa diganggu gugat. Dia tidak mau diatur-atur, dia ingin dimanusiakan, sebagaimana dia mencontohkan betapa dia juga "memanusiakan" celana dengan membuat sebuah personifikasi yang jenaka yaitu "Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya." Pernyataan ini terdengar kocak, lucu, namun bila dicermati, ada makna yang sangat dalam didalamnya. Si tokoh ingin merdeka dan memiliki kehidupan pribadi yang bebas dari aneka macam seragam sebagai simbol identitas yang ditempelkan oleh orang lain. Tetapi, dia tidak mau menang sendiri atau egois. Dia juga melakukan hal yang sama pada pihak lain, bahkan pada sebuah celana tidur. Celana tidur seperti dikatakan di atas, memang diperuntukkan untuk dikenakan waktu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, si tokoh dalam puisi ini berpendapat, selain menjalankan kewajiban dia juga musti diberi hak untuk merdeka menikmati kebebasan dari aneka beban dan kewajiban. Celana tidur pun berhak punya kehidupan pribadi. Dia tidak boleh hanya selalu digunakan oleh pemiliknya tanpa pernah diberi kesempatan melakukan sesuatu atas pilihannya sendiri. Yang dilakukan oleh si tokoh ini sangatlah aneh dan tentu saja sangat tidak lazim. Mungkin dia oleh kebanyakan orang dianggap sinting karena yang dilakukannya tidak biasa dilakukan orang, berpikir celana bisa tidur dan memberinya kesempatan tidur. Tapi tampaknya dengan cara ini Joko Pinurbo menandaskan betapa pentingnya tenggang rasa, kepedulian, dan kesediaan memberikan kemerdekaan bahkan kepada sebuah benda yang nyata-nyata adalah milik kita. Joko Pinurbo ingin menampilkan gambaran betapa indahnya bila orang bersedia memerdekakan apa yang dia miliki dari keegoisan dan keserakahan. Kesadaran si tokoh dalam puisi ini akan pentingnya sikap memerdekakan dan mencintai apapun yang dia miliki sangat tinggi sehingga dia tidak mau hanya memanfaatkan tapi juga memberi kesempatan untuk "tidur di luar tubuhnya" bahkan pada sebuah "celana tidur." Yang dimaksud si tokoh dengan pernyataan "di luar tubuhnya" barangkali adalah di luar kepentingan jasmaninya. Hal ini bisa jadi terkait dengan kegunaan celana sebagai pelindung sekaligus penutup alat kelamin, salah satu alat untuk mencapai kepuasan jasmani. Dia ingin celana terbebas dari tugas melindungi bagian tubuhnya dan memberinya kesempatan mencapai kepuasan jasmani, yang dalam puisi ini juga bisa diasosiasikan dengan aktivitas "tidur tanpa celana." Si tokoh ingin merdeka mencapai hasrat-hasrat jasmaniahnya tanpa dikekang oleh "seragam tidur," oleh berbagai macam aturan umum. Namun, tidak berarti dia bebas melakukannya tanpa aturan. Justru dalam kebebasan itu dia punya kesadaran mencintai dan memerdekakan si "celana tidur." Hal ini bukan lagi hasrat jasmaniah lagi melainkan sikap hati atau jiwa. Kalau dirasa-rasa, bagian ini mungkin bersifat batiniah, atau spiritual gitu. Bisa jadi, "tidur" pada baris keempat ini mungkin berbeda dengan "tidur tanpa celana" di bagian sebelumnya. Jika di bagian sebelumnya "tidur" bersifat jasmaniah karena terjadi pada "tubuhnya," kemungkinan besar "tidur" di bagian ini adalah tidur yang bersifat spiritual dan terkait dengan segala yang ada di "luar tubuhnya." Karennaya, personifikasi celana tidur ini sangat tepat. Dengan mencintai dan memerdekakan celana tidur dari keegoisannya, si laki-laki ini yakin, tidurnya tidak akan rusak oleh celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, kalau seseorang bisa mencintai sebuah benda (celana tidur), dia tidak akan kesulitan mencintai sesama makhluk hidup. Kalau seseorang itu egois dan selalu cenderung memiliki sesuatu dengan serakah, dia akan berat merespek sesama. Jika dalam hidup orang bersikap begitu, dia pasti tidak akan mampu menyelaraskan kebutuhan jasmani dan rohaninya sehingga bila tiba saatnya "tidur," maka tidurnya akan "rusak oleh celana." "Tidur" yang dimaksud di sini barangkali tidur yang bersifat spiritual, mungkin yang dimaksud adalah "mati." Jika seseorang penuh dosa dan keserakahan, kematiannya akan ternoda atau "rusak oleh celana," oleh benda-benda duniawi yang diperoleh dengan cara yang serakah dan egois itu. Gambaran yang dipaparkan oleh baris-baris pertama puisi ini: punya bermacam-macam celana tidur, tapi "lebih suka tidur tanpa celana" memang sangat pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Joko Pinurbo ini lebih mirip sindirian pada mereka yang serakah menumpuk harta tanpa tahu bagaimana memanfaatkannya dengan baik karena dia cuma ikut trend atau apa yang umum terjadi dalam masyarakat. Puisi ini merupakan hasil introspeksi yang menarik akan gaya hidup masa kini yang sangat materialistis dan membuat orang cenderung serakah dan egois, berusaha mendapat sesuatu yang sebenarnya mungkin kurang dia perlukan, atau menguber sesuatu sampai-sampai harus mengorbankan orang lain demi prestige atau gengsi dan keserakahan diri. (Chicha DR/ Stero/ XII IPS2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Joko Pinurbo, "Celana Tidur".&lt;br /&gt;2. Iser, Wolfgang. 1987. The Act of Reading. London: John Hopkins University Press.&lt;br /&gt;3. Rimmon-Kennan. 1989. Narrative Fiction. New York: Pocket books, Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber&lt;/b&gt;: http://sastrainggris-uty.edu2000.org, Sunday, 21 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4295659227934799617?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4295659227934799617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4295659227934799617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2011/01/celana-tidur-dan-sindiran-bagi-si.html' title='&quot;Celana Tidur&quot; dan Sindiran bagi Si Serakah'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-5703237556997608010</id><published>2010-08-30T12:45:00.003+07:00</published><updated>2010-10-05T11:33:10.479+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ismi Wahid'/><title type='text'>Empat Merapal Sajak</title><content type='html'>&lt;b&gt;Empat penyair terkemuka Indonesia membacakan sajak ciptaan mereka dalam sebuah pentas puisi di Teater Salihara.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawa celana yang dijahitnya sendiri. "Paskah?" tanya Maria. "Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah penyair Joko Pinurbo melukiskan saat-saat naiknya Yesus ke surga. Ia menuangkan peristiwa religius itu dengan sangat manusiawi dalam sajaknya yang bertajuk Celana Ibu. "Agama bukan sesuatu yang angker. Agama itu nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jokpin, begitu panggilan akrab sang penyair, sedang merayakan pesta puisi di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis malam pekan lalu. Jokpin tampil bersama tiga penyair terkemuka Indonesia lainnya--Remy Sylado, Acep Zamzam Noor, dan D. Zawawi Imron--dalam perhelatan Mendaras Puisi. Para penyair ini menyuguhkan karya mereka yang dekat dengan tradisi keagamaan di sekitar tempat mereka lahir dan tumbuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang, pentas puisi malam itu cukup istimewa, karena pengarangnya sendiri yang membacakan karya-karyanya. Seperti diketahui, belakangan ini acara pembacaan puisi lebih kerap dibawakan oleh kalangan artis dan selebritas. Tak mengherankan jika ruang Teater Salihara penuh sesak dipadati oleh pendengar dan penikmat sastra. Sampai-sampai, banyak di antara yang hadir terpaksa berdiri atau duduk di undakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Celana Ibu&lt;/i&gt;, yang dibacakan Jokpin, mendapat sambutan sangat meriah. Tepuk tangan penonton yang bercampur gelak tawa terdengar riuh menyambut penampilan Jokpin. Artikulasi Jokpin yang sangat datar dengan logat Jawa yang begitu kental justru menimbulkan suasana berbeda. Terkesan nyeleneh dengan permainan logika yang unik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jokpin pernah mengenyam pendidikan calon pastor di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Karya-karyanya banyak menghadirkan suasana keagamaan yang dekat dengan wilayah domestik. Tak jarang ia juga menyuguhkan sebuah ironi dalam sajak-sajaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak karya Jokpin yang sudah dialihbahasakan, itu tidak berlaku untuk Celana Ibu. Masalahnya, idiom yang dipakai sebagai kata kunci tak lagi sesuai dengan ide cerita jika dialihbahasakan. Dalam prosesnya, Jokpin sering menemukan kata-kata kunci. Dari situlah ia kemudian membuat narasi untuk mendukung alur ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan penyair serba bisa, Remy Sylado. Malam itu, Remy membawakan sajaknya yang berjudul Enam Puluh Lima Tahun yang Astaga. Penyair berambut keperakan ini masih saja menampilkan puisi mbeling-nya, sebuah label yang selama ini melekat pada karya-karyanya. Sajak-sajaknya penuh sindiran dan slenthingan pedas terhadap negeri yang, menurut Remy, sudah morat-marit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remy adalah pelopor puisi mbeling pada 1970-an. Puisinya sarat dengan pemberontakan terhadap kaidah estetika. Disertai empat penari yang membawa rebana sebagai alat musik, Remy membawakan karyanya dengan nuansa lain. "Kalau sudah di depan panggung, puisi menjadi sebuah pertunjukan," katanya. Karya tersebut khusus dibuat Remy untuk acara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik adalah penampilan Zawawi Imron. Ia tampil sangat ekspresif. Sesekali ia bercerita bebas tentang pengalamannya yang tak jarang mengundang tawa penonton. Zawawi pernah nyantri di Pesantren Lambicabbi, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Maka tak aneh jika puisinya sarat dengan religiositas Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya tak kehilangan unsur humor khas Zawawi. Kumpulan sajaknya, Bulan Tertusuk Ilalang, pernah mengilhami sutradara Garin Nugroho untuk membuat film dengan judul yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu, penyair romantis sepertinya cocok diberikan untuk Acep Zamzam Noor ketika ia membacakan karyanya yang berjudul Sepotong Senja. Tak hanya itu, Acep juga menyuguhkan kelincahannya memainkan tema-tema urban dan pesantren serta religius yang dibenturkan dengan sekularisme. Lalu, melalui Sajak Nakal-nya yang sangat pendek, Acep memperlihatkan kenakalan imajinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ISMI WAHID&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo Edisi Jumat, 27 Agustus 2010&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-5703237556997608010?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5703237556997608010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5703237556997608010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/08/empat-merapal-sajak.html' title='Empat Merapal Sajak'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-6948120406605141723</id><published>2010-08-30T12:42:00.000+07:00</published><updated>2010-08-30T12:42:04.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilham Khoiri'/><title type='text'>Sastra dan Agama Berkelindan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Alif, alif, alif!/ Alifmu pedang di tanganku/Susuk di dagingku, kompas di hatiku/ Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut/ Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan/Terang/Hingga aku/ Berkesiur/ Pada/ Angin kecil/ Takdir-Mu&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragmen puisi berjudul ”Dzikir” itu didaras dengan penuh penghayatan oleh penulisnya sendiri, D Zawawi Imron. Meski sudah berusia 65 tahun, suara penyair asal Madura itu tetap memendarkan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia melafalkan kata-kata puisi itu secara susul-menyusul terdengar mirip sebuah mantra atau zikir yang berulang-ulang. Suaranya yang keras dan agak serak memenuhi ruang teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian penonton mungkin sudah akrab dengan puisi yang terkenal pada tahun 1980-an itu. Namun, tetap pendarasan itu menggedor kita untuk merenung soal kefanaan nasib dan hidup manusia serta hubungan kita dengan Tuhan. Penyebutan benda-benda sebagai manifestasi Tuhan mungkin mengajak kita memikirkan kemungkinan semangat penyatuan Tuhan dan semesta sebagaimana diyakini dalam filsafat emanasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan kata yang berulang mengingatkan kita pada doa, mantra, atau zikir yang dilantunkan dengan cara ritmis setelah shalat. ”Puisi ini hasil penghayatan saya akan Tuhan dan kehidupan. Ini pergulatan saya sejak lama yang kemudian muncul tanpa direka-reka dalam bentuk puisi,” kata Zawawi seusai membaca puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas itu menjadi bagian dari pertunjukan ”Mendaras Puisi: Pembacaan Puisi di Bulan Puasa” di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (19/8) malam lalu. Hadir juga membacakan puisinya, penyair Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, dan Remy Sylado. Dalam catatan panitia, para penyair ini dianggap berkarya dengan ilham dari iman atau agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, keimanan atau agama yang diyakini para penyair itu memperkaya bahasa ungkap para penyair. Tak seperti Zawawi menyerap semangat penghayatan ketuhanan untuk menciptakan puisi zikir, Acep Zamzam Noor merefleksikan pengalaman keagamaan dalam diksi penuh metafor. Puisi-puisinya banyak mengolah kesan tentang alam semesta yang dengan bahasa romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja karyanya yang berjudul ”Trasimeno”: Kulihat bukit-bukit bersujud/Pohon-pohon merunduk, daun-daun basah/ Lampu-lampu meredupkan cahaya/Angin dan kabut bergulung di angkasa/Senja membelitkan kerudung kuningnya/Semuanya bersujud kepadamu. Sebuah danau/Hamparan sajadah bagi semesta/ Adalah ketenangan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Agama tak saya ungkapkan sebagai slogan yang permukaan, melainkan sebagai kesadaran batin yang penuh perenungan,” kata Acep yang lahir dan besar dalam lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keseharian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Joko Pinurbo, agama juga memang tak perlu dipanggungkan dalam puisi penuh jargon mentah. Dia memilih untuk mengolah religiusitasnya dalam agama Katolik dengan berangkat dari cerita sehari-hari, seperti tukang bakso, tukang ojek, tukang becak, lantas mengajak orang berempati kepada orang lain. Dari empati ini, lantas dia menyentuh nilai kemanusiaan yang lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kerap mengulik narasi yang lebih manusiawi sehingga mudah menyentuh publik umum. Cerita Yesus, misalnya, dimainkan secara lebih lumer dengan mengeksplorasi sisi manusiawinya. Kadang, dia membenturkannya dengan suasana ironis yang nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu puisinya cukup terkenal karena pendekatan ini, yaitu yang berjudul ”Celana Ibu” (tahun 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maria sangat sedih menyaksikan anaknya/mati di kayu salib tanpa celana/dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit/dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang/ ke kubur anaknya itu, membawakan celana/ yang dijahitnya sendiri dan meminta/Yesus untuk mencobanya.”Paskah?” tanya Maria./ ”Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.&lt;br /&gt;Mengenakan celana buatan ibunya,/Yesus naik ke surga.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ayu Utami, kurator sastra di Salihara yang malam itu sekaligus menjadi pembawa acara, karya-karya penyair itu memperlihatkan, sastra dan iman atau agama bisa berkelindan tanpa satu menaklukkan yang lain. Agama memberi artikulasi bagi sastrawan saat melihat peristiwa. Hubungan itu berlangsung secara leluasa dan saling memberikan inspirasi dan nilai-nilai, tanpa jatuh menjadi dakwah yang verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama atau iman sudah lama mengendap dalam diri penyair, lantas mereka membuat karya. ”Mereka kemudian bisa bermain tanpa rasa kikuk, bebas, dan santai menggambarkan apa yang ada dalam dirinya. Ini selaras dengan semangat seni yang membebaskan dan membuka berbagai kemungkinan,” kata Ayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ilham Khoiri | Kompas | Minggu, 22 Agustus 2010&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-6948120406605141723?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6948120406605141723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6948120406605141723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/08/sastra-dan-agama-berkelindan.html' title='Sastra dan Agama Berkelindan'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-8223691489251862615</id><published>2010-08-30T12:21:00.007+07:00</published><updated>2010-09-14T15:21:30.381+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aminudin R.W.'/><title type='text'>Celana Pinurbo</title><content type='html'>Cerpen &lt;b&gt;Aminudin R Wangsitalaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAILA masih hanya mengagumi celana pendek yang tergantung di paku kamar mandi itu. Tak berani ia menyentuhnya. Padahal ingin sekali ia membelainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila baru selesai mandi. Ia baru sadar jika di deretan paku penggantung pakaian itu tergantung sebuah celana pendek. Letaknya persis berjejer dengan pakaian Laila yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini celana pendek Pak Pinurbo? Kenapa, jika ya, beliau lupa memakainya kembali atau membawanya ke kamar atau merendamnya di ember jika memang sudah kotor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila lantas ingat bahwa Pak Pinurbo sebenarnya tidak suka memakai celana pendek. Beliau selalu bercelana panjang atau jika di dalam rumah memakai sarung. Jika Pak Pinurbo memakai sarung, sering beliau mengibasngibaskan sarung itu entah apa sebabnya, yang kemudian di pengamatan Laila sarung itu seolah berkibar-kibar. Laila kemudian sering membayangkan yang nakal-nakal, misalnya ingin berteduh di bawah kibaran sarung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan Laila memang Pak Pinurbo tidak pernah memakai celana pendek.&lt;br /&gt;Justru Laila-lah yang sangat suka bercelana pendek di rumah karena gerak menjadi lebih leluasa. Laila tidak suka celana panjang apalagi rok. Ini membuat Pak Pinurbo pernah meledeknya, “Laila ini perempuan, tapi kok hobinya bercelana pendek?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa memangnya, Pak? Memangnya perempuan tidak boleh bercelana pendek?“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena perempuan bukan lakilaki, padahal lakilaki memakai celana pendek...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Pak Pinurbo tak paham feminisme!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya penulis buku-buku keperempuanan, jangan salah.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Laila tak ingin meneruskan percakapan itu. Ia sudah jenuh menjadi aktivis pemberdayaan perempuan. Lagian, Pak Pinurbo tentu hanya bergurau atau sengaja memancing diskusi. Pak Pinurbo sendiri memang penulis buku-buku keperempuanan. Dan Pak Pinurbo tahu jika Laila aktivis LSM perempuan. Pak Pinurbo sering meledek Laila dengan memancing-mancing perdebatan soal laki-perempuan. Di luar itu, sebetulnya Laila sendiri memang selalu tidak mampu mendebat atau sekadar berbincang lama dengan Pak Pinurbo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila baru selesai mandi. Tak habis pikir ia kenapa Pak Pinurbo mau juga bercelana pendek. Mungkinkah karena Pak Pinurbo tidak pernah bercelana pendek itu sehingga ketika ia memakainya dan mencopotnya saat mandi ia menjadi lupa memakainya lagi? Bahkan, Pak Pinurbo mungkin lupa jika baru saja memakai celana pendek?&lt;br /&gt;Laila gugup. Tak berani ia menyentuh celana pendek itu padahal ia ingin sekali melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Pak Pinurbo tergesa-gesa. Tak tahu beliau jika celananya tertinggal. Ke mana gerangan sepagi ini? Setahu Laila Pak Pinurbo sudah memutuskan berhenti kerja. Ini juga melengkapi ketakpahaman Laila terhadap cara berpikir Pak Pinurbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian dan cara berpikir Pak Pinurbo memang menarik, meski terkadang terkesan tidak rasional, tidak taktis, tidak pragmatis. Dalam hal kerja, misalnya, Pak Pinurbo sebetulnya sudah berada dalam posisi mapan kini. Ia adalah kepala editor di sebuah penerbit buku. Meski penerbit ini masih kecil, tapi cukup prospektif. Nah, tiba-tiba saja Pak Pinurbo bersikap hendak keluar dari pekerjaannya. Orang lain terengah-engah mencari cantolan kerja, beliau enteng saja melepas apa yang sudah di genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerja bukan hanya berkaitan dengan soal materi, Dik Laila,“ ujar Pak Pinurbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila tergagap dipanggil “dik“. Lagilagi ia tak akan bisa berdebat dengan Pak Pinurbo. Terlalu tak terjangkau sosok itu baginya. Dalam pembelaan Laila kepada dirinya sendiri, ini bukan soal ketidaktegaran perempuan di depan laki-laki. Tidak. Tidak karena Laila perempuan sehingga Laila tidak mampu mendebat Pak Pinurbo. Atau kalaupun mungkin juga karena Laila perempuan, tapi bukan dalam konteks perempuan yang berkontradiksi dengan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataanlah bahwa Pak Pinurbo berkarisma secara khusus bagi Laila, yang secara kebetulan Laila adalah perempuan yang menyimpan respons tersendiri terhadap laki-laki ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila sudah selesai mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Ia mulai men genakan T-shirt setelah sebelumnya sudah dikenakannya apa-apa yang seki ranya perlu dikenakan sebelum T-shirt itu. Ia memandangi lagi celana pendek itu. Pikirannya agak kacau. Pak Pinurbo tiba-tiba mau bercelana pendek. Lebih kacau lagi pikiran Laila setelah ia sadar bahwa justru ia yang pagi itu tidak bercelana pendek. Padahal biasanya saat tidur pun Laila memilih bercelana pen dek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celana pendek yang tergantung di paku di dinding kamar mandi itu tampak sungguh menarik. Ia menimbulkan getaran. “Mudah-mudahan memang milik Pak Pinurbo,“ pikir Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar mandi ini memang dipakai bersama, untuk pemilik rumah dan Pak Pinurbo. Sudah dua tahun Pak Pinurbo indekos di salah satu kamar rumah pasangan suami istri Syubanudin-Utami. Laila anak tunggal pasangan suami istri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila sebetulnya sudah saatnya menjadi sarjana, tapi agaknya hal itu tidak bakal kesampaian. Laila terlalu progresif dalam pikiran dan tindakan. Ia mulamula intens menjadi aktivis dalam gerakan-gerakan, terutama gerakan kiri dan perempuan. Kehidupan cintanya carutmarut karena ia selalu salah membaca cinta. Lagipula, Laila terlalu mengedepankan stigma kyriarkis setiap bergaul dengan laki-laki. Pada kemudiannya Laila tampak lebih mewakili prototipe gadis yang putus asa. Ia tak bisa berkonsentrasi meneruskan studinya padahal di satu sisi ia betul-betul mulai jenuh dengan ide-ide aktivisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Pak Pinurbo memberi santapan rohani tersendiri bagi hari-hari Laila yang mulai sepi. Pak Pinurbo sosok yang tampak pendiam, perenung, dan problematis awalnya, tapi kemudiannya ia adalah sosok yang menarik dalam joke dan statement-statemen-nya. Ia masih muda, tiga puluh usianya. Belum beristri, tapi keluarga Syubanudin tetap memanggilnya dengan sebutan “Pak“ untuk kebiasaan menghormati orang. Laila juga suka melafalkan sapaan “Pakî ini dengan intonasi yang khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan intonasi memunculkan permainan baru dalam hal emosi. Laila menyukai permainan semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Pinurbo seorang yang berpengalaman sebagai editor dan penulis. Beliau menulis beberapa hal, dari puisi sampai tulisan-tulisan tentang perempuan. Ini membuat Laila respek. Laila memang mulai jenuh dengan wacana perempuan dan segala wacana aktivisme, tanpa sebab yang betul-betul jelas bagi Laila sendiri. Kehadiran Pak Pinurbo dengan jokes yang menarik seputar wacana keperempuanan mengembalikan kenangan-kenangannya semasa menjadi aktivis. Kenangan ini menjadi menarik karena Pak Pinurbo memberinya cara pembacaan yang tidak politis dan tidak ideologis terhadap wacana laki-perempuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba juga Laila kemudian menyukai puisi. Perasaannya yang akhirakhir ini sering kacau entah oleh apa mulai agak tenang. Bahkan Laila mulai lagi ingat sembahyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh ketertarikannya pada puisi membuat imajinasi Laila hidup. Terlalu hidup malah. Laila mulai membayangkan rasanya jika bisa terbang, ia akan menggoda burung-burung sambil mengintip laki-laki yang dipacari perempuannya di sebuah perbukitan. Laila mulai membayangkan jika ia jadi lakilaki, ia hanya akan bercelana pendek saja tanpa pakaian lain berlari-lari memutari kampung secara bebas tanpa ada yang risih. “Oh, alangkah nyamannya hanya bercelana pendek,“ gumam Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila tidak paham kenapa Pak Pinurbo tidak suka celana pendek. Kenapa lebih merasa nyaman bersarung? Sarung mungkin memang nyaman dipakai, tapi itu kampungan. Bagi Laila Pak Pinurbo harus disadarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila bayangkan alangkah menariknya Pak Pinurbo dengan hanya bercelana pendek. Laila imajinasikan juga, kalau kedua-dua mereka menyukai bercelana pendek, Laila ingin tukar-menukar celana pendek dengan Pak Pinurbo. Laila ingin memakai celana pendek Pak Pinurbo dan Laila berharap Pak Pinurbo mencoba juga celana pendek Laila. Paskah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Laila Pak Pinurbo harus disadarkan. Tapi Pak Pinurbo mungkin sama sekali tidak pernah punya celana pendek. Langkah pertama adalah Laila akan diam-diam membeli celana pendek dan diam-diam pula menghadiahkannya kepada Pak Pinurbo, entah lewat paket tak berpengirim atau biar lebih puitis taruh saja langsung di bawah bantal di kamar Pak Pinurbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, beranikah Laila masuk kamar Pak Pinurbo? Setiap Laila hendak ke kamar mandi memang selalu harus melewati depan kamar Pak Pinurbo dan setiap itu pula kakinya agak berat dilangkahkan. Jalannya berdebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana pula ia akan berani memasuki kamar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila sudah selesai mandi. Ia masih memandangi celana pendek yang tergan tung di paku di dinding kamar mandi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak berani menyentuhnya dan hanya membayangkan Pak Pinurbo tadi telah memakai celana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laila! Kau selalu lama jika mandi!“ terdengar suara keras ibunya dan gedoran pintu kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Bu. Sudah selesai...,“ sanggah Laila gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila keluar kamar mandi. Ia sudah memakai T-shirt dan handuk dililitkan di pinggangnya. Laila bergegas menuju kamar, tak berani menengok ke pintu kamar Pak Pinurbo ketika melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laila! Celana pendekmu ketinggalan!“ omel Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila tidak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laila! Ini celana barumu yang kaubeli kemarin itu!“ omel Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila tidak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laila! Baru kaupakai semalam celana ini, kau sudah bosankah?“ omel Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila tidak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laila! Ambillah dulu celanamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas kubuang nanti. Kau tak sayang dengan celana bagus ini? Kautahu, sayangku, Pak Pinurbo semalam memuji celana barumu ini!?“ omel Ibu berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah Laila mendengar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;www.suaramerdeka.com&lt;br /&gt;28 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-8223691489251862615?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8223691489251862615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8223691489251862615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/08/celana-pinurbo.html' title='Celana Pinurbo'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-7652685311375093169</id><published>2010-05-05T11:01:00.001+07:00</published><updated>2010-05-05T11:05:02.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J. Sumardianta'/><title type='text'>Sajak-sajak Joko Pinurbo: Lubuk Kontemplasi Arus Dangkal Hedonisme</title><content type='html'>(Kompas, Minggu, 30 September 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;J. Sumardianta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukalah mata tuan dan lihatlah. Di tempat petani meluku tanah yang keras. Di tempat pembuat jalan meratakan batu. Di situlah Tuhan. Bersama mereka Tuhan berpanas dan berhujan. Turunlah ke tanah berdebu itu, seperti Dia. Bangkitlah dari samadi. Hentikan meronce bunga dan membakar setanggi. Meski pakaian tuan lusuh dan kotor. Cari Dia dalam bekerja, dengan keringat di kening tuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak gubahan Rabindranath Tagore, pujangga besar India, di atas merupakan cermin kepekaan terhadap hidup dan alam yang sarat dengan kebajikan teosofis. Kearifan teosofi mengajarkan bahwa Tuhan bisa ditemukan di mana-mana. Tuhan bisa dijumpai saat petani membajak dan menggaru sawah. Saat kuli bangunan memecah batu penjuru. Saat peternak menyabit rumput. Saat buruh bekerja di pabrik. Saat bakul berjualan di pasar. Pendeknya, kehadiran Tuhan mudah dirasakan dalam kegiatan riil eksistensial yang sepintas terkesan tidak ada kaitannya dengan hidup religius dan bakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khasanah spiritual Jawa mengajarkan aforisma, “Urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir. Temokno Gusti ing tek kliwer lan ing obah mosike uripmu (Hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya. Tuhan bisa ditemukan dalam segala. Temukanlah Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aforisma teosofis itulah yang terhampar pada antologi sajak-sajak Joko Pinurbo (Jokpin): Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon  Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), dan yang terbaru Kepada Cium (2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Yogyakarta kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, 1962  ini misalnya menafsirkan peristiwa Paskah yang agung dan heroik dengan idiom mistisisme konkret kehidupan sehari-hari. Jokpin membumikan peristiwa kebangkitan Yesus justru dengan sikap humor agak main-main. Karya keselamatan Sang Nabi ditampilkan dalam momen paling manusiawi. Dalam “proyek” keselamatan toh Yesus tetap memerlukan “celana”. Dan “celana” itu dijahit sendiri oleh Maria, ibuNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak “Celana Ibu” (2004) memudahkan orang nampi Allah minangka jejering kekeran ingkang winadi (memahami misteri Allah yang tak terselami). Maria sangat sedih menyaksikan anaknya / mati di kayu salib tanpa celana / dan hanya berbalutkan sobekan jubah / yang berlumuran darah. // Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit / dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang / ke kubur anaknya itu, membawa celana / yang dijahitnya sendiri. // “Paskah?” tanya Maria. / “Pas sekali, Bu,“ jawab Yesus gembira. // Mengenakan celana buatan ibunya, / Yesus naik ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak “Terkenang Celana Pak Guru” (1997) memperlihatkan penggubahnya adalah gabungan genius dari ketrampilan seorang penyair menciptakan bahasa dan kedalaman refleksi seorang pemikir yang bersikeras hendak mengubah tragika nasib menjadi ironi yang melegakan. Masih pagi sekali, Bapak Guru sudah siap di kelas. / Kepalanya yang miskin dan merana terkantuk-kantuk, / kemudian terkulai di atas meja. / Kami, anak-anak yang bengal dan nakal, beriringan masuk / sambil mengucapkan, “Selamat pagi, Pak Guru.” // Pak guru tambah nyenyak. Dengkur dan air liurnya / seakan mau mengatakan, “Bapak sangat lelah.” // Hari itu mestinya pelajaran  Sejarah. / Pak Guru telah berjanji menceritakan kisah para pahlawan / yang potretnya terpampang di seluruh ruang. / Tapi kami tak tega membangunkannya. / Kami baca di papan tulis, “Baca halaman 10 dan seterusnya. / Hafalkan semua nama dan peristiwa.” // Sudah siang, Pak Guru belum juga siuman. / Hanya rits celananya yang setengah terbuka / seakan mau mengatakan, “Bapak habis lembur semalam.” // Ada yang cekikikan. / Ada yang terharu dan mengusap /  matanya yang berkaca-kaca. / Ada pula yang lancang membelai-belai gundulnya / sambil berkata, “Kasihan kepala yang suka ikut penataran ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak Jokpin --di tengah kecenderungan pendangkalan oleh hedonisme yang begitu gandrung kapilangu (mendewakan kenikmatan materi, derajat, pangkat, kekuasaan, dan uang)-- menawarkan kedalaman suasana kontemplatif. Suasana meditatif yang kebak luber kocak-kacik (bergelimang) nilai dan makna itu, misalnya, diwakili sajak “Kepada Cium” (2006): Seperti anak rusa menemukan sarang air / di celah batu karang tersembunyi, // seperti gelandangan kecil menenggak / sebotol mimpi di bawah rindang matahari, //  malam ini aku mau minum di bibirmu. // Seperti mulut kata menemukan susu sepi / yang masih hangat dan murni, // seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri / pada luka lambung yang tak terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transendensi merupakan kebutuhan psikologis dasariah manusia. Manusia, di samping memenuhi kerinduan akan pengalaman adikodrati dengan berdoa dan beribadah, juga memiliki alternatif untuk mencukupi kehausan transendensi dengan  musik, sastra, olah raga, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi sajak-sajak Jokpin bagaikan hiperbarik (terapi oksigen tingkat tinggi) tempat orang bisa menghirup transendensi setelah sekian lama diguncang kepengapan disolasi. Puisi “Sehabis Sembahyang” (2005) menertawakan perangai tamak manusia yang miskin perasaan syukur kendati sudah bermandikan kesejahteraan dan perlindungan. Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku. / Terima kasih atas segala pemberianmu, / mohon lagi kemurahanmu: sekedar mobil baru / yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya / agar aku bisa lebih cepat mencapaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak Jokpin preseden bagus ketangguhan orang-orang kalah di zaman penuh daya-dera yang menggilas. Sajak “Malam Suradal” (2006) mengabarkan bahwa seganas-ganasnya jaman kala bendu sesunguhnya telah gagal menghentikan manusia untuk bertekuk lutut menyerah pada nasib. Sebelum ia berangkat bersama becaknya, / istrinya berpesan, “Jangan lupa beli minyak tanah. / Aku harus membakar batukmu yang menumpuk / di sudut rumah.” / Dan anaknya mengingatkan, “Besok aku harus bayar sekolah. / Aku akan giat belajar agar kelak dapat membetulkan nasib Ayah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, di jaman edan karena digiling mesin ketidakpastian turbulensi, ukuran kesuksesan tidak lagi melulu diukur dari akumulasi kekayaan, status sosial, jabatan, dan kekuasaan. Parameternya, saat terjatuh di jurang kegagalan, manusia tetap punya nyali untuk mengambil hikmah dari kemalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan filsuf Nietzche, “Segala sesuatu yang tidak membunuhku akan membuatku kuat.” Berani menghadapi kepedihan yang disertai rasa malu. Memiliki daya pegas untuk tetap berkembang melampaui risiko sebagai konsekuensi pilihan hidup. Mengambil hikmah dari kemalangan menuntut pengakuan akan fakta tragis tapi indah: bahwa tidak semua masalah memiliki solusi dan tidak semua perbedaan bisa didamaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia modern terlanjur dipenjara house (bangunan gedung yang sumpek dan gerah), bukan bersemayam di hunian yang membuat krasan dan betah (home). Sajak “Cita-Cita” (2003), dalam kerangka mistisisme konkret, mengandung sugesti perihal mendasarnya kebutuhan manusia akan ruang batin untuk hening. Dalam kata-kata William Shakespeare, “Mampu menanggung penderitaan yang bersemayam di jantung kreativitas.” Pendeknya, manusia yang senantiasa didera suasana hiruk pikuk gaduh, mesti nggegulang amrih mboten kajiret bebalutaning gesang (terlatih dan memiliki keberanian untuk melepas beban hidup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah punya rumah, apa cita-citamu? / Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat senja supaya saya / dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela . // Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk, // uang makin banyak maunya, jalanan macet, / akhirnya pulang terlambat. / Seperti turis lokal saja, singgah menginap / di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilannya kadang terkesan udik. Posturnya kerempeng. Siapa pun yang mengenal dan memergoki Jokpin untuk pertama kali pasti tidak menyangka kalau lelaki santun bersahaja berwajah tirus itu seorang penyair yang bukan sembarangan. Sajak-sajak Jokpin seakan representasi hidup kesehariannya yang sak madyo (ugahari), climen (apa adanya). Itu sebabnya, penyair produktif ini gemar mengajak pembaca bertamasya ke tapal batas absurd nasib manusia antara yang getir dan yang jenaka. Sajak-sajak Jokpin sering menggelikan hati, sekaligus membuat pembaca terbujur kaku ditelikung imajinasi liarnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;b&gt;J. Sumardianta&lt;/b&gt;, guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-7652685311375093169?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/7652685311375093169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/7652685311375093169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/sajak-sajak-joko-pinurbo-lubuk.html' title='Sajak-sajak Joko Pinurbo: &lt;br/&gt;Lubuk Kontemplasi Arus Dangkal Hedonisme'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-6899111275914956373</id><published>2010-05-05T10:57:00.002+07:00</published><updated>2010-05-05T11:42:54.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ananda Sukarlan'/><title type='text'>Jokpiniana I : A reflection on dangdut</title><content type='html'>Work on the opera is going quite well. Haven't made up my mind about the dialogues &amp; recitatives, but I have done some arias and choreographical music. I decided a few days ago to take a break from it and compose my short (4-minute) choral piece commissioned by the ITB (Bandung Institute of Technology, one of the oldest and most prestigious universities in Indonesia) Choir for their tour to Italy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The piece will be for SSAATTBB choir.For about one year I have been fascinated by the (very) short poems of Joko Pinurbo "Jokpin". You can find them (if you understand Indonesian) in &lt;a href="http://jokopinurbo.blogspot.com/"&gt;http://jokopinurbo.blogspot.com/&lt;/a&gt; . I have been toying the idea of putting several poems into one short piece, and writing for the choir has provided me the opportunity to do so. So, &lt;b&gt;Jokpiniana&lt;/b&gt; will be a series of choir pieces, or shall we say "choir etudes", and this one for ITB will be the first of I-dunno-how-many-will-there-be etudes for choir. In this piece I concentrate especially on his fantastic poem "Dangdut" which provides me the ostinato, but I will treat it antiphonally. Dangdut is a very popular rhythm that is very close to the heart of most of Indonesians. One always say that it belongs to the low-class people, but hey, all the diplomats at the Indonesian embassies around the world always organize dangdut parties. They even have dangdut artists TO BE FLOWN FROM INDONESIA for their "cultural" events. I must say that they are more representative of Indonesian culture than, let's say, me or my colleagues of "classical music" who are pretentious enough of searching things such as "What is Indonesian classical music ? What is Indonesian opera?" and other useless soul-searching questions. Dangdut IS our identity !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://andystarblogger.blogspot.com/"&gt;http://andystarblogger.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-6899111275914956373?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6899111275914956373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6899111275914956373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/jokpiniana-i-reflection-on-dangdut.html' title='Jokpiniana I : A reflection on dangdut'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-819852682980171666</id><published>2010-05-05T10:42:00.002+07:00</published><updated>2010-05-05T10:52:33.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Okke K.S. Zaimar'/><title type='text'>Joko Pinurbo: Penyair Muda yang Penuh Potensi</title><content type='html'>&lt;b&gt;Prof. Dr. Okke Kusuma Sumantri Zaimar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Staf Pengajar Program Studi Prancis FIB-UI) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila saya bandingkan dengan puisi karya penulis modern Indonesia lainnya, seperti Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri, puisi Joko Pinurbo ini memang mempunyai gaya tersendiri. Puisi-puisi ini tidak bergaya "wah", melainkan penuh kesederhanaan. Memang beberapa kritikus (a.l. Ayu Utami) menganggap puisi-puisi Joko lebih dekat dengan gaya Goenawan Muhammad dan Sapardi Djoko Damono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat bentuknya, puisi Joko banyak sekali yang bersifat naratif, bahkan dalam sajaknya yang deskriptif pun ia tetap berceritera. 90% dari karya Joko Pinurbo bersifat naratif. Berbeda dengan puisi pada umumnya yang sangat mementingkan bentuk sajak atau pembagian per bait, sajak Joko banyak yang menampilkan bait seperti paragraf saja, bahkan sering kali sajak tampil tanpa bait, jadi merupakan satu kesatuan. Seperti sajak modern lainnya, sajak Joko sering tampil dalam bait-bait yang tidak sama jumlah lariknya. Ada pula pembaca yang mempermasalahkan rima pada sajak-sajak Joko Pinurbo. Meskipun tidak banyak mengandung rima, puisi Joko tetap mengalun. Sering kali rima digunakan sepenuhnya, baik rima selarik mau pun rima akhir larik. Berikut ini contoh rima selarik: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mata air &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di musim kemarau semua sumber air di desa itu&lt;br /&gt;mengering. Perempuan-perempuan legam&lt;br /&gt;berbondong-bondong menggendong gentong&lt;br /&gt;menuju sebuah desa di bawah pohon beringin&lt;br /&gt;di celah bebukitan. Tawa mereka yang renyah&lt;br /&gt;menggema nyaring di dinding-dinding tebing, pecah&lt;br /&gt;di padang-padang gersang.(…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal 128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cuplikan di atas, tampak bahwa meskipun tak ada rima akhir, larik ke 3, ke 6 dan 7 mengandung rima selarik bunyi / /, / / dan / / yang menimbulkan kesan pantulan gema, namun bagi penyair kita ini tampaknya apabila tidak diperlukan, rima tak perlu ada. Maka rima, terutama rima akhir, sering ditinggalkan. Susunan bahasa Indonesia yang digunakan Joko cukup rapih, lisensia puitika yang banyak digunakan hanyalah enjambemen, yaitu pemotongan kalimat sebelum selesai, kemudian dilanjutkan di larik berikutnya. Hal ini memberi kesan lompatan-lompatan, dan bila dihubungkan dengan makna dalam sajak di atas memberikan gambaran jalan yang sama sekali tidak rata, sehingga orang yang menggendong gentong itu perlu ekstra hati-hati, agar air yang dibawanya tidak tumpah. Berikut ini sebuah sajak lagi yang menampilkan rima khas sajak Joko Pinurbo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bercukur sebelum Tidur &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercukur sebelum tidur,&lt;br /&gt;membilang hari-hari yang hancur,&lt;br /&gt;membuang mimpi-mimpi yang gugur,&lt;br /&gt;memangkas semua yang ranggas dan uzur,&lt;br /&gt;semoga segala rambut, segala jembut,&lt;br /&gt;bisa lebih rimbun dan subur.&lt;br /&gt;Lalu datang musim, dalam curah angin,&lt;br /&gt;menumpahkan air ke seluruh dataran,&lt;br /&gt;ke gunung-gunung murung&lt;br /&gt;dan lembah-lembah lelah di seantero badan.&lt;br /&gt;Jantungku meluap, penuh.&lt;br /&gt;Sungai menggelontor, hujan menggerejai&lt;br /&gt;di sektor-sektor irigasi di agrodarahku.&lt;br /&gt;Malam penuh traktor, petani mencangkul&lt;br /&gt;di hektar-hektar dagingku.&lt;br /&gt;Tubuhku hutan yang dikemas&lt;br /&gt;menjadi kawasan megaindustri&lt;br /&gt;di mana segala cemas, segala resah&lt;br /&gt;diolah di sentra-sentra produksi.&lt;br /&gt;Tubuhku ibukota kesunyian yang diburu investor&lt;br /&gt;dari berbagai penjuru.&lt;br /&gt;Tubuhku daerah lama yang ditemukan kembali,&lt;br /&gt;daerah baru yang terberkati.&lt;br /&gt;Lalu tubuhku bukan siapa-siapa lagi.&lt;br /&gt;Tubuhku negeri yang belum diberi nama.&lt;br /&gt;Dan kuberi saja nama dengan sebuah ngilu&lt;br /&gt;saat bercukur sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak di atas ini, kita lihat bahwa pada awalnya Joko menggunakan rima akhir sepenuhnya, kemudian makin lama, makin berkurang, meskipun ia masih menggunakan rima selarik ("ke gunung-gunung murung", dan "ke lembah-lembah lelah"), dan akhirnya rima ditinggalkan, seakan tidak dipedulikan sama sekali. Kesela-rasan bunyi itu ditinggalkan begitu saja, seakan suatu ejekan pada bentuk puisi lama, bahkan mungkin suatu ejekan pada "keharmonisan". Bentuk bait pun tidak ditampilkan, padahal dengan adanya tanda-tanda kesatuan kalimat, sangat mudah untuk menentukan batas-batas bait. Namun memang Joko tidak menghendaki hal ini. Dari segi isi, kita lihat bahwa tindakan yang sangat bersifat pribadi ini (Bercukur sebelum tidur) melalui gaya bahasa simile, telah bergeser menjadi suatu gambaran tentang hutan-hutan yang telah menjadi megaindustri "di mana segala cemas, segala resah diolah di sentra-sentra produksi" Dengan halus, Joko mengemukakan keadaan yang mengkhawatirkan itu dan memberinya nama "sebuah ngilu". Kata yang sederhana ini digunakan untuk menggambarkan seluruh perasaan khawatir dan cemas melihat negrinya diburu para investor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi sajak yang menggunakan rima penuh, karena mengandung repetisi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Naik Bus di Jakarta &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopirnya sepuluh.&lt;br /&gt;Kernetnya sepuluh.&lt;br /&gt;Kondekturnya sepuluh.&lt;br /&gt;Pengawalnya sepuluh.&lt;br /&gt;Perampoknya sepuluh.&lt;br /&gt;Penumpangnya satu, kurus,&lt;br /&gt;dari tadi tidur melulu;&lt;br /&gt;kusut matanya, kerut keningnya&lt;br /&gt;seperti gambar peta yang ruwet sekali.&lt;br /&gt;Sampai di terminal, kondektur minta ongkos:&lt;br /&gt;"Sialan, belum bayar sudah mati!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 118)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima larik awal menampilkan repetisi kata "sepuluh" di akhir larik, sehingga tentu menimbulkan rima penuh, namun kemudian pada larik ke 6, 7 dan 8 rima mulai berkurang untuk pada akhirnya hilang sama sekali. Inilah cara khas Joko mengatur rima. Dari segi makna, sepintas lalu sajak ini terasa lucu, terutama melihat oposisi antara angka sepuluh bagi sopir, kernet, kondektur, pengawal (yang biasanya hanya terdiri dari satu orang di setiap bus) dan perampok, dengan penumpang yang biasanya banyak, hanya disebut satu. Namun, kelucuan di awal sajak berubah menjadi tragedi di akhir sajak. Rupanya penumpang yang banyak itu cukup disebut satu, untuk mengemukakan kesamaan nasib mereka. Kesengsaraan hidup di kota besar hanya dinyatakan dengan "kusut matanya, kerut keningnya seperti gambar peta yang ruwet sekali". Kemudian, sesampai di terminal, ternyata penumpang itu telah mati, dan kata-kata yang diucapkan kondektur sangat menusuk "Sialan, belum bayar sudah mati!" Bagi kondektur, uang sebanyak dua atau tiga ribu rupiah lebih penting dari nyawa manusia. Joko Pinurbo tidak hanya fasih dalam menampilkan pribadi manusia dan segala persoalannya, namun dalam kesederhanaannya, dia juga sering menampilkan kehidupan masyarakat yang menyentuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak berikutnya mengemukakan peristiwa kekacauan yang terjadi pada bulan Mei 1998. Peristiwa yang mengerikan itu ditampilkan dalam kesederhanaan Joko Pinurbo, seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mei&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jakarta, 1998&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhmu yang cantik, Mei&lt;br /&gt;telah kau persembahkan kepada api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pamit mandi sore itu.&lt;br /&gt;Kau mandi api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api sangat mencintaimu, Mei.&lt;br /&gt;Api mengucup tubuhmu&lt;br /&gt;sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api sangat mencintai tubuhmu&lt;br /&gt;sampai dilumatnya yang cuma warna&lt;br /&gt;yang cuma kulit, yang cuma ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei&lt;br /&gt;adalah juga tubuh kami.&lt;br /&gt;Api ingin membersihkan tubuh maya&lt;br /&gt;dan tubuh dusta kami dengan membakar habis&lt;br /&gt;tubuhmu yang cantik, Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau sudah selesai mandi, Mei.&lt;br /&gt;Kau sudah mandi api.&lt;br /&gt;Api telah mengungkapkan rahasia cintanya&lt;br /&gt;ketika tubuhmu hancur dan lebur&lt;br /&gt;dengan tubuh bumi;&lt;br /&gt;ketika tak ada lagi yang mempertanyakan&lt;br /&gt;nama dan warna kulitmu, Mei. