Tampilkan postingan dengan label Alex R. Nainggolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alex R. Nainggolan. Tampilkan semua postingan

Kepada Puisi-Puisi (Joko Pinurbo)

Alex R. Nainggolan

Potret perjalanan kepenyairanmu telah dilunaskan dengan terbitnya buku Pacar Senja oleh penerbit Grasindo (2005). Di buku itu, puisi-puisimu coba kembali seksama saya baca. Dan memang masih ada lenguh yang panjang-pendek, pertanyaan terhadap waktu, kenangan, permainan antara logika yang baka di mulut kehidupan. Semua puisi, yang terdiri dari periode lengkap kepenyairanmu membentangkan isyarat yang sama. Sebuah cita-cita untuk menggugat dunia keseharianmu yang sempat, baik itu berupa catatan-catatan kecil yang kau saksikan dalam perjalanan hidup. Nampaknya pula kau tak berhenti di situ saja, puisi-puisi lain, yang berkisah atau sengaja kau kisahkan bagi rekan-rekan penyair, terkadang kau tulis dengan "ujung" yang lain. Seperti juga ketika kau ingin mengerami telur puisimu menjadi puisi yang utuh.

Di kumpulan puisimu, hakikat waktu terus menjadi pertanyaan yang abadi. Perjalanan pulang dalam dunia kesepianmu seperti membungkus etika, ditambah larik-larik yang terkesan main-main, meskipun saya paham kau tak sedang bermain-main di dalam puisi itu. Kekuatan narasi yang ditawarkan dalam puisimu seakan menjebak seluruh permaknaan yang purba. Kau dengan lihainya berlindung ke dalam "celana", "telepon genggam", atau kisah-kisah tentang "mandi". Kau bergerak seperti peluru karet, kenyal, dan menembak seluruh ruang keingintahuan sebagai manusia utuh. Ada sisi filosofi yang hendak ditawarkan, ibarat bidak catur yang melangkah kemana pun kau suka.

Di sinilah, saya justru mengagumi jerit puisimu. Seakan membukakan pintu kesadaran yang lain. Puisi-puisi yang malah mencabik seluruh berkas kehidupan sebagai manusia yang lain. Kau dengan entengnya mengisahkan sebuah tokoh, dengan menghadirkan tokoh tersebut, seakan dekat dengan persoalan kita sehari-hari.

Bentangan kalimat yang sederhana itu pula, kembali mengingatkan saya pada sejumlah puisi yang ditulis Wiji Thukul, Rendra, atau Emha Ainun Nadjib. Kau tidak banyak bermain pada metafor-metafor ganjil, sebagaimana penyair-penyair lain, yang berasik-masuk dalam sayap imajinasi lainnya. Namun sekali kau bermain dengan metafor, dengan segera puisi itu berubah jadi isyarat lengking yang getir. Sebagaimana dalam "Baju Bulan":

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin
baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah
di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa
kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu
barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang
membutuhkan
bajunya yang kuno di antara
begitu banyak warna-warni
baju buatan.
Bulan mencopot bajunya yang
keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil
yang sering ia
lihat menangis di persimpangan jalan.
Bulan sendiri rela telanjang di langit,
atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak
bisa pulang.

(2003)

Demikianlah. Bukan hanya sampai di situ semata, kau kemudian bergerak dengan metafor-metafor lainnya, sebagaimana dalam "Mataair", "Pohon Perempuan", dan "Bertelur". Meskipun nampaknya jauh dari keinginanmu untuk bermain-main dengan penggalian makna yang lain. Kau hanya cukup memainkannya dengan kalimat yang sederhana. Tidak nampak ada kecanggihan kalimat di sana, tidak ada rupa-rupa majas yang aneh, tidak ada pergulatan yang aneh seperti dalam agenda puisi-puisi mutakhir. Bagimu, kau hanya berbicara tentang hidup sehari-hari, titik!

Namun justru dari sanalah letak kekuatan yang kaupendam dalam puisimu. Kecengengan yang kau hadirkan dengan diksi kata yang sederhana, memoles tenaga lain yang tersembunyi. Ah, aku bukan sedang bermaksud untuk memujimu. Tapi memang setiap aku membaca puisimu, seluruh ruang kesadaranku dengan seketika jebol. Aku terseret dalam makna kata yang kau hadirkan. Menukik, menerjang, memukul seluruh ruang kesadaranku. Pertama kali, kuanggap ini hanya rasa sentimentalku saja. Tapi setelah kuteruskan membaca, ternyata memang puisi-puisimu memang telah menemukan bahasanya sendiri.