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 120) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini terdiri dari empat bait yang masing-masing tidak mementingkan rima. Sebagaimana juga dalam sajak-sajak Joko Pinurbo yang lain, kalimat-kalimatnya tersusun rapih, kadang-kadang menempati dua atau tiga larik, sehingga memungkinkan adanya lompatan sintaksis, enjambemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak ini, kerusuhan bulan Mei digambarkan bagai tubuh gadis yang cantik. Lagi pula, Mei bisa jadi nama seorang perempuan Cina, misalnya: Mei-Mei, Mei-Lan, Mei-Ling, dan seterusnya. Salah satu keahlian Joko Pinurbo adalah mengemukakan pisau bermata dua. Apabila pembaca menganggap Mei itu nama seorang perempuan, maka ia berhadapan dengan tragedy satu anak manusia, namun bila ia menganggap Mei sebagai personifikasi dari waktu (bulan Mei), maka ia berhadapan dengan tragedi bangsa yang terjadi pada bulan Mei 1998. Tak ada gambaran yang hebat mengenai peristiwa kerusuhan itu, namun justru api digambarkan bagai seseorang yang mencintai dan melumat kekasihnya. Namun, yang dilumatnya "cuma warna, cuma kulit, dan cuma ilusi". Jadi yang dibakar para perusuh itu bukanlah esensi manusia, melainkan hanya kulit luar dan bayangan saja. Gagasan ini dipertegas lagi dalam larik-larik berikutnya: "Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei" Memang, kerusuhan bulan Mei itu muncul karena adanya kebohongan, dusta yang bisa membangun gagasan-gagasan yang maya, ilusi semata. Itulah sebabnya Joko menghubungkan api dengan mandi "Kau sudah mandi api". Sebagaimana dalam sajak-sajaknya yang lain, mandi bagi Joko adalah pembersihan diri. Itulah beberapa sajak Joko yang mengemukakan kegalauan masyarakat: berhektar-hektar hutan yang berubah menjadi megaindustri, kesengsaraan rakyat ibukota yang naik bus dan kerusuhan bulan Mei. Hal ini saya soroti untuk menepis anggapan bahwa dalam sajak-sajaknya, Joko Pinurbo hanya sibuk dengan diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, marilah kita cermati tema yang hadir pada sajak-sajak Joko Pinurbo. Dalam waktu yang terbatas ini, tentu tidak mungkin saya membahas semua sajak yang jumlahnya seratus itu, jadi saya hanya akan membahasnya secara keseluruhan karya dengan mengambil beberapa bagian sajak sebagai cuplikan. Untuk menemukan tema utama, maka akan saya cari motif dan sub-motif yang mendukung tema dengan melihat kosakata yang digunakan oleh penyair.Motif pertama yang tampak menonjol adalah motif kematian yang didukung oleh kata-kata: kuburan yang hadir hampir di semua sajak, kemudian kata makam, ke-randa, mayat, jenazah, bangkai, korban yang terbantai, kain kafan, batu-batu nisan, dan yang lainnya. Apa makna kematian bagi penyair? Kalau kita perhatikan, kematian bagi Joko Pinurbo tidaklah terlalu menakutkan, hampir di setiap sajaknya dia menggunakan kata kuburan. Misalnya dalam sajak "Celana 1":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;"Kalian tidak tahu ya,&lt;br /&gt;aku sedang mencari celana&lt;br /&gt;yang paling pas dan pantas&lt;br /&gt;buat nampang di kuburan."&lt;br /&gt;(…) (Pacar Senja, hal.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dalam sajak "Celana 3":&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih&lt;br /&gt;yang menunggunya di pojok kuburan.&lt;br /&gt;(…) (Pacar Senja, hal 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kisah Senja":&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Istrinya masih asyik di depan cermin, menghabiskan&lt;br /&gt;bedak dan lipstik, menghabiskan sepi dan rindu."&lt;br /&gt;Aku mau piknik sebentar ke kuburan. Tolong jaga&lt;br /&gt;rumah ini baik-baik. Kemarin ada pencuri masuk&lt;br /&gt;mengambil buku harian dan surat-suratmu."&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam "Boneka 2":&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;"Mungkin ia sudah bosan dengan kita," gajah berkata.&lt;br /&gt;"Mungkin sudah hijrah ke lain kota" anjing berkata.&lt;br /&gt;"Mungkin pulang ke kampung asalnya" celeng berkata.&lt;br /&gt;"Ah, ia sedang nonton dangdut di kuburan,"&lt;br /&gt;monyet berkata. "Siapa tahu ia tersesat&lt;br /&gt;di tanah leluhur kita," yang lain berkata.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pulang Malam":&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Di atas puing-puing mimpi&lt;br /&gt;dan reruntuhan waktu&lt;br /&gt;tubuh kami hangus dan membangkai&lt;br /&gt;dan api siap melumatnya&lt;br /&gt;jadi asap dan abu.&lt;br /&gt;Kami sepasang mayat&lt;br /&gt;ingin kekal berpelukan dan tidur damai&lt;br /&gt;dalam dekapan ranjang. (Pacar Senja, hal 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kain Kafan":&lt;br /&gt;Kugelar tubuhku di atas ranjang&lt;br /&gt;seperti kugelar kain kafan yang telah dibersihkan.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Kulipat tubuhku di atas ranjang&lt;br /&gt;seperti kulipat kain kafan&lt;br /&gt;yang kaujadikan selimut tadi malam. (Pacar Senja, hal.79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perias Jenazah":&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah&lt;br /&gt;yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya.&lt;br /&gt;Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya&lt;br /&gt;jenazah perempuan yang malang itu. "Biar kurias parasmu&lt;br /&gt;dengan air mataku sampai sempurna ajalmu."&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggald&lt;br /&gt;an tak ada yang meriasnya. Jenazahnya tampak lembut&lt;br /&gt;dan cantik, dan arwah-arwah yang pernah didandaninya&lt;br /&gt;pasti akan sangat menyayanginya.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak "Mudik":&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Nenek sedang meninggal dunia.&lt;br /&gt;Tubuhnya terbaring damai di ruang do’a,&lt;br /&gt;ditunggui boneka-boneka lucu kesayangannya.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 95-96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran kematian. Kuburan bagi Joko adalah tempat nampang, tempat menunggu kekasih, tempat piknik, tempat nonton dangdut. Dalam "Pulang Malam" memang ada gambaran yang agak keras "tubuh kami hangus dan membangkai", tetapi gambaran yang keras itu dihaluskan kembali pada bait selanjutnya "Kami sepasang mayat ingin kekal berpelukan dan tidur damai dalam dekapan ranjang.", sedangkan gambaran kain kafan disamakan saja dengan kain putih dan selimut. Gambaran kematian yang mengharukan tampak pada sajak "Perias Jenazah". Jenazah itu dirias dengan air mata. Dan ketika pada gilirannya si perias jenazah itu meninggal, jenazahnya kelihatan lembut dan cantik, meski pun tak ada yang meriasnya, karena ia disayangi oleh arwah-arwah yang pernah diriasnya. Dalam sajak "Mudik" kematian juga tidak menampilkan wajah yang menakutkan, melainkan wajah ketenangan dan kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita lihat motif yang ke dua, yaitu motif berlarinya waktu. Motif ini sangat menonjol. Bahkan lebih dari 25% dari judul sajak menggunakan kosakata yang mengandung komponen makna waktu, yaitu: "Terkenang Celana Pak Guru", "Perjamuan Petang", "Selepas Usia 60", "Kisah Senja", "Gadis Malam di Tembok Kota", "Bercukur sebelum Tidur", "Perempuan Senja", "Gadis Enam Puluh Tahun", "Kecantikan Belum Selesai", "Pacar Senja", "Kisah Semalam", "Doa sebelum Mandi", "Pulang Malam", "Penumpang Terakhir", "Telpon Tengah Malam", "Tuhan Datang Malam Ini", "Minggu Pagi di Sebuah Puisi", "Mei", "Ronda", "Baju Bulan", "Bayi di Dalam Kulkas", "Surat Malam untuk Paska", "Selamat Tidur", "Penjual Kalender", "Februari yang Ungu". Ini baru judul saja, tentu perhitungan ini tidak akurat. Seharusnya semua sajak diteliti satu per satu. Meskipun demikian, melihat jumlah judul sajak, kita sudah dapat melihat bahwa tema waktu sangat dominan. Kini marilah kita lihat bagaimana "wajah" waktu ditampilkan oleh penyair. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak "Di Salon Kecantikan":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Senja semakin senja.&lt;br /&gt;Jarinya meraba kerut di pelupuk mata.&lt;br /&gt;Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap&lt;br /&gt;yang ingin diulur-ulur terus&lt;br /&gt;namun toh luput juga.&lt;br /&gt;Karena itu ia ingin mengatakan,&lt;br /&gt;Mata, kau bukan lagi bulan binal&lt;br /&gt;yang menyimpan birahi dan misteri.&lt;br /&gt;Ia pejamkan matanya sedetik&lt;br /&gt;dan cukuplah ia mengerti&lt;br /&gt;bahwa gairah dan gelora&lt;br /&gt;harus ia serahkan pada usia.&lt;br /&gt;Toh ia ingin tegar bertahan&lt;br /&gt;dari ancaman memori dan melankoli.&lt;br /&gt;Ia seorang pemberanidi tengah kecamuk sepi.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Mengapa harus menyesal?&lt;br /&gt;Mengapa takut tak kekal?&lt;br /&gt;Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal?&lt;br /&gt;Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar&lt;br /&gt;yang pura-pura tak saling mengenal.&lt;br /&gt;"Aku cantik. Aku ingin tetap mempesona.&lt;br /&gt;Bahkan jika ia yang di dalam cermin&lt;br /&gt;merasa tua dan sia-sia."&lt;br /&gt;Yang di dalam kaca tersenyum simpul&lt;br /&gt;dan menunduk malu&lt;br /&gt;melihat wajah yang diobrak-abrik tatawarna.&lt;br /&gt;Alisnya ia tebalkan dengan impian.&lt;br /&gt;Rambutnya ia hitamkan dengan kenangan.&lt;br /&gt;Dan ia ingin mengatakan,&lt;br /&gt;Rambut, kau bukan lagi padang rumput&lt;br /&gt;yang dikagumi para pemburu.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;"Aku minta sedikit waktu lagi&lt;br /&gt;buat tamasya ke dalam cemas.&lt;br /&gt;Malam sudah hendak menjemputku&lt;br /&gt;di depan pintu."&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Senja semakin senja.&lt;br /&gt;Kupu-kupu putih hinggap di pucuk payudara.&lt;br /&gt;Tangannya meremas kenyal yang mrucut&lt;br /&gt;dari sintal dada.&lt;br /&gt;Dan ia ingin mengatakan,&lt;br /&gt;Dada, kau bukan lagi pegunungan yang indah&lt;br /&gt;yang dijelajahi para pendaki.&lt;br /&gt;(…) &lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 19-22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan "kematian", wajah "waktu" menampilkan kecemasan yang sangat kuat. Si narator tahu bahwa ia harus menyerahkan segalanya pada usia, namun ia tetap "tegar melawan ancaman memori dan melankoli" Jeritan hatinya sangat menyentuh. Ia mempertanyakan mengapa harus menyesal dan mengapa takut tak kekal. "menyesal" dan "tak kekal" adalah dua hal yang tak dapat dirubah lagi dengan berlarinya waktu tanpa memperdulikan usahanya untuk menentang waktu dengan menggunakan salon kecan-tikan. Ia tahu bahwa usahanya akan sia-sia, namun di akhir sajak, dia menjadi tabah. Motif berlarinya waktu ini, tampak pula dalam sajak "Pacar Senja":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;"Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat&lt;br /&gt;kurapikan lagi waktu? Betapa lekas ciummenjadi bekas." (…) (Pacar Senja, hal. 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ada pula gambaran waktu yang tidak begitu menakutkan, contoh sajak "Mudik":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Waktu kadang begitu simple dan sederhana:&lt;br /&gt;Ibu sedang memasang senja di jendela.&lt;br /&gt;Kakek sedang menggelar hujan di beranda.&lt;br /&gt;Ayah sedang menjemputku entah di setatsiun mana.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Begitu simpel dan sederhana, sampai aku tak tahu&lt;br /&gt;butiran waktu sedang meleleh dari mataku.&lt;br /&gt;Dalam sajak di atas, waktu tidak tampil sebagai sosok yang menakutkan, melainkan sebagai hal yang mengharukan, karena butiran waktu yang meleleh adalah air mata kenangan yang dimiliki si aku narrator. Hal yang sama tampak pula dalam sajak "Penjual Kalender":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Lelaki tua berulang kali menghitung receh di tangan,&lt;br /&gt;barang dagangannya sedikit sekali terbeli.&lt;br /&gt;"Makin lama waktu makin tidak laku," ia berkeluh sendiri.&lt;br /&gt;Anaknya tertidur pulas di atas tumpukan kalender&lt;br /&gt;yang sudah mereka jajakan berhari-hari.&lt;br /&gt;Lelaki tua membangunkan anaknya. "Tahun baru&lt;br /&gt;sudah tiba, Plato. Ayo pulang. Besok kembalikan saja&lt;br /&gt;kalender-kalender ini kepada pengrajin waktu."&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Tuan kecil segera ingin menyambung tidurnya.&lt;br /&gt;Ibunya menepuk pantatnya: "Kau telah dinakali waktu,&lt;br /&gt;Buyung? Kok tubuhmu terhuyung-huyung?"&lt;br /&gt;Ia ibu yang pandai merawat waktu. Terberkatilah waktu.&lt;br /&gt;Dengan sabar dibongkarnya tumpukan kalender itu.&lt;br /&gt;Ha! Berkas-berkas kalender itu sudah kosong,&lt;br /&gt;ribuan angka dan hurufnya lenyap semua. Dalam sekejap&lt;br /&gt;ribuan kunang-kunang berhamburan memenuhi ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran waktu pada sajak di atas tidak bersifat gamblang seperti yang lainnya. Memang waktu telah berlalu, sehingga kalender itu tidak laku lagi. Di satu pihak, waktu seakan dianggap sebagai benda, ada pengrajin waktu yang mengaturnya. Di lain pihak, waktu juga dipersonifikasikan, sehingga si ibu menanyakan apakah anaknya telah dinakali waktu. Memang tanpa terasa, waktu sering menipu atau menakali manusia. Namun pada akhir sajak, dikatakan bahwa berkat kepandaian ibunya merawat waktu, atau menggunakan waktu, maka angka-angka dan huruf pada kalender dapat berubah menjadi kunang-kunang. Binatang-binatang kecil yang hidup di waktu malam berkelap-kelip, bercahaya dan nampak indah. Mungkin saja hal itu merupakan metafora dari harapan-harapan manis si ibu. Kejengkelan pada waktu tampak dalam sajak "Anjing":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku dijaga dua anjing cerdas: anjing sungguhan&lt;br /&gt;dan anjing-anjingan. Anjing sungguhan sungguh cerewet&lt;br /&gt;dan sok polisi: sepi berkelebat sedikit saja&lt;br /&gt;ia sudah panik, lalu menyalak keras sekali.&lt;br /&gt;Anjing-anjingan sungguh kalem lagi pemalu:&lt;br /&gt;maklum, tubuhnya terbuat dari waktu, eh batu.&lt;br /&gt;Entah mengapa malam lebih takut pada anjing-anjingan&lt;br /&gt;ketimbang pada anjing sungguhan sehingga anjing&lt;br /&gt;sungguhan jadi cemburu. "Aku yang sibuk menjaga&lt;br /&gt;rumah ini, kau yang lebih ditakuti. Dasar anjing!"&lt;br /&gt;kata anjing sungguhan kepada anjing-anjingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini lebih bersifat "canda", sehingga penampilan waktu di sini tidak menakutkan. Klausa "tubuhnya terbuat dari waktu, eh batu" menunjukkan canda itu. Namun kejengkelan terhadap waktu sangat terasa. Seruan si anjing asli : "Dasar anjing!" menunjukkan perasaan jengkel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, sebagai motif yang ke tiga kita lihat motif manusia yang terdiri yaitu Ibu, Bayi, dan Tubuh. Yang termasuk sub-motif Ibu adalah: perempuan, kekasih, pacar, gadis, dan lain-lain. 13 dari 100 judul sajak, termasuk sub-motif Ibu. Judul-judul itu adalah: "Celana Ibu", "Gadis malam di Tembok Kota", "Perempuan Senja", "Gadis Enam Puluh Tahun", "Pacar Senja", "Ranjang Ibu", "Penyair Kecil", "Pohon Perempuan", "Mei", "Perempuan Jakarta", "Pacar Kecilku", "Kekasihku", "Ibuku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu adalah sosok yang digambarkan kuat dan penuh kreasi.. Dia memberikan bekal pada putra-putrinya, bahkan Jesus pun sebelum pergi ke surga mendapat bekal dari ibunya. Hal ini tampak dalam sajak "Celana Ibu":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria sangat sedih menyaksikan anaknya&lt;br /&gt;mati di kayu salib tanpa celana&lt;br /&gt;dan hanya berbalutkan sobekan jubah&lt;br /&gt;yang berlumuran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit&lt;br /&gt;dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang&lt;br /&gt;ke kubur anaknya itu, membawakan celana&lt;br /&gt;yang dijahitnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paskah?" tanya Maria.&lt;br /&gt;"Pas sekali, Bu." jawab Yesus gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan celana buatan ibunya,&lt;br /&gt;Yesus naik ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita lihat kecintaan seorang ibu. Bahkan Yesus menerima celana buatan ibunya dengan gembira.Sang ibu sedih melihat penderitaan anaknya, dan ia berusaha untuk menguranginya. Celana bukan berarti pakaian biasa, melainkan juga penutup aurat yang pertama. Celana untuk sang putra dijahit sendiri oleh ibundanya, di situlah letak kecintaan si ibu. Ibu juga kerap digambarkan menderita, seperti tampak pada "Ranjang Ibu":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia gemetar naik ke ranjang&lt;br /&gt;sebab menginjak ranjang serasa menginjak&lt;br /&gt;rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang.&lt;br /&gt;Dan bila sesekali ranjang berderak datau berderit,&lt;br /&gt;serasa terdengar gemeretak tulang&lt;br /&gt;ibunya yang sedang terbaring sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar penderitaan si Ibu, sehingga sang anak selalu merasa mendengar gemeretaknya tulang ibu. Hal ini menunjukkan bahwa si ibu selalu bekerja keras. Sajak lain menggambarkan kebahagiaan seorang anak yang berada dalam asuhan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ibuku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu suka membacakan buku untuk menghantar tidurku.&lt;br /&gt;Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan&lt;br /&gt;ibuku, sambil membayangkan dan bertanya ini itu.&lt;br /&gt;Aku pun terlelap dalam mimpi, terbang ke tempat-tempat&lt;br /&gt;yang belum kukenali. Ketika bangun, kurasakan basah&lt;br /&gt;di celana. Wah, beta telah ngompol dalam dekapan bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa penuh kebahagiaan si narator yang sedang dimanja oleh ibunya.Inilah kebahagiaan masa kecil yang tak terlupakan. Selain memanjakan, si ibu juga mendidiknya dengan baik, ia selalu menyuruhnya membaca, sehingga setelah dewasa, si anak merasa ibunya telah menjadi buku dan akan tetap menuntunnya. Kecintaan seorang ibu pada anaknya, memang tak terbatas. Bahkan anaknya yang durhaka pun masih ingin dilindunginya. Gagasan ini tampak dalam sajak "Pohon perempuan" (Pacar Senja, hal. 119). Joko Pinurbo banyak menggambarkan perempuan dalam penderitaannya. Sajak "Perempuan Jakarta" menampilkan penderitaan seorang perempuan malam di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Pada sebuah billboard masih juga ia bertahan&lt;br /&gt;dengan airmata yang disembunyikan.&lt;br /&gt;Di halaman para demonstran pesta pora&lt;br /&gt;mengibarkan kata, mengibarkan celana.&lt;br /&gt;"Ayo, kita sergap dia!"&lt;br /&gt;"Ayo tangkap saya!" ia menantang&lt;br /&gt;sambil pamerkan pantatnya yang matang.&lt;br /&gt;Mereka lalu mengepungnya,&lt;br /&gt;ingin meraih wajahnya, meraih sakitnya.&lt;br /&gt;"Rebutlah aku!" ia merayu&lt;br /&gt;dan mereka siap menyerbu.&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal.121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan perempuan nakal tampak lebih mengigit lagi dalam sajak "Gadis Malam di Tembok Kota":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Wajah ranum yang merahasiakan derita dunia;&lt;br /&gt;leher langsat yang menyimpan jeritan;&lt;br /&gt;dada segar yang mengentalkan darah dan nanah;&lt;br /&gt;dan lubang sunyi, di bawah pusar,&lt;br /&gt;yang dirimbuni rumput berduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…)&lt;br /&gt;Dan dengan cinta yang agak berangasan diterkamnya&lt;br /&gt;dada yang beku, pinggang yang ngilu, seperti luka&lt;br /&gt;yang menyerahkan diri pada sembilu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pacar Senja, hal. 23, 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembahasan motif secara agak mendalam, kini marilah kita lihat keseluruhan motif, meskipun, karena ketiadaan waktu, motif selanjutnya tidak akan dibicarakan secara rindi bersama sajak-sajaknya. Meskipun demikian, pembahasan berikut akan menampilkan hubungan antara satu motif dengan yang lainnya sehingga tema dapat lebih dipahami dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembicaraan tentang sub-motif perempuan, kini akan dilihat kehadiran sub-motif laki-laki. Sub-motif ini tidak begitu banyak, dalam judul sajak terdiri dari 6 judul, yaitu : "Terkenang Celana Pak Guru", "Tukang Cukur", "Penjual Buah", "Loper Koran", "Ronda", "Penjual Bakso", dan lain-lain. Sub-motif ini tidak akan disoroti karena tidak dominan. Yang menarik adalah sub-motif benda dan ruang, yaitu tempat tidur, ranjang, kamar mandi yang cukup banyak terlihat dalam judul., yaitu: "Toilet", "Pulang Mandi", "Di Sebuah Mandi", "Do’a sebelum Mandi", "Antar Aku ke Kamar Mandi", "Mandi". Setelah itu ada "Ranjang Putih", "Tahanan Ranjang", "Ranjang Ibu", "Rumah Kontrakan". Dari analisis sajak, tampak bahwa yang banyak digunakan penyair untuk menyebut ruang adalah kamar mandi dan ranjang. Kamar mandi sering muncul sebagai pembersih jiwa dan raga, pembersih dosa. Sedangkan ranjang justru digunakan untuk berbuat dosa. Peristiwa mandi banyak dikemukakan demikian juga peristiwa hubungan seksual, bahkan juga perkosaan. Seks banyak ditampilkan dalam berbagai sajak, meskipun dalam judul hanya ada satu: "Di Sebuah Vagina". Obsesi pembicaraan tentang seks ini, timbul dari keinginan untuk menggambarkan penderitaan kaum perempuan, sebagai objek yang dieksploitir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu pakaian merupakan motif penting. Meskipun demikian, sebagaimana juga ruang, tak banyak jenis pakaian yang muncul. Yang sering kita lihat adalah celana yang digunakan sebagai judul tiga buah puisi berturut-turut ("Celana 1", "Celana 2" dan "Celana 3"). Selain itu, sarung atau kain sarung juga sering muncul dalam sajak Joko. Keduanya mempunyai persamaan, yaitu penutup tubuh bagian bawah (penutup aurat yang utama). Tak ada lagi pakaian lain yang sering disebut, kecuali celana dan kain sarung. Misalnya, dalam sajak perjamuan petang, celana memegang peran penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tema apakah yang dapat terbentuk dari motif-motif ini? Telah dikemukakan bahwa motif kuburan dan motif berlarinya waktu adalah dua motif yang sangat dominan. Keduanya berkaitan erat, karena ujung berlarinya waktu adalah kuburan. Yang agak istimewa adalah gambaran kuburan tidaklah menakutkan, melainkan tempat yang menyenangkan (tempat pertemuan kekasih, tempat piknik atau nonton dangdut). Sebaliknya, tema waktu tampak sebagai sesuatu yang menakutkan, menyedihkan dan menjengkelkan. Jadi rupanya waktulah yang menjadi persoalan dalam sajak-sajak ini. Mungkin kekhawatiran untuk menjadi tua, tidak cantik dan kehilangan keperkasaan, merupakan hal yang menakutkan. Bahkan lebih menakutkan dari kematian itu sendiri. Sementara itu banyaknya gambaran tentang hubungan seks beserta ranjangnya dan tempat pembersihan dosa (kamar mandi) yang dilanjutkan dengan gambaran mengenai kebahagiaan bersama ibu mendukung tema awal kehidupan. Tema ini bersambung dengan kehidupan dalam masyarakat , dalam kekhawatiran akan berlalunya waktu dengan cepat dan semua akan berakhir di kuburan. Jadi, dapat dikatakan bahwa tema keseluruhan sajak Joko Pinurbo adalah siklus kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Disajikan dalam seminar Gelar Sastra Dunia, FIB-UI, 19-20 Juli 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-819852682980171666?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/819852682980171666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/819852682980171666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/joko-pinurbo-penyair-muda-yang-penuh.html' title='Joko Pinurbo: Penyair Muda yang Penuh Potensi'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4191801483438894650</id><published>2010-05-05T10:34:00.001+07:00</published><updated>2010-09-02T16:02:26.391+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sapardi Djoko Damono'/><title type='text'>(Catatan Sapardi)</title><content type='html'>Kekuatan puisi Joko bersumber pada ironi yang ditata terutama dengan personifikasi, yang menyebabkan semua benda –tak terkecuali yang abstrak—menjadi manusiawi. Puisi Joko tidak disusun dalam kalimat yang tidak ada logikanya, dan memang seharusnya demikian sebab puisi harus disusun dalam bahasa yang logis. Barangkali sajaknya yang berjudul “Selepas Usia 60”, sajak yang paling saya sukai dalam antologi ini, dapat dijadikan contoh. Sajak ini sebuah lirik meskipun penyair menderetkan sejumlah adegan yang disusun dengan citraan yang sangat tajam. Seorang yang berdiri dekat jendela, tingkah anak kecil yang bermain silat, anak kecil yang belajar mengenakan celana, ibu yang mengintip –misalnya—membentuk citraan yang konkret, yang tidak membedakan kini dan lampau tetapi mengalir sebagai penghayatan terhadap kehidupan, mungkin tepatnya usia tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontras antara manula dan balita dalam sajak ini ternyata justru mengaburkan, di samping juga sekaligus menegaskan, batasnya. …. Teknik penulisan puisi Joko didasarkan pada penyusunan citraan; di dalamnya segala hal yang abstrak menjadi konkret. Ini landasan utama puisi. Puisi tidak abstrak; ia konkret sebab merupakan penghayatan, bukan slogan yang isinya berupa konsep. Satu bait sajak itu saya kutip untuk menegaskan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela, &lt;br /&gt;mengamati tingkah anak kecil yang lucu-lucu. &lt;br /&gt;Saat sekecil mereka saya baru fasih mengucapkan &lt;i&gt;nana&lt;/i&gt;, &lt;br /&gt;maksudnya celana, dan saya belajar keras memakai celana &lt;br /&gt;dan sering keliru: kadang terbalik, kadang seliritnya &lt;br /&gt;menjepit dindaku. Ibu curang: diam-diam mengintip &lt;br /&gt;lewat celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang &lt;br /&gt;karena dua kaki masuk ke satu lubang, ibu buru-buru &lt;br /&gt;menyayang-nyayang pantatku: &lt;i&gt;Jangan menangis, jagoanku. &lt;br /&gt;Celana juga sedang belajar memakaimu&lt;/i&gt;.&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kutipan itu tampak bahwa kontras, ironi, dan paradoks menyatu lewat citraan dan metafor yang jernih, yang memungkinkan pembaca menangkap rangkaian gambar yang menawarkan berbagai tafsir. Dalam tafsir mana pun, tidak akan jelas apakah ini mengenai kesedihan atau kelucuan. Joko telah menempatkan penghayatannya terhadap kehidupan dalam suasana yang tergantung antara keduanya. Ini juga terbaca dari gambar tentang anak lelaki yang belajar memakai celana dan ucapan ibunya yang menyatakan bahwa “celana juga sedang belajar memakaimu”. Tidak lebih dan tidak kurang, kekuatan puisi Joko Pinurbo berlandaskan pada penguasaan bahasa yang kokoh. Kalimat, frasa, dan kata yang disusunnya menunjukkan taraf keterampilan berbahasa yang tinggi, yang menyebabkannya mampu memutarbalikkan logika secara logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(Sapardi Djoko Damono, Pengantar Antologi Puisi 10 Penyair,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Dari Seberang Cuaca&lt;/i&gt;, Warung Apresiasi, Jakarta, Oktober 2004)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4191801483438894650?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4191801483438894650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4191801483438894650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/catatan-sapardi.html' title='(Catatan Sapardi)'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4358153506976375925</id><published>2010-05-05T10:30:00.000+07:00</published><updated>2010-05-05T10:30:09.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayu Utami'/><title type='text'>Gereja dan Pabrik Cerita</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayu Utami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, bahtera Gereja berlayar karena cerita. Imannya berpusaran pada kisah seorang manusia yang mati di kayu salib dekat Yerusalem dengan istimewa (ribuan, mungkin sejuta, orang mati disalib, tapi hanya dia yang menjadi cerita). Dua ribu tahun kemudian, melalui lautan panjang seram, kisah itu telah berbiak di tanah Jawa dan kepulauan lain yang kini menjadi Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu bayi-bayi yang dibaptis sesungguhnya hidup pertama-pertama dari cerita, bukan dari dalil agama. Di tahun 30-an dan 40-an orang tua mereka barangkali menjadi Katolik sebagai bagian dari menjadi modern. Tetapi anak-anak yang lahir kemudian tidak memilih. Mereka diperkenalkan kepada kisah. Sedikitnya setiap minggu dibacakan kisah dalam misa. Tak terhitung ibu ayah serta guru, para kaum dewasa, yang mengulang cerita-cerita dari Kitab kepada bocah-bocah mereka. Kisah yang berhasil, yang menyentuh, akan berpantul-pantul dan bergaung sepanjang hidup si anak. Lalu muncul di tempat lain seperti ikan paus Yunus di kisah Pinokio, perumpamaan tiga orang membangun rumah dalam kisah tiga babi Disney. Bukankah Gereja sebuah pabrik cerita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, seorang anak lelaki lahir di Sukabumi tahun 1962. Dari orang tua Jawa. Joko namanya, artinya putra. Nama sederhana. Satu dari seratus laki-laki Jawa memakai nama itu. Barangkali seperti Joshua (atau Yesus) di bangsa Yahudi dahulu kala. Di masa kecilnya ia pernah sakit-sakitan, dan ketika dewasa kurus bersahaja. Tentulah ia satu dari anak yang suka menelan dan mengunyah-ngunyah cerita dari Kitab. Ketika remaja ia masuk seminari, tapi kapalnya karam di perjalanan. Konon, ketika itu pula ia mulai menemukan puisi, tersempil di antara buku-buku perpustakaan. Di sana ia mendapatkan keharuan kata-kata yang lain, yang lebih memukaunya ketimbang Kitab lamanya. Bahwa dia menemukan puisi sebagai sejenis penglipuran, itulah dorongan sastra yang entah dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun setelah Joko, lahir pula anak perempuan seperti jutaan bayi lain, di Bogor, tak jauh betul dari Sukabumi. Juga dari orang tua Jawa. Ayu namanya, bisa berarti putri. Nama yang terlalu umum pula. Satu dari lima puluh perempuan Jawa memakai nama itu. Bahkan sembilan puluh tujuh persen tukang jamu dipanggil Ayu. Mungkin seperti Mariam (atau Maria) di bangsa Yahudi dahulu kala. Ketika kecil ia sehat biasa saja, dan ketika dewasa ia suka berolahraga. Agar walafiat senantiasa, katanya, dan tentunya tak mudah dikalahkan lelaki. Ia selalu sesumbar, “kalau saya laki-laki, pasti sudah masuk seminari.” Seperti si Joko atau si Sigit atau si Danang. Tapi ia anak gadis maka ia tak dapat kesempatan membuktikan gagal. Pernah ia berkhayal masuk biara. Sayang, cerita bayang-bayang itu sudah tamat sebelum ia menunjukkan apa-apa. Namun kisah-kisah Kitab bergaung terus di kepalanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Joko dan Ayu bertemu sekitar umur tiga puluh. Yang satu kini orang Jogja, yang satu cewek Jakarta. Yang satu sebagai penyair, yang satu lagi pengarang. Mereka adalah sastrawan, kata orang banyak. Yang laki telah menikah, yang perempuan tidak dengan alasan “yang privat itu politis.” Sebab, lebih baik menundukkan yang privat kepada sikap politik ketimbang menundukkan karya sastra kepada jargon. Tapi kelihatannya mereka saling mengagumi karya yang lain.  Atau, barangkali mereka pikir mereka menyukai karya yang lain, padahal alasan sesungguhnya adalah nostalgia dan premordial (bukankah manusia itu kerap sedemikian lemah sehingga tak bisa membedakan selera dan sejarah, kebenaran dan kepentingan?). Mereka memang punya kesamaan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertemu, tanpa mengetahui nama baptis masing-masing, dari hal-hal yang tidak dikatakan, Joko dan Ayu saling tahu bahwa kisah-kisah Kitab berbiak di dalam diri yang lain pula. Maklumlah, orang Katolik Jawa adalah minoritas yang malu-malu—barangkali karena begitulah orang Jawa. Mereka sering menghilangkan nama baptis dan lebih nyaman dengan nama Jawa. (Kita tahu dalam tradisi Jawa nama adalah soal nyaman atau tak nyaman, pas tidak pas dengan karakter dan posisi diri. Nama baptis mungkin terlalu kebarat-baratan dan susah diucapkan bagi banyak orang.) Orang Katolik Jawa tidak terlalu menonjolkan identitas, sembari di saat yang sama mengamat-amati adakah rekan sekitab sekampung. Maka, keduanya gembira tatkala tahu bahwa mereka mengenal seorang pastur yang sama, seorang Belanda mendiang yang berkarya di Jawa Barat, Pater Peperzak, ketika mereka kanak. Setidaknya, mereka pernah bersentuhan dengan orang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tambah senang ketika tahu bahwa mereka sama-sama tergugah oleh sebaris sajak Goenawan Mohamad, sesuatu yang kelak retak / dan kita membikinnya abadi. Kwatrin sebuah poci, benda sehari-hari. Lalu mereka merasa dekat. Sebab, bukan saja mereka sesama minoritas, tapi mereka juga sekular dan haru pada yang mudah retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu minggu istimewa Joko mengirimi Ayu, mungkin juga sekumpulan temannya yang lain, sebuah sms: Pada hari ketiga Maria datang ke makam anaknya dan membawakan celana yang dijahit sendiri. “Pas kah?” Jawab Yesus, “Pas kok.” Waktu itu pekan Paskah. Dalam kumpulan puisinya kemudian, ditemukanlah sms itu, dalam versi panjang, berjudul "Celana Ibu" (2004):&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Maria sangat sedih menyaksikan anaknya&lt;br /&gt;mati di kayu salib tanpa celana&lt;br /&gt;dan hanya berbalutkan sobekan jubah&lt;br /&gt;yang berlumuran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit&lt;br /&gt;dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang&lt;br /&gt;ke kubur anaknya itu, membawa celana&lt;br /&gt;yang dijahitnya sendiri dan meminta&lt;br /&gt;Yesus untuk mencobanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paskah?” tanya Maria.&lt;br /&gt;“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan celana buatan ibunya,&lt;br /&gt;Yesus naik ke surga.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Maka Ayu membaca Joko:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersahaja puisi Joko Pinurbo itu. Bahasanya tanpa pretensi dan kata-katanya semua tersedia dalam kitab suci versi anak-anak. Justru dengan kesederhanaan itu ia menggarap ulang sebuah kisah yang diketahui semua anak, serta mereka yang pernah anak, dengan memberi keharuan baru hubungan bersahaja ibu anak yang berawal dari permainan kata—Pas kah? Pas sekali. Yesus menjadi bocah yang merasa gagah dengan celana baru seperti hadiah naik kelas. Bukankah ia akan naik ke surga? Meski namanya Kabar Gembira, Injil tak pernah mengisahkan Yesus gembira, apalagi karena hal sepele. Kitab itu malah mencatat Yesus jengkel pada pohon ara yang mandul lalu mengutuknya hingga kerontang, padahal bukan salah pohon itu bahwa Yesus kebetulan melintasinya. Kenapa penulis Injil menghapus kegembiraan kecil tetapi merekam kemarahan kecil—toh keduanya sama-sama kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis adalah memilih. Joko memilih haru yang kecil bersahaja, yang tak menjadi perhatian sastra besar Gereja. Kematian menjadi biasa (ia tidak memilih kata “maut”, yang memberi efek mencekam) sebab yang membuat Maria sedih adalah karena anaknya tak pakai celana. Kebangkitan menjadi peristiwa tahunan, seperti naik kelas, seperti pekan suci bagi kita, seperti lakon yang diulang-ulang, dan Maria datang membawakan celana agar anaknya bisa tampil gaya di depan orang banyak. Maka di tingkat hubungan manusia, peristiwa itu kembali istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa besar kerap telah menjadi banal di gereja. Joko menggaraminya dengan rendah hati sebab ia tahu tak satu iota pun boleh dihapus. Ia pasti tahu, cerita kecilnya hanya bisa ada ketika kisah besar menjadi biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Ayu menyukai puisi Joko bukan karena mereka sekitab sehalaman. Melainkan karena sang penyair memberi makna lain pada kisah bersama. Ayu juga menggarap kisah-kisah Kitab. Tapi di tangannya cerita itu menjadi brutal, ekstrim, dan erotis. Ia menjorokkan kisah-kisah Alkitab ke dinding interogasi dan menggarap ulang jalinan kekuasaan di sana. Ia memaksa kisah-kisah itu mengakui dan mengarang motif-motif seperti seorang inkuisitor menganiaya para tertuduh dengan bergairah. Dan kisah-kisah itu menggelepar sensual mendekati ajal. Barangkali karena Ayu perempuan yang, lantaran tumbuh dalam wacana Gereja yang amat patriarkal, merasakan penindasan—sekalipun di tingkat wacana—sekaligus kerinduan yang akut dan paradoksal. Joko sama sekali tidak nampak tertarik pada persoalan kebenaran dan hubungan kuasa dalam Alkitab. Kebenaran, dalam hampir semua sajak-sajaknya, seolah sudah selesai dan terberi. Atau, malah tak penting sama sekali. Sebab kebenaran telah menjadi banal. Atau, barangkali baginya karena kebenaran sejati takkan pernah tercapai di dunia ini, kita harus lebih rendah hati dan tak terlalu berambisi. Biarkan Gereja mengurus kebenaran. Dan penyair memberi garam pada yang sederhana.&lt;br /&gt;Inilah sastra yang sekular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Ayu diundang memberi latihan penulisan di sebuah gereja Kristen kecil di Jakarta Barat. Seperti biasa, ia asyik dengan ketertarikannya sendiri. Seorang peserta pun bertanya, sesuatu yang selama ini tak dia anggap sebagai persoalan: kenapa buku-buku remaja Kristen begitu sedikit terbit dibanding buku bagi remaja Muslim? Kenapa tampaknya remaja Kristen tidak begitu tertarik pada agamanya dibanding remaja Muslim? Anak itu baru beberapa waktu lalu berkunjung ke pameran buku dan melihat begitu banyak penerbit Islam, begitu berlimpah buku remaja mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang ditanya tak begitu tahu jawabnya. Dari segi prosentase penduduk sebetulnya wajar jika buku Islam melimpah. Namun pertanyaan itu bergema di kepalanya, justru karena sebelumnya ia tidak menganggapnya persoalan. Di sinilah, mungkin, poetografi Joko serta kepenyairannya memberi salah satu tawaran penjelasan. Joko Pinurbo adalah satu dari sastrawan dengan latar belakang Katolik. Ia bahkan belajar di seminari Mertoyudan, pernah bekerja bersama Romo Mangun, dan kini masih bekerja di lingkungan penerbitan Katolik. Namun, sajaknya yang bersinggungan langsung dengan iman-agama sedikit saja. Yang menggunakan metafor religi pun sesungguhnya tidak dominan. Di ranah organisasi, penulis Katolik pada umumnya tidak membikin kegiatan yang membawa bendera. Terbitan berlatar Katolik seperti Basis, tempat Joko pernah bergiat, serta jurnal pemikiran lain lebih suka mengikuti jejak Kelompok Kompas Gramedia. Yaitu, menyamar—kalau bukan mengubah diri—sebagai media umum. Penerbit berlatar Islam Mizan, misalnya, menjadi penerbit umum seraya mempertahankan sedikit identitas dalam penampilannya. Joko, Ayu, Dorothea Rosa Herliany—seorang penulis Katolik lain, tidak tertarik membikin forum yang setara dengan Lingkar Pena, kelompok yang digagas oleh sejumlah penulis Muslim yang memang menekankan keislaman. Joko, Dorothea, Ayu lebih setara dengan Johny Ariadinata, Agus R. Sarjono yang Muslim, atau Cok Sawitri, Oka Rusmini yang Hindu—para sastrawan awam, atau barangkali sekular, yang menggarap tema agama juga, hanya ketika merasa intens, tapi bukan sebagai identitas. Apalagi mengagungkannya. Bahkan tak juga menulis untuk membenarkan agama. Para penulis Katolik seperti tak berbendera dan tak beragenda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode ideologis memang telah lewat dalam wacana sastra Indonesia. Joko, seperti juga Ayu, lahir di tahun 60-an. Si penyair masih usia menyusu dan si novelis belum lagi dikandung ketika polemik besar terjadi, yang kemudian hari dikenang sebagai Polemik Kebudayaan. Inilah masa ketika perdebatan ideologi berkuasa atas hal-hal lain di Indonesia, ketika sastrawan dan seniman dikelompokkan secara politis. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), yang ketika itu berjaya dan rapat dengan Sukarno, adalah penggerak utama realisme sosialis. Agendanya menundukkan seni di bawah ideologi. Politik adalah panglima. Di kubu lain, sejumlah seniman yang menentang pandangan tadi akhirnya menerbitkan sebuah pernyataan, Manifes Kebudayaan. Inilah polemik itu, antara dua kubu. Yang satu mengharuskan seni melayani kepentingan “revolusi” (yaitu politik pemerintah), yang lain ingin membebaskan seni darinya. Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang di antara kubu pertama. Goenawan Mohamad, Taufik Ismail di antara kubu kedua. Posisi orang-orang Katolik ketika itu agaknya tidak berpihak pada kaum realisme sosialis. Dalam pengantarnya di Prahara Budaya, Taufik menuliskan bahwa pastor, orang sembahyang, dan haji selalu menjadi olok-olok para Marxis. PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dalam pengalaman Taufik lebih tegas berhadapan dengan PKI dibanding GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Tapi pertentangan ini menjadi tidak imbang karena para pendukung realisme sosialis mempunyai alat kekuasaan. Presiden Sukarno pada bulan Mei 1964 menjatuhkan larangan pada Manifes Kebudayaan. Pendukungnya dianggap “kontrarevolusi.” Lalu terjadilah serangkaian pengganyangan terhadap penandatangan “Manikebu”—begitulah manifes itu kemudian diolok-olok. Penggagas Manifes yang punya kedudukan sebagai pegawai negeri dicopot, misalnya H.B. Jassin dan Wiratmo Soekito—keduanya kini telah almarhum. Serangan sengit itu memang belum berlangsung begitu lanjut ketika keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat dengan peristiwa 30 September 1965. Angkatan Darat di bawah Jenderal Suharto membawa semua yang berafiliasi pada PKI ke tempat pembantaian dan pembuangan yang berlipat-lipat lebih kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi penulis seperti Joko dan Ayu, atau mereka yang lahir setidaknya tahun 60-an, hanya membaca semua itu. Ketika mereka meyimak esai-esai Goenawan Mohamad dalam Kesusastraan dan Kekuasaan, atau kerja Taufik Ismail serta D.S. Moeljanto dalam Prahara Budaya, mereka tahu bahwa mereka kehilangan intensitas yang pernah ada di zaman ketika mereka lahir. Di masa ini tak ada lagi pergulatan hidup dan mati dalam kesenian. Tiada pertaruhan eksistensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya bertumbuh di tahun 70-an dan mulai menulis di akhir 80an. Inilah masa ideologi dicerabut, mahasiswa dijinakkan, dan seni dianjurkan untuk tidak mengemban misi politik. Pemerintah memelihara hubungan pragmatis dengan kelompok agama, dengan kepentingan memelihara agar mereka tetap dalam kontrol. Hal-hal yang terlalu kontroversial dan dianggap melecehkan agama diberangus. Peran politik kelompok Katolik, yang didesas-desuskan melalui think tank Orde Baru CSIS (Center for Strategic and International Studies), tak mengibarkan panji-panji. Dan kelihatannya kepentingan politik utama mereka adalah menjaga agar republik ini tetap sekular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bahwa umumnya penulis Katolik tetap tidak tertarik untuk menyerahkan sastra demi mengagungkan agama barangkali adalah hal lain. Gelombang misionaris Belanda ke pulau Jawa yang datang bersama Politik Etis agak berbeda dari gelombang misionaris Portugis ke Malaka dan kepulauan timur Indonesia sebelum abad 19. Misi Katolik Belanda datang setelah Eropa mengalami sekularisasi besar-besaran. Gereja Katolik sendiri merupakan minoritas di Belanda. Dengan demikian, sejak awalnya mereka punya kepentingan agar negara tidak dikuasai agama mayoritas. Misionaris Belanda berkarya lewat pendidikan dan melalui salah tokoh utamanya F.G.J.M van Lith—biasa disebut Pater van Lith—berjasa pada murubnya kesadaran nasionalisme orang Katolik Jawa melawan kekuasaan kolonial. Ini memberi corak yang khas. Orang Katolik Jawa amat tertarik pada budaya kampung halaman. Dan ini nampak dalam penulisan generasi di atas Joko, Ayu, atau Dorothea. Terutama dalam Sindhunata dan Romo Mangun yang menggarap tema-tema cerita wayang Jawa. Babad, epik, dan kota-kota luar negeri, agaknya, tak begitu punya aura bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad, penyair dan esais yang dikagumi Joko, banyak sekali membuat “sajak&lt;br /&gt;perjalanan.” Negeri asing adalah wilayah yang menggugah. Goenawan memang banyak melakukan perjalanan, namun ia juga menulis sajak tentang negeri lain dalam benaknya, yang tak ia kunjungi. Misalkan Kita di Sarajevo adalah sebuah contoh. Negeri asing sebagai sesuatu yang eksotis juga nampak dalam beberapa penyair lain, seperti Rendra, Sitor Situmorang, atau yang lebih muda, Sitok Srengenge. Ayu di bawah sadarnya melihat Central Park kota New York atau musim salju di Utrecth sebagai pembebasan, tempat manusia Indonesia berjarak dari asal-usul dan melihat dirinya dengan perspektif. Semua itu tidak ditemukan pada sajak-sajak Joko. Ia tertarik pada halaman rumahnya sendiri, kamar tidur sendiri, kakus sendiri. Adakah ini karena ke-Katolik Jawa-annya? Agama itu datang dari “Barat” sehingga “kebaratan” bukan lagi sesuatu yang eksotis dan menimbulkan konflik nilai bagi Joko, seperti juga bagi Romo Mangun dan Sindunata, atau Arswendo Atmowiloto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak menemukan kekatolikan dalam tulisan sastrawan Katolik, jika kata itu merujuk kepada sifat afirmatif terhadap agama. Namun cerita-cerita dari Alkitab dan Gereja menampakkan diri, sesekali atau berulang kali, dengan cara aneh sebagai roh maupun hantu yang menaungi. Seperti sajak Joko Mandi (2003) membawa kita pada pengadilan kisah sengsara ketika orang berseru, “Salibkan dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban segera diseret ke kamar mandi dan diperintahkan &lt;br /&gt;berdiri di depan. Wajahnya tertunduk pucat, tubuhnya&lt;br /&gt;gemetar, dan matanya seperti kenangan yang redup perlahan.&lt;br /&gt;Belum sempat pemimpin rombongan menanyakan tanggal&lt;br /&gt;lahir dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah tak sabar&lt;br /&gt;menyaksikannya sekarat berseru nyaring, “Mandikan dia!&lt;br /&gt;Mandikan dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ayu terkenang akan puisi Joko, ia lebih mengenangnya sebagai cerita, kadang visualisasi, bukan sebagai bunyi. Puitisasi, dalam sajak-sajak Joko, tidak terutama muncul dari bunyi kata-kata melainkan ceritera. Puisinya cenderung naratif. Jika karya Goenawan Mohamad hampir-hampir tak mungkin dinyatakan dengan kata-kata lain (bagaimana menggantikan sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi?), puisi Joko agaknya masih menampung perubahan kata. Sebab cerita mengambil tempat lebih utama. Melankoli dan rasa sakit, yang dominan dalam suasana sajaknya, tidak muncul melalui imaji kata-kata melainkan lewat kisah dan logika cerita yang ganjil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sengsara Tuhan dalam tradisi Katolik adalah kisah utama. Suasana duka, rasa sakit, melankoli, kegagalan adalah rasa dominan pekan sebelum Paskah. Minggu Paskah menuntaskannya dengan kemenangan. Maka kisah sedih itu tinggal kenangan. Itulah risiko yang kerap tergenapi dalam rutinisasi penebusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Katolik punya kegundahan akan segala teknologi yang mengontrol tubuh ke dalam kehendak individu: kontrasepsi, atau juga anaestesi. Anaestesi atau pengebasan membuat rasa sakit menjadi tidak alamiah bagi manusia rasional. Dalam pandangan ini, prosesi maupun obsesi yang memberi penghormatan tinggi pada rasa sakit pun menjadi kelainan jiwa. Namun, sesungguhnya, dengan memberi penekanan terlalu kuat pada kebangkitan, kisah itu memberi pengebasannya sendiri: anaestesi akhir nan bahagia. Agama memang memberi telos, tujuan yang agung seperti sebuah happy ending. Pada saat yang sama, akhir nan jaya ini menjauhkan penderitaan ideal dari penderitaan manusia sesungguhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sajak-sajak Joko mengembalikan itu. Penderitaan menjadi milik manusia mortal. Kesakitannya lebih sering tak bisa dimengerti. Apa gerangan tujuan kesakitan? Karena itu, barangkali, ada beberapa hal yang obsesif dalam sajak-sajak Joko: tubuh yang sakit, manusia yang gagal, kuburan, dan selangkangan—berbeda dari Ayu, pada Joko tanpa erotisme. Sajaknya bercerita tentang celana yang hilang, burung di dalamnya yang terbang, Pak Guru yang resleting celananya melorot dan menjadi penjaga kuburan, celana bayi yang ia cari di makam ibunya. Kuburan dan kelamin tanpa erotisme seolah menekankan mortalitas manusia: dari kelamin ia keluar, ke dalam makam ia menyusup. Jika penderitaan dalam Kisah Sengsara Agung  menjadi drama, penderitaan dalam sajak Joko menjadi ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah penggalan Doa sebelum Mandi (2000):&lt;br /&gt;Tuhan, saya takut mandi. / Saya takut dilucuti. / Saya takut pada tubuh saya sendiri. / Kalau saya buka tubuh saya nanti, / mayat yang saya sembunyikan / akan bangun dan berkeliaran. /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah penggalan dari Pulang Mandi (1999):&lt;br /&gt;“Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda, / “sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.” / Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktu / pada tekstur hidupnya, kerak kenangan / pada tipografi nasibnya. / “Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!” / Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotor / yang lengket di tubuhnya. /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah mandi dalam sajak-sajaknya mengingatkan kita pada ritual permandian sambil tetap menjadikannya profan? Joko menggubah serial sajak bertema kamar mandi, toilet, serta celana. Kita tahu, celana, kamar mandi, dan toilet adalah dunia sehari-hari yang lekat dengan ketelanjangan manusia—dalam keadaan paling buruk dan kotor. Ranjang, di mana ketelanjangan bisa indah, tak sebanyak itu digarap Joko. Ketika dia menggarap ranjang sekalipun, beberapa di antaranya adalah ranjang rumah sakit, yang tetap menghubungkan manusia dengan kematian. Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar / memeluknya erat: "Aku rela jadi keranda untukmu.” (Keranda, 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang dengan penuh maksud ia kaitkan mortalitas dengan transendensi adalah sajak "Meditasi" (2000) yang, dibanding sajaknya yang lain, tidak naratif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Celana tak kuat lagi menampung pantat&lt;br /&gt;yang goyang terus memburu engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantat tak tahan lagi menampung goyang&lt;br /&gt;yang kencang terus menjangkau engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyang tak sanggup lagi menampung sakit&lt;br /&gt;yang kejang terus mencengkram engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telanjang tak mampu lagi melepas,&lt;br /&gt;menghalau Engkau.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak "Meditasi" adalah sajak yang amat sulit untuk dibacakan. Sebab ia bermain di batas rawan antara ironi, sensualitas, dan keilahian. Pementasan yang salah akan membuatnya wagu dan janggal. Sajak ini barangkali adalah sajak sunyi, yang harus dibaca dalam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko dan kesendirian adalah sejalan. Ia selalu membacakan karyanya dengan datar—jika ia harus membaca. Ia bukan penerus Si Burung Merak, bekas Katolik yang nada bacanya mengingatkan Ayu pada khotbah pastor Belanda di masa lalu. Ia juga bukan Sapardi Joko Damono atau Goenawan Mohamad yang menggumam liris hampir tak terdengar. Joko mempunyai artikulasi yang jelas—barangkali bagian dari latihannya di seminari?—namun ekspresinya sungguh lempang, sesederhana kata-kata dalam kebanyakan sajaknya, sehingga pendengar akan memusatkan perhatian pada cerita. Tak ada tempat untuk gaya. Seolah-olah sajaknya memang tidak ditujukan pada penonton atau untuk ditonton. Bahkan ia tak bisa menjawab, sesungguhnya, kenapa ia menulis sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak satu sastrawan pun, agaknya, bisa merumuskan kenapa ia ingin menulis atau kenapa ia&lt;br /&gt;tergugah kata-kata. Kitab suci adalah alat menyampaikan pergulatan iman, namun sastrawan telah lari dari itu dan terpukau pada kata-kata dan kisah. Semoga mereka tak habis-habis menghidupkan cerita.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dimuat dalam buku/bunga rampai &lt;i&gt;Keadilan Sosial – Upaya Mencari Makna Kesejahteraan Bersama di Indonesia&lt;/i&gt; (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4358153506976375925?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4358153506976375925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4358153506976375925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/gereja-dan-pabrik-cerita.html' title='Gereja dan Pabrik Cerita'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-1746591256479101655</id><published>2010-05-05T09:46:00.011+07:00</published><updated>2010-05-05T10:24:16.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayu Utami'/><title type='text'>Joko Pinurbo; Mengapa Kematian, Penyairku?</title><content type='html'>AYU UTAMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap saya menonton ia membacakan sajaknya. Penyair ceking itu membaca tanpa ekspresi. Namun kekuatan kata-katanya senantiasa membuat orang tergelitik. Banyak kali sajaknya membuat penonton terbahak. Lain kali orang menghela nafas masygul. Acap mereka terkikik dan terganggu sekaligus. Sebetulnya, sajak utamanya jarang mengajukan keindahan, baik dalam citra maupun bunyi—dengan kata lain, sajaknya jarang ‘puitis’—tetapi sajak-sajak itu seolah melampaui estetika, menyentuh wilayah peka manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo adalah antitesis ‘aliran Rendra’. Tentu ia bukan yang pertama jika dipertentangkan dengan Burung Merak itu. Di tahun 70-an ada puisi &lt;i&gt;mbeling&lt;/i&gt; yang diperkenalkan Remy Sylado alias Japie Tambajong. Itu adalah puisi dan tulisan nakal dengan kata-kata kasar dan dasar yang dengan sengaja mau mengorak estetika sastra yang mapan. Toh si Burung Merak dan Bengkel Teater-nya menegakkan pengaruh yang tak terbantahkan pada generasi penyair berikutnya, baik dari bentuk puisi maupun segi pertunjukan. Tak ada sampai kini yang menandingi Rendra, pada masa jayanya, dalam menjelmakan puisi sebuah pertunjukan spektakular. Para peniru yang gagal pun tetap menghasilkan deklamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo—generasi anak Rendra, lahir tiga puluh tahun setelah penyair besar itu—adalah kebalikan segalanya. Ia naik ke panggung dengan sederhana. Penampilannya seperti orang kebanyakan yang menjaga kesantunan umum—tanpa anting-anting, rambutnya pendek, ujung bawah kemeja dimasukkan dalam celana, kaus singlet di baliknya, sepatunya pantovel ataupun sepatu sandal bersahaja dan bukan buts yang perkasa. Lalu ia membaca tanpa atraksi, tanpa tekanan, tanpa teriak, tanpa drama. Tanpa kegarangan. Bahkan tanpa keindahan pada puisinya. Ia suka duduk diam-diam dan ia tak suka bersengketa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas di mana kekuatannya? Tentu ada sejumput sajaknya yang liris. Tetapi ia bukan Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono—saya curiga ia dekat selera dengan dua sekawan penyair ini—yang secara keseluruhan menghasilkan sajak-sajak liris untuk dibaca dalam sunyi. Tidak Joko Pinurbo. Meskipun ia mengaku kagum pada karya liris penyair tua itu, kata-kata dalam sajaknya sendiri sering sungguh banal, sedang subjeknya sungguh sehari-hari. Ia bicara soal celana, toilet, kamar mandi—hal yang tidak menggugah, tidak erotis, dan terlalu domestik. Ia bukan Malin Kundang yang takjub pada bandar-bandar di penjuru dunia.[1] Pelesirnya hanya antara “kamar mandi dan ruang tamu”. Maka, kekuatan penyair ini ada pada alur sajaknya yang lateral, &lt;i&gt;nyeleneh&lt;/i&gt;, namun serentak tulus. Ia istimewa sebab kenakalannya tidak politis melainkan apa adanya. Ketulusannya membedakan sajak-sajak ini dari puisi mbeling yang berpolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Joko dimungkinkan untuk &lt;i&gt;nyeleneh&lt;/i&gt; lantaran bentuknya yang bercerita. Secara umum, sajaknya adalah sajak yang bercerita. Itu ciri utamanya. Barangkali sebagian bisa dianggap golongan cerita mini juga. Bentuk ini punya konsekuensi yang menguntungkan penyair. Yaitu, bahwa pembaca menduga sebuah alur dan sebuah akhir. Dari anggapan awal yang tak sepenuhnya disadari inilah Joko mengemudikan cerita mininya kepada alur dan akhir yang tak terduga, menyangkutkannya pada simpul-simpul yang aneh pula. Simpul-simpul ini kerap kali adalah tema-tema besar tersembunyi yang muncul secara ganjil seperti simptom ketegangan saraf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sajaknya yang paling dikenang orang, bahkan dibaca dan diapresiasi oleh anak-anak sekolah,[3] adalah sajak “Celana, 3”. Celana, benda sehari-hari ini—semua manusia modern memakai celana, adalah salah satu subjek penting, muncul berulang kali dengan peran utama maupun sebagai sekadar properti. Tampak hubungan erat antara sajak “Celana, 1” dan “Celana, 3”. Bahkan seri 3 seperti melanjutkan seri 1. Keduanya mengusulkan tokoh utama seorang pria yang / &lt;i&gt;ingin membeli celana baru / buat pergi ke pesta / supaya tampak lebih tampan / dan meyakinkan&lt;/i&gt;. / (Lalu, pria itu) mencoba seratus model celana / di berbagai toko busana / namun tak menemukan satu pun / yang cocok untuknya. / Bahkan di depan pramuniaga / yang merubung dan membujuk-bujuknya / ia malah mencopot celananya sendiri / dan mencampakkannya. / “Kalian tidak tahu ya, / aku sedang mencari celana / yang paling pas dan pantas / buat nampang di kuburan.” / Lalu ia ngacir / tanpa celana / dan berkelana / mencari kubur ibunya / hanya untuk menanyakan, / “Ibu, kausimpan di mana celana lucu / yang kupakai waktu bayi dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, akhirnya, pria itu / &lt;i&gt;telah mendapatkan celana idaman / yang lama didambakan / meskipun untuk itu ia harus berkeliling kota / dan masuk ke setiap toko busana. / Ia memantas-mantas celananya di cermin / sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya / pantat tepos yang sok perkasa. / “Ini asli buatan Amerika,” katanya / kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca. / Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih / yang menunggunya di pojok kuburan. / Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.” / Tapi perempuan itu lebih tertarik / pada yang bernaung di dalam celana. / Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!” / Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru / yang gagah dan canggih modelnya, / dan mendapatkan burung yang selama ini / dikurungnya sudah kabur entah ke mana&lt;/i&gt;. / &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua paragraf itu disusun memanjang dari dua sajak, “Celana, 1” dan “Celana, 3”, yang membuka kumpulan puisi ini. Biasanya, ketika dibacakan, orang menangkap kelucuan yang bersifat ironis pada ‘si tolol yang berlagak di dalam kaca’, ‘pantat tepos yang sok perkasa’, ‘nampang di kuburan’, ‘burung yang kabur entah ke mana’, ‘celana yang dipakai waktu bayi’. Membacanya kita pun tahu keduanya tidak memanjakan telinga kita dengan keindahan rima, pertukaran bunyi, atau segala jurus puisi yang terduga maupun yang menakjubkan. Kesederhanaanya bukan kebersahajaan haiku yang menghadirkan benda-benda harian ke dalam kesadaran liris. Tiada ungkapan, tiada penyejajaran, pun personifikasi. Tak ada kata-kata yang nampak berkilat setelah digosok dengan berkeringat. Tiada pertanyaan-pertanyaan menggugat atau aforisme menyengat. Saya kira keduanya memang tidak ingin mengajukan keindahan yang mengejutkan. Biasanya, sekali lagi, penonton tergelitik mendengar dua sajak itu. Dan ini menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, sesungguhnya, di sana ada yang menghubungkan kita dengan sesuatu yang tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Bukan komedi melainkan tragedi: kematian, serta masa kanak-kanak yang permulaannya tak mungkin diingat, yaitu dari rahim ibu. Inilah sesungguhnya dua tema dasar berkaitan yang senantiasa menghantui sajak-sajak Joko Pinurbo. Keduanya bersatu pada sebuah bayangan berupa liang, entah itu liang kuburan atau liang rahim. Liang yang datang bersama warna gelap. Yang satu merupakan awal, yang lain adalah akhir. Dan tema besar itu pun datang sambil lalu dalam sajak “Celana, 1” maupun “Celana, 3”, seolah bukan hal utama, tapi kita bisa melihat bahwa ia menghantui dan menyerang tiba-tiba. Dalam gambaran tentang kuburan. Sang tokoh pergi ke kubur ibu, sementara pacarnya menanti di kuburan. Mengapa kuburan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya sepertiga dari kumpulan puisi ini mengandung kata ‘kuburan’, ‘makam’, ‘nisan’, ‘keranda’, ‘jenazah’, ‘mayat’, ‘mati’ di satu sisi, serta di sisi lain ‘vagina’, ‘garba’, ataupun gambaran yang merupakan substitusi dari ‘rahim’. Jika kita memasukkan kata dan deskripsi lain yang secara semantik berhubungan lebih longgar dengan kematian dan rahim—misalnya tentang penyakit, rasa sakit, ketuaan, kain kafan, tubuh perempuan sebagai tubuh ibu yang susut digerogoti oleh kerja mengandung, melahirkan, menyusui—niscaya hampir tiga perempat kumpulan ini mempunyai dorongan yang sama, sebuah tendensi morbid—dalam arti yang lebih netral. Di beberapa puisi, deret sintagmatik ‘makam’ berkelindan dengan deret sintagmatik ‘vagina’. Seperti dalam puisi “Di Sebuah Vagina” (2002) yang menyiratkan kematian tanpa penyelamatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Di sebuah vagina peziarah-peziarah kecil&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;terbujur hancur sebelum sempat kauberi nama.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sajak lain ditulisnya ketika tokoh pembela rakyat miskin dan seorang rohaniwan Katolik yang dengannya ia amat dekat, Romo Mangun, meninggal dunia. Kali ini, kematian dalam Sajak “Perahu” (1999) mengisyaratkan harapan, meski penyair tetap memelihara ironinya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah Maria.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Seperti hidup yang karam ke dalam doa.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Di sini amat jelas ia menggambarkan manusia mati kembali kepada rahim, gelap dan gaib. Namun, ‘kuburan’ sebagai gambaran nyata menempati frekuensi tertinggi untuk menghubungkan kita dengan kematian. Tokoh dalam sajak cerita mini Joko sering sekali keluyuran atau seperti mampir di kuburan tanpa rencana, seolah iseng sehari-hari. Bagi saya ini juga amat menarik. Sebab, kuburanlah yang mempertautkan manusia hidup dan yang mati sambil tetap berjarak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad, penyair yang disegani Joko Pinurbo, juga menulis tentang kematian. Suasana muram kental dalam sajak maupun esainya. Kematian adalah bagian dari riwayat manusia: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;(Maka aneh. Ketika ia mati musim belum lagi mati.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Ketika ia ditanamkan, bunga tumbuh di pusat makam&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Dan ketika ia dilupakan matahari&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;berkata pelan: sayang, memang sayang)&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Goenawan Mohamad, “Riwayat”, 1962)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh barangkali. Tapi ini satu dari amat sedikit, mungkin tak lebih dari lima, sajak Goenawan Mohamad yang mengandung kata makam atau kuburan. Kematian datang, menghantui, dengan cara lain dalam puisi Goenawan Mohamad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal Goenawan Mohamad mempengaruhi Joko. Perkembangan karya Goenawan Mohamad sendiri tak lepas dari pengaruh sajak-sajak Chairil Anwar. Joko Pinurbo lahir tahun 60-an, ketika Goenawan mulai mengepakkan sajaknya. Goenawan lahir tahun 40-an, ketika Chairil mencapai puncak karyanya. Chairil lahir tahun 20-an, ketika Indonesia diperkenalkan kepada sastra dunia. Mereka adalah tiga generasi penyair Indonesia yang masing-masing berjarak 20 tahun (Chairil Anwar, 1922; Goenawan Mohamad, 1941; Joko Pinurbo, 1962). Ketiganya memiliki keterpukauan akut pada kematian. Salah satu sajak awal Chairil Anwar, bahkan sajak paling muka dalam kumpulan yang diterbitkan Horison untuk memperingati 50 tahun kematiannya,&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span style="color: #ff9966; font-size: 85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; adalah “Nisan”. Ia tulis untuk neneknya, tanpa satupun kata mengenai makam: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Bukan kematian benar menusuk kalbu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Keridlaanmu menerima segala tiba&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Tak kutahu setinggi itu atas debu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Dan duka maha tuan bertakhta&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Chairil Anwar, Nisan, 1942)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini ditulis persis 20 tahun sebelum sajak “Riwayat” Goenawan Mohamad di atas. Inilah kematian yang ditulis Chairil dengan semacam kerelaan, ketika final sungguh sudah tercapai—agak berbeda dengan karyanya yang lain. Di lain tempat kematian hadir sebagai mambang yang membayangi, ditunggu, ditakjubi dan tak ditakuti—sebab ia belum benar-benar datang. Penyair menyambutnya sebagai akhir riwayat dengan gagah. Sekali berarti / Sudah itu mati dalam sajak “Diponegoro” menyiratkan nada angkuh yang sama dengan sajak “Aku” yang mahsyur itu: Kalau sampai waktuku / ‘Ku mau tak seorang pun ‘kan merayu / Tidak juga kau / Tak perlu sedu sedan itu (…) Aku mau hidup seribu tahun lagi / Di kali yang berbeda kematian adalah akhir yang tak terelakkan, tragedi manusia yang toh tak perlu didramatisasi. Maka kematian menjadi liris seperti pada sajak berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;kelam dan angin lalu mempesiang diriku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu&lt;br /&gt;di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;dan kau bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang&lt;br /&gt;tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Chairil Anwar, “Yang Terampas dan Yang Putus”, 1949)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Kita tahu di tahun yang sama dengan penulisan sajak itu, Chairil Anwar dimakamkan di pemakaman umum Karet. “Nisan” adalah sajak pertamanya, ini adalah yang terakhirnya. Inilah yang kedua: kematian yang liris dan dekat dengan kerinduan yang sensual yang tak terpenuhi. Yang pertama adalah kematian yang heroik. Dua hal yang ada pada Chairil dipertajam oleh Goenawan. Dalam karya Goenawan Mohamad eros dan thanatos menjadi padat, kerelaan dan keganasan berkelindan. Dan Goenawan menambahkan deretan pertanyaan menggugat serta aforisme rangkai jawaban. Apakah kematian sebenarnya? seolah bergaung sepanjang kepenyairannya. Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu (“Asmaradana”, 1971). Perpisahan adalah sebuah isyarat kematian (“Di Pasar Loak”, 1994) Apakah mati sebenarnya?(…) Barangkali mati adalah transformasi, perjalanan ramarama yang sedih yang menghilang ke arah roh: keabadian yang tak tahu telah berubah lazuardi (“Untuk Frida Kahlo”, 1993-94). Namun pertautan antara eros dan thanatos paling nyata dalam sajak “Sang Minotaur”, yang membedakan jauh Goenawan dari Chairil perihal kematian: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(…) kau goyangkan susumuke arah seram dan seluruh bau asam&lt;br /&gt;tatkala hasrat menjulurkan lidahyang merah&lt;br /&gt;ke syahwatyang membasah.&lt;br /&gt;Setelah itu, siuman. Dan kematian&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;(“Sang Minotaur”, 1996)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Kematian memisahkan tubuh dari jasad. Berbedalah ketiga penyair itu dalam menghayati tubuh melalui sajak mereka. Tubuh dalam karya Chairil Anwar adalah tubuh yang luka, terbuang namun angkuh, tubuh si jalang yang siap menerkam demi harga diri. Tubuh dalam sajak Goenawan Mohamad adalah tubuh yang erotis, dalam terluka, sedih, maupun tidak. Tubuh dalam puisi Joko Pinurbo adalah tubuh rombeng, morat-marit, dan tak sempat peduli soal harga diri. Tubuh tanpa keangkuhan. Tubuh sepah dengan sedikit sisa gairah. Tubuh yang nyaris tak terbedakan dari jasad. Di sinilah, cara memandang perihal tubuh dan kematian pada Joko yang berbeda dari pendahulunya menyebabkan sebuah bentuk penulisan puisi yang khas pula: puisi banal&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[5&lt;/span&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang tulus. Bahkan, barangkali puisi banal yang &lt;i&gt;sumeleh&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Tubuhyang mulai akrab&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;dengan saya ini&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;sebenarnya mayat&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;yang saya pinjam&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;dari seorang korban tak dikenal&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;....&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Tubuh Pinjaman”, 1999)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Tapi, bagaimana menguji ketulusan sebuah puisi? &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Joko Pinurbo mencipta sejumlah puisi liris. Tetapi bukan itu yang membuatnya istimewa. Bukan itu pembaharuannya dalam kesusastraan Indonesia. Kita bisa mulai dengan kembali melihat ‘kuburan’, unsur yang terlalu kerap muncul dalam karyanya. ‘Kuburan’ bukan hal yang hadir kebetulan. ‘Kuburan’ adalah simptom dalam kepenyairan Joko Pinurbo. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dalam sajak Chairil Anwar maupun Goenawan Mohamad, kematian bisa mengambil wujud heroik maupun liris. Ini menyiratkan kematian sebagai akhir—akhir yang sendu maupun yang gagah. Di sini tak ada jarak antara hidup dan mati, sebab ketika mati maka hidup berhenti. Penghayatan tentang jarak tak ada sebab kematian dan kehidupan tidak menghuni ruang waktu yang sama. Keduanya ada pada matra yang berbeda di mana jarak tak dimungkinkan. Maka tak heran, kuburan hampir tak muncul dalam sajak Chairil maupun Goenawan. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sebab, kuburan membuat kematian dan kehidupan menempati ruang waktu yang sama. Di sini jarak tercipta antara yang mati dan yang hidup. Di dalam sudut pandang ini, kematian bukan akhir, melainkan ada bersama-sama kehidupan. Karena ada bersama-sama, maka keduanya berjarak. Kuburan adalah tanda sebuah jarak. Jarak mengimplikasikan, secara paradoksal, ruang yang sama. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Jarak—itulah yang istimewa dalam puisi Joko Pinurbo. Ia memandang tragedi manusia dengan berjarak. Ia berbicara tentang kematian dengan ambiguitas akan keterlibatannya. Sebetulnya kematian adalah sesuatu yang eksistensial dan final—manusia tak bisa mati berulang kali—tapi tak ada kata-kata yang dahsyat pada penggarapan atas tema itu. Tak ada unsur sajaknya yang menghidupkan lagu duka, bunga terakhir, dan nyanyian penghormatan. Sebaliknya, kuburan berhubungan dengan hal-hal profan dalam hidup manusia: menunggu pacar, mencari jengkerik, selain untuk menabur kembang. Toh kuburan ada di mana-mana, senantiasa mengingatkan sesuatu kepada kita. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Cara Joko menghayati dalam jarak telah menghasilkan bentuk penulisan sajak yang khas. Sajak cerita yang ambigu. Ambiguitas itu dimungkinkan oleh kebanalannya. Sajaknya menyodorkan ambiguitas antara keseharian dan tragedi, kekanak-kanakan dan keseriusan, ketakpedulian dan kesedihan, antara kementahan (kata-kata) dan kedalaman (subjek). Ketulusan sajak Joko Pinurbo setidaknya dibuktikan oleh konsistensi bentuk sajaknya dan penghayatannya akan jarak. Pula, kita tak menemukan sikap sinis atau sarkas kepada kemapanan. Ia, saya kira, tidak menulis dengan cara ini untuk melawan estetika apapun. Sebab, dalam sajak-sajakya yang liris kita bisa melihat pendekatannya yang berbeda. Ia, saya percaya, menulis begini lebih karena jujur pada penghayatannya. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Lalu, di mana letak penyair dalam masyarakatnya adalah persoalan yang sama peliknya dengan memetakan peran sajak dalam kebudayaan. Tak seperti Chairil Anwar dan Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo tidak produktif menulis esai. Ia belum pernah menulis sebagaimana Goenawan menulis “Potret Seorang Penyair sebagai si Malin Kundang”. Ia tak membikin manifesto atau perlawanan sebagaimana Remy Sylado. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Saya bayangkan ia berperan dalam memelihara kejujuran dan kesederhanaan sastra. Joko Pinurbo dengan berhasil menciptakan sajak yang tulus, banal (karena itu pula mutakhir), dan dasar—yang menghubungkan kita kembali dengan dorongan purba untuk terpukau pada liang gelap: liang vagina, liang kubur, bahkan liang kakus. Biasanya penyair mempunyai sebuah sajak yang mengisahkan pergulatan kepenyairannya. Saya menemukannya dalam satu dari sajak-sajaknya yang paling saya kenang, “Bertelur” (2001). Menulis sajak adalah perjuangan melahirkan sesuatu yang mungkin ditolak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Dengan perjuangan berat alhamdulillah akhirnya aku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;bisa bertelur. Telurku lahir dengan selamat,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;warnanya hitam pekat.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Aku ini seorang peternak: saban hari&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;mengembangbiakkan kata, dan belum kudapat kata&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;yang bisa mengucapkan kita.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Kata yang kucari, konon, ada di dalam telurku ini.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Kuperam telurku di ranjang kata-kata yang sudah lama&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;tak lagi melahirkan kata. Kuerami ia saban malam&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Kalau aku lagi asyik mengeram, diam-diam telurku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;suka meloncat, memantul-mantul di lantai,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;kemudian menggelinding pelan ke toilet,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;dan ketika hampir saja nyemplung ke lubang kloset&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;cepat-cepat ia kutangkap dan kubawa pulang ke ranjang.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Mana telurku? Tiba-tiba banyak orang merasa&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;kehilangan telur dan mengira aku telah mencurinya&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;dari ranjang mereka.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Ah telur kata, telur derita, akhirnya kau menetas juga.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;Kau menggelembung, memecah, memuncratkan darah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan telurku! Mereka berseru.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Jakarta, Januari 2005&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;b&gt;Catatan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Adalah Goenawan Mohamad yang dalam “Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang” menceritakan keterasingan sang penyair setelah ia bertemu dengan dunia luar. Sapardi Djoko Damono, dalam esei pengiring atas &lt;i&gt;Sajak-sajak Lengkap 1961-2001&lt;/i&gt; (Metafor, 2001) menggambarkan Goenawan sebagai anak desa, si Malin Kundang, yang telah pergi ke bandar-bandar. Kita tidak menemukan keterpukauan pada kota asing dalam sajak Joko Pinurbo.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak hendak mengatakan bahwa berpolitik adalah jelek. Tapi, kebanyakan karya yang nakal lahir dari pemberontakan terhadap bentuk sebelumnya dan umumnya disertai manifesto atau teori mengenai perlawanannya. Dan ini sama sekali bukan hal yang jahat dalam perkembangan seni.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Sajak ini dibacakan dalam program Siswa Bertanya Sastrawan Bicara yang diselenggarakan Majalah &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt; dan Ford Foundation di beberapa sekolah negeri di akhir tahun 1990-an-2000-an. Murid-murid diminta membuat penafsiran.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Derai-derai Cemara: Puisi dan Prosa Chairil Anwar&lt;/i&gt; (penyunting Taufik Ismail). &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt;, 1999.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=7220883832161525299#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Saya harus berterima kasih pada Erik Prasetya yang memperkenalkan konsep ‘estetika banal’ dalam penerokaan fotografi atas kota Jakarta-nya selama sepuluh tahun. &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;*Dimuat dalam Joko Pinurbo, &lt;i&gt;Pacar Senja -- Seratus Puisi Pilihan&lt;/i&gt; (Grasindo, 2005)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-1746591256479101655?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1746591256479101655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1746591256479101655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/joko-pinurbo-mengapa-kematian-penyairku.html' title='Joko Pinurbo; Mengapa Kematian, Penyairku?'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-6343553940272794444</id><published>2010-05-05T09:41:00.000+07:00</published><updated>2010-05-05T09:41:58.781+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alex R. Nainggolan'/><title type='text'>Kepada Puisi-Puisi (Joko Pinurbo)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Alex R. Nainggolan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret perjalanan kepenyairanmu telah dilunaskan dengan terbitnya buku Pacar Senja oleh penerbit Grasindo (2005). Di buku itu, puisi-puisimu coba kembali seksama saya baca. Dan memang masih ada lenguh yang panjang-pendek, pertanyaan terhadap waktu, kenangan, permainan antara logika yang baka di mulut kehidupan. Semua puisi, yang terdiri dari periode lengkap kepenyairanmu membentangkan isyarat yang sama. Sebuah cita-cita untuk menggugat dunia keseharianmu yang sempat, baik itu berupa catatan-catatan kecil yang kau saksikan dalam perjalanan hidup. Nampaknya pula kau tak berhenti di situ saja, puisi-puisi lain, yang berkisah atau sengaja kau kisahkan bagi rekan-rekan penyair, terkadang kau tulis dengan "ujung" yang lain. Seperti juga ketika kau ingin mengerami telur puisimu menjadi puisi yang utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kumpulan puisimu, hakikat waktu terus menjadi pertanyaan yang abadi. Perjalanan pulang dalam dunia kesepianmu seperti membungkus etika, ditambah larik-larik yang terkesan main-main, meskipun saya paham kau tak sedang bermain-main di dalam puisi itu. Kekuatan narasi yang ditawarkan dalam puisimu seakan menjebak seluruh permaknaan yang purba. Kau dengan lihainya berlindung ke dalam "celana", "telepon genggam", atau kisah-kisah tentang "mandi". Kau bergerak seperti peluru karet, kenyal, dan menembak seluruh ruang keingintahuan sebagai manusia utuh. Ada sisi filosofi yang hendak ditawarkan, ibarat bidak catur yang melangkah kemana pun kau suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah, saya justru mengagumi jerit puisimu. Seakan membukakan pintu kesadaran yang lain. Puisi-puisi yang malah mencabik seluruh berkas kehidupan sebagai manusia yang lain. Kau dengan entengnya mengisahkan sebuah tokoh, dengan menghadirkan tokoh tersebut, seakan dekat dengan persoalan kita sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentangan kalimat yang sederhana itu pula, kembali mengingatkan saya pada sejumlah puisi yang ditulis Wiji Thukul, Rendra, atau Emha Ainun Nadjib. Kau tidak banyak bermain pada metafor-metafor ganjil, sebagaimana penyair-penyair lain, yang berasik-masuk dalam sayap imajinasi lainnya. Namun sekali kau bermain dengan metafor, dengan segera puisi itu berubah jadi isyarat lengking yang getir. Sebagaimana dalam "Baju Bulan": &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin &lt;br /&gt; baju baru, &lt;br /&gt; tapi tak punya uang. Ibuku entah&lt;br /&gt; di mana sekarang,&lt;br /&gt; sedangkan ayahku hanya bisa   &lt;br /&gt; kubayangkan.&lt;br /&gt; Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu &lt;br /&gt; barang semalam?&lt;br /&gt; Bulan terharu: kok masih ada yang &lt;br /&gt; membutuhkan&lt;br /&gt; bajunya yang kuno di antara &lt;br /&gt; begitu banyak warna-warni&lt;br /&gt; baju buatan. &lt;br /&gt; Bulan mencopot bajunya yang &lt;br /&gt; keperakan,&lt;br /&gt; mengenakannya pada gadis kecil &lt;br /&gt; yang sering ia &lt;br /&gt; lihat menangis di persimpangan jalan. &lt;br /&gt; Bulan sendiri rela telanjang di langit, &lt;br /&gt; atap paling rindang &lt;br /&gt; bagi yang tak berumah dan tak &lt;br /&gt; bisa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  (2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. Bukan hanya sampai di situ semata, kau kemudian bergerak dengan metafor-metafor lainnya, sebagaimana dalam "Mataair", "Pohon Perempuan", dan "Bertelur". Meskipun nampaknya jauh dari keinginanmu untuk bermain-main dengan penggalian makna yang lain. Kau hanya cukup memainkannya dengan kalimat yang sederhana. Tidak nampak ada kecanggihan kalimat di sana, tidak ada rupa-rupa majas yang aneh, tidak ada pergulatan yang aneh seperti dalam agenda puisi-puisi mutakhir. Bagimu, kau hanya berbicara tentang hidup sehari-hari, titik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru dari sanalah letak kekuatan yang kaupendam dalam puisimu. Kecengengan yang kau hadirkan dengan diksi kata yang sederhana, memoles tenaga lain yang tersembunyi. Ah, aku bukan sedang bermaksud untuk memujimu. Tapi memang setiap aku membaca puisimu, seluruh ruang kesadaranku dengan seketika jebol. Aku terseret dalam makna kata yang kau hadirkan. Menukik, menerjang, memukul seluruh ruang kesadaranku. Pertama kali, kuanggap ini hanya rasa sentimentalku saja. Tapi setelah kuteruskan membaca, ternyata memang puisi-puisimu memang telah menemukan bahasanya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti terjebak dalam pusara kata yang tak habis-habisnya. Dan pembicaraan puisi-puisimu bukan sekadar ruang kehidupan sehari-hari, melainkan ia terlontar dengan kenyal layaknya sebuah bola yang ditendang ke sana-kemari. Agaknya, anggapan tentang penyair sebagai penemu bahasa ada benarnya. Puisi yang cerdas membutuhkan kompleksitas yang panjang. Puisi itu meramu seluruh babak kehidupan manusia, menyingkap setiap permenungan yang tumbuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Joko Pinurbo, atau layak kupanggil Mas saja? Sebab kutahu engkau kelahiran Sukabumi, seorang Sunda yang gemar merayakan kehalusan bahasanya. Oke, aku tak ingin bertele-tele dengan menulis lebih banyak lagi. Pelbagai ulasan tentang (puisi-puisi)mu telah ramai menghiasi media massa. Sebut saja Nirwan Dewanto (yang katanya saat ini bertindak sebagai juru penentu perkembangan sastra Indonesia mutakhir), Nirwan Ahmad Arsuka, Sapardi Djoko Damono, pun Ayu Utami pada kata penutup kumpulan puisi terbarumu. Semuanya mengakui tertarik pada puisimu, seakan-akan serempak menahbiskan dirimu sebagai penyair yang sederhana, gemar memancing kata, dan akrab dalam realita kesehariaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kau menulis begini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyair kecil itu sangat sibuk &lt;br /&gt; merangkai kata&lt;br /&gt; dan dengan berbagai cara menyusunnya &lt;br /&gt; menjadi&lt;br /&gt; sebuah rumah yang akan &lt;br /&gt; dipersembahkan kepada ibunya&lt;br /&gt; "Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah, &lt;br /&gt; Ibu tidur&lt;br /&gt;  saja di dalam rumah buatanku. &lt;br /&gt; Aku akan berjaga di teras&lt;br /&gt; semalaman dan semuanya akan &lt;br /&gt; aman-aman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan penantian memang kerap hadir dalam puisi-puisimu. Penampakan realitas yang dibalut dinding keceriaan, dicampur dengan alur sedih-yang tetap kautulis dengan rasa bahagia. Aku pikir, itulah yang "berbunyi" dalam puisi-puisimu. Kepolosan dalam menampakkan carut-marut hidup menciptakan sebuah bingkai yang kokoh. Kerinduan seseorang terhadap keluarga, efek masa kecil yang terus terkenang (dalam beberapa puisi yang bertema celana), atau perjuangan kemanusiaan yang kaurekam terhadap berbagai kondisi mutakhir. Katakanlah terhadap tragedi Mei di Jakarta, yang mengingatkan kita pada perkosaan massa terhadap sebuah etnis tertentu. Simak saja puisi "Mei": &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; MEI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jakarta, 1998&lt;br /&gt; Tubuhmu yang cantik, Mei&lt;br /&gt; telah kaupersembahkan kepada api.&lt;br /&gt; Kau pamit mandi sore itu.&lt;br /&gt; Kau mandi api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Api sangat mencintaimu, Mei.&lt;br /&gt; Api mengucup tubuhmu&lt;br /&gt; sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.&lt;br /&gt; Api sangat mencintai tubuhmu&lt;br /&gt; sampai dilumatnya yang cuma warna&lt;br /&gt; yang cuma kulit yang cuma ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tubuh yang meronta dan melelh &lt;br /&gt; dalam api, Mei&lt;br /&gt; adalah juga tubuh kami.&lt;br /&gt; Api ingin membersihkan tubuh maya&lt;br /&gt; dan tubuh dusta kami dengan &lt;br /&gt; membakar habis&lt;br /&gt; tubuhmu yang cantik, Mei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kau sudah selesai mandi, Mei.&lt;br /&gt; Kau sudah mandi api.&lt;br /&gt; Api telah mengungkapkan rahasia &lt;br /&gt; cintanya &lt;br /&gt; ketika tubuhmu hancur dan lebur&lt;br /&gt; dengan tubuh bumi;&lt;br /&gt; ketika tak ada yang mempertanyakan&lt;br /&gt; nama dan warna kulitmu, Mei.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                (2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang sepenuhnya nyentrik. Di sini, gaya khas dirimu bermain dalam menyusun setiap kalimat. Semangat bermain, yang sekali lagi tak bermain-main. Sebagaimana diketahui penyair merupakan anggota masyarakat terbesar juga. Dalam kesehariannya penyair bergulat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tentulah menghadirkan upaya-upaya baru dengan membalut sejarah (fakta) menjadi tak begitu kentara. Lebih menyortir sisi batin kehidupan manusia. Sebagai penyaksi zaman, seperti yang diungkap Ronggowarsito-semestinya kita tak turut edan juga dalam menyikapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang &lt;b&gt;Alex R. Nainggolan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku dimuat di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, dll. *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;i&gt;Suara Karya Online&lt;/i&gt;, Sabtu, 4 November 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-6343553940272794444?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6343553940272794444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6343553940272794444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/kepada-puisi-puisi-joko-pinurbo.html' title='Kepada Puisi-Puisi (Joko Pinurbo)'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-1352209266927188716</id><published>2010-05-04T16:35:00.001+07:00</published><updated>2010-05-04T16:38:54.656+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sita Planasari A.'/><title type='text'>Religiositas Sehari-hari</title><content type='html'>(Koran Tempo, Selasa, 10 Oktober 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta: Kibaran kain merah, putih, dan hijau dari jubah milik tiga penari darwis seakan menjadi api yang membara di atas panggung. Diiringi lantunan kata-kata pujian kepada Sang Khalik dalam dentuman nada disko, ketiga penari dari Yayasan Haqqani Indonesia itu berputar-putar pada satu titik, dengan wajah dan tangan tengadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian yang diperkenalkan penyair sekaligus sufi termasyhur asal Persia, Jalaludin Rumi, ini disambut gemuruh tepuk tangan hadirin yang memenuhi ruang Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam lalu. Tarian ini menjadi bagian penting dalam acara Tadarus Puisi 1427 Hijriah yang diselenggarakan setiap tahun oleh Dewan Kesenian Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan upaya kami untuk menunjukkan bahwa nuansa religius tidak hanya melalui sastra, tapi juga dengan tarian," kata Ketua Komite Sastra DKJ Zen Hae kepada Tempo seusai acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, acara tahunan tersebut diberi tajuk "Takbir Para Penyair", sesuai dengan judul salah satu puisi milik penyair Sitok Srengenge yang menjadi penutup acara malam tersebut. Acara kali ini cukup unik. Bila selama ini acara tadarus puisi selalu menampilkan puisi-puisi religius dari penyair muslim Tanah Air, kali ini Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta memilih empat penyair lintas agama untuk membacakan karya religius mereka. Langkah ini tak hanya sebagai upaya memperlihatkan beragamnya puisi religius dalam sastra Indonesia. "Penampilan para penyair lintas iman ini diharapkan dapat memberi rangsangan toleransi dalam perbedaan," ujar Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat penyair yang tampil malam itu adalah Saut Situmorang asal Yogyakarta, yang mewakili umat Kristen Protestan, dan Ida Ayu Oka Suwati Sideman asal Mataram yang mewakili umat Hindu. Dari Yogyakarta tampil pula Joko Pinurbo yang Katolik dan Sitok Srengenge asal Depok yang mewakili Islam. Keempat penyair tersebut, Zen melanjutkan, dipilih berdasarkan pertimbangan usia yang masih cukup muda serta tingkat produktivitas yang tinggi dalam berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan puisi dibuka Saut dengan sebuah puisi berbahasa Inggris. Panggung lengang tanpa kehadiran Saut. Hanya suaranya yang menggema mengisi kehampaan itu. Penyair alumnus Victoria University of Wellington dan University of Auckland ini membawakan enam puisi beraroma religius, seperti Saut Kecil Bicara dengan Tuhan, Ziarah Incest, dan Karaoke Setan. Meski tampil slengekan dengan kaus dan celana bermuda warna cokelat, Saut mampu membawa kedalaman religius kepada hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, satu-satunya penyair perempuan yang tampil malam itu, Oka Suwati, membawakan dua puisi bertajuk Sinta dan Salya. Puisi bertajuk Salya karya alumnus International Master Programme Ijselan, Denver, Belanda, ini pernah memenangi Sanggar Minum Kopi Award pada 1992. Oka malam itu tampil dalam balutan busana tunik dan kerudung warna putih gading. Sedangkan penyair yang mewakili umat muslim, Sitok Srengenge, membawakan tiga buah puisi diiringi tarian darwis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penampilan Joko Pinurbolah yang malam itu memperoleh sambutan paling hangat dari penonton. Sebelum tampil, penyair peraih berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Lontar Sastra 2001 dan Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005, ini mengaku tak tahu banyak tentang puisi religius. "Tapi setahu saya puisi-puisi saya religius," katanya disambut derai tawa penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa itu kemudian segera menguap berganti menjadi sedu-sedan dan isak tertahan, saat Joko mulai membacakan lima karyanya dalam logat Jawa yang kental. Puisi pertama bertajuk Penumpang Terakhir, yang bertutur tentang tukang becak yang akhirnya mangkat di atas kendaraannya sendiri. Puisi kedua berjudul Sehabis Sembahyang, yang merupakan refleksi kegusaran Joko pada program bantuan langsung tunai untuk masyarakat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puisi-puisi religius yang saya bacakan kali ini berkenaan dengan konteks puasa menjelang Lebaran. Karena itu, saya banyak mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat kecil. Kehidupan mereka bisa menjadi refleksi agar kita berempati," kata Joko kepada Tempo. Tepatnya, Joko melanjutkan, sebuah refleksi religiositas sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITA PLANASARI A.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-1352209266927188716?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1352209266927188716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1352209266927188716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/religiositas-sehari-hari.html' title='Religiositas Sehari-hari'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-5273369906817781705</id><published>2010-05-04T16:27:00.001+07:00</published><updated>2010-05-05T12:55:09.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arie MP Tamba'/><title type='text'>Bertakbirlah Para Penyair</title><content type='html'>&lt;b&gt;Arie MP Tamba&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Atas nama para penyair, / yang dengan puisi berjuang menerangi gua ruhani, / yang dalam jiwanya berkobar 6666 matahari, / Aku sujud ke haribaanMu duhai Yang Mahaapi.&lt;/i&gt; (Sitok Srengenge, "Takbir Para Penyair")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berbeda pada malam Tadarus Puisi 1427 di TIM, 6 Oktober 2006 lalu. Bila tahun-tahun sebelumnya tadarusan diisi pembacaan puisi-puisi religius penyair Muslim, maka kali ini tampil di atas pentas para penyair dengan latar belakang agama beragam, seperti Saut Situmorang (Protestan), Joko Pinurbo (Katolik), Ida Ayu Oka Suwati Sideman (Hindu), dan Sitok Srengenge (Islam). “Lintas iman”, begitulah panitia menggarisbawahi keberbagaian latar belakang agama tersebut. Sebuah upaya untuk lebih memperluas ruang apresiasi bagi puisi-puisi religius, sekaligus menunjukkan betapa tak bertepinya pemaknaan religiusitas yang dapat diwadahi oleh puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sendiri tak begitu pasti mana puisi yang religius, namun puisi-puisi saya semuanya religius,” begitulah pengantar Joko Pinurbo memulai pembacaan sebagai penampil kedua. Joko mencoba mencairkan istilah “lintas agama” yang dijadikan panitia melegitimasi acara, sebagai klaim yang boleh jadi tidak perlu ditegas-tegaskan. Sebab, bagi Joko, yang menjadi fokus adalah malam pertunjukan pembacaan puisi, dengan kekuatan sastra yang mampu ditawarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembacaan pertama, Joko membawakan Penumpang Terakhir. Sebuah puisi bertema kemanusiaan yang kompleks, antropologis, sosiologis, sekaligus religius. Tentang aku lirik yang memiliki kebiasaan mudik dan menumpangi becak langganannya. Setiap pulang kampung, aku selalu menemui abang becak/yang suka mangkal di bawah pohon beringin itu/dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat/yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen/dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak,/lancar pula lajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku lirik minta diantarkan ke kuburan, karena ingin menabur kembang di makam nenek moyang. Di pertengahan jalan, si aku lirik kasihan melihat tukang becak tua yang sudah mengayuh kepayahan. Si aku lirik pun meminta si tukang becak menjadi penumpang, dan si aku liriklah yang mendayung becak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kuburan aku berseru bangun dong, Pak,/tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas/tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan/kutaburkan di atas makam nenekmoyangku/atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku lirik menjadi penumpang terakhir bagi tukang becak, dan si tukang becak menjadi penumpang pertama sekaligus terakhir bagi aku lirik. Dan puisi ditutup dengan kemungkinan terbuka, si tukang becak boleh jadi meninggal dunia karena kelelahan, atau tertidur pulas di atas joknya. Yang pasti, tersuguh sebuah peristiwa rekaan sarat ironi, dengan kemungkinan kekayaan makna saling bersimpangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa menjadi pendayung, siapa penumpang terakhir, untuk siapa bunga kematian ditaburkan, itulah persoalan hidup sehari-hari. Gonta-ganti peran antarmanusia, tak selamanya mudah dirunut. Hari ini menjadi tuan, besok menjadi jongos, hari ini selamat, besok dikuburkan. Tak mudah dilacak, seperti remangnya kehidupan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarkasme atas psikologi banal&lt;br /&gt;Dan seperti biasa, puisi Joko selalu membuka luas ruang cerita, dengan bentuk prosa yang sengaja dipenggal ke dalam bait-bait bebas yang lebih tepat disebut alinea. Hingga, aku lirik dalam puisi-puisi Joko pun sering lebih layak disebutkan sebagai narator. “Ini baru puisi religius,” kata Joko tersenyum, ketika memulai pembacaan puisi keduanya Sehabis Sembahyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.&lt;br /&gt;Terima kasih atas segala pemberianmu,&lt;br /&gt;mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru&lt;br /&gt;yang lembut dan lebih kencang lajunya&lt;br /&gt;agar aku bisa lebih cepat mencapaimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarkasme pada diri sendiri dan psikologi yang banal, adalah santapan puitik yang ditawarkan Joko. Benturan posisi doa yang penuh takluk, dibiarkan berdampingan dengan ejekan ironik terhadap watak loba. Kenyataan batin yang sukar disangkal dan dipungkiri kemungkinannya, dengan kata-kata tersusun sedemikian ketat berreferensi keseharian. Dengan jeli, Joko memilah-milah kenyataan dan mempertautkannya sebagai renungan yang sukar ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Joko belum berhenti. Sementara aku masuk ke rumahmu, kau malah/pergi ke kantor pos kecamatan,/mengambil jatah santunan seatus ribu./Berbekal kartu tanda miskin, kau rela antri/berjam-jam hingga bajumu yang masih baru/langsung luntur oleh cucuran peluhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut ke dua alinea berikutnya, tentang aku lirik yang menemukan Tuhan telah mengalami personalisasi sebagai fakis yang mendapatkan santunan, sempat menangis dan pingsan, lalu memperoleh jatahnya – namun kemudian dirampas aku lirik yang bersembahyang dalam puisi ini. Kekejaman manusia berlangsung kronologis, dengan penyerahan diri ke dalam doa dan kemasabodohan atas nasib orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan pada makna doa dan seperti apa manusia memaknainya, menjadi persoalan yang menyayat perasaan dan dihadirkan Joko. Seperti apa pencapaian bentuk dan isi puisi tak begitu penting lagi dipersoalkan, ketika persoalan yang dibawanya telah demikian menikam kesadaran. Ironi dan sarkasme, menjelujur tak habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan puisi-puisi Saut Situmorang sebagai penampil pertama, yang membawa serapah dan raungan. Saut mengangkat ziarah incest sebagai ziarah kreatif dan filosofis ke kebudayaan leluhur. Menghadapi langsung mitologi incest sebagai awal mula kehidupan suku, yang dulu mendera dan menimbulkan keterbatasan personifikasi, Saut sengaja kembali dan juga melepaskan diri. Hingga aku lirik menemukan dirinya: Aku lebih tinggi dari takdir, lebih kuasa dari/Yang Paling Kuasa/tiga benua/tiga raja penguasa/tiga warna keramat mulia/lebur dalam diriKu/jadi Aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang pernah hidup 11 tahun di Selandia Baru ini secara unik meneriakkan puisi-puisi yang bagi saya lebih memaksimalisasikan antropologi Batak sebagai bahan kreatif, ketimbang perjalanan perantauan yang pernah memperkaya Sitor Situmorang. Barangkali, Saut Situmorang dengan sadar memang menghindari takdir Sitor Situmorang, Si Anak Hilang. Karena Saut menemukan hidup kreatif dalam tenaga serapah, penghujatan kritis terhadap kebudayaan leluhurnya. Tentu saja, dengan personifikasi baru: aku lirik dengan kemungkinan transendensi linguistik yang disengaja berlapis-lapis. mampuslah kau! Aku ambil kembali semua warisanKu! Dari rahimmu yang mandul kembali/dan lihatlah! Aku manortor sendiri mengejek langit dan bumi/suara gondangKu gemuruh menampar matahari terbakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Ayu Oka Sudawati Sideman, menjadi penampil ketiga yang menurut saya agak dipaksakan panitia di antara para penyair “jantan” malam itu. Dengan puisi Sinta, Sideman seperti mengetahui bahwa ruang dan waktu pembacaan malam itu tidak begitu tepat baginya. Ia pun hanya membacakan Sinta, dan membiarkan pentas dikelebati tebaran kata-kata dengan gaya khas ketiga penyair Indonesia terbaik saat ini. Dan yang terakhir, tentu saja Sitok Srengenge, seorang penyair yang tak memerlukan lagi kata-kata pengantar ataupun ulasan panjang lebar tentang puisi-puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Osmosa Asal Mula adalah puisi Sitok yang menurut saya termasuk sebuah puisi Indonesia terbaik saat ini. Memperagakan permainan sampiran dan isi yang terus melebar dan berlanjut dengan sebuah ide yang pada satu bait menjadi penutup namun pembuka pada bait berikutnya, hingga penulisan puisi Osmosa Asal Mula keseluruhan sebenarnya bersifat melingkar, mengisyaratkan kebulatan hidup, sebagai wujud kesempurnaan ciptaan dan Sang Pencipta. Meski terdapat beragam pertanyaan yang tak pernah selesai, di dalam bulatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada angin/Dari mana asalnya angin/Angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun/Dan kesaksian pohon-pohon melukis lingkaran tahun //Aku bertanya kepada pohon/Darimana datangnya waktu/Pohon merekahkan kelopak bunga/Dan kusaksikan lebah hingga menghisap madu… dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dicatat, kesadaran Sitok membacakan puisi Takbir Para Penyair yang terkenal itu dari balik panggung, ketika panggung diisi tiga penari Darwis menunjukkan keterampilannya. Tarian Darwis adalah sebuah tarian sufistik yang dipoluperkan oleh Rumi pada abad ke-13. Rumi dan para pengikutnya memuja Tuhan dengan tarian berputar, simbolisasi memutari sebuah kutub, menambah kekhusyukan sekaligus menandaskan ketaklukan. Malam itu, di antara suara Sitok yang lantang, para penari Darwis terus berputar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami yang naif ini&lt;br /&gt;beranikan diri mematik letik api&lt;br /&gt;gagu menggugah madah debu&lt;br /&gt;digetar rasa ingin sembahyang kepadaMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 15 Oktober 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-5273369906817781705?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5273369906817781705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5273369906817781705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/bertakbirlah-para-penyair.html' title='Bertakbirlah Para Penyair'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-789670901343784511</id><published>2010-05-04T16:23:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T16:23:22.733+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasif Amini'/><title type='text'>Cerita</title><content type='html'>DI langit malam menggeriap titik-titik bercahaya, tak terkira jumlahnya, tak tepermanai jauhnya, entah ukurannya, usianya. Namun, pada suatu masa, manusia menarik sejumlah garis khayal di antara bintang-bintang itu dan membayangkan mereka sebagai makhluk-makhluk: kalajengking, kepiting, kambing, ikan, si kembar, perawan, … Dan menyematkan nama-nama: Aldebaran, Cassiopeia, Danu, Hamal, Orion, Southern Cross, Waluku, … Kerlap-kerlip yang sunyi itu mungkin sudah menggetarkan, tetapi tak cukup. Mata membutuhkan rupa, telinga mendambakan nama, otak merangkai pola. Sejak mula, agaknya, kita tak bisa mengelakkan "penasaran" yang mengasyikkan ini: bahwa di balik setiap gejala adalah sebuah (atau sejumlah) cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKA, di antara serakan gemintang itu tersebutlah sesosok raksasa pemburu yang meregang busur panahnya, lelaki pembawa segentong air, perempuan penabur biji gandum, pembajak sawah, dan seterusnya. Ruang angkasa yang membentang jauh dan asing itu lalu seakan-akan jadi meriah, hidup, akrab. Mungkin pembayangan dan penamaan itu adalah sebentuk (dan bagian dari) penaklukan atau penjinakan atas hal-ihwal yang tak dikenal. Tetapi, sebenarnya itu sekaligus menunjukkan betapa perjalanan pengetahuan bukan hanya riwayat penguasaan, melainkan juga sejarah kegamangan dan ketakutan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, semenjak zaman dahulu sekali cerita merupakan perangkat penerang kepala manusia yang ajaib di semesta yang gulita penuh misteri. Berceritalah, agar kami mengerti mengapa dan bagaimana dunia ini tercipta, siapa dan dari mana nenek moyang kami gerangan, agar kami maklum di mana kami berada dan ke mana kiranya kami akan menuju. Dan, kitab-kitab pun bercerita tentang surga permai yang jauh, manusia lempung yang jatuh, bumi durhaka yang dilanda banjir besar; tentang mahadentuman, debu yang berpusar-pusar hingga bolongan hitam, makhluk bersel satu hingga kecerdasan buatan; tentang lautan kabut, para dewata dan pahlawan, jimat dan air keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukankah puisi-puisi tertua di dunia adalah kisah-kisah? Sebutlah epik Gilgamesh, Ramayana, Iliad. Pada mulanya penyair adalah sang juru kisah. Ia menjawab hasrat yang dalam di lubuk hati khalayaknya: keinginan membayangkan jalannya cerita dengan laku tokoh-tokoh yang dapat menggugah dan mengilhami hidup mereka sehari-hari. Tetapi, zaman puisi yang demikian tentu sudah lewat lama. Tradisi bercerita-yang sejatinya berdasar alam mitos dan berlatar belakang dunia epos-kini diteruskan oleh seni teater, novel, dan film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan si penyair adalah pelantun kata-kata yang ganjil dan indah. Puisi adalah pena yang bermimpi, kata filosof Gaston Bachelard. Dari hari ke hari puisi terus menemui khalayak yang kian lama kian terbatas, khusus, khusyuk. Tentu itu bukan niscaya kekeliruan. Tak ada yang patut disesali. Tradisi lirik, yang setia menyanyikan bisik hati, adalah sebuah riwayat tersendiri yang panjang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun, puisi di zaman modern ternyata bertemu dengan sejumlah semangat militan yang tak terduga. Salah satunya adalah semangat yang hendak mencari intisari puisi yang tak akan ditemui dalam jenis ekspresi yang lain. Saya teringat sebuah cerita tentang mendiang Jose Garcia Villa. Penyair terkemuka asal Filipina yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di tengah kaum avant-gardis New York abad ke-20 itu berniat "memurnikan" puisi dengan membersihkannya dari unsur-unsur naratif sekecil apa pun. Puisi harus hanya menyosokkan keajaiban hadirnya kata demi kata, imaji demi imaji, bunyi demi bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, barangkali memang ada sesuatu dalam diri kita yang mudah terpesona oleh rangkaian sebab-akibat, dengan situasi- situasi yang bergerak dan tokoh-tokoh yang terasa bernapas. Karena itu, sajak-sajak yang bercerita dengan kuat, yang menyuling drama pertemuan manusia, tak mati-mati dalam ingatan, atau akan selalu bangkit kembali dari sana. Kasan dan Patima atau Maria Zaitun dari balada-balada Rendra, manusia pertama di angkasa luar dari Subagio Sastrowardoyo, pacar kecil Joko Pinurbo: mereka adalah beberapa tokoh tak terlupakan yang lahir dalam puisi, di antara sekian banyak yang lain, yang bernama atau tak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali selalu ada sejumlah garis yang harus ditarik, alur yang disusun, untuk menyederhanakan kerumitan dan ketidakpastian yang kian meresap ke lapis-lapis terdalam dunia (dan) manusia. Ada selarik kata-kata Hannah Arendt yang lirih, "Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita." Barangkali saja ada yang menunggu, untuk menerima, untuk mengingat-seperti orang menerima dan mengingat si kembar, kalajengking, bajak, perawan, meski mereka jauh di langit yang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASIF AMINI &lt;br /&gt;Bentara-Kompas, Rbu, 1 Oktober 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-789670901343784511?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/789670901343784511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/789670901343784511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/cerita.html' title='Cerita'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-5872841326972281282</id><published>2010-05-04T16:22:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T16:22:23.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasif Amini'/><title type='text'>Ironi</title><content type='html'>LEWAT majas, bahasa kiasan, puisi terbiasa menautkan ranah-ranah pengalaman yang sering tampak berjauhan. Di dalamnya kita bisa mengalami sebentang tamasya dunia dengan anasir yang beragam, kadang saling berlawanan, namun bersahut-sahutan; kita menghadapi keserbamungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMIR Hamzah, kita tahu, gemar memerikan kerinduan dan rasa penasaran akan Tuhan dalam kata-kata yang seakan bergerak dan bergetar ke arah lain: Engkau pelik menarik ingin/ Serupa dara di balik tirai; atau, Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Walt Whitman mendaftar dan merayakan manusia, debu, lembu, rumput, tikus, lokomotif, kapal, kamera, dewa, bintang, dan sebagainya, sebagai para anggota yang lemah tetapi juga kuat di alam semesta. Omar Khayyam kerap melukiskan kefanaan dan kerentanan hidup dalam rangkaian citra yang intim seperti anggur, cawan, lampu, pena, papan catur, dan taman karavan yang marak di tengah maha kelam yang luas dan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majas membuat orang sadar bahwa ia hidup sebagai tubuh dan jiwa, nama dan makna, di sebuah jagat yang nyata sekaligus niskala, yang unsur-unsurnya saling berhubungan. Hubungan-hubungan yang lebih sering laten: karena itulah puisi mampu mengejutkan kita dari waktu ke waktu, dengan menemukan atau membangun jembatan kiasan yang memperjodohkan satu dan lain hal yang semula tak tampak punya kaitan. Maka, ketika kita sudah lama kehilangan rasa takjub terhadap kiasan mati semacam "matahari", "bulan sabit", "ibu jari", "jari manis", "tahilalat", "cinta monyet", … kita pun kemudian bertemu dengan, sebutlah, "baju bulan" (Joko Pinurbo), "bulan limau retak" (Rendra), "desir hari lari berenang" (Chairil Anwar), "hari terus rontok dari pohon abadi" (Subagio Sastrowardoyo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi (juga sastra pada umumnya) kita memang bertemu dengan rangkaian kiasan, tetapi sesungguhnya kita bergerak di sebidang lapangan bernama ironi. Di sanalah kita bisa belajar tentang jarak antara kata dan dunia. Pelbagai hal tak terduga bisa terjadi: kearifan bertopeng kebodohan, atau sebaliknya, tata yang muncul dari gebalau, dan seterusnya. Sebuah karya barangkali bergerak seperti Sokrates yang senantiasa tampil sebagai sosok yang tak tahu dan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada lawan bicaranya (si pembaca) agar terus mencari dan mengolah pengertian yang lebih dalam tentang diri dan dunia yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami ironi berarti menangkap apa yang dikatakan dan tak dikatakan. Mengutarakan ironi berarti merengkuh posisi-posisi yang berlawanan sekaligus secara bersamaan. Mengatakan Z sambil memaksudkan N, atau N sekaligus Z, mengawinkan keduanya, seraya mengambil jarak dari masing-masing. Mengutarakan ironi berarti tidak menyampaikan sesuatu secara langsung melainkan menciptakan sebuah versi, sebuah rentang, sebuah ruang. Ini membutuhkan dan membangkitkan imajinasi. Peran pembaca dalam memetik dan memasak makna tentu menjadi niscaya. Dan, bisa saja, proses itu melewati rute-rute yang tampak jauh dari apa yang biasa disebut akal waras. Ia bisa tampak bersungguh-sungguh sekaligus bermain-main. Ia bisa tampak khusyuk sekaligus kurang ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi dan dusta sama-sama mengatakan kebalikan, atau sesuatu yang lain, dari ungkapan yang berterus terang. Bahwa sesuatu yang dinyatakan, yang harfiah, bukanlah yang sebenarnya. Tetapi ada perbedaan mendasar. Dusta menjadi efektif jika pihak lain tidak tahu apa yang sebenarnya. Ironi justru menjadi efektif jika pihak lain mafhum apa yang sebenarnya (dimaksudkan): sesuatu yang berada di ruang lain, bahkan mungkin terus bergerak ke ruang-ruang lain, seluas cakrawala masing-masing orang. Pembacaan (dan pembacaan adalah juga penulisan, yakni pembubuhan tafsir oleh pembaca) dengan demikian menjadi proses yang berjalan tak henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita bisa melihat bahwa karya sastra, atau seni pada umumnya, sesungguhnya bukanlah bekerja dengan dusta (seperti sering dikatakan tentangnya) melainkan bermain dengan ironi dalam arti yang luas. Sebab pada dasarnya pihak pencipta maupun penikmat sama-sama sadar akan "sesuatu yang lain" yang juga disaran dalam ungkapan demi ungkapan. Sebab itu apa yang disebut kejujuran dalam karya sastra bisa datang dengan seribu satu wajah: ekspresi-ekspresi bahasa yang mengajak orang menatap dunia dengan lebih tajam, lebih intens, dan menghadirkan pemandangan-pemandangan baru yang lebih hidup. Yang harfiah, apa boleh buat, hanyalah salah satu pilihan-dan jangan-jangan pilihan yang menjemukan-dalam pengutaraan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASIF AMINI&lt;br /&gt;Bentara-Kompas, Rabu, 7 Juli 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-5872841326972281282?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5872841326972281282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5872841326972281282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/ironi.html' title='Ironi'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4618717936457198872</id><published>2010-05-04T16:15:00.003+07:00</published><updated>2010-09-15T09:00:56.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nirwan A. Arsuka'/><title type='text'>“Surga Kecil” Jokpin</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nirwan Ahmad Arsuka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jaman, puisi adalah beberapa di antara barang yang tak pernah surut produksinya, paling tidak di Indonesia. Di era krisis, pasokan puisi bukannya ikut surut, tapi malah mungkin meningkat. Yang pasti,  redaktur rubrik puisi di media cetak – setidaknya di Bentara KOMPAS – selalu kewalahan menerima kiriman sajak yang melimpah ruah. Kendati nyaris semua penduduk negeri ini sepertinya bisa membuat puisi, namun puisi yang benar-benar bisa meninggalkan torehan yang dalam, parut yang tak gampang hilang, adalah barang langka yang jarang ditemui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, saya membaca beberapa barang langka itu dalam sebuah newsletter yang diterbitkan oleh sekelompok anak muda di Yogya. Di sana antara lain tercantum beberapa puisi Joko Pinurbo yang diambil dari kumpulan “Pacarkecilku” (IndonesiaTera: Magelang, 2002). Salah satu dari puisi-puisi itu, misalnya, bertajuk “Mudik”. Membaca bait-bait awal puisi ini, saya tersenyum, bahkan tertawa membayangkan suasana rumah ketika “Hei, bajingan kita pulang!” Di sana ada disebut “Ibu sedang memasang senja di jendela. Kakek sedang Menggelar hujan di beranda”, sementara “Nenek sedang meninggal dunia”. Ada yang kocak di sana, di antara diksi, aforisme dan imaji yang tidak umum dan membangkitkan sejumlah asosiasi, dan karena itu menarik. Tetapi seusai membaca bait terakhir, tawa saya hilang diganti oleh sejenis keharuan yang sulit dirumuskan. Saya ingat, saya berusaha untuk tidak menjadi cengeng dan sentimentil. Tetapi pertahanan saya jebol, ketika usai membaca puisi lainnya yang bertajuk “Penumpang Terakhir”, puisi yang dipersembahkan kepada sastrawan Joni Ariadinata yang pernah jadi tukang becak itu. Puisi itu membuat mata saya berkabut, mungkin berembun, dan sesaat kemudian, setelah tubuh saya agak sedikit merinding dan pikiran terbang ke mana-mana, saya pun terseret ke sebaris kalimat yang konon berasal dari Boris Pasternak:  poetry is a rich, full-bodied whistle, cracked ice crunching in pails, the night that numbs the leaf, the duel of two nightingales, the sweet pea that has run wild, Creation's tears in shoulder blades.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu saya membaca kembali dengan agak lebih seksama puisi-puisi Jokpin yang dulu saya temui secara sporadis. Seperti halnya mereka yang komentar dan pengantarnya menemani buku-buku kumpulan puisi Jokpin, saya pun menemukan sejumlah hal di sana. Salah satu yang paling membekas di antara temuan itu, adalah hubungan yang ajaib antara seorang “bocah” dengan celananya. Pada Memo Celana, misalnya, yang juga tercantum dalam Kumpulan “Pacarkecilku”, tokoh kita berucap “Sampaikan salam rindu saya kepadanya”, kepada “celana kesayangan yang tertinggal di jemuran.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kadang, tengah malam, sambil mengigau kau ngeloyor&lt;br /&gt;Ke halaman belakang tanpa celana, ingin mencoba bagaimana&lt;br /&gt;Rasanya tergantung di tali jemuran, sendirian dan kehujanan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Memo Celana”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantarnya untuk kumpulan “Di Bawah Kibaran Sarung” (IndonesiaTera: Magelang, 2001), Ignas Kleden memumpunkan perhatiannya pada permenungan Jokpin terhadap tubuh manusia yang ia lihat begitu obsesif, dan sangat mungkin tak ada tandingannya di antara penyair-penyair dalam sastra Indonesia modern. Ketimbang permenungannya atas tubuh, saya justeru lebih terhanyut oleh meditasi Jokpin atas benda “penutup” tubuh. Dalam sajak-sajak Jokpin tentang celana, yang kita temui di sana bukanlah sekedar celana yang enak dipakai, atau yang telah terbang ke langit-langit kenangan. Yang hadir di sana adalah celana yang menjelma menjadi “makhluk hidup” yang sangat penting bagi si tokoh dalam upayanya menjadi Manusia. Hubungan yang terbangun antara si tokoh dan celana, adalah hubungan yang begitu intim dan eksistensial, hubungan yang hanya mungkin lahir dari satu takaran tertentu kekecewaan terhadap manusia, dari kegagapan membangun komunikasi yang “sip” dengan sesama manusia, termasuk dengan diri sendiri. Celana yang menjelma jadi sahabat yang alangkah dekat itu, yang tak pernah berdusta dan menghakimi, menjadi tempat kepada siapa si tokoh berbagi bukan hanya kabar gembira, tapi juga nasib sial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jokpin bahkan menghadirkan  celana sedemikian rupa sehingga membuat orang bisa terseret mengingat salah satu mitologi terpenting agama-agama Ibrahim, yakni mitologi purba jadi manusia. Dalam mitologi purba itu, kita tahu, Adam menjadi manusia pertama dan harus meninggalkan taman Eden untuk memulai sebuah kehidupan yang sama sekali baru dalam kosmos, dan itu semua diawali dengan tindakan penting meletakkan sepotong daun di auratnya. Ringkasnya, jika dalam kosmologi monotheis daun penutup aurat yang membantu Adam dan Hawa jadi Manusia.,  maka dalam sajak-sajak Jokpin yang dibayangi sekaligus oleh mitologi Ibrahim dan kosmologi Jawa tradisional itu, secarik jeans membantu seorang bocah melepaskan diri dari posisinya sebagai bocah kecil, menjadi seorang lanang, dengan segala previlese dan konsekwensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kumpulan ”Telepon Genggam” ini, kita memang tak lagi menemukan sensasi ajaib yang bisa membuat mata berembun. Yang tetap kita temukan adalah imaji dengan tokoh-tokoh yang masih kesulitan membangun komunikasi dalam usahanya menjadi Orang. Jika pada kumpulan terdahulu, celana membantu seorang bocah menjadi lelaki, maka telepon genggam, juga teknologi internet, membantu pemiliknya menjadi seorang manusia modern. Tetapi ketidak-mampuan membangun hubungan yang tak beronak dengan manusia dan dunia lain, tetap saja menyertai tokoh kita, dan ketika telepon genggamnya tetap mengelak membantunya, ia kembali ke masa silamnya yang sesungguhnya juga beronak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mungkin ia melihat seorang anak lelaki kecil pulang dari main layang-layang di padang lapang dan mendapatkan rumahnya sudah kosong dan lengang. Hanya terdengar suara burung berkicau bersahutan di rerindang ranting dan dahan. Hanya ada seorang anak perempuan kecil, dengan raut rindu dan binar bisu, sedang risau menunggu. Seperti saudara kembar yang ingin benar memeluknya dalam haru, mengajaknya bermain di bawah pohon sawo: pohon hayat yang tak terlihat waktu. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Telepon Genggam”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tetap menjadi penyair yang menertawai  “aku”,  seperti yang sudah disinggung Nirwan Dewanto, atau terus memainkan bunyi, repetisi, perspektif dan struktur untuk  menggelar parodi terhadap sejumlah empu puisi dan bahkan terhadap puisi itu sendiri, Jokpin juga tetap  memain-mainkan ketelanjangan dan penutupnya. Ada banyak gugus pengertian yang terus disodorkan Jokpin berkaitan dengan ketelanjangan ini, mulai dari kemurnian bocah dan kerentanannya, hingga ke sebentuk kerinduan kembali ke waktu asal-muasal di masa silam: bersatu kembali dengan sesuatu yang belum dirusak dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Masa kecil seperti penjaga malam yang setia. Ia yang&lt;br /&gt;membuka dan menutup pintu setiap kau masuk dan&lt;br /&gt;keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi, ia &lt;br /&gt;duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar &lt;br /&gt;sambil ketawa-ketawa sendiri. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Masa Kecil”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penutup ketelanjangan yang juga menjadi ekstensi dari diri sang tokoh, baik itu berupa celana, jas atau telepon genggam,  juga terus digarap untuk menyarankan banyak hal, mulai dari ketololan dan hilangnya kemurnian manusia, hingga ke sesuatu yang berkaitan dengan gerak maju ke masa depan untuk berselingkuh dengan dunia, untuk bertaut dengan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Di pesta pernikahan temannya ia berkenalan dengan &lt;br /&gt;perempuan yang kebetulan menghampirinya. Mata &lt;br /&gt;mengincar mata, merangkum ruang. Rasanya kita pernah &lt;br /&gt;bertemu. Di mana ya? Kapan ya? Mata: kristal waktu &lt;br /&gt;yang tembus pandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hingar mereka berjabat tangan, berdebar-&lt;br /&gt;debar, bertukar nama dan nomor, menyimpannya ke &lt;br /&gt;telepon genggam, lalu saling janji: Nanti kontak saya ya. &lt;br /&gt;Sungguh lho. Awas kalau tidak.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Telepon Genggam”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, khas Jokpin, kerinduan pada masa sebelum “kejatuhan” itu, pada masa kecil yang setia seperti penjaga malam, dan dorongan (atau tarikan?) untuk melebur maju dengan dunia, semuanya dengan serius, bahkan eksesif, ia main-mainkan; dan sampai batas tertentu, ia juga dipermainkan oleh mereka, digelandang bolak-balik. &lt;br /&gt;Seperti halnya celana yang bisa membuat tokoh kita tampak gagah, untuk kemudian menjadi bahan tertawaan menyakitkan sang pacar yang lebih tertarik pada apa yang ditutup oleh celana itu, telepon genggam pun yang semestinya bisa membebaskan tokoh kita dan mendorongnya ke masa depan, malah justeru bisa membelenggunya dengan sepi dan menyeretnya kembali ke masa silam yang rawan dan perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Adzan subuh berkumandang. Penuh hujan. Ia buka &lt;br /&gt;telepon genggam. Tumben, ayah kirim pesan. Ibu sakit. &lt;br /&gt;Kangen berat. Nenek sudah tiga hari hilang. Makam &lt;br /&gt;kakek belum sempat dibersihkan. Sarung ayah dicuri &lt;br /&gt;orang. Utang stabil. Pohon nangka di samping rumah&lt;br /&gt;tumbang. Bisa pulang? Bisa minta ijin telepon genggam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan berakhir. Musik. Telepon genggam menyanyikan &lt;br /&gt;The Beatles: Mother…. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “PanggilanPulang”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia luar yang hendak dijangkau, entah dengan celana, telepon genggam, e-mail atau sebuah permintaan otograf, memang sering menyahut, atau tidak menyahut, dengan cara yang bisa menggoreskan luka bahkan menghancurkan mental. Telepon genggam pun tak hanya ditidurkan di kuburan, lalu dibuang ke laut (Sajak “Selamat Tinggal”). Tokoh kita kemudian masuk berlindung ke dalam dirinya sendiri, ke kenangan masa kecilnya, ke buku-buku dan sajak-sajaknya. Di sana ia bukan saja bisa bermain-main dengan bebas, ia pun bisa mencipta dengan leluasa: merakit kata-kata menjadi sebuah surga kecil, melakukan perhitungan kembali dengan dunia, luar dan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mungkin sudah menjadi suratan nasib saya, ketika saya &lt;br /&gt;hendak menyodorkan buku novelnya dan minta tanda &lt;br /&gt;tangannya, perempuan itu seakan-akan tidak mengenal &lt;br /&gt;saya, bahkan menjauh menghindari saya. Entah &lt;br /&gt;mengapa tiba-tiba saya merasa sangat nelangsa. Dan, &lt;br /&gt;sebagaimana tersabdakan dalam sajak Sapardi, malam &lt;br /&gt;itu saya ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk &lt;br /&gt;sepanjang lorong yang gelap. Saya ingin malam itu hujan &lt;br /&gt;turun rintik-rintik dan lorong sepi agar saya bisa &lt;br /&gt;berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang &lt;br /&gt;bertanya kenapa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Lelaki Tanpa Celana”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang &lt;br /&gt;pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan &lt;br /&gt;molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi &lt;br /&gt;birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh &lt;br /&gt;dan berbuah lagi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Sudah Saatnya”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memang terasa  berubah dan menganggu pada Jokpin di kumpulan ini adalah semangat bermainnya yang agak kelewatan. Penyair kita menjadi agak terlalu tekun mengembangbiakkan kata. Kata-kata pun melimpah, membuat sesak ruang teks sehingga tak banyak lagi tersisa ruang kosong dan lapang yang bisa menampung dan melepaskan imajinasi pembaca. Kata-kata yang membanjir, membuat becek dataran puitik yang hendak dijelajahi, dan kita terpaksa berjinjit, mencari tumpuan frase dan diksi yang menonjol di antara genangan kata yang banyak muncul. Mungkin kita tak lagi bisa menari dengan bebas, tapi kita tetap bisa melangkah sampai akhir tanpa terjatuh dalam kubangan kata-kata. Kita memang akan lebih jarang menamatkan sebuah sajak lalu tercenung lama setelah tadinya ketawa sendiri, merasakan betapa puisi itu menjadi semacam cermin besar atau gerbang cahaya, menghayati sejenis iluminasi dan revelasi yang rekah. Kita tak lagi kena teluh pusi yang benar-benar kuat, yang begitu kuat sehingga mampu untuk sesaat melenyapkan ruang dan waktu, dan kita “tidak tahu pasti apakah sedang berada di masa lalu, masa depan atau masa kini.” (Sajak “Sudah Saatnya”). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kumpulan puisi ini jelas masih memungkinkan kita mengenang banyak serpihan imaji yang berharga. Misalnya, tentang ibu yang tabah yang sehari-hari berjualan awalan ber; tentang kecantikan yang belum selesai dijarah; tentang surga yang berisi hal-hal sederhana: naik ojek keliling kota, bersenang-senang menikmati tabungan; tentang mataair airmata yang ditanam di ladang-ladang karang; atau tentang gerimis siang yang seperti ribuan morfem dan fonem bertaburan dari pohon waktu yang tak pernah mati, membasahi rambut perak sang guru sastra yang goyah kelaparan, dengan perut yang kembung oleh angin, oleh imaji dan diksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dengan kecenderungan main-main yang lumayan boros, kumpulan sajak “Telepon Genggam” ini masih bisa mengukuhkan diri Jokpin sebagai salah satu penyair terbaik di angkatannya. Kumpulan ini juga masih menyisakan ruang bagi harapan untuk menandaskan bahwa puisi memang adalah bentuk tertinggi dunia tulis. Dan kendati “kata-kata sudah besar, sudah selesai studi, dan mereka harus pergi cari kerja sendiri” (Sajak “Selesai Sudah Tugasku Menulis Puisi”), kita masih merasakan kerinduan untuk melihat bahwa puisi memang punya daya tenung, yang mampu menerobos hati dan benak dengan cara yang bukan penyair hanya bisa memimpikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jkt, Mei 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat dalam &lt;i&gt;Telepon Genggam&lt;/i&gt;, kumpulan puisi Joko Pinurbo. Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2003)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4618717936457198872?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4618717936457198872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4618717936457198872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/surga-kecil-jokpin_04.html' title='“Surga Kecil” Jokpin'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4740540819428310246</id><published>2010-05-04T16:09:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T16:09:36.669+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mustafa Ismail'/><title type='text'>Celana Joko Pinurbo</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kepada Cium adalah bab penutup episode Celana. &lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair itu akan menanggalkan "celana". "Episode Celana sudah selesai," katanya saat bedah buku puisi terbarunya, Kepada Cium, di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Rabu pekan lalu. Celana yang dimaksud adalah diksi yang kerap dipakai dalam puisi-puisi lelaki kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kata celana, Joko Pinurbo, penyair itu, kerap memakai kata telepon genggam dan kamar mandi dalam puisinya. Dalam kumpulan puisi terbaru, kata-kata itu masih dengan mudah ditemukan. "Saya mengangkat kata-kata yang tidak puitis dan menjadi berkekuatan puitik," kata Joko lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan buku puisi Kepada Cium yang dalam satu bulan pascaterbit telah terjual sebanyak seribu eksemplar itu adalah bab penutup dari episode celana tersebut, yang sudah berlangsung sepuluh tahun. "Ini sebagai penutup episode kepenyairan saya selama ini dan membuka episode baru," tutur Jokpin, panggilan akrab penyair yang menjadi tokoh sastra pilihan Tempo 2001 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal episode celana itu ditandai dengan lahirnya kumpulan puisi Celana pada 1999. Buku itu memperoleh Hadiah Sastra Lontar pada 2001. Kemudian, pada 2002, kumpulan Celana itu diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris berjudul Touser Dol (2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisinya memang mendapatkan sejumlah penghargaan. Masih seputar celana, puisinya Celana 1, Celana 2, dan Celana 3 mendapatkan penghargaan Sih Award, penghargaan untuk puisi terbaik jurnal Puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku puisinya, Di Bawah Kibaran Sarung, yang terbit pada 2001, memperoleh Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional pada 2002. Kumpulan puisinya, Kekasihku, memperoleh penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan puisi lainnya adalah Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), dan Pacar Senja (2005). "Kekuatan puisi Joko bersumber pada ironi yang ditata, terutama dengan personifikasi, yang menyebabkan semua benda, tak terkecuali yang abstrak, menjadi manusiawi," tutur penyair Sapardi Joko Damono dalam pengantar Antologi Puisi 10 Penyair, Dari Seberang Cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total ada enam kumpulan puisi yang telah dilahirkannya. Tapi, sebagai penyair, ia termasuk terlambat mempublikasikan karya-karyanya. Ia mulai menulis pada 1979 dan baru menerbitkan kumpulan puisi pada 1999. "Dua puluh tahun saya menulis puisi tidak untuk menjadi apa-apa," kata Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ia mengaku puisi-puisinya saat itu dibuang ke tempat sampah. Baru pada "celana", ia merasa menjadi penyair. Tentu untuk menemukan "celana" itu bukan perjalanan singkat. Ia menggali dan membaca karya-karya penyair lain. "Lalu saya temukan celana, kamar mandi, dan telepon genggam," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini ia telah memutuskan menanggalkan "celana". Ia tidak tahu, "Mau saya apakan lagi celana saya, telepon genggam saya, mau saya apakan lagi kamar mandi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUSTAFA ISMAIL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt;, Rabu, 18 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4740540819428310246?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4740540819428310246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4740540819428310246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/celana-joko-pinurbo.html' title='Celana Joko Pinurbo'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-942279109038213673</id><published>2010-05-04T16:03:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T16:03:42.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dami N. Toda'/><title type='text'>Dua Penyair Indonesia di Hamburg</title><content type='html'>&lt;b&gt;Catatan Baca Puisi Dorothea dan Joko Pinurbo &lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dami N Toda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kompas, Minggu, 3 Februari 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUNGKIN bukan kebetulan Ruang C Philoturm Universitas Hamburg bersebelahan dengan pajangan patung kepala Ernst Cassirer (1874-1945), filsuf Yahudi-Jerman Neokantianis, bekas Rektor Universitas Hamburg (1930-1933). Salah satu buku Cassirer, Esai Manusia (An Essay On Man, 1944), terkenal di Indonesia karena pernah terpilih sebagai salah satu bacaan wajib studi sastra di Fakultas Sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pula bukan kebetulan Ruang C Philoturm berlatar patung kepala Cassirer pada 22 Januari 2002 petang itu menjadi saksi pembacaan 'esai manusia' penyair Indonesia: Dorothea Rosa Herliany, penyair wanita terkemuka Indonesia masa kini, dan Joko Pinurbo, salah satu penyair penting pendatang tahun 1980-an. Ketika uap tanah Musim Dingin makin merapatkan semua pintu tiba kemari larik-larik suara lembut Dorothea seakan menancapkan gigi morse telegram 'beratus teriakan kecil dalam gelombang tak berpintu' dari lembah Gunung Tidar Magelang. Pakem pengertian budaya-barat Jerman yang selalu ngotot membeda-bedakan tiap momen dan momen menurut sistematik kelamin (laki-wanita-banci) seakan didamprat Dorothea dengan keras pada kesadaran pertobatan melihat filosofi 'Manusia' sebagai satu-kesatuan utuh eksistensial tanpa selalu peduli menilik ke bawah perbedaan definisi kelangkang orang pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampratan Dorothea hampir pasti tidak bakal terdengar di sini karena faham 'Manusia' telah diketul-ketul ke dalam 'telinga' (das Ohr), 'mata' (das Auge), 'nalar' (die Vernunft) dan 'rasa' (das Gefuhl) di-kelamin-kan: koteka "das" untuk kelamin banci, "die" untuk kelamin wanita, koteka "der" untuk kelamin laki-laki. Mata publikum yang tengah menonton Dorothea di pentas pun 'logis' saja men-diskriminasi-kannya berdasarkan peralatan kelamin, dan bukan sebagai 'puisi manusia' utuh yang dijudul esai manusia oleh Cassirer. Yah! Membebaskan filosofi "Manusia" dari polarisasi jenis kelamin ternyata sama fatal 'membebaskan' faham/citra Allah, Setan atau Malaikat dari "kelamin"! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu wawancara Dorothea pernah menegaskan: "...dalam mencipta saya bebaskan diri dari tempurung jender. Saya tidak sedang menjadi perempuan atau lelaki. Tidak pernah ingin peduli identitas seksual." (Suara Pembaruan, 11/11/2001). Di Hamburg petang itu penegasan serupa terlontar dalam jawaban bersirat serupa, ujarnya: "... ketika sedang berada di dalam rumah saya bahagia menikmati peran menjadi ibu penuh kasih untuk anak-anak saya dan istri penuh kasih pada suami saya, tetapi di luar rumah saya utuh bebas menjadi manusia diri sendiri." Ucapan Dorothea mengisyaratkan kesadaran eksistensial membedakan diri manusia (sebagai 'kita' sesama) dan diri pribadi terlahir "wanita" (sebagai 'orang') dalam peran biologis. Dalam keutuhan diri sebagai manusia persoalan diri terlahir laki atau perempuan bukan soal persamaan hak. Puisi Dorothea pun tidak sedang menjadi perempuan atau lelaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik puisi Dorothea: Perempuan itu kunamakan Ibu, Buku Harian Perkawinan, Nikah Bebatuan, Telegram Gelap Persetubuhan, Cincin Kawin, dan lain-lain di mata saya terlihat kejujuran diksi membebaskan otonomi penciptaan puisi dari pretensi diskriminasi kelamin. Dengan utuh tegas dia berada dalam kemanusiaan. Bahwa ia bukan sedang menciptakan (simbol) 'puisi feminis' dalam arti perlawanan 'kaum' subordinatif versus keunggulan ordinasi maskulinis, seperti model interpretasi Prof Aveling yang dicatat Prof Carle malam itu. Berpuisi seperti dia dapat sama saja ditulis manusia berkelamin laki atau wanita. Tak ada hubungan dengan poster 'revolusi feminis', apa lagi "perjuangan kaum". Harga kelamin, posisi fungsional kelamin, gairah seksual, fantasi sama saja manusiawi dalam nilai kita. Betapapun tetap terdapat kesadaran kuat pengucapan metaforis sajak Cincin Kawin seperti terkutip utuh di bawah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah telanjur kupenggal sebagian gambar &lt;br /&gt;kepalamu. wajahmu tetap tak bermulut. tak bisa kujilat &lt;br /&gt;sajaksajak yang menetes dari lelehan darah itu. &lt;br /&gt;dan ketika tumbuh bunga aneh, seperti ada yang &lt;br /&gt;memijarkan sejarah kemanusiaan kita yang tak pernah utuh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi Dorothea terlihat awas dan kritis. Tajam menukik ke dalam permenungan tanpa mudah terjerat emosi ataupun tertantang pandangan vulgar di luar. Dia hayati benar hakikat duka (keperihan) eksistensial dari realitas-realitas seputar, tetapi selalu terdapat jarak tetapi dapat dibahasakan dengan lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAIN lagi penampilan puisi-puisi Joko Pinurbo yang besar di dalam 'benda-benda' kecil melekat pada kehadiran tema sehari-hari. Dalam langgam berpuisi prosa-puitik (=puisi-prosaik) dengan amat cerdas ia menguak "celana" dan "sarung" seperti diformalkan menjadi metafor untuk judul kumpulan puisi: Celana (1999) dan Di Bawah Kibaran Sarung (2001). Bijak menjadi "manusia utuh" puitik dalam tiap milimeter gugusan ketelanjangan prosaik. Si kecil itu ternyata luar biasa merancap pukau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum baca puisi sore itu kebetulan saya membawa Dorothea dan Joko ke galeri pelukis Ute Reichel dan berkenalan dengan penyair Irlandia Terry McDonagh. Ute menunjukkan karya dia terakhir bertema potret diri 'telanjang' Ute setengah badan dengan silhuet bayangan warna seakan menguap keluar. Walaupun belum tahu obsesi tema puisi Joko serupa itu di depan potret diri telanjang Ute itu berujar: "Saya ingin manusia utuh tanpa telanjang keluar dari lukisan-lukisan itu". Terdengar filosofis dan kontras. Langsung saja mata Joko menjadi tiga seperti mata banyak puisi-puisi dia. Tidak heran kalau Prof Carle menanggapi Joko dalam pengantar baca puisi petang itu berkata: "Untuk mengerti pesan Joko dalam puisinya perlu diketahui sebanyak mungkin sajaknya dahulu, sebab ide-ide pokoknya tersebar di antara suatu kompleks tema yang luas diciptakan sebagai realita dalam puisi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah tanggapan itu betapa pun bicara Prof Carle terkesan khas pendekatan rasional orang-orang akademik berbicara tentang puisi dengan alat persiapan 'mengerti' dan 'perlu diketahui' dan 'ide-ide pokok' segala typisch hermeneutik Gadamer. Namun kiatnya sama kira-kira tak jauh dari gugah proses kreatif Joko di depan urusan asas empiri 'rasa' - 'menghayati' dan pilihan diksi sugestif "metafor-metafor pokok" dalam harkat perpuisian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga dengan kumpulan terbaru Sajak-sajak 2001 (cetakan ke-1 Januari 2002) Joko Pinurbo terlihat berpaju deras di samping penyair penting lain Taufiq Ismail sambil menyentil Sitor Situmorang ('tak ada bulan di atas kuburan', sajak Loper Koran 2001) ataupun merenungi Sutardji Calzoum Bachri (Sajak Penyair Tardji 1986). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesan seloroh tapi bukan seloroh. Teralur kisah tetapi bukan prosa. Puisi-puisi berjudul: Pengamen, Loper Koran, Bertelur, Atau, Antar Aku ke Kamar Mandi dan lain-lain dialur sedap tetapi menggigit sukma. Terkutip utuh contoh Sajak Antar Aku ke Kamar Mandi di bawah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam ia tiba-tiba terjaga, kemudian membangunkan/ Seseorang yang sedang mendengkur di sampIa takut sendirian ke kamar mandi/sebab jalan menuju kamar mandi sangat gelap dan sunyi. Jangan-jangan tubuhku nanti tak utuh lagi. // Maka kuantar kau zirah ke kamar mandi/ dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki./ Kau menunggu di luar saja. Ada yang harus kuselesaikan sendiri. // Kamar mandi gelap gulita. Kauraba-raba peta tubuhmu/ dan kau dengan suara: Mengapa tak juga kautemukan Aku? // menjelang pagi ia keluar dari kamar mandi/ dan Seseorang yang tadi mengantarnya sudah tak ada lagi. /Dengan wajah berseri-seri ia pulang ke ranjang,/ ia dapatkan Seseorang sedang mendengkur nyaring sekali.// Jangan-jangan dengkurMu yang bikin aku takut ke kamar mandi.' * &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;* Dami N Toda&lt;/b&gt;, pengajar Studi-studi Indonesia dan Pasifik Selatan Universitas Hamburg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-942279109038213673?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/942279109038213673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/942279109038213673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/dua-penyair-indonesia-di-hamburg.html' title='Dua Penyair Indonesia di Hamburg'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4592119360181130131</id><published>2010-05-04T15:37:00.001+07:00</published><updated>2010-05-04T15:43:06.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karlina Supelli'/><title type='text'>Persinggahan Sang Penyair</title><content type='html'>&lt;b&gt;Karlina Supelli&lt;/b&gt; &lt;i&gt;(1)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penerbit meminta saya memberi pengantar kumpulan puisi Joko Pinurbo ini, saya merasa kikuk. Membaca karya sastra merupakan pengalaman intim, amat personal. Bahwa kemudian orang mengutip karya-karya tertentu ke dalam tulisan, tidak berarti bahwa pengalaman itu sebagai pengalaman, dapat terpaparkan dengan lancar ke hadirat pembaca. Rasa kikuk ini sebetulnya muncul karena didahului oleh kesadaran bahwa saya bukan kritikus ataupun ahli sastra. Seorang ahli sastra mempunyai dukungan teori dan pemahaman akan kode sastra. Kelengkapan itu akan mengantar dan membingkai pengalaman personalnya memaknai karya yang ia baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains di masa mendatang akan semakin puitis,&lt;i&gt;(2)&lt;/i&gt; dan puisi Joko juga berbicara tentang buku, sesuatu yang berhubungan dengan ilmu, begitu salah satu pertimbangan penerbit. Mereka pun memilih seseorang yang bukan ahli sastra untuk memberi pengantar atas nama pertimbangan itu (bahkan memilih seseorang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pasti alam). Introduksi seperti itu, yang dimaksudkan membesarkan hati, ternyata tidak sedikitpun melicinkan jalan untuk menulis. Sebabnya sederhana, apakah “buku” di dalam puisi-puisi Joko Pinurbo memang buku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun pada akhirnya pengantar ini hadir di hadapan pembaca, itu hanya mungkin sesudah jerih payah disertai jeda karena terengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saintis sekaligus novelis Inggris, Charles Percy Snow, pernah memberi kuliah umum, Rede Lecture, di Universitas Cambridge tahun 1959. Snow berbicara tentang The Two Cultures.&lt;i&gt;(3)&lt;/i&gt; Ia menunjuk sebuah jurang dalam tak terjembatani yang membentang antara para ilmuwan dan ahli sastra, serta implikasinya bagi masyarakat bahkan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kritik yang diterima Snow akan sedikit lebih lembut jika saja ia, seperti penyair Inggris abad ke-19, Percy Bysshe Shelley, berusul tentang salah satu tugas para penyair. Yakni, menyerap sains untuk mengasimilasikannya ke kebutuhan manusia, mewarnainya dengan jiwa manusia, dan menjadikannya berdarah dan bertulang belulang manusia”. Namun Snow melangkah jauh dari itu. Ia menuduh penyair sebagai para “Luddite”.&lt;i&gt;(4)&lt;/i&gt; Ia bahkan mengatakan mereka tidak punya kedalaman dan artikulasi intelektual. Ketika “kerinduan ilmuwan akan masa depan merasuk sampai ke tulang belulang”, bagi Snow, para ahli sastra &lt;i&gt;(5)&lt;/i&gt; seperti mengharap masa depan tak pernah. Mereka hanya “memusatkan diri di tragedi dan kesepian manusia individual”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian gagap menghaturkan tulisan ini tentu muncul bukan karena pretensi ingin menyangkal gagasan usang Snow. Ada sebuah kenyataan sederhana yang membesarkan hati. Syukurlah bahwa manusia sudah menjadi mahluk bersastra sejak bayi, melalui kidung yang disenandungkan ibu atau sang pengasuh. Mahluk kecil itu lalu belajar menjadi mahluk pencerita. Manusia adalah homo fabulator, tulis Ben Okri dalam bukunya yang indah A Way of Being Free (1998). Sang manusia kecil itu pun mulai bermain dengan kata, sambil belajar mengerti kata yang dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengira bahwa membaca karya sastra jauh berbeda dengan membaca buku fisika atau kosmologi, untuk menyebut dua saja dari ranting sains;&lt;i&gt;(6)&lt;/i&gt; mungkin karena terlalu dibebani oleh sejarah perdebatan metode antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu budaya. Tentu ada perbedaan cara (metode) membaca, menafsirkan, dan memahami isi yang mau disampaikan oleh teks-teks tersebut. Akan tetapi, biarlah itu menjadi kawasan yang dikaji para filosof ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah dihaturkan di sini, baik kosmologi maupun sastra merupakan pengembaraan melampaui kata, melampaui ruang-waktu. Pengembaraan itu sama-sama tidak serta merta membuat seseorang dapat semena-mena meniadakan hubungan kata dengan dunia nyata. Mungkin dengan kosmologi orang dapat merasa sedikit lebih nyaman. Bukankah seorang kosmolog pada akhirnya selalu dijamin oleh sebuah Alam? Namun itu juga berarti kenyamanan perlu ia tebus dengan kerangka yang membatasi kebebasan petualangannya. Suatu waktu entah kapan, ia akan terbentur pada Alam di luar alam yang sedang menari berpasangan dengan benaknya. Itulah mungkin alasan bahwa dengan karya sastra, orang boleh merasa lebih bebas mengembarakan imajinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling menakjubkan dari karya sastra—khususnya puisi—dan kosmologi, keduanya merupakan pengembaraan hening. Sebuah perjalanan menuju jantung kelengangan, mencapai bilik dan ruang belum bernama karena kata tak pernah cukup untuk menjamahnya. Kalaupun memang masih perlu diakui ada perbedaan, itu karena kosmologi berangkat dari fakta alam dengan mahluk berkesadaran sebagai parameter bagi kemungkinan eksistensinya. Sementara puisi, dalam pengertian paling sederhana, merupakan gumpalan pengalaman manusia yang bermain dengan sisi terang dan sisi gelap kesadaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keduanya, fakta manusiawi seolah tenggelam dan beralih menjadi marka yang material sifatnya: kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui marka itulah puisi menantang pembacanya. Sebagian pengalaman manusia merupakan wilayah diam, dengan palung air mata dan tawa yang dalamnya bagai tanpa dasar. Di sana meletak dawai-dawai halus sukma manusia yang menggetar rumit. Pengakuan akan kedalaman inilah yang paling membuat gundah. Kebebasan membaca sastra ternyata tidak juga memungkinkan pembaca sepenuhnya melenyapkan sang penulis. Ia terlahir mengalir dari potongan-potongan senyap pengalaman yang lolos tak tertampung tuturan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kau adalah mata, aku airmatamu&lt;/i&gt; (“Kepada Puisi”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya tak ada jalan lain. Jika penyair bermain dengan kata, pembaca bermain antara dunia nyata dan dunia rekaan ibarat anak kecil sedang bermain petak umpet.&lt;br /&gt;Pada saat-saat seperti itu ia mungkin akan terseret lagi ke masa lalu. Ke masa sebelum benaknya terisi oleh cerita dari berbagai buku. Di sana tersimpan peristiwa, dongeng, dan syair yang pernah dikisahkan ibu. Cerita ibu biasanya kaya ragam, mulai dari kekejaman perang yang bersumber di pengalaman, sampai ke dongeng ajaib di negeri entah, cerita hantu dan nenek sihir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu kadang membacakan buku, tetapi tidak jarang ia bertutur saja. Kadang kisah ibu tanpa “di sini, di sana, di mana”, bahkan tanpa “siapa’. Biasanya pula anak-anak menolak mendengarkan dengan pasrah. Mereka menuntut penjelasan. Apakah kisah ibu “ada kejadian betulnya atau tidak”? Ibu pun kadang menjawab, kadang hanya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang ibu membiarkan saja anak-anak kecil yang gemas itu bertanya. Kemudian, mungkin karena bosan atau putus asa, mereka mulai dengan takut-takut menciptakan sendiri ruang-waktu, tokoh, bahkan memasukkan diri ke dalam cerita ibu. Akhirnya tidak penting lagi bagi mereka, yang mana kisah nyata dan yang mana dongeng. Cerita-cerita ibu membingkai sebuah kosmos takberhingga, taktercakrawalakan, takteruangkan, takterwaktukan. Di dalam kosmos itu mereka bertualang seraya mengubah-ubah ujud. Tak ada di sini di sana, tak ada kemarin, esok, ataupun sekarang yang absolut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kelonggaran benak kanak-kanak semacam itulah juga yang mengawali perjumpaan seseorang dengan karya banyak penulis, pengarang, dan penyair (pula mungkin dengan hidup dan kehidupan. &lt;i&gt;Ah, … Aku harus mencari susu baru …&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak lagi mendikte teks, seperti ia pernah memutuskan berhenti mendikte guru cerita-cerita pertamanya agar menjelaskan bilik-bilik yang tersembunyi. Mungkin baru setelah waktu yang lama sekali, orang akhirnya menyadari adanya permainan itu. Sebuah permainan merebut makna di antara dunia-kemungkinan yang ditawarkan oleh teks dan diri di dalam dunia nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan itu meletihkan. Orang terus menerus bergulat menerima sekaligus menolak ruang-waktunya sendiri, ruang-waktu yang-mungkin, ruang-waktu seharusnya, sambil selalu mengais kembali arus kata yang sudah melaluinya. Di tengah kegembiraan penemuan, di antara terang cahaya dan gelap bayang-bayang tarian makna, kerap juga ia kalah. Ia gagal sehingga tak juga berani berujar, the beyond was here, all was here: a valley, a mountain, a distant country, the neighbors patio.&lt;i&gt;(7) &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di tengah kekalahan itu, masih ada orang yang dengan diam-diam merawat sebuah kepercayaan sederhana. Membaca bukan kerja berimbalan seperti pernah dikatakan Virginia Woolf.&lt;i&gt;(8)&lt;/i&gt; Membaca merupakan imbalan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah betapapun leluasanya, pada setiap ujung kata, orang menemukan bahwa ia bukanlah sepenuhnya pembaca. Ia juga pendengar, yang membiarkan puisi berbicara dan menemu-ulang dirinya manakala dibaca. Itulah saat ia dengan perlahan, di dalam kesengsaraan melampaui kata, ruang dan waktu, mulai mendengar bisik hening, tarikan nafas senyap, dan nyanyian diam yang melantun di antara aliran deras kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesengsaraan itu saya membaca seluruh Kekasihku. Apalagi, tak ada peristiwa atau benda yang seakan tidak mengandung makna bagi Joko Pinurbo. Pengalaman sederhana membentangkan lipatannya, menghadirkan sesuatu yang dalam kebudayaan superficial sekarang ini cenderung saja mau cepat dilupakan atau malahan dinamakan, agar dapat ditaruh ke dalam kotak nilai material, atau fungsinya. Apakah batuk kalau bukan suatu penyakit yang perlu diobati seperti kata iklan obat batuk? Melalui puisi pendek yang tetap setia kepada bunyi,  “Batuk” menjelma sebagai nama bagi harapan akan pembebas. Saya hanya bisa tersenyum dengan kenakalan Joko Pinurbo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama saya terpaku di hadapan “Telepon Tengah Malam”. Setelah berkali-kali membiarkan telepon yang sering berdering, aku akhirnya menanggapi. Dalam puisi ini, Joko menghadirkan suara (dering telepon); suara yang panjang dan keras. Akan tetapi kehadiran menjadi dramatik karena justru diambil kembali. Telepon diloloskan dari materialitasnya. Lalu diletakkanlah telepon yang berdering di dalam rongga dada aku. Suara muncul dari ketiadaan suara. Lalu Ibu juga hadir, tetapi kehadiran itu pun diambil lagi. Ibu ada di dalam sakit aku. Ada muncul sekaligus bersama paradoksnya, ketiadaan. Kegetiran yang menggigit seolah mau diatasi dengan penutup yang seperti sebuah penegasan. Bukan hanya aku, tetapi juga sakitku akan nyenyak tidurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kata berakhir puisi mulai berbicara, ujar Octavio Paz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun, sebuah kesenyapan memiliki suara: senyap itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam senyap Joko Pinurbo juga ada kejenakaan. Kejenakaan menyemburkan hangat jiwa dunia anak-anak, yang meredakan kelelahan. Sekejap saja; karena kemudian kejenakaan itu menelan kita dalam gelak kita sendiri (dan itu bukan karena dunia anak-anak pun bisa teramat dingin dan sepi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tersenyum karena sebagaimana kumpulan puisi sebelumnya (&lt;i&gt;Celana&lt;/i&gt;, 1999), larik-larik celana dalam “Selepas Usia 60”  bisa mengundang tawa. Bukan hanya karena saya sering salah memakai celana sehingga kadang seliritnya menjepit dindaku, tetapi gambar Superman pun bisa rontok dari celana bocah culun yang sedang ciat-ciat bermain silat. Hanya pada tiga larik sebelum larik penghabisan, pembaca dibawa ke semacam kesimpulan yang menggentarkan: ibu yang datang menjemput, senja yang mulai merosot, dan celana yang diam-diam mau melorot. Kembalilah pembaca ke saya di larik pembuka, bahkan judul puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi bukan semata kejenakaan yang mendorong Joko Pinurbo memilih gambar Superman. Sebagaimana pula mungkin bukan erotisisme yang mau dimunculkan dalam “Hijrah”, walaupun bisa saja pembaca terbawa ke penafsiran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranjang, celana, buku, tubuh, adalah sebagian tempat imajinasi sang penyair mengelana dalam waktu yang sabar, namun punya batas di entah dan yang akan dilupakan sejenak saat tertawa. Ia tidak selalu mengembara ‘dari’ menuju ‘ke’, ia terkadang sekaligus di dalam awal dan akhir (sebab menginjak ranjang serasa menginjak/rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang/dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit/serasa terdengar gemeretak tulang/ibunya yang sedang terbaring sakit). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pada setiap persinggahan Joko Pinurbo membekukan imajinasi ke dalam kata, hadirlah ambiguitas makna dengan kedalaman yang puitis. Pemahaman yang dengan terengah ingin kita genggam, mungkin hanya bayang-bayang rekaan kita sendiri.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1 Dosen di Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.&lt;br /&gt;2 Christopher Langton dalam John J. Ratey, A User’s Guide to the Brain (Vancouver: Vintage Books, 2002), p. 5.&lt;br /&gt;3 Setelah dilengkapi, kuliah itu diterbitkan dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution (Cambridge University Press, 1959). Tahun 1965 Snow menjawab berbagai kritik dengan menerbitkan edisi berikutnya, The Two Cultures and a Second Look.&lt;br /&gt;4 Istilah Luddite berasal dari sebutan bagi kelompok pekerja Inggris yang pada permulaan 1800-an melakukan protes terhadap perubahan teknologi produksi. Protes mereka kerap disertai dengan&lt;br /&gt;penghancuran mesin-mesin pabrik. Mesin-mesin yang hadir sebagai ciri Revolusi Industri di Inggris itu, mereka nilai sebagai ancaman terhadap pekerjaan mereka. Istilah Luddite/Luddisme sekarang ini diterapkan pada orang atau gerakan yang menentang kemajuan industri teknologis. &lt;br /&gt;5 Tak jarang dalam tulisan itu Snow merancukan ahli sastra dengan mereka yang bergulat dalam bidang traditional culture.&lt;br /&gt;6 Kosmologi adalah sains tentang alam semesta. Kosmologi mempelajari evolusi dan struktur spasio-temporal dan komposisional alam semesta. Kosmologi mengkaji ruang-waktu sampai ke titik tempat teori-teori fisika terbentur dengan kegagalan menjelaskan (setidaknya teori-teori yang ada sampai saat ini), yaitu&lt;br /&gt;awal ruang-waktu itu sendiri. Sekalipun kosmologi modern adalah cabang ilmu pengetahuan empiris, namun nafas tradisional tetap menggema di dalam penyelidikannya. Kosmologi mempertanyakan, darimana kita berasal, kemana kita menuju, dan bagaimana semua ini akan berakhir?&lt;br /&gt;7 Dikutip dari Nobel Lecture Octavio Paz, 1990.&lt;br /&gt;8 Virginia Woolf, How Should One Read a Book dalam Gateway to Great Books: Critical Essays, ed. R.M. Hutchins &amp;amp; M.J. Adler (London: William Benton, 1963), Vol. 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(Dimuat dalam &lt;i&gt;Kekasihku&lt;/i&gt;, kumpulan puisi Joko Pinurbo. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4592119360181130131?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4592119360181130131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4592119360181130131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/persinggahan-sang-penyair.html' title='Persinggahan Sang Penyair'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-8470859540383415993</id><published>2010-05-04T15:25:00.002+07:00</published><updated>2010-05-05T11:32:41.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tempo'/><title type='text'>Yang Lahir dan Tumbuh dalam Gelanggang</title><content type='html'>DUA tahun yang lalu, majalah ini (dalam edisi milenium) menampilkan sekian tokoh, pokok, dan peristiwa yang telah mapan dalam sejarah kesenian modern di Indonesia—masa yang kurang-lebih terentang dari 1900 ke 1970. Namun, patut segera disadari bahwa kemapanan bukanlah kebajikan utama dalam proses berkesenian. Sebagaimana terbukti dalam sejarah seni dunia, apa yang dianggap penting di suatu masa dapat menjadi remeh-temeh di masa yang lain, dan apa yang termasyhur oleh publisitas di masa kini bisa lenyap tanpa bekas di masa datang. Adalah tugas sejarawan seni dan kritikus seni untuk menguji terus-menerus ketangguhan karya seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kini majalah ini kembali memilih sejumlah nama lagi, itu karena kesenian kita tumbuh dan berubah. Sejak awal 1990-an, ada banyak karya baru muncul—sebagian bahkan mampu mengubah paradigma lama kesenian kita sekaligus meraih pengakuan internasional. Secara khusus kami—sebuah tim yang terdiri atas Leila S. Chudori, Yusi A. Pareanom, Seno Joko Suyono, Hermien Y. Kleden, Tony Prabowo, dan Nirwan Dewanto—mengamati seniman dan pelaku seni berusia 18-45 tahun. Keajekan (konsistensi) dalam produktivitas dan terlebih lagi mutu adalah kriteria utama kami dalam memilih nama-nama: mereka yang berada di puncak kreativitas dan mempunyai prospek yang bagus. Bukankah prospek tak lain proyeksi dari himpunan karya yang sudah menunjukkan garis perkembangannya sendiri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memihak pertumbuhan bukanlah perkara mudah. Ada begitu banyak sastrawan yang lahir, misalnya, tapi sebagian besar adalah penyair yang mendaur ulang gaya dan teknik perpuisian yang sudah mapan, serta penulis prosa yang menghasilkan cerita pendek yang sarat dengan tema klise dan tokoh stereotip. Mereka terjebak ke dalam rutin pekerjaan: mereka tak kunjung menyegarkan dan memperbarui medium utama mereka, yakni bahasa. Dengan ukuran ini, majalah ini sulit membayangkan prospek mereka ke depan (kecuali mereka sendirilah kelak yang mengubah orientasi penciptaan). Tapi penyair Joko Pinurbo dan novelis Ayu Utami adalah dua nama yang sungguh menyimpang dari arus umum itu. Dua kumpulan sajak Pinurbo, Celana dan Di Bawah Kibaran Sarung, menunjukkan bahwa puisi bisa ditulis dengan bahasa yang cair dan sehari-hari tapi tajam, penuh dengan ironi dan humor hitam. Sedangkan dua novel Ayu, Saman dan Larung, menandaskan bahwa novel adalah bentuk yang kaya, yang bisa menampung berbagai genre sejak puisi sampai budaya-pop, dan bukan sekadar alat untuk menyiarkan pandangan moral atau politik sebagaimana terjadi dalam khazanah sastra kita selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajek berkarya dalam rentang 10 tahun terakhir adalah jalan mahasulit. Tak ada koreografer muda usia yang tinggal di gelanggang menjaga mutu dan eksperimen kecuali Boi G. Sakti. Memang ada sejumlah koreografer muda yang muncul satu-dua kali, untuk kemudian hilang tanpa bekas. Pada umumnya mereka hanya berkarya untuk festival khusus, seperti Pekan Penata Tari Muda (kini sudah tidak ada) atau Indonesian Dance Festival; di luar itu, mereka seperti gersang-membeku. Sejak 1987, Boi menunjukkan perkembangan menarik, khususnya dalam menggali khazanah teater-tari yang eklektik. Bersama kelompok tari Gumarang Sakti yang diwarisinya dari ibunya, almarhumah Gusmiati Suid, ia mengocok tari Minang dengan pelbagai khazanah tari modern dengan gagasan skenografi yang kuat. Karyanya Di Jalan Tua yang tampil dalam Art Summit III 2001 barangkali adalah pencapaian puncaknya yang layak bersaing dengan karya tari dari mancanegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan koreografer kita memulai karirnya sebagai penari, tak terkecuali Boi. Namun, menari dan mencipta tari adalah dua hal yang berbeda. Penari yang mencoba "naik pangkat" dengan menjadi koreografer kebanyakan gagal dalam menguji ulang dan menciptakan kembali khazanah gerak yang pernah mereka akrabi; walhasil, mereka hanya "mengarang-ngarang" tari tanpa nalar. Maka sudah sepantasnya kita menghargai penari sederajat dengan penata tari. Dua penari yang datang dari khazanah Jawa, Martinus Miroto dan Eko Supriyanto, layak dicatat. Sekalipun piawai dalam tradisi asal mereka, mereka begitu terbuka dalam menyerap pelbagai khazanah dalam lingkungan global. Yang menonjol adalah kehadiran mereka di panggung-panggung kolaborasi internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari khazanah musik baru, kami memilih dua komposer: Tony Prabowo dan Wayan Sadra. (Catatan: Tony tak lagi bergabung dengan tim ketika kami harus memilih nama.) Hampir mirip dengan tari, penciptaan musik "serius" juga hanya terdorong oleh festival semacam Pekan Komponis Muda (yang kini juga sudah tiada): banyak komposer yang "sekali berarti, sudah itu mati." Tapi keduanya terus berkarya, lebih banyak untuk panggung internasional (dan di situlah mereka beroleh pengakuan), sejak awal 1990-an: Tony dengan bertolak dari prinsip musik modern Barat (sekalipun ia pernah mempunyai kelompok yang terdiri atas pemusik asal Sumatra Barat) dan Sadra bereksperimen tanpa batas dengan khazanah musik Nusantara, khususnya Jawa dan Bali. Ada komposer lain yang kami pertimbangkan, yakni A.L. Suwardi, yang eksperimennya dengan genta dan piano bekas dalam Art Summit III 2001 telah membuka kemungkinan baru dalam khazanah gamelan Jawa. Namun, Suwardi sudah bertahun-tahun tak tampil berkarya, hal yang membuat ia tak bisa bersanding dengan Tony dan Sadra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lain yang layak mendapat kredit tinggi adalah konduktor Avip Priatna dan pianis Ananda Sukarlan. Avip satu-satunya pemimpin paduan suara di negeri kita yang sukses membawa kelompoknya, Paduan Suara Universitas Parahyangan dan Batavia Madrigal Singers, dalam tiga hal sekaligus: membawakan karya musik baru dengan tafsir yang tepat, menjadikan paduan suara sebagai tontonan bermartabat, dan meraih sejumlah penghargaan internasional yang penting. Sedangkan Ananda, yang kiprah utamanya di Eropa, adalah pianis kita yang memainkan karya-karya klasik ataupun kontemporer dengan teknik dan pemahaman yang tinggi. Ia satu-satunya solis kita yang beroleh pengakuan dunia; ia, antara lain, bermain di bawah arahan konduktor-komposer Pierre Boulez. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan cabang seni yang lain, seni rupa adalah bidang yang dibanjiri nama-nama. Pasar, pengakuan internasional, pendidikan, dan sayembara seni rupa adalah perangsang penting bagi para pendatang baru. Di tengah keramaian demikian—tempat kaum perupa bereksperimen memburu gaya dengan sewenang-wenang—Heri Dono dan Agus Suwage mencitrakan kemantapan tersendiri dalam satu dasawarsa terakhir. Merengkuh bentuk dari kartun, wayang, seni rupa jalanan, mainan anak-anak, dan pelbagai produk budaya pop, Heri membuat lukisan, instalasi, dan seni rupa pertunjukan (performance art). Sedangkan Suwage bebas menggabungkan coret-moret, komik, realisme, fotografi, tulisan, dan cuplikan dari pelukis lain: hasilnya adalah ejekan tajam terhadap diri dan masyarakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga seni rupa yang sungguh menyimpang dari arus besar. Inilah karya yang, tanpa membubuhkan cap pribadi, tampil langsung di ruang publik. Di tembok-tembok Kota Yogya, kelompok Apotik Komik menampilkan komik berukuran raksasa. Sementara itu, Taring Padi menampilkan realisme sosial dalam baliho, poster, ataupun media lain, demi "penyadaran politik untuk rakyat banyak." Keberanian kedua kelompok itu untuk menyangkal pasar dan menjumpai langsung khalayak ramai patut mendapat penghargaan tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran sutradara Garin Nugroho dengan film layar lebarnya sepanjang 10 tahun terakhir tak pelak telah menghindarkan sinema Indonesia dari kematian. Kini, jika perfilman kita terlihat menggeliat bangkit dengan sejumlah sutradara baru yang bersemangat, kita pantas menyimpulkan bahwa Garinlah yang menjadi gara-gara. Tapi membuka ruang alternatif di tengah lautan penonton yang terjajah oleh sinetron dan film Hollywood sungguh pekerjaan yang tak kurang peliknya. Adalah Shanty Harmayn, bersama Natacha Devillers, yang dalam tiga tahun ini piawai melembagakan acara tahunan Jakarta International Film Festival. Inilah upaya untuk membangun penonton kritis dan memperluas cakrawala sinema kita. Sementara itu, Mira Lesmana berhasil meruntuhkan ketidakpercayaan penonton pada film dalam negeri melalui produksinya, Petualangan Sherina, yang terbukti dibanjiri penonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari khazanah teater, sejumlah kelompok baru yang pernah meramaikan panggung sampai pertengahan 1990-an kini hanya tinggal nama. Sejumlah sutradara dan aktor muda tak cukup beriman untuk bertahan menghidupi profesi teater. Ketidakkonsistenan, kehancuran dini, adalah salah satu masalah terbesar kesenian kita. Dalam kondisi ini, pantas dicatat kehadiran Rahman Sabur dan kelompoknya, Teater Payung Hitam, yang setia mengusung teater yang berlandaskan eksplorasi tubuh aktor. Juga Slamet Gundono, yang menghidupkan kembali wayang suket (rumput) ke konteks mutakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia sana, fotografi sejak dulu sudah merupakan cabang seni. Tapi, di negeri kita, fotografi baru-baru ini saja mendapat perhatian dan telaah serius sebagaimana kesenian yang lain, khususnya sejak berdirinya Galeri Foto Jurnalistik Antara di awal 1990-an. Oscar Motulah dan Kemal Jufri adalah dua fotografer kita yang tak henti-hentinya merekam pelbagai aspek kehidupan social politik orang Indonesia: mereka menggabungkan jurnalisme yang tajam dengan estetika yang peka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kami memilih nama-nama, itu bukankah untuk mengawetkan mereka ke dalam museum khazanah nasional. Tantangan terbesar bagi mereka adalah pembaruan diri terus-menerus, demi memperluas cakrawala kesenian kita. Sesungguhnya khazanah seni kita masih miskin kompetisi: terlalu sedikit jumlah seniman, terlalu cepat datang pengakuan nasional, terlalu miskin telaah dan kritik seni. Kepada semua seniman kita, tanpa kecuali, penting diingatkan bahwa mereka masih harus bekerja keras untuk meraih ukuran yang wajar—ukuran yang berlaku di tingkat dunia. Apa boleh buat, ukuran nasional masih dihantui kesedang-sedangan (mediokritas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, sebagian—belum semua—nama itu sudah menyentuh panggung internasional dan agaknya menyadari betapa sulitnya untuk menjadi bagian dari warga dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tim Panelis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;TEMPO No. 44/XXX 31 Desember 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-8470859540383415993?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8470859540383415993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8470859540383415993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/yang-lahir-dan-tumbuh-dalam-gelanggang.html' title='Yang Lahir dan Tumbuh dalam Gelanggang'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-5336785083226973902</id><published>2010-05-04T15:19:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T15:19:24.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alex R. Nainggolan'/><title type='text'>Mencari Sinyal “Sunyi” di Telepon Genggam</title><content type='html'>Judul  : &lt;i&gt;Telepon Genggam&lt;/i&gt; (kumpulan puisi)&lt;br /&gt;Penulis  : Joko Pinurbo (JokPin)&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Buku KOMPAS, Jakarta&lt;br /&gt;Kata Pembaca : Nirwan Ahmad Arsuka&lt;br /&gt;Tebal  : x + 77 halaman &lt;br /&gt;Cetakan I : Mei 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ia tidurkan telepon genggamnya di kuburan,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;lalu ia buang ke laut&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak "Selamat Tinggal", halaman 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan tulisan, produksi puisi menempati urutan yang paling banyak ditulis. Mungkin, hal ini disebabkan bila wilayah kreatif sebuah puisi berdiri pada tataran, yang oleh banyak orang, dianggap paling mudah untuk ditulis. Maka, tidak mengherankan bila dalam sebuah media massa, redaktur budaya selalu “kebanjiran” puisi untuk dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dalam masyarakat, puisi merupakan sebuah bentuk yang tak pernah mengalami krisis, selalu ada penemuan baru, penyemaian estetika, tata cara ungkap, diksi-diksi yang turut memperkaya kerja bahasa. Puisi, merupakan sebuah permulaan, bagaimana kata-kata dibentuk, dan penyair merupakan orang yang tak habis-habisnya melakukan eksplorasi. Sebagai kerja kreatif, puisi seperti tak pernah kehilangan energi. Ia senantiasa membangkitkan metafora, igauan, sugesti, cambukan, kegetiran. Semua ihwal tersebut menjelma jadi ledakan yang kembali menjumpai pembacanya. Dan, puisi selalu menampakkan arus tersebut, ibarat memandang suatu “benda” di ruangan kaca, yang tentunya akan melahirkan persepsi yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian,  sebuah kumpulan puisi hadir, dalam bentuk cetakan buku. Ditulis oleh penyair Yogya yang tampil unik memainkan diksi. Mencari berbagai celah sunyi, dari sebuah hamparan peradaban beku. Di mana kita senantiasa disuguhi dengan kemajuan teknologi. Sepertinya, puisi itu hadir secara serius—namun dengan tiba-tiba berubah haluan, membuat kita tersenyum (tertawa sekuatnya) sendirian. Kita disuruh untuk memaknai kegilaan hidup, dipermainkan, dibuat tegar. Kumpulan puisi kali ini,  bertajuk Telepon Genggam, Joko Pinurbo, yang juga sebelumnya telah menerbitkan Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), memang tak dapat dipungkiri jika ia begitu produktif dalam menulis puisi. Itu pulalah yang diminta dalam Kata Penyair di buku ini, keinginannya yang tersisa hanyalah untuk bisa menulis saja, titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sajak-sajak sebelumnya, sajak yang terhimpun di buku ini juga masih menandakan kepiawaian Joko dalam mengolah bahasa. Banyak penggunaan kata yang masih belum baku, semacam elo, gua, enggak, amat, dll. Terkadang beberapa tema yang ditawarkan begitu kasat dengan realitas. Kita seperti dihadapkan membaca sebuah peristiwa, sehingga tak perlu menafsir terlampau dalam. Ada kelucuan yang menjengkelkan, terkadang menciptakan ironi yang tertinggal di kepala. Sebentuk kegetiran yang terapung ketika menghadapi kehidupan dengan—peristiwa-peristiwa yang terasa begitu tidak masuk akal. Maka, kita terpaksa diajarkan kembali untuk membacanya pelan-pelan. Seperti yang tertuang dalam sajak Telepon Genggam: berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan dan tak pernah ada balasan. Hanya sesekali ia terima pesan, itu pun cuma iseng: Selamat, Anda mendapat hadiah undian mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda untuk dicocokkan dengan kodoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menganggap menulis semacam itu, mungki mudah. Sehingga acap membuat kita kembali menyesali, mengapa saya tak menulis seperti itu. Tetapi itu pun dibantah oleh Joko dalam sajak Buku. Pelajaran berharga bagi seorang penulis adalah buku—pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian. Lebih lanjut di halaman 24, Joko pun berkhotbah, memberi tahu bagaimana cqara membaca buku yang baik dan benar. Lengkap secara sistematis berdasarkan urutan angka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kaupahami suatu saat toh akan membukakan diri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;4. Jangan sok filsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, kata-kata yang kau baca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sajak-sajak yang hadir memang masih merupakan ruang permenungan. Beberapa ada yang sama persis dengan konsep yang pernah digaungkan oleh Remy Sylado, Jihan—dengan puisi mbeling-nya. Namun, tetap saja membuka sebuah wilayah tafsir sendiri. Kata-kata dalam puisi Joko, seperti meminta untuk bertahan, meminta kita untuk tidak berlalu begitu saja. Membuat sebuah bekas, tapak perjalanan. Di mana si-aku selalu terkesiap menghadapi riuh dunia, dengan lalu-lintas teknologi yang terus berkecipak. Tetapi, itu pun nampaknya belum cukup, pesona lain yang ditawarkan oleh Joko adalah menyikapi “kekanak-kanakan” kita terhadap kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kita mudah cengeng, terharu, kemudian membuat kita terasa begitu lemah. Tetap saja, di balik itu semua terdapat sebuah tawaran perlawanan yang berbeda dalam menyikapi hidup, bukan hanya sekadar mengepalkan tangan ke langit. Melainkan Joko lebih asik untuk menggodanya dengan lelucon-lelucon yang segar. Simak dalam sajak Ibu yang Tabah: Setiap subuh ibu itu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah. Malam hari diam-diam ia memeras air mata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya kepada anak-anaknya bila mereka sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang mulai melihat dunia ini sejak tanggal 11 Mei 1962 ini, memang begitu gemar untuk memainkan sebuah realitas. Secara gamblang, realitas itu ditarik dengan jelas, diuraikan pelan-pelan, kemudian disambungnya menjadi sebuah cerita. Pada umumnya, sajak-sajak yang ada dalam kumpulan ini bersifat prosa, dengan tuturan bercerita yang baik. Tema, bentuk, mauipun pemilihan diksi bersifat sederhana. Pun, ada sajak yang ternyata—mencoba untuk “menertawai” sajak penyair yang mapan Sapardi Djoko Damono. Sebagaimana yang tertulis dalam Laki-Laki tanpa Celana, Joko menghadirkan kutipan sajak Sapardi Pada Suatu Pagi Hari, yang terasa begitu memesona si-aku, sehingga menghubungkan sebuah jeda, untuk sebagai “umpan” bagi kalimat-kalimat selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah disinggung Nirwan Dewanto, dalam Tempo edisi khusus 2002, dirangkum pula dalam halaman depan buku ini. Jika Joko cenderung untuk melakukan antipoda dari pertautan puisi lirik dan protes. Bahasa sehari-hari dirangkum, dan dikembangkan kembali, sehingga menimbulkan pertautan makna dan bunyi yang baru. Puisi Joko, kebanyakan menertawai “keakuan”—dengan mendedahkan naluri kejahatan manusia, yang ternyata begitu suka untuk berpura-pura suci. Padahal, dalamnya begitu penuh kedengkian, kekotoran, sekaligus kemaksiatan. Joko membuka semua labirin moralitas yang terus menjadi hantu dalam sajak-sajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak-sajak sebelumnya, repitisi kata yang hadir, justru menambah kekuatan tema dan penggarapan secara maksimal. Seakan-akan, Joko mencoba mempermainkan kebodohan kita, menyulap kita agar tak perlu bermanja-manja menghadapi kehidupan yang memang dipenuhi dengan kekerasan ini. Sehingga membuat kita, terpaksa untuk mencurigai segala hal, bahkan bayangan diri sendiri. Meminta kita untuk “bertarung” di gelanggang, supaya tak lelah menghadapi kegagalan-kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata dalam sajak-sajak ini seperti telah bernapas dengan sendirinya. Tanpa bantuan dari si-penyair. Joko menghadirkan logika berpikir yang teramat sederhana, tanpa mengabaikan unsur puitik yang membentuk metafora tersebut. Sehingga sajak-sajak bisa dengan lepas berlarian kesana-kemari, tanpa harus memedulikan tempat muasalnya. Sajak itu lahir, untuk kemudian bernyanyi dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dalam telepon genggam ini, sesungguhnya Joko sedang menghidupkan lagi telepon selulernya. Kemudian menunggu dalam sebuah ruang yang sunyi, adar sinyal masuk segera dan tidak lari ke mana-mana. Namun, ternyata yang didapati hanyalah carut-marut bencana. Membuat kita termenung, tentang sebuah kehidupan yang selalu menghadirkan trauma. Joko ingin menggugah sebuah kesadaran baru, yang ternyata belum lengkap ditemui. Ia ingin kita membongkar intelektualitas kita, mencemuburinya. Membukat kita selalu ingin membaca kelanjutan kalimat dalam puisinya. Untuk tetap kuat menghadapi realitas tersebut. Seperti dalam sajak Panggilan Pulang (halaman 6):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan. Bagaimana tidurmu semalam? Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya? Tadi saya nunggu lama di kuburan.adzan subuh berkumandang. Penuh hujan. Ia buka telepon genggam. Tumben, ayah kirim pesan. Ibu sakit. Kangen berat. Nenek sudah tiga hari hilang. Makam kakek belum sempat dibersihkan. Sarung ayah dicuri orang. Utang stabil. Pohon nangka di samping rumah tumbang. Bisa pulang? Bisa minta ijin telepon genggam?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pesan berakhir. Musik. Telepon genggam menyanyikan The Beatles: Mother…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, nampaknya kita begitu cemburu. Gramatika yang dibangun teramat sederhana, membuat kita jadi kepingin menjelajahi kembali masa silam. Membuka semua kenangan yang pernah singgah. Meski, yang ditemui hanya suara-suara sunyi yang terasa sahut-menyahut, ataupun tiba-tiba bisu sama sekali. Sajak-sajak di buku ini telah membuka keterjagaan kita terhadap bentangan realitas yang ada di adapan. Dengan tawaran nuansa kata-kata yang ajaib, yang seperi mencoba, membuat sebuah jeda. Supaya kita menelusuri dongeng masa kecil yang membuat raup mata kita jadi bahagia. Kata-kata seperti terus berlahiran dari sajak-sajaknya, mengintip dari ruang si-penyair, untuk cepat-cepat menjumpai para pembaca.  Kok, bukan kita yang menulis seperti itu, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alex R. Nainggolan, &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketua YMS (Yayasan Multimedia Sastra) Bandar Lampung, &lt;br /&gt;koordinator Komunitas Sastra Pelangi (KSP) Bandar Lampung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-5336785083226973902?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5336785083226973902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5336785083226973902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/mencari-sinyal-sunyi-di-telepon-genggam.html' title='Mencari Sinyal “Sunyi” di Telepon Genggam'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4958274304238383709</id><published>2010-05-04T15:13:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T15:13:35.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><title type='text'>Menghamili Kata, Membuahi Makna</title><content type='html'>&lt;i&gt;Telepon Genggam&lt;/i&gt; (Kumpulan Puisi)&lt;br /&gt;Penulis: Joko Pinurbo&lt;br /&gt;Penerbit: Kompas, Mei 2003&lt;br /&gt;Tebal: x + 79 hlm&lt;br /&gt;Harga: Rp.18.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA dan menafsir puisi Joko Pinurbo—dia akrab dipanggil Jokpin—bisa jadi merupakan dua hal berbeda. Tafsir-tafsir panjang dan sistematik Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, dan Nirwan Dewanto terhadap karya-karyanya tentu merupakan cara menikmati puisinya secara serius dan memaknainya sedalam mungkin. Nirwan Ahmad Arsuka yang mengulas dan mengomentari buku Telepon Genggam pun ternyata melakukan hal serupa. Mereka semua berusaha mencari kedalaman makna yang disembunyikan Jokpin dalam puisinya yang kebanyakan berselimut humor, kelucuan, dan ledekan. Tentu saja itu adalah usaha bermanfaat dan berguna, meski di sisi lain berisiko kehilangan nuansa dasar puisinya, bisa membuat orang awam ketakutan membaca atau membeli buku puisi, karena khawatir tak mampu menafsir sedalam dan seluas mereka. Padahal puisi Jokpin itu sudah mampu memberi kenikmatan mendasar bahkan jika tak ditafsirkan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita biarkan puisi Jokpin itu terbaca sendiri sebagaimana yang ditulisnya. Bisa jadi pembaca akan terpingkal-pingkal karena ternyata dia sangat nakal, dan begitu selesai mereka mungkin akan berani bicara, "Kalau seperti ini, saya juga pasti bisa bikin puisi!" Membaca menjadi sebuah kenikmatan, suatu perjalanan menyenangkan. Puisinya sudah bisa dinikmati begitu saja karena sejak pembacaan pertama terasa sajaknya tak memiliki pretensi tentang bahasa yang suci. Dia mencoba menghilangkan kesakralan bahasa yang tinggi atau rumit dipahami menjadi kelucuan, parodi, dan penyamaran. Dia sembunyikan puisi itu sebagai rimba, telepon genggam, foto, mahasiswa, boneka, ibu, anak kecil, binatang, perempuan pelukis, gadis manis, perempuan misterius, lelaki tanpa celana, ibu, buku, tanda baca, dan sudah tentu: tubuh, yang merupakan keahlian dan nyaris merupakan obsesi dari seluruh buku puisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu memasukinya, pembaca tidak berhadapan dengan struktur sajak yang rapi, rima teratur, bunyi manis, atau pilihan kata asing yang sukar dipahami dan butuh kamus untuk mencari kemungkinan makna tersiratnya. Yang dia sodorkan justru berbagai kosakata sehari-hari yang hampir tak ada bedanya dengan percakapan orang-orang di televisi atau bantah-bantahan di ruang umum. Kalau puisi ternyata bisa berbentuk seperti prosa yang hampir kehilangan ikatannya dengan bentuk, bunyi, dan ciri khas puisi lainnya, apa yang membuat puisi bebas karya Joko Pinurbo ini tampak istimewa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang utama bisa jadi permainan bahasa dan makna. Kadang-kadang petanda permainan itu dengan sengaja dia tunjukkan dengan penggunaan huruf italic dan pengulangan. Dia berusaha mengejutkan dan menggoyahkan iman pembaca karena ternyata bahasa yang digunakannya sering penuh teka teki dan permainan. Dia mengejek pandangan umum dengan membolak-balikkan susunan kata, melemparkan kesan harafiah jauh-jauh ke laut, kemudian mencoba membiarkan kata itu berkembang dan main-main sendiri, atau dia pupuk, kalau tidak, akan dia buahi kata-kata itu biar membawa makna baru yang segar dan penuh isi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya itu dia tekadkan beberapa kali, misalnya di bagian ke-5 sajak "Sudah Saatnya" dengan seperti ini: sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi berahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan berbuah lagi. Di puisi terakhir buku ini, "Selesai Sudah Tugasku Menulis Puisi", dia mewisuda lulusan kata-kata dengan sebab kata-kata sudah besar, sudah selesai studi, dan mereka harus pergi cari kerja sendiri. Jokpin agaknya makin enggan menggunakan bait dan baris. Sebagai gantinya dia berdayakan alinea (paragraf) yang lazim dilakukan penulis prosa. Dengan begitu dia berada di antara ketegangan jalan yang ditempuh Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, meskipun kecondongan pada penyair senior pertama itu lebih terasa, karena bisa dilihat dari cara dia memarodikan sajak Sapardi atau menulis dalam gaya Sapardi, misalnya bahwa terjadinya rima terasa bukan diupayakan sebagai kesengajaan, melainkan lahir dari suatu konsekuensi atau suasana. Sedangkan dari Sutardji Jokpin mendapatkan ruh pembebasan kata, meski tak sampai mengambil jalan mantra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal memain-mainkan bahasa, Jokpin sudah tak lagi segan dan ragu. Bisa jadi dia merupakan eksponen utama penyair kontemporer Indonesia yang tak pernah lelah mencoba melelehkan kekakuan bentuk dan bahasa puisi, mendekatkannya begitu rupa kepada pembaca bahkan dengan menggunakan kosakata profan sekalipun, sehingga pembaca tak lagi berjarak dengan bahasa dan ungkapan. Meski terkesan mudah dan terang karena penggunaan teknik itu, sebagaimana kata semua kritik, puisi Jokpin tidak bisa jatuh jadi murahan. Itu karena dia ternyata pandai menyembunyikan kedalaman, misteri, dan menunggu munculnya kejutan, salah satunya dalam "Selamat Tinggal" yang hanya terdiri dari kalimat pendek: Ia tidurkan telepon genggamnya di kuburan, lalu ia buang ke laut. Rasanya puisi seperti itu pasti bukan untuk kaum awam, melainkan justru harus didedah berpanjang-panjang oleh sejumlah pakar. Tapi pasase ini pasti mengundang tawa karena mengejek kepura-puraan: "Anda lupa ya bahwa Anda belum pernah bertemu saya? Mengapa harus mengingat-ingat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon Genggam memperlihatkan proses lebih lanjut bahwa unsur main-main Jokpin memang menonjol sekali, melebihi yang pernah dilakukannya pada tiga buku sebelumnya, sambil di sana-sini meletupkan parodi, memunculkan kejutan, aforisme, dan truisme. Dari yang sederhana, misalnya mengganti "malang dapat ditolak, untung dapat diraih" hingga perlambang serius, contohnya "mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka." Dia gemar sekali memasukkan unsur keseharian, makian, olok-olok ke dalam puisi-prosanya bisa jadi karena ingin tahu sebenarnya apa dampak penggunaan itu terhadap pembacaan dan pemaknaan. Perkiraannya ada dua kemungkinan, pertama Jokpin ingin mendekatkan puisi kepada pembaca dengan mencari kekuatan ungkapan sebagaimana iklan televisi yang suka pernyataan hiperbolik kepada pemirsa. Agar pembaca terus terpana dan tak berhenti sebelum selesai. Kedua dia ingin agar puisinya bisa merambah ke mana saja, dengan subjek, kosakata, diksi, dan gaya yang baru. Kemungkinannya bisa sangat luar biasa, sebab citra-citra yang digunakan Jokpin tak pernah usang. Untuk buku ini jumlahnya tak perlu banyak, cukup 32 buah, rasanya Jokpin bisa menjamin pembaca akan memiliki pengalaman baru atau terheran-heran ternyata ada puisi yang bisa lancar sekali dibaca, bahasanya bersih, membuat segar, tak membuat orang terbata-bata atau terhenti terhalang kosakata tak dimengerti atau bisa bikin alergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo makin dalam masuk ke bentuk puisi-prosa. Ini kecenderungan cukup kuat yang harus "diwaspadai" ke mana muaranya, sementara sejumlah penulis prosa malah mencari keindahan dan menempuh eksperimentasi lewat kalimat-kalimat puitik dan penuh metafora. Puisi terpanjang di buku ini, "Laki-laki Tanpa Celana", sudah sempurna betul sebagai prosa, lengkap dengan permainan waktu dan percakapan. Apa dia betul-betul kerasukan adagium William Wordsworth bahwa puisi adalah "kata yang tepat dalam susunan yang tepat", maka tak ragu lagi menempuh jalan itu?[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anwar Holid&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4958274304238383709?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4958274304238383709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4958274304238383709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/menghamili-kata-membuahi-makna.html' title='Menghamili Kata, Membuahi Makna'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-3460286364567426265</id><published>2010-05-04T14:58:00.002+07:00</published><updated>2010-05-04T14:58:43.622+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignas Kleden'/><title type='text'>Puisi: Membaca Kiasan Badan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ignas Kleden&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin bahwa di antara penyair-penyair dalam sastra Indonesia moderen, tidak seorang pun yang demikian obsesif dengan tubuh manusia dalam permenungannya, seperti halnya Joko Pinurbo, dalam kumpulan sajaknya &lt;em&gt;Di Bawah Kibaran Sarung&lt;/em&gt;. Penyair dan novelis sebelum dia memang di sana-sini menulis juga tentang badan, karena seluruh perasaan erotik tidak bisa tidak harus menyentuh aspek badan. Akan tetapi pada penyair dan novelis lainnya badan tidak menjadi pusat perhatian tetapi lebih sebagai isyarat atau &lt;em&gt;signifier&lt;/em&gt; bagi kegairahan perasaan, rindu-dendam, beragam tindakan cinta dan bahkan hubungan seksual. Dengan lain perkataan badan baru berfungsi sebagai latar, sebagai setting bagi hal-hal lainnya. Tubuh manusia diperlakukan lebih sebagai &lt;em&gt;medium&lt;/em&gt; tetapi belum sebagai &lt;em&gt;message.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Joko Pinurbo badan mendapat sorotan utama, diselidiki dengan renungan yang intens, dan diberi peran ganda, baik sebagai tanda &lt;em&gt;(signifier)&lt;/em&gt; maupun sebagai apa yang hendak ditandai &lt;em&gt;(the signified).&lt;/em&gt; Yang mencolok adalah kenyataan bahwa observasi yang teliti dan mendetail tentang badan dan bahagian-bahagian tubuh manusia, tidak membawa penyairnya kepada suatu detotalitasi badan yang dapat berefek pornografis. Seandainya pun dia harus berbicara tentang suatu bahagian tubuh tertentu secara rinci, hal ini dilakukan dengan tetap mempertahankan suasana metaforis yang kuat, yang tidak membelenggu perhatian pembaca pada badan sebagai badan, tetapi pada badan sebagai pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengan&lt;br /&gt;nyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkan&lt;br /&gt;sepasang tato di pantatnya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Pulang Mandi”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nada humor yang ringan di sini yang membuat kita tidak merasa jijik tetapi justru jenaka, karena seseorang kebetulan tidak dikenal dari nama diri, kartu penduduk, atau bentuk wajahnya dengan letak tahi lalat di hidung atau di atas bibir, tetapi oleh sepasang tato di pantat, yang hanya terlihat kalau seseorang membuka celananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, badan dan pakaian diperlakukan oleh penyair atas cara yang unik karena keduanya seakan mempunyai kedudukan yang dapat dipertukarkan &lt;em&gt;(interchangeable).&lt;/em&gt; Sebagaimana sepotong baju menjadi sarana yang menghubungkan seseorang dengan masyarakatnya, maka demikian pun badan menjadi sarana yang mempersatukan seseorang dengan dunianya. Definisi kaum eksistensialis tentang manusia sebagai “ada di dunia” &lt;em&gt;(in der Welt sein/Being in the world)&lt;/em&gt; hanya dimungkinkan oleh badan atau tubuh kita. Yang spesifik pada penyair ini – dan berbeda dengan para eksistensialis – ialah semacam visi bahwa badan bukanlah bahagian intrinsik yang tak terpisahkan dari struktur manusia dan dunianya. Badan dalam kumpulan sajak ini diperlakukan sebagai sesuatu yang ekstrinsik, sedemikian rupa, sehingga seseorang dianggap dapat mencopot dan membuang tubuhnya sebagai penutup diri dan pribadinya, seperti halnya dia dapat mencopot pakaiannya sebagai penutup tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan penyair terhadap badan dan segala yang berhubungan dengan badan, jauh dari pandangan erotis, yang melihat tubuh sebagai penjelmaan keindahan, daya-tarik atau &lt;em&gt;sex appeal&lt;/em&gt;, tetapi lebih berupa suatu pandangan filosofis, yang kadang eksistensial, kadang ontologis sifatnya, tetapi selalu disertai dengan humor yang kental yang kadang mendekati sarkasme. Sebagai contoh soal, perlengkapan pakaian rupanya tidak pernah menarik penyair oleh keindahan warna dan bentuk, tetapi ditanggapinya semata-mata sebagai bahagian atau perpanjangan badan manusia, yang menjalankan fungsi simbolik yang nyata, yaitu memperlihatkan keindahan tubuh tetapi sekaligus menyembunyikan kelemahan dan ketak-berdayaan jasmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru,&lt;br /&gt;yang gagah dan canggih modelnya&lt;br /&gt;dan mendapatkan raja kecil&lt;br /&gt;yang selama ini disembahnya&lt;br /&gt;tunduk tak berdaya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Celana 2”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghayatan tentang tubuh yang sedemikian intensnya mengingatkan kita akan hubungan antara seorang penari topeng dengan perlengkapan topeng yang dikenakannya. Di sana tak jelas lagi apakah si penari itu menghayati topengnya sebagai bahagian dirinya, atau, sebaliknya, dia malahan memandang dan merasakan dirinya sebagai perpanjangan dan bahkan representasi dari topeng yang dikenakannya. Dalam arti itulah, kita dapat sedikit memahami bahwa penyair Joko Pinurbo, kadangkala memperlakukan pakaian sebagai simbol dan representasi badan manusia, dan di tempat lain memperlakukan tubuh manusia sebagai representasi simbolik dari pribadi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandi&lt;br /&gt;ia langsung mencopot tubuhnya yang usang&lt;br /&gt;dan menggantinya dengan yang baru&lt;br /&gt;yang mutakhir modelnya, dan, tentu saja, tahan lama.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Pulang Mandi”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat di sini bahwa badan dan pakaian diberi dua sifat utama, yaitu ekstrinsik dan simbolik. Ekstrinsik, karena pakaian bukanlah bahagian yang menyatu dengan badan tetapi sesuatu yang ditempelkan dari luar, sedangkan badan bukanlah sesuatu yang menyatu dengan pribadi seseorang tetapi juga dikenakan dari luar dan dapat dicopot di mana perlu. Keduanya juga diberi sifat simbolik yang kuat, karena fungsi menyatakan digabungkan sekaligus dengan fungsi menyembunyikan. Setiap simbol, berbeda dari tanda, selalu mempunyai kekuatan ganda dalam menyatakan sesuatu dan sekaligus juga menyembunyikan apa yang hendak dinyatakannya, sebagaimana halnya seseorang dapat menyembunyikan cinta dengan menyatakannya, tetapi dapat pula ketahuan cintanya tepat pada saat dia berusaha menyembunyikannya.&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;Badan manusia bukanlah sekedar perlengkapan yang memungkinkan manusia berada di dunia dan memasuki eksistensinya, tetapi, demikian penyair kita, badan itu sendiri menjadi suatu dunia: suatu alam, geografi, dan bahkan lanskap. Alam besar di luar dengan pegunungan dan lembahnya seakan terpantul kembali secara sempurna dalam miniatur pada badan dan anggota-anggota badan. Pada tubuh manusia penyairnya melihat laut terbentang, gunung menjulang, padang menghampar, dan lembah yang menganga. Seperti halnya alam geologis dan alam fauna dan flora menimbulkan perasaan takjub, kagum, terpesona atau gentar dan takut, demikian pula halnya perasaan seseorang yang dengan teliti menyelidiki tubuh manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kota tua yang porak poranda pada wajah yang mulai&lt;br /&gt;  kumal dan kusam&lt;br /&gt; langit kusut pada mata yang memancarkan&lt;br /&gt;  cahaya redup kunang-kunang&lt;br /&gt; hutan pinus yang meranggas pada rambut yang mulai&lt;br /&gt;  kehilangan hitam,&lt;br /&gt; padang rumput kering pada ketiak yang kacau baunya,&lt;br /&gt; bukit gersang pada payudara yang sedang susut&lt;br /&gt;  kenyalnya&lt;br /&gt; pegunungan tandus pada pinggul dan pantat&lt;br /&gt;  yang mulai lunglai goyangnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan lembah duka yang menganga antara perut dan paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Kisah Semalam”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sebagai pembaca sungguh mengagumkan bahwa bahkan tentang hal-hal yang dianggap tabu dalam konvensi sehari-hari, penyair kita masih dapat menyatakannya dengan simpatik dan mengharukan seperti dalam cerita, atau nyanyian, atau doa Maria Magdalena, yang pada hari Paskah pagi datang ke makam tuannya, dan mendapatkan makam itu telah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sungguh Ia telah menciumku dan mecelupkan jariNya&lt;br /&gt; pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina&lt;br /&gt; pada dinding gua yang pecah-pecah, yang lapuk&lt;br /&gt; pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Minggu Pagi Di Sebuah Puisi”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh manusia, dan alat kelamin, bukan sekedar suatu &lt;em&gt;locus&lt;/em&gt; untuk kegembiraan dan keisengan badaniah, atau, sebagaimana umum dianggap dalam pandangan tradisional, sumber dosa, tetapi justru menjadi representasi suatu sesal yang kenyal, tobat yang nekat: suatu &lt;em&gt;metanoia&lt;/em&gt; yang tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih menegaskan bahwa badan adalah sesuatu yang ekstrinsik, maka penyair kita merasa perlu menyatakan secara eksplisit bahwa tak seorang pun dapat merasa &lt;em&gt;memiliki&lt;/em&gt; tubuhnya, karena tubuh ini hanya barang pinjaman, entah dari mana, yang setiap saat harus dikembalikan, dan yang terhadapnya berbagai pihak dapat mengajukan klaim kepemilikan. Karena itu juga, tubuh dan pemakainya (untuk tidak mengatakan pemiliknya), bukanlah dua pihak yang dengan sendirinya dapat bersatu secara harmonis dan rukun secara alamiah, tetapi keduanya harus terus-menerus berusaha dalam interaksi dan pergaulan untuk mencapai saling pengertian dan kata sepakat. &lt;em&gt;Apropos:&lt;/em&gt; bagi saya tetap mengherankan mengapa penyair demikian menekankan aspek ekstrinsik ini, karena tidak selalu jelas bagi saya pesan apa yang hendak disampaikannya dengan lukisan tersebut: kefanaan, kesementaraan, atau ketidak-sanggupan manusia untuk mengendalikan badannya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tubuh&lt;br /&gt;yang mulai akrab&lt;br /&gt;dengan saya ini&lt;br /&gt;sebenarnya mayat&lt;br /&gt;yang saya pinjam&lt;br /&gt;dari seorang korban tak dikenal&lt;br /&gt;yang tergeletak di pinggir jalan&lt;br /&gt;pada mulanya ia curiga&lt;br /&gt;dan saya juga kurang selera&lt;br /&gt;karena ukuran dan modelnya&lt;br /&gt;kurang pas untuk saya&lt;br /&gt;tapi lama-lama kami bisa saling&lt;br /&gt;menyesuaikan diri dan dapat memahami&lt;br /&gt;kekurangan serta kelebihan kami&lt;br /&gt;sampai sekarang belum ada yang&lt;br /&gt;mencari-cari dan memintanya&lt;br /&gt;kecuali seorang petugas yang menanyakan status&lt;br /&gt;ideologi, agama dan terutama harta kekayaannya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Tubuh Pinjaman”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, kehidupan sehari-hari tidak saja merupakan interaksi di antara orang-perorang dengan lingkungannya, tetapi antara badan dengan segala barang dan benda yang berhubungan dengannya. Dengan demikian, sebuah ranjang dapat merindukan tubuh yang telah dilahirkan dan diasuhnya dengan penuh cinta. Kemesrahan pertemuan tidak diungkapkan dalam suasana yang indah atau mencekam, tetapi justru dalam perjumpaan badan dengan badan, yang seakan dapat membuat saat yang singkat menjadi abadi. Sementara itu perjumpaan itu, karena hanya berlaku antara badan dengan badan, tidak mempunyai banyak konsekuensi dalam waktu, karena, sebagaimana sudah diuraikan sebelum ini, orang dapat menanggalkan tubuhnya dengan mudah dan menyuruhnya pergi, dan karena itu dapat pula mengakhiri perjumpaan dua tubuh, tanpa banyak rasa getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sesaat ada juga keabadian. Diusapnya pipi muda&lt;br /&gt;leher hangat, dan bibir lezat yang terancam kelu.&lt;br /&gt;Dan dengan cinta yang agak berangasan diterkamnya&lt;br /&gt;dada yang beku, pinggang yang ngilu, seperti luka&lt;br /&gt;yang menyerahkan diri kepada sembilu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Gadis Malam di Tembok Kota”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kedua badan itu berpisah, karena malam terlalu cepat habis, dan keduanya tidak punya banyak waktu. Maka salam perpisahan diucapkan dengan tanpa banyak keharuan, sedikit jenaka dan sedikit tak acuh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Terimakasih, gadisku.”&lt;br /&gt;  “Peduli amat, penyairku.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ibid.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan manusia, bagi penyair kita, rupanya sudah menjadi metafor yang lengkap, sedemikian rupa, sehingga perjalanan waktu dan riwayat hidup tidak lain dari perjalanan di atas tempat kita membaringkan badan setiap malam, yaitu ranjang. Di sana “api unggun masih marak” dan “dua pengelana saling merapat menghangatkan badan”, sementara keduanya ragu tentang lama perjalanan yang ditempuh dan merasa tak pasti entah mereka akan tiba di tempat tujuan. Hidup rupanya bukanlah menerapkan secara konsisten suatu disain yang sudah dirapikan, tetapi hanya percobaan terus-menerus untuk tetap berjalan, seandainya pun hari semakin malam, langit makin mendung dan di depan mata hanya menanti rimba yang panjang. Keberanian hidup tak lain dari merambah “seluruh kilometer tubuhmu/sampai ke gua-guanya yang paling dalam/dan tebing-tebingnya yang paling curam” meski pun pada akhirnya “hanya labirin yang kutemukan” (sajak “Perburuan”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kehidupan politik dilukiskan sebagai peristiwa di sekitar ranjang, yang memang akhirnya ditinggal pergi “sebelum tangan-tangan malam merampas tubuhnya/ dan menjebloskannya ke nganga waktu yang lebih dalam”. Ranjang menjadi lambang dari keadaan terkungkung, yang selalu meresahkan bagi jiwa yang merdeka, tetapi pelabuhan dan persembunyian yang aman bagi semangat yang mudah menyerah. Pada titik inilah kita berhadapan dengan ambivalensi ruang, juga ruang politik. Apakah ruang pada dasarnya suatu keterbatasan atau suatu kemungkinan? Apakah ruang adalah suatu besaran dan agregat fisik ke mana seseorang atau sekelompok orang merasa terikat, ataukah suatu agregat fisik yang terikat pada sekelompok orang ke mana pun mereka pergi? Apakah ruang itu semata-mata spasial, eksistensial, dan barangkali juga politis sifatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Selamat tinggal negara.&lt;br /&gt;  Aku tak ingin lebih lama lagi terpenjara.&lt;br /&gt;  Mungkin di luar ranjang waktu bisa lebih luas dan lapang.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Tahanan Ranjang”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kemudian pada larik lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ada yang lari meninggalkan ranjang&lt;br /&gt;  Ada yang ingin berumah kembali di ranjang&lt;br /&gt;  Pada kelambu merah ia baca tulisan:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;  Ini penjara masih menerima tahanan&lt;br /&gt;  Dijamin puas dan jinak. Selamat Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ibid.)&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;Kesadaran tentang badan sebagai barang pinjaman, tentang kesementaraan tubuh dan keterbatasannya, tetapi juga tentang pentingnya badan sebagai penghubung manusia dengan dunianya --- semua ini barangkali menjadi alasan untuk munculnya ironi yang amat kuat yang terasa hampir dalam setiap sajak dalam kumpulan ini. Ironi itu kadang ringan dan simpatik dan berkembang menjadi humor yang cerdas, dan kadang pula menjadi pahit dan tragis serta cenderung menuju ke sarkasme. Demikianlah misalnya, seorang pembuat topeng selalu kedapatan menjerit-jerit saat membuat topengnya. Ketika ditanya apakah dia masih waras dia menjawab “masih”. Ada pun jerit-menjerit itu dilakukannya karena merasa “tak tahan menahan sakit dan perih setiap memahat dan mengukir wajah sendiri” (sajak “Topeng Bayi Untuk Zela”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarkasme itu, uniknya, bisa muncul dalam suasana religius yang intensif, tatkala seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh perjuangan mempersembahkan keresahannya yang tak teratasi, meski pun semua ini dilakukan tanpa sekali pun menyebut nama Tuhan. Intensitas spiritual ini pun oleh penyair dilukiskan dengan metafor badan dan bahagian-bahagian tubuh, yang secara konvensional, tidak biasa dihubungkan dengan doa dan meditasi. Kerinduan itu yang membubung ke langit, harapan yang seakan mengaduh dari lembah-lembah keputus-asaan, dan iman yang kadang melemah seperti ranting layu (jangan kau patahkan!) atau sumbu yang hanya tinggal berasap (jangan kaupadamkan!), meledak tak tertahankan dalam suatu penyerahan yang total, meski pun di sini dilukiskan dengan humor yang pahit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Celana tak kuat lagi menampung pantat&lt;br /&gt;  yang goyang terus memburu engkau&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantat tak tahan lagi menampung goyang&lt;br /&gt;  yang kencang terus menjangkau engkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyang tak sanggup lagi menampung sakit&lt;br /&gt;  yang kejang terus mencengkram engkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telanjang tak mampu lagi melepas,&lt;br /&gt;  menghalau Engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Meditasi”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa yang terbentuk dari pertanyaan bertubi-tubi, dengan kombinasi dari ragu dan rindu, disertai teriakan nada yang meninggi dalam &lt;em&gt;crescendo&lt;/em&gt; emosi yang terus memuncak, adalah suatu tipe sajak yang dapat ditemukan pada banyak penyair lainnya. Ungkapan “telanjang tak mampu lagi melepas,/menghalau Engkau” dapatlah dibandingkan dengan ungkapan penyair lain “siapa tiba menjemputku berburu/ siapa tiba-tiba menyibak cadarku/ siapa meledak dalam diriku/ : siapa Aku” (sajak “Sonet: X” Sapardi Djoko Damono).&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt; Atau dengan ungkapan lain dari Amir Hamzah “Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas” (sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah).&lt;strong&gt;(2)&lt;/strong&gt; Kalimat-kalimat ini hampir-hampir secara tipologis menjadi inskripsi puitis dari inti semua pengalaman religius sebagaimana dirumuskan oleh Rudolf Otto &lt;strong&gt;(3)&lt;/strong&gt;, yaitu kombinasi perasaan &lt;em&gt;tremendum et fascinans.&lt;/em&gt; Ada perasaan gentar yang membuat kita menjauh dari tempat yang terlalu kudus karena tak sanggup menahan cerlang sinar yang memancar dari sana, tetapi ada pula daya-pesona yang bagaikan sihir gaib menarik kita mendekat karena “Engkau pelik menarik ingin/ serupa dara di balik tirai” sebagaimana dilantunkan oleh Amir Hamzah dalam sajaknya yang dikutip di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari tematiknya, sajak-sajak Joko Pinurbo merupakan suatu pembaharuan, karena dia merupakan gerak ke dalam, dibandingkan dengan gerak ke luar, jaitu gerak lirik mencari alam untuk menyanyikan embun atau matahari, memuja hujan dan laut, merenung gunung dan sungai atau tercekam oleh padang dan hutan. Lirik di sini menerjemahkan perasaan manusia ke dalam alam, atau menerjemahkan alam ke dalam perasaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rembulan di laut&lt;br /&gt; Gunung-gunung di langit&lt;br /&gt; Membentuk lukisan singkat&lt;br /&gt; Dalam cinta abadi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selembar laut di hatiku&lt;br /&gt;Sekeping langit di hatimu&lt;br /&gt;Membuat lukisan kekal&lt;br /&gt;Dalam hidup yang singkat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Masih Ada Etsa” Eka Budianta) &lt;strong&gt;(4)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Eka Budianta ini merupakan suatu contoh yang tipologis tentang lirik dalam puisi Indonesia, yaitu identifikasi gerak-gerik perasaan manusia dengan gerak-gerik alam. Pada penyair Joko Pinurbo, seluruh kehidupan manusia, politik, sosial-budaya, ekonomi, dan religius, tidak diterjemahkan ke dalam gerak-gerik alam, tetapi dalam gerak-gerik badan, yaitu apa yang kini dikenal sebagai &lt;em&gt;body language.&lt;/em&gt; Dalam arti itu, makrokosmos tidaklah terlihat sebagai realitas besar yang terpantul dalam mikrokosmos, tetapi sebaliknya, tubuh manusia sebagai mikrokosmos menyerap alam besar ke dalam dirinya. Langit, awan, gunung dan laut hanya mengingatkan penyairnya akan wajah, alis, pelupuk mata, seperti juga padang dan gunung mengingatkan penyairnya akan keindahan dada dan rambut kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rambut, kau bukan lagi padang rumput&lt;br /&gt; yang dikagumi para pemburu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;Dada, kau bukan lagi pegunungan indah&lt;br /&gt;  yang dijelajahi para pendaki.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Di Salon Kecantikan”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak mengganggu perasaan saya sebagai pembaca ialah bahwa lukisan tubuh dan bahagian-bahagiannya ini selalu mengandung ironi dan rasa pahit, jadi bukannya pemujaan dan kekaguman murni kepada tubuh manusia sebagai penjelmaan keindahan atau pengejawantahan misteri. Jarang sekali dalam sajak-sajak ini kita temukan romantik seperti yang dengan mudah kita dapati pada sajak-sajak Rendra misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Betsyku bersih dan putih sekali&lt;br /&gt; Lunak dan halus bagaikan karet busa.&lt;br /&gt; Rambutnya mewah tergerai&lt;br /&gt; Bagai berkas benang-benang rayon warna emas.&lt;br /&gt; Dan kakinya sempurna.&lt;br /&gt; Singsat dan licin&lt;br /&gt; Bagaikan ikan salmon&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Rick Dari Corona” Rendra) &lt;strong&gt;(5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya ialah mengapa penyair Joko Pinurbo selalu memandang tubuh manusia dengan nada yang ironis, dengan &lt;em&gt;bitter after-taste&lt;/em&gt;, yaitu rasa pahit yang menyusul setelah kita menelan sesuatu? Apakah tubuh manusia tidak menimbulkan pesona apa pun pada penyair ini? Jawabannya saya kira harus dicari dalam hubungan penyair ini dan lirik. Pilihannya untuk tidak mempedulikan alam luar, rupanya mempunyai akibat bahwa dia tidak sempat lagi mendengar cericit burung, nyanyian hujan, atau bunyi desah bambu yang diterpa angin, yang hanya dapat didengar dari alam. Kegembiraan liris inilah yang menurut pendapat saya tidak terasa dalam seluruh sajak-sajak ini, yang memfokuskan perhatiannya pada tubuh manusia semata-mata. Yang terdengar adalah humor yang pahit, seperti seseorang yang menertawakan segala sesuatunya, sedemikian rupa, sampai kita tak yakin lagi apakah dia sedang bercanda dan bergembira ataukah dia sedang menangis dan merintih dalam hati, atau bahkan telah kehilangan akal warasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengapa kita takut pada ketakutan?&lt;br /&gt; Mengira tak ada yang bisa diabadikan?&lt;br /&gt; Tengah malam kita sering terbangun&lt;br /&gt; Lalu berdiri di depan cermin.&lt;br /&gt; Merapikan rambut yang kusut.&lt;br /&gt; Membelai wajah yang membangkai.&lt;br /&gt; Memugar mata yang nanar.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pada larik lainnya dari sajak yang sama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu kau merapat ke kaca almari:&lt;br /&gt; Mengganti baju, menyempurnakan kecantikan.&lt;br /&gt; Matamu menyala serupa lilin.&lt;br /&gt; Keningmu berkobar dibantai sinar&lt;br /&gt; Apakah kau sedang berkemas ke kuburan?&lt;br /&gt; Alamak, beri aku sedikit waktu&lt;br /&gt; Nyawaku tertinggal di rumah sakit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sajak “Perjalanan Pulang”)&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;Maka, mengapa gerangan tubuh manusia tiba-tiba menjadi hal yang demikian penting dalam puisi Indonesia, sebagaimana terlihat dalam sajak-sajak penyair ini? Apakah hal ini merupakan pilihan pribadi semata-mata atau merefleksikan juga perkembangan perhatian intelektual yang bergeser titik gravitasinya dalam dunia pemikiran kebudayaan sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar perbandingan, perhatian ilmu sosial terhadap tubuh manusia pun relatif terbelakang, khususnya dalam sosiologi, ekonomi dan ilmu politik. Antropologi masih memberikan cukup perhatian kepada tubuh manusia sudah sejak kemunculannya yang definitif pada abad ke 19. Hal ini terjadi karena pada awal kemunculannya antropologi berada di bawah tekanan kuat dari kolonialisme dan dibebani tugas mencari unsur-unsur yang sama dalam semua kebudayaan untuk mengurangi relativisme sosial. Istilah seperti &lt;em&gt;human universals&lt;/em&gt; (misalnya pada Lewis Henry Morgan) yang kemudian sedikit dipersempit menjadi &lt;em&gt;cultural universals&lt;/em&gt; kemudian menemukan tubuh manusia dan asal-usulnya sebagai suatu &lt;em&gt;common denominator&lt;/em&gt; bagi berbagai kelompok sosial dan kelompok budaya. Seterusnya aliran evolusionisme dalam bentuk Darwinisme sosial tentu saja semakin memperkuat posisi ini, dengan dua tese utama. Yaitu, bahwa manusia tidaklah mempunyai kedudukan yang mengatasi alam, tetapi hanya menjadi bahagian alam. Kedua, perubahan sosial terjadi melalui seleksi alamiah dalam bentuk &lt;em&gt;survival of the fittest&lt;/em&gt;, di mana yang akan bertahan adalah jenis yang paling unggul sedangkan yang lebih lemah akan punah dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi klasik tidak mulai dengan mencari persamaan-persamaan yang ada dalam berbagai kelompok sosial dan kelompok budaya dari berbagai zaman yang berbeda, tetapi justru dengan persamaan-persamaan yang terdapat dalam masyarakat-masyarakat yang telah dimasuki oleh industrialisasi dan dikendalikan oleh perkembangan rasionalitas. Sudah jelas rasionalitas dalam pengertian Weber misalnya sangat banyak diilhami oleh pengertian ilmu ekonomi dan ilmu hukum, dan sama sekali berada di luar jalur biologi yang berhubungan dengan tubuh manusia. Konsep tubuh ini baru memasuki sosiologi melalui Durkheim yang menerjemahkan tubuh bukan sebagai bahagian dari diri pribadi seseorang, tetapi tubuh sebagai suatu sistem organis, yaitu sistem input dan output energi. Perubahan sosial diterangkan dengan membandingkan keseimbangan yang ada dalam suatu sistem organis dan keseimbangan yang terdapat dalam suatu sistem sosial. Paralelisme ini kemudian dikenal sebagai fungsionalisme dalam sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali pun demikian perhatian yang lebih terfokus dan sekaligus lebih luas barulah muncul dalam ilmu sosial bersamaan dengan bangkitnya perhatian intelektual terhadap filsafat Friedrich Nietzsche, yang pada masanya melancarkan serangan gencar baik terhadap kebudayaan kelas menengah Jerman mau pun terhadap kalangan gereja. Apa yang dinamakannya pembalikan nilai-nilai (Umwertung aller Werte) diterapkan pertama-tama dalam serangan yang dilancarkannya. Pertama, ditunjukkannya bahwa pengalaman estetik, dalam sejarahnya, lebih dekat hubungannya dengan ekstasi seksual, kegairahan religius, atau pun extravaganza dalam tarian-tarian primitif, daripada dengan kontemplasi perorangan yang tenang, tanpa pamrih dan rasional. Kedua, diserangnya penghayatan Hellenisme kelas menengah Jerman yang percaya pada waktu itu bahwa ketenangan dan kestabilan adalah sifat-sifat terpenting yang diutamakan dalam dunia antik. Dia membuktikan bahwa nilai-nilai Yunani antik yang lebih utama adalah kualitas-kualitas Dionisian yang penuh kemabukan dan daya-rangsang, dan bukannya spekulasi rasional. Dua pranata utama dalam masyarakat Yunani antik adalah pertandingan olahraga untuk menunjukkan keunggulan badan, dan pertandingan retorik untuk menunjukkan keunggulan politik. Kedua hal ini jelas berhubungan dengan kekerasan antar-pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan itu kritik Nietzsche menghantam pertama-tama rasionalitas Sokratik yang telah mengaburkan emosi dan perasaan sebagai unsur yang menentukan persepsi manusia dalam melihat alam dan melihat soal. Dalam arti itu segala filsafat yang menolak dunia &lt;em&gt;(weltverneinende Philosophie)&lt;/em&gt; harus ditinggalkan dan digantikan dengan filsafat yang menerima, membenarkan dan mengafirmasikan dunia kita &lt;em&gt;(weltbejahende Philosophie).&lt;/em&gt; Sikap yang menolak dunia telah menyebabkan bahwa yang bertahan hidup bukanlah yang paling unggul, sebagaimana diajarkakan oleh Darwinisme sosial, tetapi justru yang paling lemah &lt;em&gt;(survival of the weakest)&lt;/em&gt;, karena mereka harus membayar ongkos sosial yang terlalu tinggi untuk mengontrol dan mengekang energi-energi instingtualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ini kemudian semakin disambut oleh para pemikir dari aliran kritis seperti Herbert Marcuse dengan tese bahwa perkembangan kapitalisme sangat ditunjang oleh represi seksual, karena represi ini menjadi sarana yang amat efektif bagi kontrol sosial. Kapitalisme dapat mengatur masyarakat melalui pengaturan kehidupan seksual. Dengan tema-tema seperti ini ditunjukkan bahwa badan yang demikian diabaikan dalam teori-teori sosial, justru memainkan peranan besar sebagai metafor yang mengilhami langsung berbagai kekuatan dan perubahan sosial. Untuk konteks sekarang, bangkitnya feminisme menunjukkan dengan sangat tegas, bahwa diferensisiasi sosial pada dasarnya harus diterangkan sebagai diferensiasi gender, yaitu seluruh konstruksi sosial yang dibangun di atas perbedaan konstitusi tubuh lelaki dan perempuan.&lt;strong&gt;(6)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau badan secara teologis tetap dianggap sebagai sumber dosa, secara filosofis dianggap sebagai bahagian diri manusia yang menyambung manusia kepada alam tetapi bukan kepada kebudayaan, secara antropologis hanya menjadi unsur yang mempersamakan semua kebudayaan dan bukan unsur yang membedakannya, maka badan hanyalah suatu lapisan yang dipendam dalam renungan filosofis dan renungan puitis, sekali pun kita tahu dia menjadi tenaga vulkanik yang dapat menimbulkan gempa setiap saat dalam hidup perorangan dan kehidupan sosial. Dalam arti itu, kumpulan sajak ini dapat dipandang sebagai suatu seismograf kebudayaan karena dia menyingkapkan dan mengingatkan kembali pentingnya badan dalam hidup, dalam kebudayaan, dan dalam puisi Indonesia. Membaca kiasan badan dengan benar, memahami bahasa badan dengan lebih sensitif, adalah sebuah jalan aman untuk memahami banyak perkara penting dalam kebudayaan dan masyarakat, juga di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Brussel – Utrecht-Hamburg,&lt;br /&gt; April 2001&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;Dimuat dalam buku puisi &lt;em&gt;Di Bawah Kibaran Sarung&lt;/em&gt; karya Joko Pinurbo (Penerbit Indonesiatera, Magelang, 2001). Dimuat juga dalam buku Ignas Kleden, &lt;em&gt;Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan&lt;/em&gt; (Freedom Institut &amp;amp; Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(1) Sapardi Djoko Damono, &lt;em&gt;Hujan Bulan Juni&lt;/em&gt;, Jakarta, Gramedia, 1994, hal. 25.&lt;br /&gt;(2) Amir Hamzah, &lt;em&gt;Nyanyi Sunyi&lt;/em&gt;, Jakarta, Dian Rakyat, 1991, hal. 1&lt;br /&gt;(3) Istilah yang digunakan oleh ahli ilmu perbandingan agama ini adalah mysterium tremendum et fascinans. Lih. Rudolf Otto, &lt;em&gt;Das Heilige: Ueber das Irrationale in der Idee des Goetlichen und sein Verhaeltnis zum Rationalen&lt;/em&gt;, Muenchen, Verlag C.H. Beck, 1991, hal. 13, 42.&lt;br /&gt;(4) Eka Budianta, &lt;em&gt;Masih Bersama Langit&lt;/em&gt;, Magelang, IndonesiaTera, 2000, hal.5&lt;br /&gt;(5) Rendra, &lt;em&gt;Blues Untuk Bonnie&lt;/em&gt;, Jakarta, Pustaka Jaya, 1993, hal. 20.&lt;br /&gt;(6) Untuk uraian pada bahagian ini penulis mengikuti analisa Bryan S. Turner, “Recent Developments in the Theory of the Body”, dalam Mike Featherstone et al. (eds.), &lt;em&gt;The Body: Social Process and Cultural Theory&lt;/em&gt;, London, Sage Publications, 1991, hal. 1 – 35.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-3460286364567426265?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/3460286364567426265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/3460286364567426265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/puisi-membaca-kiasan-badan.html' title='Puisi: Membaca Kiasan Badan'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-1573795131725993439</id><published>2010-05-04T14:55:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T14:55:37.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cecep Syamsul Hari'/><title type='text'>Membaca Kembali Joko Pinurbo: Surealisme Ranjang, Celana, dan Boneka</title><content type='html'>&lt;b&gt;Cecep Syamsul Hari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(KOMPAS, Minggu, 12 Juni 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTARA tahun 1999-2004, Joko Pinurbo telah menerbitkan empat kumpulan puisi yang menarik perhatian, yaitu Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, Sajak-sajak 2001, dan Telefon Genggam. Akan tetapi, sejauh yang dapat saya amati, hingga saat ini kumpulan puisi Celana Joko Pinurbo-lah yang meninggalkan kesan lebih kuat di dalam benak kebanyakan pembaca dibandingkan dengan kumpulan sajaknya yang lain. Trilogi sajak Joko, "Celana 1", "Celana 2", dan "Celana 3", misalnya, meraih Sih Award (Anugerah Jeihan) 2001, dan kumpulan puisi Celana itu sendiri memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001. Celana Joko bahkan pergi berkelana jauh keluar dari habitatnya dan pengaruhnya sampai hingga ke pedalaman negeri kanguru. Seorang penyair Australia yang juga peneliti, Ian Campbell, menulis puisi tentang celana yang didasarkan pada Celana Joko Pinurbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kembali puisi-puisi dalam Celana Joko Pinurbo mengingatkan kita pada manifesto yang diterbitkan André Breton, yang menyatakan bahwa kesenian harus berasal dari alam bawah sadar dan oleh karena itu seniman harus mendapatkan ilham sebebas-bebasnya dari imaji-imaji impiannya dan berusaha mencapai "super-realisme" tempat antara batas-batas mimpi (dunia di dalam bawah sadar) dan kenyataan (dunia di dalam kesadaran) melebur. Seniman pun diasumsikan sebagai seseorang yang memiliki kapabilitas untuk menembus sensor dari kesadaran dan membiarkan kata-kata dan imaji-imaji itu bermain dengan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui, André Breton adalah penyair dan esais Perancis yang memelopori gerakan surealisme. Di bawah bayang-bayang puisi simbolis dan psikiatris, pada tahun 1924 ia menerbitkan Manifeste du surréalisme, dari mana kata "surealisme" berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pemikiran Bretonian itulah dapat dikatakan bahwa imaji-imaji mimpi adalah napas puisi-puisi Joko Pinurbo. Di tangannya, imaji-imaji mimpi itu dengan lentur telah dibentuknya menjadi sistem simbolik, dan dalam kumpulan puisinya, Celana (1999), dapat ditemukan pada simbol-simbol kunci (key symbols): ranjang, celana, dan boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Joko Pinurbo, ranjang muncul sebagai sistem simbolik dari suatu bentangan perjalanan makna "aku dalam puisi", dalam suatu kenyataan lateral dan jungkir balik: kelahiran dan kematian, profan dan spiritualitas, bayangan diri dan bayangan Tuhan, dunia kini-di-sini dan dunia kelak-di-sana. Seluruh kenyataan itu ditarik Joko ke dalam bawah sadar, tempat ia memosisikan dirinya sebagai penafsir tunggal atas mimpi yang menjadi bahasa bawah sadar itu sendiri: Beginilah jika ada yang lancang mengusik jagad mimpiku yang tenteram. Hanya aku penguasa di wilayah ranjang ("Ranjang 7").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem simbolik Joko Pinurbo, ranjang bukan semata-mata benda mati (yang selain berfungsi sebagai tempat orang tidur, juga kadang-kadang menjadi tempat orang mati), tetapi menjadi bayangan diri (psike) dari suatu referensi eskatologis asal-muasal manusia: Pada suatu petang ia datang ke taman yang terhampar hijau di atas ranjang…. Ia perempuan gila, dulu pernah memperkosa Adam dan menghabisinya di atas ranjang ("Ranjang 10"). Ranjang adalah tempat "aku dalam puisi" bukan saja melakukan refleksi atas relasi intersubyektivitas: Waktu itu tengah malam. Kau menangis. Tapi ranjang mendengarkan suaramu sebagai nyanyian ("Ranjang 1"); melainkan juga refleksi atas relasi gender: Ranjang bergoyang sepanjang malam. Mungkin sepasang nyawa, sepasang singa sedang bertempur. Atau sepasang maut sedang perang…. Padahal cuma ada sepasang celana terongok putih di bantal hitam ("Ranjang 9"); Memang ada yang masih bermukim di ranjang: merawat ketiak, mengurus lemak, dan dengan membelalak ia membentak, "Pergi. Tak ada seks di sini." ("Ranjang 11").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranjang juga adalah ibu (muasal) dari maut, waktu, dan usia: Ranjang meminta kembali tubuh yang pernah dilahirkan dan diasuhnya dengan sepenuh cinta ("Ranjang 6"); Demikianlah di subuh yang hening itu kami pergi ke pelabuhan, melepas ranjang kami yang tua berangkat berlayar ke laut yang luas dan terang. Waktu dan usia seperti perjalanan sebuah doa ketika ranjang kami yang reyot dan renta bergoyang-goyang bagai tongkang, bagai keranda, terhuyung-huyung dan terbata-bata, mencari tanah pusaka yang jauh di seberang sana ("Ranjang 8").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sistem simbolik Joko Pinurbo, ranjang juga adalah fase dari suatu perjalanan menuju kematian: Jauh nian perjalanan di atas ranjang.... Kau mengambang, melayang, seperti bayi terlelap dalam ayunan ranjang ("Ranjang 3"). Bahkan, bukan hanya perjalanan menuju kematian, melainkan juga dunia di seberang kematian: Kaulah perahu ke teluk persinggahan. Sampai di seberang tubuhmu tinggal tulang belulang dan perahumu tertatih-tatih sendirian pulang ke haribaan ranjang ("Ranjang 4). Dunia di seberang kematian itu sesuatu yang hanya dapat kita fantasikan: Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri. Orang-orang menyebutnya firdaus yang dicipta kembali oleh keturunan orang mati. Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi ("Ranjang 2"). Dan perjalanan terakhir ke dunia fantasi kita itu barangkali adalah perjalanan dalam bayangan Tuhan atau Imago Dei sendiri: Maut sudah kosong ketika mereka hendak menculik mayatnya. Hanya ada seorang perempuan sedang membersihkan salib di sudut ranjang. "Ia sudah pergi ke kota," katanya, "dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya." ("Ranjang 12").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Joko Pinurbo pula boneka dan celana berubah menjadi sistem simbolik yang cerdas untuk mengungkapkan dengan cara surealistis karakter-karakter kontradiktif, situasi batas, absurditas, dan hipokritas manusia di dalam dirinya maupun di dalam relasinya dengan orang lain. Jika selama ini karakter-karakter tersebut direpresi ke bawah sadar dan tinggal dalam kegelapan serta sesekali muncul sebagai mimpi, maka Joko terjun ke dalam kegelapan itu untuk mengeluarkan kembali karakter-karakter itu ke tempat yang terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungkapan kontradiksi, situasi batas, absurditas dan hipokritas manusia ini lewat sistem simbolik boneka diungkapkan Joko dalam sajak "Boneka 1-3" sebagai berikut: Setelah terusir dari negerinya sendiri, pelarian itu akhirnya diterima oleh sebuah keluarga boneka…. "Saya dari negeri yang pemimpin dan rakyatnya telah menyerupai boneka. Saya tidak betah lagi tinggal di sana karena saya tetap ingin menjadi manusia." ("Boneka 1"); Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Ia minggat begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun kepada boneka-boneka kesayangannya…. Pemilik rumah itu akhirnya pulang juga. Ia masuk begitu saja, namun boneka macan yang perkasa dan menyeramkan itu menyergahnya. "Maaf, Anda siapa, ya?" ("Boneka 2"); Kami pun berpotret bersama. Monyetku menyuruhku berdiri paling tengah. "Kau yang paling ganteng di antara kami," siamang berkata. "Siapa yang paling lucu di antara kita?" monyet bercanda. "Yang di tengah," lutung berkata. "Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidup di alam nyata," gorila berkata. Mereka semua tertawa ("Boneka 3").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, lewat sistem simbolik celana, semua unsur hipokritas manusia ditelanjangi Joko habis-habisan dalam trilogi "Celana". Untuk melukiskan hal itu, salah satu dari trilogi itu, yaitu "Celana 1", dipetik utuh sebagai berikut: Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan mebujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya. "Kalian tidak tahu ya, aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan." Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan, "Ibu. Kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pulang-pergi mimpi dan kenyataan, under-consciousness dan consciousness, tampaknya bukanlah perjalanan yang menegangkan bagi Joko Pinurbo. Ini dimungkinkan karena kemampuan cara berpikir deduktifnya untuk menjungkirbalikkan logika didampingi kemampuan artistiknya menggunakan pendekatan parodi yang memunculkan suasana dari suatu wacana estetik surealisme yang satir, tetapi cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair Inggris kontemporer, DJ Enright, dalam Under the Circumtances (1991), pernah mengatakan bahwa parodi sangat sulit untuk tidak ditulis, tetapi menulisnya lebih sulit lagi. Itulah sebabnya kenapa hanya sedikit penyair yang menggunakan pendekatan ini dalam menulis puisi. Puisi parodi yang berhasil akan mengendap dalam benak pembacanya seraya tetap membiarkan puisi itu sebagai ruang bagi berbagai-bagai kemungkinan pemaknaan dan penafsiran. Sebaliknya, puisi parodi yang gagal, apabila nasibnya masih cukup baik, akan dianggap sebagai black-comedy, dan apabila nasibnya jauh lebih buruk, akan diingat sebagai semata-mata puisi bertendensi humor dan menutup ruang bagi pemaknaan dan penafsiran lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi yang lain, wacana estetik puisi-puisi Joko Pinurbo dapat dikatakan sebagai hasil dari suatu proses amplifikasi, yaitu suatu proses mengolah dan menjelaskan imaji mimpi melalui penggunaan asosiasi yang terarah dengan merangkaikan ide-ide, penglihatan-penglihatan, dan lain-lain, menurut kemiripan, hukum kebersamaan, perlawanan, dan ketergantungan sebab akibat. Amplifikasi adalah salah satu istilah kunci dalam teori psikologi-analitis Carl Gustav Jung (lihat misalnya: H Red, et.al., Aion. Researches into the Phenomenology of the Self, Princeton University Press, 1970:3-37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem simbolik yang dibangun dari tradisi berpikir yang ketat dan wacana estetik yang didasarkan pada proses amplifikasi itu melapangkan jalan bagi pendekatan parodi yang dipilih Joko Pinurbo dalam proses kreatifnya. Humor dan kelucuan tetap dipelihara sebagai efek dan tidak dijadikan sebagai substansi puisi-puisinya. Itulah yang menyebabkan kenapa, misalnya, makhluk boneka dan makhluk manusia, celana dan Columbus, burung dan Stephen Hawking, dapat hidup berdampingan secara harmonis dan damai dalam wilayah estetika puisi-puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cecep Syamsul Hari&lt;/b&gt;, Penyair, tinggal di Cimahi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-1573795131725993439?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1573795131725993439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1573795131725993439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/membaca-kembali-joko-pinurbo-surealisme.html' title='Membaca Kembali Joko Pinurbo: Surealisme Ranjang, Celana, dan Boneka'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-1908776852974779261</id><published>2010-05-04T14:50:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T14:50:30.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nirwan Dewanto'/><title type='text'>Jalan Setapak Berduri</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nirwan Dewanto &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih mencipta bila khazanah dunia adalah lautan tak berhingga karya gemilang? Untuk sekadar mempertebal polusi—ataukah menambahkan kecemerlangan pada wajah dunia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi mutakhir kita konon adalah penjelajahan makna sampai ke ujung cakrawala tak terduga. Tapi para penyair muda kita terbebani—bukan terberkahi—oleh para pendahulu mereka. Warisan sastra nasional dihadapi tidak dengan sikap kritis, namun ketakjuban. Ya, ini sudah berlangsung paling tidak dua dasawarsa terakhir—sungguh terlalu lama. Sehingga sejumlah bentuk dan idiom dibaku-bekukan di alam bawah sadar dan suatu ketika ”dihidupkan” lagi dengan pretensi kebaruan—atau sekadar keganjilan? Hasilnya: sejenis abstraksi, namun dalam arti negatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi sesungguhnya dibangun oleh frasa-frasa, tapi itu tak berarti bahwa gramatika ditelantarkan. Frasa adalah kalimat yang tak lengkap: dengan itulah kata dimaksimalkan kekuatannya. Dengan rumpang antar-frasa kita mendapatkan permainan antara sunyi dan bunyi, rupa dan kekosongan, kata-hati dan kata-kepala. Dengan kata lain, sebuah ambiguitas. Saya khawatir para penyair terkini bukan mengolah frasa, tapi tak bisa berkalimat. Begitu banyak nomina abstrak dan begitu miskin kosa kata terpakai. Rima menjadi hanya bunyi di ujung baris, bukan gema dalam frasa. Metafor menjadi batal atau mubazir, karena semantika diabaikan. Puisi sekadar peng-aku-an yang tanpa ironi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya takjub kenapa, misalnya, pengaruh puisi Sapardi Djoko Damono begitu kuatnya hingga hari ini, sebagaimana terlihat pada Joko Pinurbo dan Dorothea Rosa Herliany: yang pertama meluweskan gaya Sapardi, yang kedua meruwetkannya. Benar, para penyair terbaru niscaya memerlukan dasar dari mana mereka bisa melompat tinggi-tinggi. Bahkan tak sedikit penyair, misalnya Ulfatin Ch., yang bergantung bukan hanya pada puisi Sapardi, tapi juga terjemahannya (antara lain penyair Yunani George Seferis). Tapi Pinurbo, Rosa, Ulfatin, juga para penyair Bali yang kini melimpahi gelanggang—pendeknya, seluruh generasi mereka—sudah sampai ke tahap jenuh, mahajenuh, masing-masing. Mereka mesti ”membunuh” Sapardi, Goenawan Mohamad, dan segenap warisan puisi lirik Indonesia. Mereka harus berpaling sepenuhnya ke sumber-sumber lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan prosa Indonesia tampaknya enggan terikat kepada warisan kaum pendahulunya. Akibat pertama yang patut disayangkan: menulis dari langit. Para penulis cerita pendek terkini, misalnya, sudah lupa akan harta cemerlang di masa silam: misalnya Sitor Situmorang, Asrul Sani, Idrus, Motinggo Boesje, Umar Kayam—realisme yang mau bertarung dengan dunia, realisme yang tak memperalat bentuk, dan karena itu menghargai kecerdasan pembaca. Sedangkan sebagian besar cerita pendek realis dalam satu dasawarsa ini hanya mampu menyajikan gambar dokumenter yang tanggung belaka: sekadar mencoba mengharukan seraya mengajari pembaca dengan pesan moral dan politis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak lengket dengan sang warisan bisa juga berarti lentur mengolah sumber dari mana saja, entah itu tradisi-sumber, budaya massa, atau khazanah sastra dunia. Lihatlah, misalnya, cerita pendek Raudal Tanjung Banua, Kurnia Effendi, dan Nur Zain Hae. Mereka adalah pengarang yang berhasil mendayagunakan kependekan: cerita pendek bukan lagi ringkasan dari risalah panjang, tetapi mikrokosmos di mana kita bisa bermain tangkap-dan-lari dengan tokoh. Pengarang bukan lagi tukang khotbah, tetapi benar-benar menjelma narator. Di situlah watak sadar diri maupun efek penjarakan membuat pembaca sebagai ”pencipta kedua” yang ikut memperkaya atau melengkapkan kisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena pukau feminisme kita mencatat pengarang perempuan. Khazanah sastra kita bersifat maskulin bukan karena dihuni oleh banyak pengarang jantan, tapi karena begitu banyak tema dan idiom yang terkubur atas nama akhlak atau terbaku-bekukan oleh cara pandang sang bapa atau sang suami. Maka cerita pendek Dinar Rahayu, misalnya, menjadi berharga karena ia membuat seksualitas jadi terang-benderang dan puitis sekaligus. Suatu erotisisme tanpa heroisme: berahi yang menantang pornografi. Sedangkan pada cerita pendek Linda Christanty, kita mendapatkan ampuhnya suara politik justru karena yang politis itu sekadar hadir sebagai kilas balik tipis dari laku dan wicara para tokoh. Realisme Linda mencekam justru karena ia antididaktik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel sesungguhnya adalah bentuk paling cocok untuk menyatakan pandangan dunia di luar filsafat dan sistem pemikiran yang lain. Novelis adalah ia yang menyatakan pandangan dunia dengan menyejajarkan, bahkan meleburkan, diri dengan tokoh-tokohnya. Tanpa berbuat begitu, ia hanyalah sejenis antropolog semu, sejarawan semu, pesulap semu, dan berbagai semu yang lain: demikianlah yang kita dapati pada sebagian besar novel kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Nukila Amal layak diperhitungkan bukan karena ia perempuan, bukan pula karena ia berasal dari daerah pinggiran (Maluku Utara). Cala Ibi, novelnya, adalah pelaksanaan semacam gagasan matematis, misalnya saja pencerminan dan penggandaan, ke dalam bentuk sastra, dan hanya dalam bentuk inilah gagasan itu kita hayati. Ke dalamnya ia mengocok berbagai sumber: misalnya sejarah lokal, Buddhisme Zen, bahasa iklan, komik Tintin, Alice in Wonderland, grafis Escher, dan sastra tinggi. Dalam setiap bab ia mengajukan teka-teki, di situ pula ia memendam jawabnya, bagaikan sepasang kembaran yang saling menantang sebagaimana tokoh Maia dalam novel itu. Rupanya, hanya pembaca yang mau memperbaharui cara bacanya yang bisa menikmati permainan Nukila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok penulisan esai, kita tak henti geleng-geleng kepala. Esai bukan lagi sebuah surat upaya (sesuai dengan etimologinya), yaitu upaya menawarkan perspektif yang tajam atas satu pokok, namun sekadar pameran jargon dan nama comotan, seakan dengan itulah si penulis asyik-masyuk dengan pemikiran dunia mutakhir. Tapi pameran demikian hanyalah membungkus kosongnya nalar dan gagasan. Lihat, tulisan ternyata memperpanjang kelisanan. Maka harapkan jangan kritik sastra, tetapi gunjing sastra. Bila kebetulan si penulis esai itu penyair, kentaralah bahwa ia tak menguasai (tata) bahasa. Kian terbuktilah bahwa puisi sekadar cacat berbahasa, bukan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan pengecualian kecil, terjemahan sastra dan pemikiran dunia mutakhir bukan mendekatkan kita ke dunia, malah sebaliknya. Ternyatalah para penerbit ”alternatif”—ah, nama yang keliru pakai pula—tidak berniat membuat buku yang baik namun hanya menjual tampang buku dan nama pengarang. Dan para ”penerjemah” itu bukan hanya tak menguasai bahasa asing, tapi juga bahasa Indonesia dan khazanah yang diterjemahkannya. Inilah juga perlakuan lisan atas tulisan: sebuah kelisanan baru. Tulisan ternyata memperkuat laku pra-ilmiah kita, dan ini kiranya berlaku bagi amalan sastra kita pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya Hasif Amini, penerjemah dan redaktur puisi di sebuah koran utama, membuat neologisme untuk semua itu: illiterature, paduan dari illiterate (buta huruf) dan literature (sastra). Sastra dengan sikap buta huruf. Sastra tanpa penguasaan bahan, bentuk, dan wawasan. Saya kira illiterature adalah sifat akut sastra kita, tapi juga pelbagai sektor modern kita yang mana pun: tindak yang bukan hanya mengabaikan budaya tulisan, tapi juga menggerogotinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah sastra di dunia maya. Cyberspace tidak menjadi alternatif—apalagi subversi—terhadap dunia cetak, tetapi tong besar di mana kesedang-sedangan diperbolehkan, bahkan direstui. Seakan setiap manusia adalah pencipta kebudayaan, karya apa pun bisa tampil tanpa campur tangan otoritas tertentu. Inilah demokratisasi, kata para pembela sastra cyber. Tapi demokrasi adalah kompetisi dan kontrol mutu, bukan? Nyatalah cyberspace hanya menggandakan kelisanan juga. Tak terlihat di sana penciptaan hipertekstual, misalnya: hanya pemuatan karya yang entahlah mutunya. Tidak terlihat sikap baru dalam mengolah kepustakaan (yang tersedia online), sehingga makin teballah omong-omong gaya kampung itu. Tapi mari berpikir positif, Saudara: ruang maya adalah tempat penyemaian benih, sebentar lagi kita akan memetik buahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illiterature juga tampak pada Hadiah Sastra Khatulistiwa yang tahun ini berhadiah Rp 75 juta itu. Tentu kita berterima kasih pada sang penggagas dan penaja yang dalam tiga tahun terakhir ini bisa membuat penerbitan sastra meningkat terus. Tapi lihatlah, betapa ganjil cara penjurian Khatulistiwa: (i) penilaian dilakukan dalam tiga tahap; (ii) juri pada tiap maupun antar-tahap tak saling tahu; (iii) setiap juri menyampaikan penilaian tertutup dalam peringkat; (iv) juri pada tahap berikut harus memilih hasil dari juri tahap sebelumnya. Cara begini akan menghasilkan pemenang yang bisa siapa saja: suatu pengingkaran terhadap rasionalitas, kompetisi, dan pencapaian. Hadiah sastra yang mencampurkan puisi, cerita pendek, dan novel ini gagal menjadi pengawal mutu sastra. Khatulistiwa adalah penghargaan sastra ”paling ajaib” di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak penciptaan dan penilaian sastra semestinya adalah semacam kritik diri. Sudah terlalu sering orang sastra merasa dirinya pembawa pencerahan, entah bagi masyarakatnya atau tradisi sastranya sendiri. Itu hanya dongeng, Saudara. Kita masih menderita buta huruf. Kita tidak membaca, kita cuma membolak-balik halaman buku. Kita tidak menguji pemikiran dari luar, namun menganggapnya sebagai jimat baru. Kita tak menulis, tapi mengarang-ngarang belaka. Kita tak bisa menilai diri, karena terpisah dari ukuran yang wajar dalam sastra-sastra dunia. Pascamodernisme konon akan melandasi kita sebagai kekuatan alternatif terhadap dunia: ternyata ia hanya membiakkan bawaan pramodern kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah sejumlah anomali, sejumlah nama, yang disebut dalam tulisan ini menjadi kian berharga di masa mendatang? Tidak selalu—ataukah selalu tidak, sebagaimana terjadi selama ini? Camkanlah bahwa sang anomali tak lain adalah pilihan yang terpaksa kita buat di tengah musim pancaroba. Terserahlah kepada kita sendiri, apakah kita mampu memperbesar anomali demikian untuk dapat melompat ke tata acuan yang baru. Ataukah kita sekadar mengindahkan nama-nama itu sebagai penyegar di haribaan sastra nasional yang begitu meninabobokan ini? Dan bila saya telah melihat lanskap tak senonoh, yang seperti lukisan Kelugasan Baru Otto Dix dan George Grosz, mungkin karena saya nekat melalui jalan setapak berduri yang tak digemari orang. Inikah jalan yang akan mengantar saya ke kaki langit yang lebih benderang—atau sekadar ke pinggir jurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO 44/XXXII 29 Desember 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-1908776852974779261?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1908776852974779261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1908776852974779261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/jalan-setapak-berduri.html' title='Jalan Setapak Berduri'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-4701686119641777202</id><published>2010-05-04T14:40:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T14:40:42.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nirwan Dewanto'/><title type='text'>Pinurbo dan Dinar</title><content type='html'>SETIAP akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilkan penulis unggul? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak ditulis dari segala penjuru: sebagian besar hendak mendedahkan sunyi, muram, duka, dan maut, sering kali diberat-beratkan. Kesengajaan untuk berbeda dari bahasa sehari-hari? Tidak. Para penyair muda usia itu masih menulis puisi-emosi (ya, istilah ini pernah dipakai Asrul Sani setengah abad lampau). Seakan masih di zaman romantik, mereka berburu lambang segila-gilanya, tanpa kontrol-diri. Amat tipis keterampilan mereka mengolah bangun dan metafor. Sajak-sajak mereka seperti gampang ambruk, lantaran pelbagai anasirnya tak saling menopang. Ketimbang menguasai bahasa, apalagi mencari ungkapan baru, mereka terpenjara kosa-kata dan kosa-bentuk para pendahulu mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah aneh kalau puisi tak merupakan puncak kesanggupan berbahasa. Namun begitulah kenyataannya. Mayoritas puisi kita abstrak dalam arti negatif: tidak sanggup menangkap apa yang konkret, yang dekat dengan nafsu dan daging, justru lantaran mengabaikan intelek dan keperajinan. Puisi yang tak sanggup menyegarkan bahasa. Bila penyair tidak lebih baik ketimbang pemamah biak atau pembuat kemubaziran, tidakkah lebih baik kita menyesali puisi? Untunglah kita masih bisa membaca para penyair cemerlang terdahulu, yang terus memberikan tenaga pada bahasa kita. Sebagian masih giat di gelanggang, bahkan terus memperbarui diri. Lebih penting lagi, masih ada Joko Pinurbo dengan kumpulan sajak &lt;i&gt;Pacarkecilku&lt;/i&gt; terbitan Indonesiatera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair kelahiran 1962 ini adalah antipoda puisi lirik sekaligus puisi protes. Ia berhasil membangkitkan bahasa sehari-hari dengan frasa yang terang sebagai alat puitik, sementara kebanyakan penyair hanya mendedahkan keruwetan (dan bukan kompleksitas) dengan kalimat patah-patah yang sering mengabaikan logika. Ia menertawai "aku" yang dalam puisi lirik kita sering didramatisasi demi apa yang disebut puisi suasana. Namun humor dan main-main dalam Pinurbo tidaklah murahan seperti dalam puisi &lt;i&gt;mbeling&lt;/i&gt;, misalnya, tapi berwatak subversif, ibarat cibiran iblis bagi umat yang suka berpura-pura serius dan suci ini. Berbeda dengan puisi lirik yang mengejar abstraksi, puisi Pinurbo bercerita dengan gamblang, tapi dengan aforisme yang mengejutkan di sana-sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinurbo berkisah tentang, misalnya, penjual buah, penagih utang, penjual akik, orang ronda, dan perias jenazah, tapi itu bukanlah potret sosial, melainkan alegori terhadap sesuatu yang kita akrabi, misalnya kehidupan dalam rumah atau kampung, peristiwa sosial, atau kisah kitab suci. Dengan memainkan bunyi dan repetisi, terasa pula Pinurbo tengah melakukan parodi terhadap para penyair pendahulunya. Bila puisi Pinurbo sepintas-lalu tampak mudah, sesungguhnya ia tak pernah segampang (dan semiskin) puisi protes: bagaimanapun ia sedang menusuk intelek dan moralitas kita. Jika kita merasa mengerti puisi Pinurbo, kita dengan suka mengejar realitas apa lagi yang ada di sebaliknya, sebab si penyair "terus mengembangbiakkan kata" tapi belum mendapatkan "kata yang bisa mengucapkan kita." Bila ada kekurangan Pinurbo, itu adalah kalimatnya yang kurang tajam, repetisinya yang sering berlebihan, dan kosakatanya yang kurang kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terelakkan, kita juga membaca cerita pendek yang terbit pada sekian banyak koran edisi Minggu dan pelbagai bunga rampai. Tapi saya sering bertanya kenapa lautan cerita pendek itu mesti ditulis bila tak mampu menyajikan kisah yang lebih memukau ketimbang reportase dan lebih basah ketimbang antropologi atau sosiologi? Mungkin para pengarang itu sekadar menjalankan rutinitas, atau lebih mulia lagi: mereka hendak memberikan komentar sosial, dengan mendedahkan tokoh-tokoh yang terkena tindasan dan berjuang membebaskan diri darinya. Tapi bukankah para kolumnis dan cendekiawan sudah berseru lebih lantang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga penulis cerita pendek yang bernafsu menggambarkan apa yang ajaib, yang fantastis, segala yang menyimpang dari hukum sosial dan sejarah. Barangkali inilah pengaruh realisme magis dari khazanah dunia, atau kelanjutan takhayul kuno yang kian hidup di masa kini (ingatlah tayangan sekian banyak kisah hantu di televisi kita). Namun, seperti para pembawa "komitmen sosial", mereka hanya mengolah tema secara mekanistik. Barang siapa sekadar memperalat kata, dia akan terbunuh oleh kata, demikianlah agaknya pendapat ini berlaku bagi sebagian prosawan kita. Ketimbang menyuguhkan dunia yang hidup mandiri, mereka lebih banyak menerangjelaskan. Kita sekadar bersiaga dengan setengah-hati meniti garis cerita ketimbang berkelindan asyik dengan pengalaman para tokoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita adalah pembaca yang sopan dan toleran, sehingga kita sanggup menganggap indah dan perlu apa yang sesungguhnya sedang-sedang belaka. Sesekali kita tersadar: sastra dunia menyerbu negeri kita, juga dalam bentuk terjemahan yang bagus, seperti yang diedarkan oleh Yayasan Akubaca. Itulah kecemerlangan yang membuat sastra kita tampak kusam, kedodoran, dan bahkan rudin. Kecuali segelintir saja, para penulis kita tampaknya tak menyerap apa-apa dari sana. Cukuplah mengandalkan bakat alam atau menengok rekan sebangsa. Ah, terlalu gampang di sini si penulis beroleh pengakuan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan mengeluh, Saudara. Seorang pecandu sastra seperti saya tak akan lelah mencari sebatang-dua jarum dalam tumpukan jerami. Di antara tak kurang dari 115 buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel yang terbit sepanjang 2002, saya menemukan novel Dinar Rahayu, Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch. Dengan heran-takjub saya menelisik bagaimana novelis-perempuan kelahiran 1971 ini begitu wajar menyajikan transeksualisme dan sadomasokisme. Dilucutinya selubung sehari-hari yang membuat kita orang paling hipokrit di dunia ini. Tapi kekuatannya bukan hanya itu. Dengan bahasa yang cerdas tapi sering dengan rumpang bisu di antara kalimat, ia juga mengocok waktu kejadian, menukar-nukar lingkungan masyarakat menengah-atas hari ini dengan dunia mitologi Skandinavia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, novel terbitan Pustaka Jaya itu mengandung sejumlah kelemahan. Misalnya saja, trauma para tokoh begitu dahsyat, begitu dibuat-buat, sementara hubungan di antara mereka tampak serba kebetulan. Juga terasa canggung di sana-sini campuran antara puisi dan bahasa jalanan, seni tinggi dan budaya pop. Dan kenapa pula novel Dinar selesai di titik saat justru pergolakan mesti berlanjut? Namun bahwa bahasa dan tata novel adalah pantulan dari kegilaan tokoh-tokohnya, itulah yang membuat Dinar layak diperhitungkan sejak hari ini, lebih dari kebanyakan penulis yang telanjur dikenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Pinurbo masih mendapat sejumlah penghargaan dan didiskusikan di lingkungan sastra, tak ada pengulas dan dewan juri yang tertarik kepada Dinar. Ah, terlalu berlebihan pula jika saya berharap kritik sastra bangun dari tidurnya. Bahkan kini mendapat esai yang bagus pun hampir mustahil. Sebagian besar esai, termasuk kritik seni yang mana pun, hanyalah pameran keruwetan dan kekosongan pikir dalam jargon semu filsafat dan teori mutakhir. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa para "pemikir" sastra dan seni kita tak membaca dengan baik, tapi berpamer-pamer saja dengan mode yang sering sudah kedaluwarsa? Tiba-tiba kita bisa sedikit lega: dua-tiga esais berusia tua masih belum pensiun, bahkan lebih tangguh dari yang lebih muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali ada juga pertengkaran di surat kabar dan internet, misalnya tentang "sastra koran" atau "sastra cyber" sebagai jenis sastra baru, tentang kelayakan empat jilid antologi Horison Sastra Indonesia suntingan Taufiq Ismail dan kawan kawan, tentang kenapa seorang penulis baru bisa terangkat tinggi-tinggi, tentang bagaimana jaringan pusat menguasai daerah. Tapi, bila pertengkaran demikian disebut polemik, masya Allah, itulah tanda bahwa orang sastra sudah berhenti berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan menyebut saya seorang pesimis yang tengah mencibir harta sendiri, sastra Indonesia? Sesungguhnya sastra bukanlah bidang yang bergerak iseng sendiri. Segenap cacatnya hanyalah puncak gunung es dari kemerosotan berbahasa di lingkungan mana pun. Merosot berbahasa: artinya memudar pula kemampuan kita berimajinasi, bergulat, meneliti, mencatat, menilai, menguji, dan mencetuskan-diri. Yang lisan mengalahkan tulisan, basa-basi menaklukkan apa yang rasional. Bukankah kesedang-sedangan, ketakcemerlangan, adalah hasil terbaik dari kondisi demikian? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo dan Dinar Rahayu menghibur seraya melukai kita. Menghibur: membuat kita percaya bahwa sastra Indonesia masih punya nyala cipta yang cukup besar, bahwa kegiatan merakit kata-kata adalah sarana mendasar untuk memecah kebekuan pikir. Melukai: ya, bila selama ini kita hanya mampu berpura-pura bahagia, menyalakan optimisme palsu, keduanya adalah sepasang pisau yang bisa membedah ke dalam gelap jiwa kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali juga keduanya mutiara yang, meski kilaunya tak terang benar, mampu menyelamatkan saya dari gambar buram budaya tulis-menulis sepanjang 2002. Demikianlah setiap tahun kita hanya mendapat terlalu sedikit karya unggul lantaran begitu banyak penulis sekadar menjalankan rutin mengelap-ngelap warisan kaum pendahulu, bernikmat-nikmat dengan ukuran dalam negeri. Namun marilah menyenangkan diri: bukankah puncak gunung hanya ada jika terbanding lembah dan dataran? Melalui Pinurbo dan Dinar, saya mampu melupakan mediokritas yang mengepung negeri saya. Tidakkah kini saya menjadi seorang optimis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nirwan Dewanto&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Ketua Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;TEMPO No. 44/XXXI 30 Desember 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-4701686119641777202?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4701686119641777202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/4701686119641777202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/pinurbo-dan-dinar.html' title='Pinurbo dan Dinar'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-2873196124367471215</id><published>2010-05-04T14:27:00.000+07:00</published><updated>2010-05-04T14:27:24.561+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Herman J. Waluyo'/><title type='text'>Celana, 2</title><content type='html'>Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana&lt;br /&gt;yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis&lt;br /&gt;seluk-beluk yang di dalam celana, sehingga kami pun&lt;br /&gt;tumbuh menjadi anak-anak manis yang penakut &lt;br /&gt;dan pengecut, bahkan terhadap nasibnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi&lt;br /&gt;membuat coretan dan gambar porno di tembok &lt;br /&gt;kamar mandi, sehingga kami pun terbiasa menjadi &lt;br /&gt;orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah loyo dan jompo, kami baru bisa berfantasi&lt;br /&gt;tentang hal-ihwal yang di dalam celana:&lt;br /&gt;ada raja kecil yang galak dan suka memberontak;&lt;br /&gt;ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi&lt;br /&gt;rahasia alam semesta;&lt;br /&gt;ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma;&lt;br /&gt;ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa&lt;br /&gt;dan pendoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, setelah berlayar mengelilingi bumi, Columbus &lt;br /&gt;pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam&lt;br /&gt;celana, dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Joko Pinurbo, 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam puisi di atas, penyair bermain-main dengan kata celana dan apa yang ada di dalam celana itu, yaitu alat kelamin (baik laki-laki maupun perempuan). Penyair mengkritik pendidikan di negeri kita yang kurang memperhatikan pendidikan seksualitas. Yang kita berikan/terangkan kepada anak-anak adalah apa yang terlihat di luar (celana), namun bukan pendidikan seksualitas yang sebenarnya (di dalam celana). Penyair menggambarkannya dengan larik ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana /  yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis / seluk-beluk yang di dalam celana. Akibat pendidikan yang keliru itu, anak-anak menyalurkan rasa ingin tahu mereka lewat kami suka usil dan sembunyi-sembunyi / membuat coretan dan gambar porno di tembok / kamar mandi, sehingga kami pun terbiasa menjadi / orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair mempunyai pandangan bahwa di balik celana setiap orang tersimpan banyak rahasia penting tentang manusia dan kehidupannya. Hal tersebut biasanya direnungkan oleh orang-orang yang sudah tua, loyo dan jompo. Mereka membayangkan bahwa “barang” yang ada di dalam celana mereka dapat menjadi raja kecil yang galak dan suka memberontak. Penyair juga menyatakan bahwa di dalam celana ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma. Di dalam celana itu ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa / dan pendoa. Larik ini bisa diinterpretasikan untuk para wanita penghibur yang alat kelaminnya sering “dikunjungi” oleh para pendosa (lelaki hidung belang), sedangkan untuk wanita baik-baik, alat kelamin mereka adalah organ yang dipergunakan untuk reproduksi sebagai salah satu karunia dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait terakhir menunjukkan bahwa sebenarnya seksualitas adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Hanya saja bagi masyarakat kita, seksualitas sering dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Lewat puisi ini, penyair ingin mengkritik sikap masyarakat yang telah menghambat perkembangan pendidikan seks untuk masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Herman J. Waluyo&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa&lt;/i&gt;, &lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-2873196124367471215?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/2873196124367471215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/2873196124367471215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/celana-2.html' title='Celana, 2'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-6197940293179099749</id><published>2010-05-04T14:21:00.001+07:00</published><updated>2010-05-05T11:28:35.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fhatul A. Husein - Sapardi Djono Damono'/><title type='text'>Sih Award 2002 dan Puisi Indonesia</title><content type='html'>(Khazanah - Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Desember 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIH Award 2002 akan dilaksanakan di Kota Bandung, tepatnya di CCF de Bandung, pada 15 Desember, pkl. 19.30 WIB, oleh Yayasan Puisi dan Yayasan Pengembangan Rupa Seni Indonesia (Studio Jeihan). Kelompok Actors Unlimited yang ditunjuk sebagai event-organizer telah menyiapkan serangkaian acara menarik dengan menam-pilkan pembacaan puisi oleh penyair Toto Sudarto Bachtiar, Ramadhan KH, Saini KM, Sapardi Djoko Damono, Remy Silado, tiga penyair terpilih, deklamator Yayat Hendayana, Remy Silado, Jajang C. Noer, serta Sarikat Keroncong dan musikalisasi puisi oleh Ferry Curtis. Untuk mengetahui lebih jauh tentang SIH Award, berikut ini petikan wawancara Fathul A. Husein dengan Prof. DR. Sapardi Djoko Damono sebagai salah-seorang pemrakarsa dan penanggung jawab acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa sebenarnya SIH Award itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini. Kami kan memunyai jurnal, Jurnal Puisi namanya, terbit triwulanan, yang memuat puisi dan segala sesuatu mengenai puisi. Kami sebenarnya tidak mampu menerbitkan itu, tapi dibantu oleh beberapa teman dari Yogya. Kemudian, karena kami tidak memunyai dana ya kami tidak bisa memberikan hadiah seperti radio, misalnya, ha, ha,ha....Kemudian kami pikir bagaimana kalau setiap tahunnya diberikan hadiah kepada para penyair yang sajaknya dimuat dan dianggap terbaik. Kebetulan Jeihan bersedia membantu di bidang itu. Lalu kami cari-cari nama ke sana ke mari dan akhirnya ya sudah deh yang itu saja, singkat, ya "Sih" Award. Sih itu 'kan dalam bahasa apa pun artinya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SIH Award memilih tiga penyair terbaik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya kalau memang jurinya menganggap tidak ada tiga ya tidak apa-apa. Sebenarnya begitu dan juri itu kami minta berpindah-pindah. Tahun lalu SIH Award pertama di Yogya, ya juri-jurinya juga teman-teman dari Yogya. Sekarang di Bandung, ya kami minta Pak Saini, Pak Ramadhan, dan Pak Toto untuk menjadi juri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Para juri itu di luar dewan redaksi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, kami memang memunyai policy demikian. Para juri memang kami minta dan bukan anggota redaksi. Anggota redaksi tidak boleh campur tangan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang Yayasan Puisi sendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Puisi itu anggaplah sebagai motornya, yang mencoba memberikan perhatian terhadap segala sesuatu yang ada kaitannya dengan puisi. Sebenarnya yang paling penting di Indonesia ini 'kan tidak ada jurnal khusus mengenai puisi. Puisi itu hanya dititip-titipkan saja, di media-media, bahkan di majalah-majalah kebudayaan pun sebetulnya sastra itu lebih banyak cerita-cerita pendek dan esei. Puisi itu hanya diberi tempat sedikit. Kadang-kadang diselip-selip kalau ada ruang kosong. Kami menganggap sudah waktunya menerbitkan sebuah jurnal yang khusus puisi. Saya tidak tahu mungkin dulu juga pernah ada, tapi menurut hemat saya ini mungkin satu-satunya, yang pertama. Moga-moga bisa berlangsung terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seni-seni Indonesia yang lain pun barangkali sudah waktunya pula memunyai jurnal tersendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya 'kan ada juga yang sesudah itu menerbitkan jurnal khusus cerpen di Yogya. Ada teman yang mengatakan bahwa ilhamnya itu dari Jurnal Puisi. Saya tidak tahu seberapa jauh, tapi ada. Tapi sebenarnya kalau jurnal cerpen pada tahun 50-an sudah ada. Yang ingin kami lakukan itu kegiatan penerbitan sebuah jurnal puisi yang berkelanjutan. Kami sangat mengharapkan bantuan dari berbagai pihak karena memang tidak ada uangnya jurnal puisi itu. Tapi saya pikir ini penting dan majalah seperti itu memang harus ditunjang oleh dana masyarakat karena tidak sama dengan majalah-majalah yang bisa dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Arah penting yang hendak dituju?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya jurnal barangkali 'kan orang kemudian bisa memunyai semacam pegangan meskipun di tempat lain juga ada, tetapi kami ingin membuat warna yang khas, siapa tahu Jurnal Puisi kami itu nantinya bisa memberikan sumbangan kepada perkembangan puisi Indonesia. Tapi di samping itu juga sebenarnya tidak hanya penerbitan yang sudah kami lakukan, kami juga pernah merekam musikalisasi puisi yang beberapa lagunya katanya diputar di radio-radio swasta di Bandung, Yogya, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejauh ini fenomena perpuisian seperti apa yang bisa Anda amati melalui kaca mata Yayasan Puisi atau Jurnal Puisi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Maksud kami itu sebenarnya untuk menjaring keinginan, kemauan, dan niat dari para penyair kita itu untuk berinovasi, menciptakan sesuatu yang baru, untuk membuat eksperimen di dalam puisi. Karena kalau tidak, puisi itu akan macet, berhenti di situ dan begitu-begitu saja. Kami menginginkan itu meskipun sekarang memang belum terasa betul. Misalnya yang memenangkan hadiah tahun lalu itu, Saudara Joko Pinurbo, memang memberikan warna yang sama sekali baru dalam puisi Indonesia. Kami mengharapkan itu terus terjadi setiap tahunnya sehingga Jurnal Puisi itu akan ya ditoleh oranglah, dilirik orang sebagai wadah bagi perkembangan puisi Indonesia mutakhir atau usaha untuk eksperimen perpuisian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selaras dengan keniscayaan tuntutan zaman yang selalu rindu pembaruan atau karena hakikat seni itu sendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya kira yang terakhir itu yang betul. Hakikat seni itu memang harus begitu, pencaharian terus-menerus. Jadi tidak ada seni yang jalan di tempat. Jalan tapi di tempat, artinya kita terus menganjurkan karya seni, tapi tidak ada usaha untuk melakukan inovasi, pembaharuan, atau hal-hal yang eksperimentatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam karya Joko Pinurbo, kebaruan apa yang bisa Anda cermati dibandingkan dengan karya-karya penyair sebelumnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wah susah menjelaskannya, panjang lebar, tetapi saya kira memang dalam puisi-puisi yang dihasilkan Joko Pinurbo itu ada suatu usaha untuk mempergunakan, meminjam istilah Ignas kleden, "tubuh sebagai suatu alat ucap". Kalau dalam sajak saya, Goenawan, Taufik, Rendra, misalnya, itu 'kan alam yang dipergunakan sebagai alat ucap. Tapi kalau si Joko ini justru tubuh yang dipergunakan. Misalnya tangan atau..."burung", ha,ha, ha, dan segala sesuatu yang jadi anggota tubuh itu dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menjadi alat ucap yang khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menandai semacam "gerakan" sastra apa kira-kira?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bukan gerakan saya kira. Dia itu menggunakan suatu cara pengungkapan yang mungkin orang lain dulu tidak pernah mau mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Gerakan" semiotika tubuh 'kan sekarang sangat populer di kalangan para perupa, khususnya, yang kemudian tampil sebagai seniman performance?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya moga-moga sejalan. Cuma yang saya lihat dalam sastra ya Joko ini yang betul-betul memanfaatkan itu dengan sangat baik, artinya tidak sekadar bermain-main. Puisi Joko ini 'kan sebenarnya puisi yang sedikit banyak dipengaruhi oleh puisi mbeling, tetapi dia tidak sekadar mau melucu, dia mau menyatakan sesuatu yang sungguh-sungguh, yang dasar dalam kehidupan kita, dengan cara ya itu tadi menggunakan hal yang lucu sekali. Judulnya saja misalnya "Di Bawah Kibaran Sarung". Itu 'kan khas nuansa mbeling-nya, kuat, tetapi dia tidak sekadar mau mbeling saja. Ada nilai di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perbedaan penting puisi-puisi zaman Anda dengan generasi sekarang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya perbedaan cara itu, penggunaan kosa kata, imaji, simbol, itu sudah berbeda jauh. Saya tidak bisa bikin puisi dalam gaya Joko Pinurbo yang mbeling itu, ha,ha...saya tidak akan mampu. Tapi Joko dengan angkatannya ini dengan tenang saja gitu. Misalnya Dorothea, perempuan penyair itu, dia berani sekali dengan masalah-masalah moral, seks, hubungan suami istri, itu diterjang begitu saja, sedangkan dulu tidak ada yang begitu. Ini sangat menyenangkan bagi saya.&lt;br /&gt;Inilah yang harus ditampung oleh sebuah jurnal yang turut memikirkan puisi. Sebab kalau tidak, misalnya dilempar ke tempat-tempat lain, itu bisa ditolak karena jurnal-jurnal yang lain itu misalnya ada hubungannya dengan ideologi, agama, atau politik tertentu. Mudah-mudahan Jurnal Puisi ini tidak pernah begitu ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pergolakan tematik mereka bagaimana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyair-penyair muda itu sangat terbuka menggarap berbagai masalah mulai dari masalah sosial yang sangat ribut itu sampai masalah spiritual yang sangat dalam dan tajam yang dulu tidak pernah ditempuh. Kalau Chairil Anwar atau Rendra menulis seperti itu, 'kan berbeda sama sekali baik bahasanya maupun apa yang mau diungkapkannya. Jadi kalau Rendra dibandingkan dengan Joko Pinurbo atau Jeffrey Alkatiri misalnya, yang dulu memenangkan penulisan naskah puisi, itu lain sama sekali. Jeffrey menulis puisi dengan cara yang sangat unik. Joko juga, Dorothea juga atau Nenden Lilis. Masing-masing mereka punya ciri khas yang oleh kami-kami dulu itu tidak pernah diperhatikan. Mereka lebih luas dan lebih mendalam, tapi yang jelas ada kesinambungan antara berbagai generasi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ke depannya bagaimana langkah Yayasan Puisi itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kami juga ingin mengumpulkan buku-buku puisi karena kami ingin yayasan kami memunyai koleksi buku puisi yang sangat lengkap dan kami sangat berterima kasih kalau para penyair sudi memberikan satu-dua eksemplar buku puisinya untuk kami simpan. Kami 'kan tidak memunyai dana, ha,ha,ha..., tapi saya siap menggunakan rumah saya untuk kegiatan itu nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Semacam museum puisi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ha,ha,ha....Ya mudah-mudahan ke depannya setelah saya dan teman-teman tidak ada. Itu bisa dilanjutkan oleh yang muda-muda.&lt;br /&gt;Apakah spektrumnya akan diperluas tidak hanya puisi Indonesia?&lt;br /&gt;Ya pokoknya mencakup puisi-puisi yang berbahasa Indonesia dan Melayu. Nanti pada nomor depan itu ada dua penyair dari Malaysia dan mereka berjanji akan mengirim lebih banyak lagi penyair dan puisinya. Juga nanti dari Singapura, dari daerah Patani (Thailand), dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tantangan utama untuk mewujudkan keinginan Anda dan Yayasan Anda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tantangan satu-satunya sebetulnya ya dana. Kalau keinginan, luar biasa. Dalam hal ini kebetulan ada janji dari Jeihan untuk membantu menerbitkan puisi yang menang tiap tahunnya menjadi buku antologi, selain pemberian hadiah, lencana, dan plakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Fhatul A. Husein)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-6197940293179099749?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6197940293179099749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/6197940293179099749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/sih-award-2002-dan-puisi-indonesia.html' title='Sih Award 2002 dan Puisi Indonesia'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-8959400925192683040</id><published>2010-05-04T14:06:00.001+07:00</published><updated>2010-09-14T15:22:16.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bambang Sigap S.'/><title type='text'>Joko Pinurbo, Puisi Celana dan Kuburan</title><content type='html'>(KOMPAS, Selasa, 28 Januari 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LALU ia ngacir, tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya, hanya untuk menanyakan, "Ibu, kau simpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?". Celana dan kuburan, di tangan Joko Pinurbo, menjadi rangkaian kata yang tersatukan. Ia membongkar makna kata dan menghidupkan makna baru lewat hal yang sepele dan seram, seperti celana, vagina, ranjang, kuburan, ziarah, dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah caranya dalam puisi Atau di kumpulannya terbaru (tahun 2002), Pacarkecilku. Penggalannya, Ketika saya akan masuk ke kamar mandi dari balik pintu tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih menodongkan pisau ke leher saya. "Pilih cinta atau nyawa?" ia mengancam,... "Pilih perkosa atau nyawa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, 'perempuan' yang 'cantik' dan 'bergaun putih', menodongkan pisau, ingin memerkosa dan eee.., kok di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dunia penyair; membangun dunia imajinasi yang tak mungkin dibayangkan oleh para ilmuwan dan ekonom, namun ternyata masih kalah dengan ilusionis terkenal. "David Copperfield (sang penyulap itu) membangun dunia beyond imagination yang melampaui imajinasi penyair," kata Faruk HT dalam buku Beyond Imagination, Sastra Mutakhir dan Idelogi. Yang terakhir ini gara-gara penyair Sutardji CB membuat puisi David Copperfield, Realitas '90. Sampai tingkat tertentu, apa yang diperbuat Joko juga sudah menyentuh beyond imagination, sesuatu yang di luar bayangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko baru panen penghargaan. Ia menerima Hadiah Sastra Lontar 2001 untuk buku puisi Celana, Sih Award 2001 untuk trilogi puisi Celana 1, 2, 3, Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002 untuk buku puisi Di Bawah Kibaran Sarung dan Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2002 untuk buku puisi Pacarkecilku. Ia mengikuti berbagai forum sastra, antara lain Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Overzee di Jakarta tahun 2001, dan Festival Sastra Winternachten di Belanda tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair berdarah Jawa ini lahir (tahun 1962) di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, dari keluarga guru sekolah dasar yang menetap di tlatah Sunda tersebut. Sulung dari lima bersaudara ini menamatkan SD-nya di sana dan melanjutkan studi ke Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pengaruh bahasa Sunda pada puisinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak menguasai satu pun bahasa daerah secara baik. SD dapat bahasa Sunda, SMP di Yogya, dan pendidikan Seminari Mertoyudan di Magelang yang heterogen, lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Saya tak bisa memainkan bahasa daerah (Jawa) sefasih Linus Suryadi AG misalnya, dengan idiom-idiomnya. Nah, itu problem," cetus suami dari seorang guru SMP bernama Nurnaeni ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisinya banyak menyoroti ranjang atau kamar mandi. Ternyata itu erat berhubungan dengan sejarah kehidupan yang sarat dengan penyakit yang hampir merenggut nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak kecil saya ini sakit-sakitan, bronkhitis dan tipus berbarengan lama sekali dan dikira hampir mati, aku (ketika diwawancara, ia memakai kata aku dan saya bergantian) merasa rada sensitif terhadap tubuh dan perasaan. Lalu lebih banyak merenung tentang tubuh dan sekitarnya, misalnya, tentang kamar mandi, ranjang, dan semua yang masih berhubungan dengan ekologi tubuh," ungkap bapak dari Paska (10) dan Azalea (8) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Joko kebanyakan dimulai dengan hal-hal kecil yang tak dimaksudkan untuk memaknai suatu gejala sosial, serta kata yang dekat dengan wilayah mistis. Sejak sakit ia tertarik pada kuburan, yang baginya semula mengerikan, tetapi kemudian menjadi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang disebut pengalaman mistis itu sering saya alami. Kalau aku menulis puisi itu, sering ada sosok anak kecil laki-laki di samping saya, ia menangis malam-malam," tuturnya. Joko tidak mencoba mengasah kepekaan mistisnya itu secara khusus, atau memasuki komunitas yang mempercayai hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangannya terhadap masa kecil melukai sekaligus memberinya semangat untuk terus menggugat dan menulis. Pengalaman itu mengajarkan, dulu ia hampir mati, ternyata bisa bertahan hidup. Ia mempelajari puisi Indonesia, dan menemukan bahwa tidak ada yang memperhatikan celana atau kamar mandi. "Kalaupun ada, dipakai sekadar tempelan, belum ada yang mendiskusikan secara khusus," kata penyair lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP (kini Universitas) Sanata Dharma tahun 1987 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliru kalau kita berharap memperoleh romantisme keindahan alam atau kemolekan tubuh wanita dalam pusinya. Dalam kumpulan Di Bawah Kibaran Sarung, kadang ia mengalihkan lanskap alam ke tubuh, bahwa tubuh itu seperti juga alam; suatu saat subur, lalu meranggas. Tetapi, pembaca tak akan mendapatkan tubuh yang sempurna, yang menuturkan dengan tuntas sebuah keindahan. Joko biasanya lantas kembali ke pengalaman tubuh yang sejak kecil sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puisi saya tak ada yang sifatnya kebetulan. Intuisi itu penting, tetapi selebihnya olah pikir. Saya agak menolak dunia puisi seakan-akan dunia magis dan dunia intuisi," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kumpulan puisi, terutama sebelum tahun 1995, puisi Joko tak beda dengan penyair yang lain, mendayu-dayu penuh dengan romantisme. Joko sadar, kalau ia hanya mengolah kata semacam itu, ia tidak akan menjadi apa-apa. Kemudian ia mengolah pengalaman masa kecil dengan kreatif, termasuk menemukan gaya penuturan yang familiar komunikatif. Ciri lainnya, substansi puisinya tak ingin menyembunyikan misteri makna, meskipun maknanya tetap misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko mengaku terkesan dengan berbagai karya Linus Suryadi AG yang mengambil humor dan kekonyolan hidup sehari-hari. "Aku sangat terkesan dengan puisinya yang berjudul Kali Progo. Aku sangat terpengaruh, hidup itu mengalir sajalah, tidak usah ngoyo," ujar Joko, yang bakatnya "ditemukan" pertama kali oleh Linus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko mulai menulis sejak di SMU. Mungkin seandainya didukung fasilitas dalam keluarganya, ia bisa memulainya lebih pagi. Waktu kecil ia sudah senang bermain fantasi, punya kebiasaan menulis di awang-awang, lalu dituangkan di lembaran kertas sembarangan. Bakatnya mulai terdorong keluar, ketika di seminari mendapat berbagai provokasi. Ia kadang lebih mendahulukan kesenangannya menulis daripada mendengarkan pelajaran. Ia berterima kasih kepada Kardinal Darmaatmadja SJ, yang mendesaknya agar menekuni bidang sastra dan kemudian mencarikan bea siswa agar bisa melanjutkan studinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pertumbuhan Joko di jagat Yogyakarta dikepung madzab besar yang diciptakan penyair semisal Goenawan Mohammad atau Sapardi Djoko Damono. Sangat sulit melepaskan dari belitan "kekuasan" mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau soal produktivitas, penyair Indonesia luar biasa. Namun, bertahan dalam jangka waktu lama untuk tekun dan berusaha menemukan 'bahasa' sendiri itu berat. Saya hampir putus asa. Sebelum Celana terbit, saya, ya, mengulang-ulang para penyair sebelumnya, untung saya punya kesabaran dan kegigihan sendiri," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bisa lepas dari pengaruh penyair senior, Joko bahkan membuat “bagan” atau “peta” kepenyairan Indonesia yang berisi gaya, tema, dan keunggulannya. "Saya studi benar tentang mereka. Mereka itu mulai dari Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Rendra, Gunawan, Sapardi, dan Sutardji, itu yang pokok. Ketika peta itu sudah jadi, saya bertekad untuk keluar dari kungkungan mereka. Penyair yang baik itu bisa menyerap ilmu mereka, namun mampu mempunyai langgam sendiri," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengekplorasi tema-tema remeh seperti celana, Joko merasa bukan sekadar mengulang gaya mereka yang sudah mapan itu. Apa sih kepuasannya sebagai penyair?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, gimana ya. Secara material, ya tidak, malah nombok. 25 tahun aku menyair, apa yang diterima? Meskipun aku dapat berbagai penghargaan, hadiahnya kan tidak spektakuler. Yang membuat aku puas itu, aku bisa ikut dalam berbagai peristiwa internasional. Bahasa Indonesia yang dikatakan miskin, ternyata bisa juga menjadi alat ungkap yang luar biasa. Karena itu aku akan setia dalam jalur ini, belum tertarik dengan prosa," ungkap Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Bambang Sigap Sumantri)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-8959400925192683040?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8959400925192683040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8959400925192683040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/05/joko-pinurbo-puisi-celana-dan-kuburan.html' title='Joko Pinurbo, Puisi Celana dan Kuburan'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-5293560491157535575</id><published>2010-03-25T07:56:00.007+07:00</published><updated>2010-05-05T11:05:43.161+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M. Taufan'/><title type='text'>Puisi: Kehendak Berkuasa, Sublimasi, dan Gnosis</title><content type='html'>&lt;small&gt;&lt;b&gt;M. Taufan&lt;/b&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar sastrawan, penciptaan karya seni adalah semacam momentum, dimana batas-batas kemapanan ditembus melalui jalan-jalan penuh bahaya dan terjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu disebabkan karena daya cipta haruslah memunculkan kebaruan-kebaruan yang menukik kepada diri, diri yang hendak dibesarkan. Diri yang hendak menuntut pengakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan semacam kisah tragis melewati sebuah bentangan tali diantara dua tebing jurang, berjalan berbahaya, menoleh berbahaya, diam dan mundur apalagi, penyair kemudian memilih untuk berjalan dengan harmonisasi langkahnya menuju satu sisi tebingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yesus itu anak jadah.&lt;br /&gt;ia tak pernah tahu apakah ia pernah sungguh-sungguh mencintai ayahnya.&lt;br /&gt;(“Pada Suatu Malam”-Sapardi Djoko Damono-Antologi Hujan Bulan Juni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah seperti penggalan sajak Sapardi itu, puisi bukan semata-mata kritik atas kemapanan agama misalnya, tetapi menjungkirbalikan bahasa yang terbit pada kehendak diri, kehendak berkuasa atas teks, hasil renungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian merasa percaya kepada Al Ghazali tentang adanya dua sisi (Muhkamat dan Mutasyabihat) realitas kehidupan yang diceritakan ayat suci, dimana satu sisinya tak begitu saja dapat dengan mudah dipahami. Orang awam menurutnya tak perlu di beritahukan tentang satu sisi ini, dikhawatirkan justru akan tersesat pada teks yang bukan jangkauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus itu anak jadah, kata Sapardi, sebetulnya apa bedanya dengan Dipati Karna yang bermusuhan dengan Pandawa Lima, anak hasil persetubuhan dewi kunti dengan dewa cahaya, yang dengan kejadahannya justru menggugat kemapanan pandawa dari bapak seorang manusia?. Begitulah sejatinya kejadahan Yesus juga menggugat, mengenduskan revolusi secara lembut kepada budaya pharaoh di jamannya, namun Yesus bak sufi yang anggun, sehingga penggugatan itu semacam penafian egoisme dirinya menjadi ketakpuasan terus menerus atas cinta yang ia persembahkan pada Ayahnya, Sang Ada, yang hidup di alam supera realitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemaparan itu tak berarti bahwa penggalan puisi diatas menjadi bebas nilai dari berbagai kalangan, terutama kalangan agama. Sapardi tetap memperhitungkan jalan tragis yang dilangsungkan dalam upacara penciptaan sajaknya, kalau tak begitu sajak seolah kehilangan nyawanya: kontroversi-kontroversi sebagai nilai besar kehendak berkuasa atas teks, yang memanggil sang-aku ditengah hiruk pikuk sejarahnya sebagai seorang penyair…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga dikenalkan misalnya dengan puisi Joko Pinurbo tentang hari paskah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Celana Ibu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria sangat sedih menyaksikan anaknya&lt;br /&gt;mati di kayu salib tanpa celana&lt;br /&gt;dan hanya berbalutkan sobekan jubah&lt;br /&gt;yang berlumuran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit&lt;br /&gt;dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang&lt;br /&gt;ke kubur anaknya itu, membawakan celana&lt;br /&gt;yang dijahitnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paskah?” tanya Maria.&lt;br /&gt;“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan celana buatan ibunya,&lt;br /&gt;Yesus naik ke surga.&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita parodi puisi Joko Pinurbo ini tidak ringan. Ia mengumpulkan banyak energi apa yang disebut Umberto Eco sebagai aeropaghite, bahwa kebenaran sejatinya dapat di terangkan melalui antitesisnya. Oleh karenanya puisi Jokpin melalui pembakaran ganda (double-firing) dalam perenungannya, raihan roh yang sudah berhasil menjangkau hakikat kemudian direduksi pada sesuatu keringanan: tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah kuasa Jokpin atas teks menjadi unik. Seperti mobil teknologi modern double-firing maka sajaknya melesat dalam kecepatan tinggi, tawa yang dihadirkan itu semacam pisau bedah super tajam mampu menjangkau jantung puisinya untuk pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan menyaksikan dua pembaca dalam puisi jokpin, pembaca yang terlena dalam tawa, dan pembaca yang memanfaatkan tawa sebagai obat ampuh dalam menelisik makna yang dikandung. Dan kelas pembaca terakhir jumlahnya lebih sedikit dari yang disebutkan pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi-pagi sekali Maria datang&lt;br /&gt;ke kubur anaknya itu, membawakan celana&lt;br /&gt;yang dijahitnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbolisasi celana apa sebetulnya yang hendak disampaikan Jokpin?. Saya merasa jokpin sudah berhasil meneruskan apa yang tadi diawal disampaikan oleh Sapardi, bahwa Maria yang umur hidupnya lebih panjang dari Yesus sendiri telah merenda celana Yesus, bahwa kekuasaan atas dunia itu perlu, bahwa kemenangan atas peristiwa itu keharusan. Daya cipta Maria atas celana dalam puisi Jokpin adalah tanda dari kedigdayaan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apa yang hendak dilakukan penyair dengan puisi adalah menciptakan kebaruan-kebaruan yang muncul dari luar lingkaran tradisi, bahkan dari modernitas itu sendiri. Untuk kuasa dirinya atas teks, atas pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan itu kerja cipta penyair adalah melalui jalan bahaya, jalan mutashabiyat. Dalam dunia sufi jalan ini di refleksikan menjadi jalan “salah” atau kalandar, jalan yang menutupi kesan baik atas makna yang ditampilkan, menghindari ujub atas kesalehan yang telah menjangkau kepada kebenaran tetapi ditumpahkannya pada kehendak berkuasa atas kerja seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih spiritual itu ada pada titik tengah lingkaran kehidupan, penyair malah berlari menjauhinya, menembus pekat tanah, dari akar sebuah pohon yang menjulang ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semacam logika kotak sianidanya Schrondinger, bahwa tanpa pengamatan dan berdirinya cahaya, toh kehidupan itu tetap berlangsung. Kebenaran ada karena hadir sang buruk, sang buruk adalah manifestasi dari kebenaran itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari spirit ini Harie Giebs hadir dengan sajak-sajaknya yang berwarna kalandar. Ia menampilkan kebenaran dari sisi gelapnya. Ia bicara seksualitas, amoralitas, dan mekanisasi sains dalam bentuknya yang unik. Keliaran itu kemudian mencapai puncaknya ketika Giebs berbicara Tuhan dengan gemilang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau, perempuan yang belum selesai. Payudaramu masih imaginatif. Vaginamu masih dalam ketakketerbatasan materi. Manifestasi empiris yang belum aku proyeksikan dengan titik. Tanda-tanda”. (Aku, dalam tiga puisi: Aku, NY dan Aku dan NY) Kata Giebs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa simbolitas yang liar itu telah mengantarkan kita kepada realitas sejati. Pada titik, titik spiritual yang kembali menorehkannya pada tanda-tanda, sebagai derivasi ayat-ayat suci Tuhan dalam sekumpulan benda kosmologi terspritualisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jokpin telah berhasil merentang makna pada urat tawa, Sapardi pada pembongkaran dogmatis, maka Giebs pada unsur seksual itu. maka ketiganya telah berhasil melepaskan ketertindasan dari kekuasaan teks. Kekuasaan teks yang ada secara turun-menurun dipertanyakan, dinilai kembali, di benturkan dengan realitas, maka yang muncul adalah kekuasaan atas teks. Dari sana mereka telah keluar dari labirin skriptural ayat suci demi kekuatan yang tumbuh, sehingga menjelma menjadi manusia-unggul (insan kamil), sebagai refleksi dari ayat suci yang mereka yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini jelaslah bahwa karya seni apapun bentuknya adalah bentuk aktualisasi diri, syiar dan tasbih, (Kuntowijoyo-Muslim Tanpa Masjid) lalu mendapatkan momentumnya: Kehendak berkuasa, sublimasi dan gnosis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu essai pendek ini akan diakhiri dengan sebuah pertanyaan kritis Sang Maestro seni kaligrafi Indonesia, Pak AR:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejaumana karya seni Agamis dapat membawa umatnya kepada keimanan?, atau secara spesifik misalnya: Sejauhmana puisi Islam dapat membuat orang jadi bertambah keimanannya?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Cikarang, 7 Februari 2010&lt;/div&gt;Sumber: facebook&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-5293560491157535575?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5293560491157535575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5293560491157535575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/03/puisi-kehendak-berkuasa-sublimasi-dan_25.html' title='Puisi: Kehendak Berkuasa, &lt;br/&gt;Sublimasi, dan Gnosis'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-1105104664714366696</id><published>2010-03-09T12:24:00.008+07:00</published><updated>2010-05-05T11:06:16.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Caray'/><title type='text'>Kajian Semiotik Riffatere Puisi “Celana Ibu” Karya Joko Pinurbo</title><content type='html'>Puisi terlahir dari setiap makna yang tersembunyi dalam setiap kata-kata yang terangkai di dalamnya. Puisi yang terbungkus kata-kata yang indah dapat dikupas melalui beberapa pendekatan. Misalnya dengan menggunakan kajian semiotik Riffatere. Dalam memahami makna puisi tidaklah dengan tiba-tiba melainkan melalui proses yang panjang. Dalam melihat karya sastra, makna tersebut akan muncul ketika pembaca telah memberikan makna pada karya sastra itu. Hal ini berkaitan dengan semiotika menurut Dick Hartoko (1984:42) yakni bagaimana karya sastra itu ditafsirkan oleh para pengamat dan masyarakat lewat tanda-tanda atau lambang-lambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menciptakan suatu karya sastra, pengarang jelas memanfaatkan semiotika dalam karya sastranya. Seorang pengarang pastilah menggunakan bahasadalam menuangkan ide-idenya, karena bahasamerupakan sistem tanda. Jadi dalam semiotika melibatkan tanda atau lambang yang kemudian ditafsirkan oleh masyarakat atau pembaca. Dalam perkembangannya semiotik dikembangkan menjadi disiplin ilmu tersendiri. Salah satunya oleh Michael Riffatere. Ia menganggap bahwa puisin berbicara mengenai suayu hal dengan maksud lain, dan yang menentukan makna suaru karya sastra adalah pembaca secara mutlak. Yakni berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca. Pembaca haruslah mempergunakan segala kemampuan dan pengetahuannya untuk menentukan apa yang relwvan dengan fungsi karya sastra itu. Kajian semiotik Riffatere ini mencoba menemukan makna yang utuh dan menyeluruh dalam sebuah bangunan wacana puitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami puisi “ Celana Ibu “ dengan menggunakan kajian semiotik Riffatere ini tentu tidak hadir secara tiba-tiba melainkan melalui proses yang panjang, yakni melalui tahap-tahap diantaranya : pembacaan heuristik yaitu pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik atau tiruan alam yang membangun arti yang berserakan. Kajian ini didasarkan pada pemahaman yang lugas berdasarkan denotatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi “ Celana Ibu “ karya Joko Pradopo ini cukup menimbulkan suatu pemikiran ada makna yang tersembunyi di balik judul yang tentunya sang pengarang tidak sis-sia memberikan judul tersebut. Dilihat dari kata yang lugas itu, kita ketahui bahwa ‘celana’ merupakan nama dari suatu benda yang memiliki fungsi tertentu. Juga merupakan benda yang dipakai seseorang sebagai pelengkap pakaian. Sedangkan ‘ibu’ (1) sebutan untuk seorang wanita yang telah memiliki anak (2) sebutan seorang anak kepada wanita yang telah melahirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maria sangat sedih menyaksikan anaknya” merupakan penggambaran perasaan maria yang kalut melihat kematian yesus anaknya. Kata maria adalah seorang wanita yang telah melahirkan yesus.’ Sangat sedih’ menggambarkan perasaan sedih yang mendalam. ‘menyaksikan’ berarti melihat anaknya, menunjukan anaknya kepunmyaan atau berarti anak Maria. “ Mati di kayu salib tanpa celana “ merupakan penggambaran dari terbunuhnya Yesus yaitu dengan cara penyaliban. Dalam proses penyaliban Yesus diceritakan tidak memakai celana hanya sehelai kain yang menutupidaerah vitalnya. Kata ‘mati’ artinya meninggal, tewas, atau saat dimana ruh menunggalkan jasadnya. ‘di’ menunjukan tempat (berada), ‘kayu salib’ berarti tiang yang terbuat dari kayu tempat dibunuhnya Yesus. ‘tanpa’ berarti tidak, ‘celana’ berarti benda yang biasa dipakai seseorang untuk menutupi daerah perut ke bawah. “dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah” merupakan penjelasan bahwa pada saat penyaliban Yesus tidak memakai pakaian (setengah telanjang) hanya berbalutkan kain yang menutupi daerah vitalnya yang telah berlumuran darah karena Yesus di tombak. ‘dan’ merupakan kata penghubung dari kata sebelumnya, ‘hanya berbalutkan’ berarti sekedar dibalut atau ditutupi, ‘ sobekan ‘ berarti hasil dari menyobek, ‘jubah’ merupakan pakaian yang biasa dipakai oleh raja-raja, ‘yang berlumuran’ berarti kata yang menerangkan sesuatu yang dipenuhi dengan sesuatu (darah). ‘darah’ merupakan cairan berwarna merah yang terdapat dalam tubuh manuisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit” merupakan penjelasan bahwa tiga hari setelah kematiannya Yesus diceritakan bangkit kembali. ‘ketika’ berarti saat, ‘tiga hari’ merupakan keterangan waktu yang menunjukan rentang waktu. ‘kemudian’ menunjukan kata penghubung yang berarti waktu yang akan datang, ‘Yesus’ yaitu orang yang dianggap Tuhan oleh umat Kristiani, ‘bangkit’ berarti bangun, hidup kembali.&lt;br /&gt;“berdiri dari mati” kalimat ini sangat ambigu untuk dipakai secara harfiah. Kata ‘berdiri’ berarti dalam keadaan tidak duduk, ‘dari’ yakni kata yang menunjukan asal tempat, ‘mati’ berarti tidak bernyawa, meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“pagi-pagi sekali Maria datang ke kuburan anaknya itu” kalimat tersebut m,enggambarkan suasana di pagi hari saat Maria datang ke kuburan Yesus. Kata ‘pagi-pagi’ berarti menunjukan waktu (pagi hari), ‘Maria’ merupakan ibu dari Yesus, ‘datang’ berarti hadir, ‘ke kuburan’ menjelaskan bahwa menuju suatu tempat biasa dikuburnya seseorang, ‘anaknya’ berarti kepunyaan (anak milik Maria/Yesus), ‘itu’ menunjukan pada suatu objek (Maria).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“membawakan celana yang dibuatnya sendiri” kalimat tersebut terasa ambigu, apa arti yang sebenarnya atau yang dimaksud? Kata ‘membawakan’ bearti sengaja dibawa. ‘celana’ telah disebutkan sebelumnya. ‘yang’ merupakan kata penghubung, ‘dibuatnya’ menunjukan pada pekerjaan yang dilakukan oleh maria, ‘sendiri’ berarti seorang diri atau tidak dengan siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“paskah”? tanya Maria” kalimat ini terasa ambigu untuk dipahami. Kata ‘paskah’ (1) berarti pertanyaan Mari kepada Yesus, apakah celana yang diberikannya cukup atau tidak. Kata itu juga memunculkan arti yang lain yaitu hari kebangkitan Yesus dalam agama Kristen di sebut hari Paskah. Jadi terdapat hubungan yang sulit untuk dijabarkan dalam artian yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pas sekali bu” jawab Yesus gembira, kalimat tersebut menunjukan jawaban Yesus kepada ibunya. Sampai pada kalimat inipun terdapat makna ganda. Kata ‘pas sekali bu’ merupakan jawaban dari Yesus atas pertanyaan dari ibunya, ‘jawab’ berarti balasan atas pertanyaan, ‘Yesus’ telah dijelaskan sebelumnya, ‘gembira’ berarti perasaan senang. ‘ Yesus naik surga’ kalimat itu menjelaskan ketika Yesus diangkat atau naik ke srga setelah kebangkitannya, kata ‘Yesus’ manusia yang di Tuhan kan, ‘naik’ berarti berjalan ke arah atas, ‘surga’ yaitu tempat orang-orang yang terpilih oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, yaitu tahap pembacaan hermeneutik yaitu pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh. Pembacaan ini dilakukan melalui hipogram potensial, hipogram aktual, model dan matriks 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“celana ibu” puisi karya Joko Pinurbo mengisahkan satu peristiwa penting yaitu bagaimana Yesus yang di Tuhan kan oleh umat Kristiani tersebut di salib kemudian bangkit setelah tiga hari kematiannya dan diangkat ke surga setelah empatpuluh hari kebangkitannya. “celana ibu” jika ditilik dalam arti sebenarnya adalah sebuah celana yang dibuat oleh seorang ibu untuk diberikan atau tidak diberikan kepada orang yang ia pilih. Judul tersebut mengibaratkan sesuatu yang dirasa dapat menjembatani makna inti dari puisi itu, walaupun kita tidak bisa secara tepat menyamakan makna yang terkandung dibalik kata tersebut dengan pengarangnya. “celana ibu” judul itu terasa bisa mewakili peristiwa kebangkitan Yesus, karena dalam puisi tersebut disebutkan bagaimana Maria datang ke kuburan Yesus setelah tiga hari kematiannya yaitu pada saat Yesus bangkit. Judul tersebut dapat menjembatani makna yang ingin dihadirkan oleh pengarang, celana dirasa dapat mewakili makna inti yaitu kematian dan kebangkitan Yesus, karena pada saat yesus di salib ia tidak menggunakan celana hanya selembar kain yang menutupi kemaluannya. Keterkaitan tersebut diaplikasikan menjadi sesuatu yang dapat diibaratkan tanpa mengenyampingkan makna yang sesungguhnya. Kemudian hadir pula makna konotatif (1) “celana ibu” dapat dikatakan merupakan satu pilihan untuk membungkus makna yang ingin dihadirkan oleh pengarang, (2) “celana ibu” menurut penulis dapat pula dikatakan sebagai doa yang diberikan ibu kepada anaknya di luar konteks keterkaitan bahwa Yesus tidak memakai celana waktu di salib. “ Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana” menjelaskan bahwa Maria perasaannya sangat sedih melihat Yesus di salib. Ikatan emosional antara ibu dan anak tentulah sangat erat Yesus di salib pada jumat agung, ia dijatuhi hukuman mati oleh gubernur Roma yaitu Pontius Pilatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah” keadaan Yesus pada saat di salib tidak mengenakan baju. “Ketika tiga kemudian Yesus bangkit berdiri dari mati”, pada hari ketiga tepatnya hari minggu dikatakan bangkit dari kematiannya meskipun ada yang menolak bahwa Yesus bangkit kembali. ”Pagi-pagi sekali Maria datang kekuburan anaknya itu” pada saat itu Maria datang kekuburan Yesus. Paskah kebangkitannya Yesus beberapa kali menampakan dirinya, sebagaimana tercata dalam Injil. Maria pun perbah melihat Yesus di kebun, hal itu pula yang menjadi satu alasan bahwa Yesus bangkit. “Paskah” tanya Maria disinilah kita dapat melihat bahwa pengarang mencoba mengaitkan kata yang hadir dalam puisi itu dengan makna yang sebenarnya. Pas-kah? Bisa di sebut pertanyaan, bisa juga dikatakan menjelaskan suatu peristiwa penting yaitu hari Paskah atau minggu Paskah. Kata itu dilontarkan Maria pada Yesus di saat kebangkitannya. Hal ini dapat mewakili satu pengetahuan bahwa hari kebangkitan Yesus itu di sebut Paskah. Walaupun sebenarnya Paskah merupakan nama pulau yaitu pulau Paskah. “Yesus naik ke surga” setelah empatpuluh hari kebangkitannya Yesus naik ke surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan mengenai hipogram potensial di atas telah mewnggambarkan bagaimana Yesus di salib sebagai cara penebus dosa umatnya, yaitu pada jumat agung. Di mana Yesus diadili dan dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus, di salibkan, wafat dan dimakamkan. Matrik yang terlihat yaitu saat tiga hari Yesus bangkit kembali dengan mulia dari orang-orang mati (minggu paskah) kemudian pada kalimat pas-kah? Tanya Maria kalimat itu merupakan pertanyaan yang secara tidak langsung memberi tahu bahwa hari kebangkitan Yesus di sebut Paskah, karena pada saat mengatakannya bertepatan pada bangkitnya Yesus. Yesus dikatakan bangkit kembali pada minggu paskah. Masa paskah di mulai dari pekan suci yaitu minggu palma, kamis putih, jumat agung, sabtu suci dan minggu paskah sampai penta costa yaitu lima hari setelah kebangkitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kebangkitannya Yesus beberapa kali menampakan dirinya. Pada suatu peristiwa penampakannya Yesus menunjukan st.Petrus sebagai pemimpin atas kawanan dombanya atau dikenal sebagai Paus Palus I. ketika genap empatpuluh hario setelah kebangkitannya, Yesus naik surga. Walaupun demikian umumnya tidak ada umat Kristen yang memandang cerita ini sebagai legenda atau alegori.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://makalahdanskripsi.blogspot.com. Dipublikasikan oleh Caray (?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-1105104664714366696?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1105104664714366696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/1105104664714366696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/03/kajian-semiotik-riffatere-puisi-celana.html' title='Kajian Semiotik Riffatere Puisi “Celana Ibu” Karya Joko Pinurbo'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-5608357545377417288</id><published>2010-03-09T12:15:00.005+07:00</published><updated>2010-05-05T11:08:01.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alferd Ginting - Goenawan Mohamad'/><title type='text'>“Saya Harap Bisa Menulis Novel”</title><content type='html'>(Wawancara Majalah &lt;em&gt;Playboy&lt;/em&gt; dengan Goenawan Mohamad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Playboy (P): Kenapa tidak pernah menulis novel?&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad (GM): Saya juga penasaran. Saya kira karena saya belum bisa. Saya bikin cerita pendek saja belum bisa. Sesekali ada, untuk main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kenapa tidak bisa?&lt;br /&gt;GM: Tidak tahu. Mungkin cerita pendek bisa saja tapi novel itu butuh energi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Tapi menulis esai juga perlu energi?&lt;br /&gt;GM: Aaa… ya, tapi itu lebih banyak energi intelektual. Kalau novel itu energi fisik, intelektual, perasaan, dan terutama imajinasi. Saya belum berhasil menemukan tekniknya yang agak lain daripada yang lain. Bukan saya nggak mau tapi karena saya belum bisa pada umur begini. Siapa tahu pada umur 70 nanti saya bisa (tertawa). Saya harap bisa (menulis novel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Pencapaian terbesar dalam dunia novel kita?&lt;br /&gt;GM: Yang terakhir ini menurut saya Ayu Utami. Pertama, karena Ayu membawakan bahasa yang sangat hidup dan konkrit, tidak hanya statement-statement, tidak hanya perumusan filsafat. Tapi bahasa sehari-hari, dan juga pada saat yang sama juga bisa puitis. Kedua, eksplorasi bahasanya luar biasa. Seperti dalam Saman kita lihat nama-nama ular, nama-nama hantu itu kan jarang dipakai, dan dipermainkan begitu rupa. Kemudian deskripsi dalam novel itu, mungkin karena Ayu biasa reportase sebagai wartawan, hidup sekali. Sehingga misalnya, menggambarkan oil rig di laut begitu hidup. Karena Ayu juga melakukan riset. Keempat, ceritanya, dari empat tokoh dari cerita yang berbeda-beda dan perempuan. Kelima persoalan-persoalannya bukan hanya individu tapi juga politis. Itu terangkum semua. Dan yang terang, enak dibaca.&lt;br /&gt;Mungkin dalam waktu-waktu mendatang akan banyak novelis lain yang melahirkan karya sangat baik. Nukila Amal termasuk yang akan hebat. Cala Ibi itu dari segi petualangan bahasa lebih dahsyat daripada Saman. Eksperimen bentuknya juga berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kalau dalam puisi?&lt;br /&gt;GM: Puisi banyak. Joko Pinurbo termasuk yang bagus sekali. Banyak nama yang tidak bisa saya sebutkan. Mardi Luhung atau Iswadi dari Lampung, Ari Batubara juga bagus. Kata Nirwan puisi banyak yang jelek. Tapi dari yang saya baca akhir-akhir ini di Kompas bagus-bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Bagaimana kritik Saut Situmorang tentang TUK yang mendominasi festival sastra internasional?&lt;br /&gt;GM: Kalau disangka kami menguasai semuanya tidak betul juga. Misalnya festival sastra internasional kan tidak hanya yang diselenggerakan TUK tapi juga DKJ dan Rendra. Kedua, pilihan luar negeri itu tidak ditentukan oleh TUK. Dunia internasional dekat dengan TUK tapi mereka memilih sendiri. Yang kadang-kadang kami ragukan, tapi mereka memilih apa boleh buat. Ketiga, pengaruhnya apa sih. Penguasaan itu berupa apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Akses bagi sastrawan lain?&lt;br /&gt;GM: Kan ada banyak media di dunia, bahkan di Jakarta ini. Memang orang TUK punya peranan di Kompas maupun Koran Tempo, tapi kan tidak berarti diisi oleh orang-orang itu itu saja. Jangan lupa kalau dalam kode etik Utan Kayu itu, kalau karya anggota komunitas sendiri tidak bisa dipentaskan. Anggota komunitas tidak bisa menjadi peserta festival sastra yang diselenggarakan Utan Kayu. Seperti karya saya atau Sitok, tidak bisa diikutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Bila melihat konflik seniman Lekra dengan Manifes Kebudayaan (Manikebu) tahun 60-an sebagai sebuah dialektika, apa tesis baru dari sana?&lt;br /&gt;GM: Mungkin berlangsung tesis baru tapi belum dirumuskan. Apa yang bisa ditarik dari sana bahwa ide itu penting, prinsip-prinsip penting dalam berkesenian dan politik. Terutama mengenai kebebasan kreatif. Perdebatan mengenai itu dari pandangan yang berbeda sangat vital bagi kehidupan seni. Sayangnya polemik itu tidak berlangsung cukup baik dan ditutup dengan pemberangusan terhadap karya-karya Manikebu. Pemberangusan yang terjadi atas karya-karya Lekra dan pemikiran-pemikiran Marxisme sama jeleknya dengan pemberangusan terhadap karya-karya dan pemikiran Manifes. Kedua-duanya menghentikan proses pencarian pemikiran alternatif.&lt;br /&gt;Manikebu itu sebetulnya suatu tesis baru yang timbul antara mereka yang berbendapat bahwa seni adalah alat untuk perjuangan politik dan di sisi lain yang ekstrim adalah seni yang tidak ada urusannya dengan politik. Manikebu mencoba memberi alternatif, memang kesenian tidak bisa diperalat, tapi bukan berarti tidak ada kesadaran proses politik selalu terjadi. Tapi (seni) harus bebas dari diperalat. Seni ekspresi perjuangan juga, tapi tidak diperalat oleh sesuatu kekuatan di luar dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kesenian yang tidak pretensius?&lt;br /&gt;GM: Bukan soal pretensi. Yang dilawan Manikebu adalah semboyan politk sebagai panglima. Dalam arti partai politik sebagai panglima. Khususnya partai yang berkuasa. Kesusasteraan dan kesenian tidak bisa didikte oleh kekuasaan politik atau partai. Tapi tidak berarti di dalam usaha pembebasan manusia, sastra dan kesenian tidak terlibat. Sebagaimana perjuangan politik adalah usaha pembebasan, perjuangan kesusateraan juga adalah perjuangan pembebasan. Tapi tidak berarti perjuangan politik menjadi majikan perjuangan kesusasteraan. Kenapa tidak sejajar.&lt;br /&gt;Dulu ada kata-kata Sitor Situmorang: revolusi mengabdi pada manusia, sastra yang mengbadi pada manusa harus mengabdi pada revolusi. Arief Budiman membantah, dia katakan kucing mengabdi pada manusia, anjing mengabdi pada manusia juga. Tapi tidak berarti kucing mengabdi pada anjing. Kenapa tidak sama-sama mengabdi. Jadi bukan masalah sasatra yang tidak mau terlibat dalam perjuangan, tapi keterlibatan itu harus bebas. Tidak didikte yang lain tapi oleh dinamika sastra itu sendiri, kebebasan pikiran dan kreatif sastrawan sendiri. Dan akhirnya terbukti sosialisme macet dan menimbulkan penindasan. Di Soviet, Cina, hasilnya setelah diterapkan rumus realisme sosialis, dunia kreatif mereka mati total. Tapi harus dicatat pemikiran realisme sosialis di Indonesia itu belum matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Belum matang?&lt;br /&gt;GM: Yang tertarik berteori itu cuma Pram. Itupun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Tapi ada kelompok-kelompok muda seperti Taring Padi yang juga bergerak di wilayah realisme sosialis?&lt;br /&gt;GM: Saya setuju dengan prinsip Taring Padi. Dan kelihatan Taring Padi kan tidak mengbadi pada apapun, tidak ada partai yang mengontrol. Realisme sosialis yang diambil Pram dari Andrei Zhdanov itu mengabdi pada partai. Taring Padi sama dengan Manikebu sebetulnya. Berjuang tanpa komando partai. Saya menulis puisi, ya saya menulis puisi. Kalau saya berjuang politik, saya tidak akan memperalat puisi saya untuk perjuangan politik. Jadi saya tidak akan menulis puisi memaki-maki Soeharto. Tapi saya akan menulis makian pada Soeharto di tempat lain.&lt;br /&gt;Saya pernah membaca sajak Ho Cho Minh itu tidak ada: “Perang, maju, ganyang.” Puisinya mengenai bulan dan hal-hal yang sederhana, dan indah. Tapi dia pemimpin revolusi sejati. (Pablo) Neruda puisinya cinta. Dia anggota partai komunis yang patuh. Picasso anggota partai komunis. Nah seandainya hidup di bawah Stalin, Neruda, Picasso itu habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Anda termasuk paling muda di Manikebu, tapi peran Anda sangat penting?&lt;br /&gt;GM: Iya, saya paling muda. Saya dan Arief sudah menulis. Arief lebih tua setahun dari saya. Lalau majalah sastra tempat kami menulis diserang habis. Lalu dipaksa untuk mengimposisi doktrin-doktrin realisme sosialis. Saya tidak suka. Lalu kami mendorong yang tua-tua. Sebetulnya yang tua-tua itu saling berantem. HB Jassin dengan Wiratmo (Soekito) itu tidak ramah tamah. Ego masing-masing. Yang mendorong mereka berkumpul kami yang muda-muda, saya, Arief. Salim Said juga, meski waktu itu dia belum menulis. Slamet Sukiranto juga.&lt;br /&gt;Gerakan itu repson dari tekanan kreatif yang menurut saya mengganggu betul. Kami kan tidak berpartai, tidak antusias dengan partai. Tapi oleh Pram, semuanya harus berpartai. Kalau tidak berarti gelandangan politik. Masak semua perjuangan harus lewat partai. Memang sikap antipartai bisa berhaya, saya sadari itu kemudian. Tapi kalau sastrawan menulis tanpa komando partai, itu tidak salah. Karena itu sikap saya sekarang mendukung PAN, kalau ada teman mendukung PDI-P saya anjurkan. Partai harus diperkuat. Tapi kalau menulis saya tidak mau didikte oleh partai, meski itu partai yang saya pimpin sendiri. Puisi saya tidak mau dikomando oleh perjuangan politik saya. Dalam hidup selalu perlu ada ruang yang cukup untuk hal-hal yang privat, sederhana, kecil, romantik, tidak berguna. Harus selalu ada. Tidak selamanya harus menjadi total untuk perjuangan. Itu bisa membinasakan kemungkinan-kemungkinan manusia, membinasakan yang berbeda dalam diri manusia.&lt;br /&gt;Kita kan sebetulnya terdiri dari kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. Kalau semua ditarik untuk mencapai satu hal, kepentingan partai atau dapat duit, atau dapat istri itu namanya hidup dijajah oleh tujuan. Ada seorang penyair mistik dari Jerman yang mengatakan bunga mawar ada tanpa kenapa. Kenapa harus kenapa, kenapa harus untuk apa. Kita tidak tahu untuk apa itu. Tidak semua hal bisa ditanya untuk apa. Kapitalisme maupun komunisme penuh penunggangan oleh tujuan. Saya tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Karena itu Anda tidak ikut ketika beberapa tokoh Manikebu lain menentang Pram menerima hadiah Magsayasay, Anda juga membawa Amarzan Loebis ke Tempo?&lt;br /&gt;GM: Karena menurut saya suara mereka layak didengar, dan tulisan mereka layak dibaca. Siapa bilang tulisan Amarzan jelek? Tulisan Pram layak dihidupkan dalam khasanah sastra Indonesia. Kalau suasana represi ini diteruskan, mula-mula yang anti-komunis represif, lalu yang komunis represif, akan sama saja. Kalau kita menentang represi, bukan hanya represi untuk diri sendiri. Sebab sikap anti-represi adalah merayakan perbedaan-perbedaan. Memang tidak mudah dipahami termasuk oleh teman-teman saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Seiring lahirnya Orde Baru, Manikebu juga keluar sebagai pemenang. Anda ingin jauh dari suara seorang pemenang?&lt;br /&gt;GM: Bukan begitu. Saya lihat orang–orang komunis sama patriotiknya dengan yang bukan komunis, sama-sama ingin membikin Indonesia lebih baik. Saya selalu teringat kata-kata Soe Hok Gie di halaman depan skripsinya: “Untuk mereka yang berjuang untuk Indonesia, di kiri maupun di kanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Ayah Anda juga seorang kiri, tidak mempengaruhi Anda menjadi pelaku doktrin kiri?&lt;br /&gt;GM: Iya, Bapak saya seorang kiri. Saya terlalu kecil waktu itu untuk mengerti. Kakak saya, Kartono, cerita dalam perpustakaan bapak saya itu Karl Marx isinya. Dia aktivis politik, pelopor kemerdekaan. Dia dibuang ke Digul bersama ibu saya. Pulang, tahun 1945, Belanda datang dia ditangkap, ditembak mati. Saya umur lima tahun ketika itu.&lt;br /&gt;Kalau ibu saya meninggal cukup tua. Setelah bapak saya meninggal ibu harus berjuang karena kami harus sekolah. Bagi orang tua kami, apapun dikorbankan untuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Apa yang berbeda dari dinamika pelaku kesenian sekarang dibandingkan saat Anda masih muda?&lt;br /&gt;GM: Anak sekarang lebih pintar-pintar. Banyak eksplorasi, kontak ke luar negeri. Saya lihat seni rupa kita maju pesat. Beberapa prosa dari anak-anak muda yang saya baca di Koran Tempo, pengenalannya pada dunia sastra luas sekali. Tidak ada di zaman saya. Generasi sekarang bahasa asingnya lebih bagus dan rajin membaca. Zaman saya, yang mungkin serius membaca hanya Arif Budiman dan saya. Kalau Sapardi dan Rendra itu di atas saya, mereka juga pembaca serius. Generasi 45 bahasa asingnya bagus, generasi setelah itu bahasa asingnya agak berantakan. Memang ada pengecualian seperti Rendra.&lt;br /&gt;Saya kagum pada Rendra. Sebagai penyair, kekuatan inovatifnya pada tahun-tahun itu belum tertandingi, mungkin sampai sekarang. Tapi sekarang, ada Sutardji (Colzum Bahri) yang juga inovatif. Pada generasinya, Rendra tidak ada yang mengalahkan. Beberapa puisinya sampai sekarang kekal, seperti Nyanyian Angsa, Khotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Dia juga banyak menulis jargon?&lt;br /&gt;GM: Iya memang kemudian dia banyak menulis pamflet, jargon. Dan kadang-kadang seperti khotbah. Capek dengarnya. Tapi saya pernah mendengarkan dia membaca puisi yang belum pernah dipublikasi di Magelang. Rekaman perasaan sewaktu dia sakit. Bagus sekali, dan cara dia membacakan puisi… wah. Ajaib kalau Rendra membaca puisi.&lt;br /&gt;Kalau anak-anak sekarang, luar biasa. Lebih mengagumkan, lebih asyik. Saya senang bergaul dengan yang muda-muda. Karena dari mereka saya belajar banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Anda pasti sedang merendah?&lt;br /&gt;GM: Ini bukan sok merendah hati. Betul. Omong kosong kalau saya tidak belajar dari mereka. Saya belajar soal posmodernisme, dari Nirwan (Dewanto), (Ahmad) Sahal, lalu saya pelajari sendiri. Sebelumnya saya cuma tahunya eksistensialisme, marxisme, thok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kalau wacana poststrukturalisme?&lt;br /&gt;GM: Iya itu juga baru saya pelajari. Bahwa saya cepat mempelajarinya karena saya terlatih dalam filsafat. Dan untungnya bahasa asing saya lumayan. Tanpa anak-anak muda, saya akan seperti orang-orang seusia saya, tidak bunyi. Berbahagia sekali saya banyak bertemu anak-anak muda cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Filsafat apa yang mencerahkan Anda pada awalnya?&lt;br /&gt;GM: Mungkin pertama kali itu, Freud. Saya baca waktu SMP, dari bahasa Inggris. Kalau Kartono sudah banyak baca dari SD, dia banyak diajari kakek saya. Saya nggak terlalu kecipratan. Freud membuat banyak hal yang kaku dan beku menjadi terguncang dengan idenya tentang alam bawah sadar, tubuh sebagai sebuah ungkapan besar. Orang selalu salah, Freud hanya bicara tentang seks. Tidak. Marx juga. Zaman 60-an itu semua orang harus belajar Marxisme. Saya juga membaca dari Lenin, Marx, Engels, Mao Tse Tung. Dan dulu buku-buku yang mudah didapat kan dari Soviet. Saya juga punya teman yang baik seperti Wiratmo Soekito yang buku-bukunya tentang Marxisme bagus bagus. Aneh ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Setelah Marxisme?&lt;br /&gt;GM: Kemudian eksistensialisme, yang sempat menjadi mode, dibaca orang. Albert Camus memang menarik. Setelah tahun 80-an saya semakin banyak mengerti yang baru dan cocok. Saya banyak cocok dengan (Jacques) Derrida. Kemudian sekarang Ernesto Laclau. Dia pemikir politik dari Argentina, bekas aktivis gerakan buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Karena Laclau juga tidak jauh dari tradisi Marxis?&lt;br /&gt;GM: Dia punya teori sejarah dan politik yang menurut saya cocok. Laclau ini dengan seorang perempuan Chantal Mouffe meneruskan tradisi (Antonio) Gramsci. Jadi kembali-kembalinya masih pengaruh Marx dan Freud masih kuat dalam pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Anda juga banyak memperbincangkan Jacques Lacan, karena benang merahnya masih dari Freud?&lt;br /&gt;G: Ya, kesukaan saya pada Freud dilanjutkan dengan keterpikatan saya pada Jacque Lacan. Di luar itu semua ada masalah agama, mistik, Iqbal, pemikiran-pemikiran baru agama dan sufisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Untuk melihat kesenian, jalan filsafat mana yang Anda suka?&lt;br /&gt;GM: Heidegger. Dia banyak pengaruh dari Derrida. Untuk memahami puisi, saya suka dengan Heidegger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kenapa?&lt;br /&gt;G: Heidegger punya filsafat yang meletakkan, saya, Anda, sebagai bagian dari dunia kefanaan, bagian dari alam, tidak manusia sebagai pusat. Manusia sebagai pusat itu akhirnya menjadi penakluk alam, juga penakluk orang lain. Sejarah yang kita pelajari menunjukkan pada akhirnya mereka terbentur pada kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kalau kita semua filsuf, apa proyek filsafat Anda?&lt;br /&gt;GM: Pembebasan mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Saya masih ingat ketika di Ubud ada seorang penulis dari Austria yang mempertanyakan keheranannya ternyata orang Indonesia seperti Anda yang bisa membicarakan filsafat seperti Heidegger, Lacan dengan lancar. Sebagai yang sering terlibat dalam forum intelektual di luar negeri, Anda sering mengalami itu?&lt;br /&gt;GM: Iya (tertawa). Mereka heran kenapa kita biasa membicarakan Heidegger, Gramsci, Derrida sambil ketawa-tawa. Fun. Jangan anggap enteng Indonesia-lah. Saya ini kesel kalau Indonesia dianggap enteng. Tapi kalau orang menguji Indonesia kita pura-pura kalem saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Mereka menganggap kita masih rimba belantara yang perlu ditaklukkan?&lt;br /&gt;GM: Betul. Kalau tidak, (kita) harus cocok dengan pandangan mereka tentang kita. Lihat saja musik Tony Prabowo. Banyak orang barat tanya, kok bukan gamelan. Saya pernah ceramah di luar negeri, mengutip Heidegger. Ada yang tanya, kenapa tidak mengutip puisi Indonesia? Dijawab oleh dosennya: “Lah, dia senang kok.” Mereka senang mematok kita, bahwa orang Jawa harus mewakili kejawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Pram dengan lantang menolak kejawaannya.&lt;br /&gt;GM: Itu bagus. Saya suka Pram bilang itu. Tidak boleh dipatokkan orang dalam satu suku. Suku itu apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Konstruksi sosial ya?&lt;br /&gt;GM: Itulah bagusnya kita belajar poststrukturalisme. Semua itu konstruksi sosial politik. Dan memang betul kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Anda ikut menyusun platform PAN. Partai itu ingin menggabungkan potensi intelektual Islam modern dengan kaum liberal. Itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;GM: Akhirnya memang tidak berhasil. Dari awal sudah banyak kompromi dan kemudian semakin banyak kompromi di dalamnya. Apa boleh buat, PAN memang begitu. Saya sabar aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Bagi Anda mengombinasikan dua kekuatan itu proyek yang menarik?&lt;br /&gt;GM: Penting. Bukan harus menarik. Karena partai saya sebenarnya saya tidak tertarik. Tapi terpaksa, karena memang harus lewat saluran itu. Kalau tidak salah, (Jimmy) Carter, dia orang Kristen yang baik, mengatakan politik itu tugas sedih. Dan memang sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Bagaimana metode anda menulis Catatan Pinggir, sejak dari penemuan tema sampai eksplorasinya?&lt;br /&gt;GM: Kadang-kadang dipicu persitiwa yang terakhir. Lalu saya memikirkan lebih lanjut, dan sedapat mungkin saya menyajikan sesuatu yang belum dilihat. Tapi kalau nggak ada peristiwa, saya harus cari ide sendiri. Lebih banyak tergantung pada suasana hati saya, kesibukan pikiran dan kecapekan, semangat atau kemarahan saya. Tidak pasti, meskipun rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kalau sedang di luar negeri, tapi Anda ingin mengutip dari suatu buku yang pernah Anda baca. Anda memang mengingatnya?&lt;br /&gt;GM: Kalau perlu bukunya, ya beli. Tiap minggu (menulis Catatan Pingir) itu sebenarnya perjuangan berat (tertawa). Saya melakukannya kadang-kadang dengan kebanggaan, dengan kesombongan, kadang karena dorongan kesal pada keadaan, sedih. Kadang-kadang saya mengutuk, kenapa ini saya lakukan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kutukan?&lt;br /&gt;GM: (tertawa) Semacam karma. Tapi ya kalau tulisannya bagus saya senang. Kalau tidak bagus saya mencoba melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kenapa Anda berpikir esai yang baru Anda kerjakan tidak bagus?&lt;br /&gt;GM: Tergesa-gesa. Saya membutuhkan lima jam untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Lima jam?&lt;br /&gt;GM: Lima jam nonstop. Saya tidak tidur, tidak makan. Itu kan menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Tidak pernah dalam satu jam?&lt;br /&gt;GM: Tidak bisa. Paling cepat tiga jam. Saya mengalami masalah kalau meninggalkan tulisan yang belum jadi untuk tidur atau makan. Tidak tentram. Ada teman yang pernah tinggal dengan saya di Amerika bilang, sebenarnya saya tidak bisa menjadi penulis, masak tiga hari tiga malam tidak tidur. Tidur saya jadi kacau. Karena itu orang susah tidur dengan saya, termasuk istri saya. Karena jam tiga pagi saya bisa bangun untuk menulis. Sampai jam 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Apa judul catatan Pinggir menurut Anda yang terbaik?&lt;br /&gt;GM: Belum ada. Kadang setelah menulis saya menganggapnya sangat baik, tapi minggu berikutnya rasanya kok jelek ya. Sekarang karena ada Tempo versi Inggris dan online saya lebih bisa memperbaiki. Lalu saya kirim lagi. Kadang berulang-ulang saya tulis, sehingga redaktur bahasa sering kesal, “Mana nih yang mau dipakai?” Setelah saya kirim saya bilang versi terakhir: “Final!” Tapi setelah dimuat, celaka ada yang salah. Untuk versi online dan Inggris sering saya perbaiki. Mungkin ada satu penyakit saya, dalam soal ini, saya obsesif. Untuk perfect. Dan itu menyiksa sebenarnya. Harusnya rileks saja ya. Habis itu kan dilupakan orang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Catatan Pinggir tentang Sukardal, masih banyak yang membicarakannya karena menghidupkan kisah bunuh diri tukang becak. Dia bukan siapa-siapa dan kejadian itu sudah sangat lama.&lt;br /&gt;GM: Begitu ya? Saya tidak menyangka akan begitu. Kalau kamu tertarik, kamu harus menuliskan ulang tentang Sukardal. Bagus kalau cerita itu masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kalau menulis puisi?&lt;br /&gt;GM: Juga begitu. Makanya puisi saya sedikit. Tidak produktif seperti teman-teman lain. Mungkin karena itu saya tidak berani menulis novel, seperti perjalanan bunuh diri ya. Baru satu chapter, bisa saya ulangi berkali-kali. Nggak bakal jadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Dari karya esai Anda terlihat Anda seorang yang ragu-ragu?&lt;br /&gt;GM: Mungkin betul, dalam arti saya tidak mudah untuk memberikan penilaian tentang hidup dan manusia lain. Karena memang kompleks. Saya tidak punya sikap yang cepat menghakimi. Karena saya selalu terbentur pada kenyataan bahwa saya terbatas juga. Dan tugas tulisan bukan memberikan kepastian tapi justru menggugat kepastian. Mempersoalkan kepastian sehingga orang selalu menjelajah untuk menemukan kemungkinna-kemungkinan baru dari segi-segi yang tidak terlihat. Apa yang saya pelajaran dari dekonstruksi, misalnya, adalah bahwa yang lain yang tidak terlihat, yang terepresi itu selalu penting. Mungkin saya terlihat ragu-ragu karena saya selalu memberikan kemungkinan bahawa yang tak terlihat itu ada dan luput oleh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Anda ingin menghindari kepastian karena tak ingin menjadi dogma?&lt;br /&gt;GM: Betul. Suatu kepastian bisa menjadi dogma, apalagi yang diutarakan oleh pengarang. Karena pengarang sering dianggap sebagai pujangga, pemberita terakhir kearifan. Pelajaran dari Freud penting karena ternyata dalam diri pengarang ada hal-hal yang dia tidak sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Mungkin karena itu Anda masuk ke wilayah puisi, bukan novel?&lt;br /&gt;GM: Betul. Kalau menulis filsafat, filsafat saya juga diganggu oleh puisi saya. Ignas Kleden pernah menulis Catatan Pinggir banyak diberi bumbu puitik. Bagi saya bukan bumbu, bukan hiasan. Puisi adalah keniscayaan dari bahasa yang mencoba menangkap kehidupan dengan segala kegelapannya. Bahkan banyak gema-gema yang tidak selamanya cerah yang hidup di dalam puisi. Tidak berarti memperindah-indah. Hanya mengganggu yang lurus dan konsep-konsep yang sudah beku. Saya kira ada baiknya pemikiran yang konseptual itu terganggu oleh puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Anda dikabarkan dekat dengan banyak perempuan?&lt;br /&gt;GM: Apa yang kamu dengar gosip tentang saya dan perempuan-perempuan muda itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Cukup banyak, untuk pria yang usianya lebih tua dari republik ini.&lt;br /&gt;GM: Saya dilahirkan di keluarga yang lebih banyak perempuan. Mudah bagi saya dekat ke perempuan. Tentang saya banyak gosip. Saya anggap gosip setengah menyenangkan dan setengah menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Apa bagian yang menyenangkan dan apa yang menjengkelkan?&lt;br /&gt;GM: Digosipkan kan keren. Kayaknya saya jagoan. Menjengkelkannya, kadang-kadang berlebihan dan destruktif bagi orang lain. Tapi pada dasarnya saya memang suka flirt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Kenapa?&lt;br /&gt;GM: Karena menurut saya itu asyik aja. Seperti berdebat, seperti main pingpong. Tapi bayangkan sesibuk saya ini masa’ digosipkan pacaran dengan begitu banyak orang. Mana ada waktu saya. Selalu kan, orang sedikit terkenal ada gosip mengenai seks. Selalu. Pak Harto begitu. Menurut saya kebanyakan (gosip) tak masuk akal, tapi orang senang. Gosip itu bumbu percakapan, meski kadang kebanyakan. Saya juga suka bergosip. Jadi saya mengerti bagaimana gosip bekerja atas saya. (tertawa) Biar sajalah. Apalagi pekerjaan yang sekarang, itu tujuh penari cantik-cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Goenawan Mohamad mungkin figur yang menarik bagi banyak wanita?&lt;br /&gt;GM: Saya? 65 tahun? Yang benar saja. Sudah tua. Kamu yang banyak orang tertarik, saya nggak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P: Saya harap begitu, tapi nyatanya nggak (tertawa).&lt;br /&gt;GM: Menurut kamu begitu? Senang saya mendengarnya (tertawa).&lt;br /&gt;——————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Alferd Ginting dari Playboy Indonesia. Wawancara ini dimuat di Playboy Indonesia edisi April 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://goenawanmohamad.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-5608357545377417288?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5608357545377417288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/5608357545377417288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/03/saya-harap-bisa-menulis-novel.html' title='“Saya Harap Bisa Menulis Novel”'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-8399255603411342722</id><published>2010-03-09T11:59:00.004+07:00</published><updated>2010-05-05T11:08:30.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasan Aspahani'/><title type='text'>Godot di Utan Kayu</title><content type='html'>&lt;small&gt;&lt;b&gt;Hasan Aspahani&lt;/b&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK usah curiga, sejak awal saya sudah mengakuinya. Sajak saya "Daun Berjari Enam Belas, dan Pelepah Pisang Kipas" memang terinspirasi dari sajak Joko Pinurbo "Utan Kayu" (Pacarkecilku, IndonesiaTera, 2002). Sejak menerima undangan untuk baca puisi di Utan Kayu saya sudah teringat pada sajak itu. Saya perlu membaca lagi sajak itu. Sajak yang dipersembahkan oleh penyairnya kepada Godot. Anda kenal siapa Godot?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Suatu malam di Utan Kayu tak kujumpai engkau&lt;br /&gt;tak kujumpai siapa-siapa&lt;br /&gt;selain kursi-kursi berjungkiran di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai sudah tutup. Malam tinggal sisa.&lt;br /&gt;Kudengar tikus-tikur bermain musik bersama piring,&lt;br /&gt;gelas, sendok. "Kusaksikan tadi pertunjukan besar,"&lt;br /&gt;saudara kucing melaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana engkau? Biasanya engkau duduk manis&lt;br /&gt;di pojok, minum angin, merokok.&lt;br /&gt;Engkau terlonjak girang bila aku datang.&lt;br /&gt;"Hai, dari mana saja engkau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata engkau sedang termenung di ruang pertunjukan.&lt;br /&gt;Engkau sedang mengumpulkan kembali kata-kata&lt;br /&gt;yang berceceran. Engkau sedang menangis,&lt;br /&gt;mencopot wajah di ruang ganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam berikutnya tak kulihat lagi engkau&lt;br /&gt;di bangku penonton. Engkau tak muncul lagi&lt;br /&gt;di panggung permainan. "Hai, kemana saja engkau?"&lt;br /&gt;Kupanggil engkau berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2001)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula, saya ingin memetik sajak di Utan Kayu. Saya memandangi bangku, pohon kemboja, bunganya jatuh bertebaran, poster lukisan Botero di dinding tangga ke Wisma TUK, lukisan S. Teddy yang saya tebak semula miliknya Ugo Untoro dan lukisan pelukis kelompok Taring Padi, yang saya kenal garisnya tapi saya lupa namanya. Lukisan dengan langgam garis yang sama pernah saya lihat di sampul majalah Pantau lama. Saya menghayati pemandangan itu, pelepah pisang kipas, pohon dengan daun berjari enambelas - ya saya menghitungnya - karena saya tak tahu nama pohon itu, Kedai Tempo, Toko Buku Kalam. Tidak semua gambar itu terpakai. Saya buang? Tidak, mungkin kelak akan terpakai dalam sajak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak saya, jadinya seperti kolase dari rekaman-rekaman gambar itu. Ketika menempelkan gambar-gambar itu, ketika menyusun mereka, ketika menata mereka ke dalam bait-bait, tentu saja saya harus mempertimbangkan kemungkinan gambar utuh apa yang kelak hadir dari sana. Saya harus membentangkan kanvas bagi lekatnya gambar-gambar yang sudah saya rekam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus-terang saja meminjam sajak Joko Pinurbo itu. Kepada sang penyair, saya kirim pesan pendek, betapa sajak itu saya ingat selama saya berada di utan Kayu, dan saya bilang ada sajak yang saya tulis dengan kenangan pada sajak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau katakanlah saya mencontek. Saya memaafkan diri saya atas kelancangan itu. "Kok berani-beraninya kamu mencontek Joko Pinurbo?" kata satu suara kecil di sudut hati saya. "Ah biar saja, toh akhirnya saya akan menghasilkan sajak yang lain, sajak yang berbeda," kata suara kecil lain di sudut lain hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, di Utan Kayu, kau dan aku menemui banyak orang. Tapi, di Utan Kayu, sesungguhnya, kau dan aku lebih banyak menemui diri kita sendiri. Di sana Godot kita tunggu, tapi Godot tak datang. Adakah Godot? Ah, mungkin Godot ada di dalam dirikau dan diriku.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: http://sejuta-puisi.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-8399255603411342722?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8399255603411342722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/8399255603411342722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2010/03/godot-di-utan-kayu.html' title='Godot di Utan Kayu'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-2309310190137283255</id><published>2008-04-25T08:55:00.018+07:00</published><updated>2010-05-05T11:09:43.115+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ananda Sukarlan'/><title type='text'>Accents in Silence</title><content type='html'>We had a rehearsal with the ITB Choir last Sunday the 16th with my piece they commissioned, "Jokpiniana no. 1". It was great fun (except for the bloody traffic jam on the way to the rehearsal) and everybody learned a lot (oh, well, I hope THEY did, because I really did. Every rehearsal of my music is like looking at the mirror &amp;amp; knowing myself better). ... Anyway, especially for Jokpiniana no. 1, perhaps the secret of its successful performance can be resumed in two words : FUN and FUNKY. ... (Lebih lanjut baca di &lt;a href="http://andystarblogger.blogspot.com/"&gt;http://andystarblogger.blogspot.com/&lt;/a&gt;) &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-2309310190137283255?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/2309310190137283255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/2309310190137283255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2008/04/accents-in-silence.html' title='Accents in Silence'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-3587815694280494942</id><published>2008-04-25T08:07:00.013+07:00</published><updated>2010-05-05T11:10:24.036+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Swarasonora'/><title type='text'>Love and Variations Project</title><content type='html'>&lt;a href="http://swarasonora.com/"&gt;www.swarasonora.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On April 2008, the Swara Sonora Trio will give the world premiere of the prominent Spanish-Indonesian composer Ananda Sukarlan’s song set “Love and Variations,” which we will then take on a Peace Tour to Indonesia in the summer of 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The world premiere of “Love and Variations” – 8 songs in 5 languages – will take place on Friday, April 25, 2008, at St. Phillip’s in the Hills Episcopal Church in Tucson. The Indonesian tour in 2009 is planned as a Peace Tour in order to raise funds for local UNICEF organizations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In “Love and Variations,” a collection of 8 songs for soprano, baritone, and piano, composer Ananda Sukarlan has created musical settings of poetry by writers from five countries (Indonesia, Spain, Mexico, the US, and the UK), and in three languages. Each poem, and therefore each of the eight songs, depicts a different aspect or “variation” of love. Following the premiere, the work will be published internationally by Gramedia Publishing International.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The eight songs in “Love and Variations” are:&lt;br /&gt;• Walt Whitman (United States): Hours Continuing Long, Sore and Heavy-hearted (soprano, piano)&lt;br /&gt;• Joko Pinurbo (Indonesia): Kekasihku (baritone, piano)&lt;br /&gt;• Henry W. Longfellow (United States): Snowflakes (soprano, baritone, piano)&lt;br /&gt;• Gustavo Adolfo Becquer (Spain): Amor Eterno (soprano, baritone, piano)&lt;br /&gt;• Amado Nervo (Mexico): Si tu me dices ¡ven! (soprano, baritone, piano)&lt;br /&gt;• Laksmi Pamuntjak (Indonesia): Glass Conservatory (soprano, baritone, antique cymbals)&lt;br /&gt;• Sapardi Djoko Damono (Indonesia): Kukirimkan Padamu (baritone, piano)&lt;br /&gt;• Lord Byron (Great Britain): So We Go No More a Roving (soprano, baritone, piano)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4290229572927418291-3587815694280494942?l=jokpin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/3587815694280494942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4290229572927418291/posts/default/3587815694280494942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokpin.blogspot.com/2008/04/love-and-variations-project.html' title='Love and Variations Project'/><author><name>Joko Pinurbo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08385547280353409209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-4lZzmj5ayiA/TwGmOryRTUI/AAAAAAAASDo/6XdlaKitcms/s220/JP-AntaraFoto-14.10.2011.png'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4290229572927418291.post-1900019293625257031</id><published>2008-04-22T15:11:00.012+07:00</published><updated>2010-05-05T11:11:06.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='G. Budi Subanar SJ'/><title type='text'>Dalam Bayang-bayang Sejarah Kota Pendidikan: Memberdayakan Yogyakarta sebagai Komunitas Learning Society*</title><content type='html'>&lt;strong&gt;G. Budi Subanar SJ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Yogyakarta merupakan&lt;br /&gt;kota mahasiswa terbaik di Indonesia?&lt;br /&gt;Saya kira hal ini perlu diragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1. Di Mana Roh Pendidikan Bersemayam?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta pernah mendapat julukan Kota Pendidikan. Salah satu faktor yang menjadi acuannya adalah banyaknya jumlah dan ragamnya perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Dalam perkembangannya sekarang, ketika kota-kota lain juga telah ditumbuhi sedemikian banyak lembaga pendidikan tinggi, masihkah Yogyakarta berhak untuk menyandang predikat tersebut? Adakah kemungkinan lain untuk memaknai Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan dengan cara berbeda? Dalam usaha tersebut perlu diketengahkan pertanyaan di mana dan bagaimana roh pendidikan berada dan bisa ditemukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komunitas Learning Society&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan ini bermaksud menempatkan Yogyakarta sebagai sebuah komunitas pendidikan, atau dalam kerangka pikir yang lebih luas adalah menghidupkan masyarakat pendidikan. Ada dua istilah learning community (komunitas pembelajar) dan learning society (masyarakat pembelajar) pada wilayah pendidikan yang mempunyai makna berlainan. Learning community merupakan sebuah metode dalam pendidikan (pembelajaran). Metode tersebut bermaksud untuk menjawab kebekuan proses belajar mengajar pada lembaga-lembaga pendidikan dalam menghadapi situasi yang terus berkembang. Tujuan baru dirumuskan berdasar pada pandangan tentang pendidikan dan tentang manusia. Pencapaiannya antara lain dilakukan dengan pembaruan pada pelaku, pola interaksi, mekanisme kerja. Di dalam pelaksanaannya ada evaluasi atas keberhasilan dan kegagalannya. Sedangkan istilah learning society menghadirkan diskursus yang membuka cakrawala untuk menemukan cara melihat berbagai kemungkinan dinamika pendidikan dalam situasi aktual di berbagai ranah kehidupan yang terus mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;span class="lengkap"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan ini, Yogyakarta ditempatkan sebagai sebuah komunitas kesatuan hidup yang berupaya memaknai diri dalam dinamika learning society, komunitas masyarakat pembelajar. Kalau pada learning community wilayah cakupannya ada di dalam lingkup lembaga pendidikan, dengan menempatkan diri sebagai komunitas learning society lingkungannya diperluas melibatkan semua warga di seluruh wilayah (kota) dalam berbagai ranah kehidupan dengan berbagai dinamika dan pembaruannya. Dengan demikian pihak yang terlibat pun diperluas, mencakup berbagai komponen masyarakat yang ada di seluruh wilayah (kota). Tempat-tempat yang dipakai tidak terbatas di dalam ruang kelas, atau tempat kuliah, melainkan juga ruang-ruang sosial (kota). Sarana yang digunakan meliputi berbagai ekspresi. Yang mau dicapai dengan pendidikan ini adalah membangun hidup bersama sebagai masyarakat yang saling terhubungkan dalam menanggapi situasi yang terus berubah, dan menggerakkannya untuk turut terlibat bersama pada berbagai ranah kehidupan. Dalam gerak komunitas learning society terkandung sebuah usaha pendidikan seumur hidup. Dengan usaha tersebut, kita membangun masyarakat terdidik, yang bertumpu pada sistem masyarakat warga yang mengaktifkan seluruh warganya, menjaga seluruh lingkup kehidupan yang memungkinkan untuk terus belajar, dan memberi kesempatan pada seluruh lapisan anggota masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berangkat dari Bawah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pembahasan ini juga didasarkan pada usaha UNESCO yang pada 1998 melalui sebuah komisi mengeluarkan rumusan tentang 4 pilar pendidikan yang diharapkan dapat mengantar ke abad 21. Ke 4 pilar tersebut mencakup: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Dengan menyebut komunitas learning society, titik berangkatnya bertumpu pada learning to live together. Usaha ini dibangun dari bawah sekaligus mencakup ketiga bidang yang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="lengkap"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan bersama menjadi arena di mana beragam kepentingan saling bertemu dan memungkinkan terjadinya konflik sehingga bisa saling menghancurkan atau meniadakan. Mempertemukan pihak-pihak yang terlibat di dalam hidup bersama, perlu mengajarkan siapa ‘the others’ itu. Orang perlu diajak untuk memahami peta hidup bersama, menemukan identitas dalam kelompok, dan dalam komunikasi dan relasinya dengan yang lain. Ada kepentingan bersama yang tidak bisa dilakukan sendiri, tapi dalam ketergantungan pada yang lain. Perlu memahami yang lain bukan melulu faktor instrumental yang melengkapi untuk tujuan diri atau kelompok saja. Ada banyak dimensi yang tidak dapat direduksi hanya untuk kepentingan ekonomis, atau politis semata. Di dalamnya terdapat dimensi sosial, kultural dan berbagai unsur lain berisi kekayaan hidup bagi setiap orang dan bersama. Hal tersebut dapat dipahami dan dialami hanya lewat praktek dan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pembahasan berikut akan menampilkan jejak pendidikan yang ada di Yogyakarta. Komunitas yang ada sekarang tidak terpisah dari yang telah ada sebelumnya. Di dalamnya ada kontinuitas dan diskontinuitas. Ada pengaruh dari pembangunan yang berkelanjutan, serta pengaruh globalisasi. Apanya yang tetap? Apanya yang berubah? Pembahasan ini akan berujung pada realitas yang berlangsung sekarang dalam masyarakat Yogyakarta dengan segala dinamikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan berikut mencakup lembaga pendidikan (tinggi), lembaga dan pihak lain yang ada dalam masyarakat beserta dengan tali-temalinya. Di sinilah Yogyakarta sebagai sebuah komunitas learning society dipahami. Yogyakarta sebagai sebuah kesatuan, bukan saja sebagai kesatuan wilayah administratif, juga merupakan sebuah kesatuan wilayah kultural, sebagai sebuah komunitas hidup bersama. Di dalam lingkup ini akan diuji adakah roh pendidikan ditemukan di sana, bagaimana hadir dan terjelma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2. Yogyakarta sebagai Ibukota RI: Menyediakan Kebutuhan Tenaga&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sejarah Yogyakarta dalam dunia pendidikan telah meletakkan dasar yang menentukan bagi proses berikutnya. Kendati pun tiap periode punya dinamikanya sendiri. Membaca proses terbentuknya sampai pewarisannya merupakan interpretasi atas sejarah. Warisan nilai, institusi, dan mekanisme jaringan kerjanya membuat generasi berikutnya bergerak di sekitar wilayah itu. Bagian berikut berusaha melihat kembali terbentuknya sejumlah lembaga, dan mekanisme jaringan kerjanya. Termasuk menemukan keterlibatan berbagai pihak di dalam proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masa-masa Awal&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada 5 (lima) tahun pertama berdirinya RI, Yogyakarta menjadi ibukotanya. Ini bermula dari pengakuan yang diberikan pemimpin Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII kepada negara RI yang baru. Yogyakarta mencakup wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan wilayah Pakualaman. Keterlibatannya pada negara RI didasarkan pada Maklumat Yogyakarta yang mengakui RI sebagai negara, dan kesediaan dalam menempatkan diri sebagai bagiannya. Maklumat tersebut ditanggapi Presiden RI yang memberi status keistimewaan kepada Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena kegentingan dalam menghadapi Belanda mulai dari 4 Januari 1946, presiden beserta wakilnya berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Mulai saat itulah Yogyakarta disibukkan untuk menjadi ibukota RI.&lt;br /&gt;Perpindahan ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta membawa banyak konsekuensi bagi masyarakat dan pemerintah daerah Yogyakarta. Di dalamnya terkait dengan masalah wilayah, pemerintahan dan rakyat. Populasi penduduk membengkak dari 170.000 menjadi 600.000 jiwa. Demikian pun berbagai instansi dan jawatan pemerintah memindahkan kantornya ke Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengemban tanggung jawab tersebut, ada masa di mana Yogyakarta belum mengalami kesiapan struktur. Sebagai wilayah yang menggabungkan diri pada negara yang baru, ada usaha penataan pemerintahan yang dilakukan ke dalam dan keluar. Hubungan dengan pemerintah pusat juga mengalami masalah. Tatkala menggunakan Yogyakarta sebagai ibukota, pimpinan pemerintah pusat mengangkat pimpinan kota seturut skenarionya. Namun hal tersebut tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Akhirnya, Sri Sultan diminta untuk memilih orang yang memimpin kota sehingga pemerintahan dapat berfungsi. Masalah penataan pemerintahan kota Yogyakarta secara yuridis administratif masih berlangsung pada tahun-tahun selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kemunculan Perguruan Tinggi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bersamaan dengan itu lahirlah sejumlah lembaga perguruan tinggi di Yogyakarta. Latar belakang kemunculan lembaga pendidikan tinggi yang berdiri di Yogyakarta perlu ditempatkan dalam lingkup keberadaan perjuangan RI sebagai negara baru dan masa sesudahnya. Dengan demikian kemunculannya mengarah pada usaha untuk menjawab masalah yang harus ditanggung oleh negara baru tersebut. Orientasi praktis dari berdirinya lembaga pendidikan tinggi di Yogyakarta mengacu pada penyediaan tenaga yang terarah pada bidang-bidang tertentu. Di antaranya terkait dengan penyediaan tenaga birokrasi, kader ilmuwan, pemikir tradisi dan agama, dan tenaga guru. Bahkan juga penyediaan tenaga ahli di bidang seni budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup masyarakat Yogyakarta dengan berbagai unsurnya turut memberikan sumbangan bagi keberlangsungan lembaga pendidikan tinggi: para birokrat pemerintahan yang memikirkan kebutuhan tenaga terdidik, kalangan bangsawan dengan latar belakang pendidikan barat dan tradisi, serta kalangan ilmuwan yang berprofesi sebagai pendidik. Yang tidak dapat ditinggalkan adalah anggota masyarakat yang terdiri dari keluarga-keluarga di kampung-kampung tempat para mahasiswa baik lokal mau pun pendatang tinggal dan berinteraksi. Keberadaan lembaga pendidikan tinggi di Yogyakarta turut ditopang berbagai sekolah dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas (baik umum maupun kejuruan) yang banyak terdapat di Yogyakarta. Sekolah-sekolah tersebut diselenggarakan oleh berbagai instansi baik pemerintah maupun yayasan swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa lembaga pendidikan tinggi di Yogyakarta pada awal masa RI, adalah karya perintisan. Semuanya serba terbatas. Belum ada kampus, karena tempat kuliah serba terpencar dan meminjam. Demikian pun tenaga pengajarnya. Sebagian besar mahasiswa dibeayai oleh pemerintah. Di sebalik usaha awal yang serba terbatas itu, ada pihak-pihak yang terlibat menjadi motor penggeraknya. Ada penyandang dana yang membantu dengan menyediakan sarana yang dibutuhkan. Ada pemikir yang merumuskan ide dan konsep dasar yang menjadi garis arahnya. Ada proses penataan administrasi dan personalia yang bertahap untuk memantapkan institusi dan operasionalnya. Ada yang mulai bergerak pada wilayah penelitian dan pelayanan langsung kepada masyarakat. Kesatuan gerak sinergis tersebut, pada gilirannya mampu menghadirkan lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang sampai sekarang tetap berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keragaman Kehidupan Kota&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dengan munculnya lembaga pendidikan (tinggi), warga kota tidak melulu terdiri dari kelompok militer dan laskar rakyat (sebagaimana digambarkan sebagai orang-orang yang beragam seragamnya, berambut gondrong tetapi menenteng senjata api), kaum birokrat pemerintah, kelompok bangsawan, dan rakyat kebanyakan. Ada juga kelompok cerdik pandai, dosen, guru, pemikir, peneliti. Orang-orang golongan ini memberi sumbangan bagi pembentukan masyarakat pendidikan. Termasuk di dalamnya adalah para mahasiswa. Ada juga kelompok pedagang dan pengusaha yang biasanya terdiri dari kaum Tionghoa. Sejarah yang demikian memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan (tinggi) tidak terpisahkan dari komunitas hidupnya, menjadi bagian dari masyarakat Yogyakarta yang mewujudkan sebagai komunitas learning society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan kota Yogyakarta juga diwarnai oleh hadirnya media cetak koran , dan media elektronik radio yang beredar di tengah masyarakat. Media tersebut berfungsi untuk mengantarai serta menciptakan forum yang memungkinkan terjadinya komunikasi pada wilayah publik. Di samping itu ada pula terbitan yang menjadi sarana komunikasi organisasi tertentu untuk anggota-anggotanya. Dengan demikian kehidupan masyarakat Yogyakarta dengan strukturnya dan berbagai unsur serta media komunikasinya sudah menjadi sebuah sistem di dalam masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Pendidikan bagi Pembentukan Kebudayaan, Bangsa, dan Kemanusiaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Keterlibatan sejumlah tokoh baik pada tingkat wacana maupun dalam tindakan tentu turut mewarnai nilai-nilai yang terumuskan dan institusi yang terbentuk sehingga dapat berjalan sebagai sebuah sistem yang menentukan gerak selanjutnya. Untuk melengkapi uraian di atas, berikut ini diketengahkan wacana tentang pendidikan, figur yang menjadi penopang bagi terbentuknya sistem pendidikan tinggi di Yogyakarta, dan perkembangan setelah lembaga pendidikan tinggi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Bagian dari Kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sudah sejak semula, tokoh pendidikan Indonesia melihat pendidikan yang kita lakukan sebenarnya tidak terpisah, bahkan merupakan bagian dari kebudayaan. Pendidikan yang dilahirkan itu merupakan bentuk perlawanan terhadap peninggalan sistem kolonial yang menjadikan orang-orang terdidik menjadi kelompok elit sebagai modal produksinya. Pendidikan tersebut dikembangkan untuk memberi arti pada manusia yang merdeka, dalam wadah negara merdeka, membangun masyarakat dan bangsa berdaulat dengan kekhasan budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah rumusan singkat Ki Hajar Dewantara mengungkapkan, “pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas keadaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.” Usaha pendidikan yang ditempatkan dalam kebudayaan dimaksudkan untuk melawan pada arus kolonial yang intelektualistis, individualistis, dan materialistis. Dengan menempatkan pendidikan di dalam kebudayaan, berarti pendidikan diletakkan pada hidup kemanusiaan yang berarti keluhuran budi, dan sifat peradaban bangsa. Cakupannya meliputi mempertinggi dan memperhalus kehidupan manusia seutuhnya, dan menyempurnakan kehidupan masyarakat. Di sinilah dasar kebudayaan itu ditempatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejumlah forum, dan tulisan keterkaitan pendidikan dan kebudayaan menjadi diskusi yang panjang. Sistem pendidikan yang dipraktekkan Perguruan Tamansiswa kemudian dikembangkan menjadi sistem pendidikan nasional. Dalam perkembangannya, konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep character and nation building. Pendidikan yang ditempatkan di dalam kerangka tersebut berarti memasukkan ideologi di dalamnya. Ini tidak lagi sejalan dengan tujuan pendidikan yang mendidik manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan tinggi yang berdiri pada awal kemerdekaan RI secara langsung menjadi lembaga pendidikan yang menyediakan tenaga yang dibutuhkan pada berbagai sektor pekerjaan pada lembaga-lembaga pemerintahan dan berbagai ranah kehidupan lainnya. Dengan pernyataan tersebut tidak dapat begitu saja dibayangkan bahwa melulu menekankan segi profesionalitas bidang tertentu. Gagasan para tokoh pendiri lembaga pendidikan tinggi yang ada tidak terbatas pada usaha tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dua Tokoh Pendidikan (Tinggi) dari Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dua tokoh yang berakar di Yogyakarta dan terlibat dalam pendirian lembaga pendidikan tinggi di Yogyakarta adalah Ki Hadjar Dewantara dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai tokoh pendidikan dengan Tamansiswa yang digelutinya sejak 1922. Seluruh dinamika perguruan Tamansiswa tidak dapat melepaskan diri dari gagasan Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan tiga pusat pendidikan (tri sentra) meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat. Kendati pun ketiganya saling dibedakan fungsinya, namun ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal ini perlu ditempatkan pada pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan menyeluruh yang berpusat pada manusia dalam seluruh lingkungan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Hadjar Dewantara memberi catatan tentang bahaya sistem pendidikan sekolah yang lebih menekankan unsur kecerdasan melalui pemberian ilmu dan mengabaikan kecerdasan budi pekerti dan budi kesosialan yang diberikan dalam keluarga dan masyarakat. Ini yang menjadi kecenderungan pendidikan umum di Indonesia karenanya Tamansiswa menempatkan kekhasan pendidikan yang menggunakan sistem pamong. Di dalam prosesnya, pendidikan Tamansiswa diselenggarakan secara berjenjang mulai dari awal pembentukan anak di Taman Anak, Taman Muda, dan Taman Dewasa. Penjenjangan tersebut didasarkan pada psikologi perkembangan yang menempatkan dinamika setiap orang mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati Tamansiswa baru memiliki pendidikan tinggi 33 tahun setelah berdirinya, Ki Hadjar Dewantara telah berulang kali menyebut jenjang pendidikan tinggi, universitas, atau akademi. Terhadap lembaga pendidikan tinggi, Ki Hadjar Dewantara berpandangan bahwa “Balai perguruan tinggi mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan negara yaitu sebagai syarat pendorong, pembangun, dan pemeliharaan kebudayaan.” Pendidikan yang ditempatkan dalam kebudayaan membawa implikasi panjang baik pada tataran konsep mau pun pelaksanaannya. Sampai periode memasuki kemerdekaan, usaha dalam pendidikan dan pengajaran mengambil bentuk gerakan revolusi. Ketika telah berada dalam wadah negara Indonesia, perjuangan di bidang pendidikan sebagai usaha kebudayaan menjadi gerak evolusi. Dalam pelaksanaan yang bertumpu pada asas demokrasi, pendidikan tak melulu menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi melibatkan pihak partikelir yang memiliki keragaman landasan ideologi keagamaan, kebudayaan, kemasyarakatan, atau ideologi praktis lainnya. Keikutsertaan pihak partikelir dimaksudkan untuk mendukung gerak penyebaran secara cepat atas penyelenggaraan pendidikan. Landasan-landasan konseptual yang kokoh tersebut mendasari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap keterlibatan Ki Hadjar Dewantara, Universitas Gajah Mada memberi gelar kehormatan doktor honoris causa. Pemberian gelar tersebut dilakukan 7 Nopember 1956 mengacu pada tiga peran yang disumbangkan oleh Ki Hadjar Dewantara meliputi perjuangan kemerdekaan, perjuangan pendidikan, dan perjuangan kebudayaan. Hal tersebut secara akademis dan pengakuan formal mengokohkan peran yang telah dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara yang tidak terbatas pada bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak pengangkatannya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX secara sadar mengungkapkan diri dengan mengacu pada unsur pendidikan dan akar budaya sebagai pembangun identitas dirinya. “Kendati pendidikan Barat sangat mewarnai saya, saya pertama-tama seorang Jawa dan tinggal pertama seorang Jawa”. Kesadaran diri atas pendidikan dan tradisi menjadi nyata dalam keterlibatannya. Antara lain dalam pendirian berbagai lembaga pendidikan tinggi, menyediakan fasilitas bangunan dalam kraton untuk perkuliahan Universitas Gajah Mada. Sikap keterbukaannya juga meliputi bidang-bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu sambutannya, Sri Sultan mengakui peran Ki Hadjar Dewantara di dunia pendidikan. Di dalamnya ditegaskan tentang dasar kepribadian, dan semangat kebangsaan sebagai hal yang mendorong berdirinya Tamansiswa. Dasar tersebut sekaligus menjadi tujuan pendidikan untuk pembentukan diri manusia sebagai individu, dan bagian dari masyarakat. Secara khas dirumuskan, “memayu hayu saliro, memayu hayu bongso, memayu hayu manungso”. Pernyataan tersebut menegaskan kembali pada kesadaran diri yang dirumuskan saat penobatannya. Dalam perumusan tersebut, ada sebuah interpretasi sehingga menangkap makna yang dirumuskan secara baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup internasional, Sri Sultan dikenal sebagai salah seorang pencetus modern scouting. Gagasan modern scouting diterapkan di beberapa negara. Dalam kegiatan tersebut unsur pendidikan bagi para pesertanya sangat nampak terkait dengan berbagai hal mencakup kegiatan sosial, berorganisasi, beragam ketrampilan, pengenalan lingkungan, serta penanaman nilai etika dan moral yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1982, Sri Sultan terlibat dalam pendirian Universitas Widya Mataram di dalam lingkungan Kraton Yogyakarta. Dalam ungkapannya, Sri Sultan menyatakan, “... saya mendirikan Universitas Widya Mataram tidak untuk menambah deretan panjang jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, tapi saya ingin memberikan alternatif bagi dunia pendidikan di Yogyakarta.” Pada satu sisi, usaha tersebut memperlihatkan konsistensi keterlibatan Sri Sultan di dalam dunia pendidikan (tinggi). Di sisi lain, keterlibatan tersebut dimaknai dengan pemikiran pembaruan. Hal inilah yang perlu digali dan diinterpretasikan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan Setelah Adanya Perguruan Tinggi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dengan kemunculan lembaga pendidikan tinggi, sejumlah isu yang terkait dengan situasi sosial dan masalah idealitas muncul dalam forum yang diselenggarakan, maupun tulisan yang diterbitkan. Hal tersebut sejalan dengan tujuan didirikannya perguruan tinggi. Tahun 1956 Universitas Gajah Mada menyelenggarakan Seminar Internasional tentang Kebudayaan dan Seni. Penyelenggaraannya tidak melulu berisi pembicaraan, juga disertai pameran dan peragaan yang melibatkan berbagai komponen masyarakat. Tahun berikutnya, bersama Universitas Indonesia menyelenggarakan seminar sejarah. Dalam seminar tersebut diletakkan pendasaran historiografi yang indonesiasentris untuk memisahkan diri dari historiografi dengan sentris-sentris yang lain. Tokoh yang muncul dari forum tersebut antara lain Dr. Sartono Kartodirdjo. Dalam bidang filsafat, termasuk di dalamnya filsafat pendidikan, filsafat manusia, dan berbagai kajian lainnya, Prof. Dr. N. Driyarkara menerbitkan berbagai tulisannya. Bahkan beberapa kali mengkomunikasikannya lewat media siaran radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-konsep dan dinamika yang terumuskan di atas, menjadi dasar bagaimana pada satu sisi pendidikan ditempatkan dalam budaya yang ada dalam masyarakat. Di sisi lain, pendidikan sebagai proses mengupayakan setiap orang semakin membentuk kemanusiaannya. Kemanusiaan ters