Aku seperti terjebak dalam pusara kata yang tak habis-habisnya. Dan pembicaraan puisi-puisimu bukan sekadar ruang kehidupan sehari-hari, melainkan ia terlontar dengan kenyal layaknya sebuah bola yang ditendang ke sana-kemari. Agaknya, anggapan tentang penyair sebagai penemu bahasa ada benarnya. Puisi yang cerdas membutuhkan kompleksitas yang panjang. Puisi itu meramu seluruh babak kehidupan manusia, menyingkap setiap permenungan yang tumbuh.

Bung Joko Pinurbo, atau layak kupanggil Mas saja? Sebab kutahu engkau kelahiran Sukabumi, seorang Sunda yang gemar merayakan kehalusan bahasanya. Oke, aku tak ingin bertele-tele dengan menulis lebih banyak lagi. Pelbagai ulasan tentang (puisi-puisi)mu telah ramai menghiasi media massa. Sebut saja Nirwan Dewanto (yang katanya saat ini bertindak sebagai juru penentu perkembangan sastra Indonesia mutakhir), Nirwan Ahmad Arsuka, Sapardi Djoko Damono, pun Ayu Utami pada kata penutup kumpulan puisi terbarumu. Semuanya mengakui tertarik pada puisimu, seakan-akan serempak menahbiskan dirimu sebagai penyair yang sederhana, gemar memancing kata, dan akrab dalam realita kesehariaan.

Sebagaimana kau menulis begini:

Penyair kecil itu sangat sibuk
merangkai kata
dan dengan berbagai cara menyusunnya
menjadi
sebuah rumah yang akan
dipersembahkan kepada ibunya
"Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah,
Ibu tidur
saja di dalam rumah buatanku.
Aku akan berjaga di teras
semalaman dan semuanya akan
aman-aman saja.

Persoalan penantian memang kerap hadir dalam puisi-puisimu. Penampakan realitas yang dibalut dinding keceriaan, dicampur dengan alur sedih-yang tetap kautulis dengan rasa bahagia. Aku pikir, itulah yang "berbunyi" dalam puisi-puisimu. Kepolosan dalam menampakkan carut-marut hidup menciptakan sebuah bingkai yang kokoh. Kerinduan seseorang terhadap keluarga, efek masa kecil yang terus terkenang (dalam beberapa puisi yang bertema celana), atau perjuangan kemanusiaan yang kaurekam terhadap berbagai kondisi mutakhir. Katakanlah terhadap tragedi Mei di Jakarta, yang mengingatkan kita pada perkosaan massa terhadap sebuah etnis tertentu. Simak saja puisi "Mei":

MEI

Jakarta, 1998
Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kaupersembahkan kepada api.
Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.
Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan melelh
dalam api, Mei
adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan tubuh dusta kami dengan
membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei

Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia
cintanya
ketika tubuhmu hancur dan lebur
dengan tubuh bumi;
ketika tak ada yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.

(2002)

Puisi yang sepenuhnya nyentrik. Di sini, gaya khas dirimu bermain dalam menyusun setiap kalimat. Semangat bermain, yang sekali lagi tak bermain-main. Sebagaimana diketahui penyair merupakan anggota masyarakat terbesar juga. Dalam kesehariannya penyair bergulat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tentulah menghadirkan upaya-upaya baru dengan membalut sejarah (fakta) menjadi tak begitu kentara. Lebih menyortir sisi batin kehidupan manusia. Sebagai penyaksi zaman, seperti yang diungkap Ronggowarsito-semestinya kita tak turut edan juga dalam menyikapinya.

Tentang Alex R. Nainggolan
Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku dimuat di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, dll. ***

(Suara Karya Online, Sabtu, 4 November 2006)

Mencari Sinyal “Sunyi” di Telepon Genggam

Judul : Telepon Genggam (kumpulan puisi)
Penulis : Joko Pinurbo (JokPin)
Penerbit : Penerbit Buku KOMPAS, Jakarta
Kata Pembaca : Nirwan Ahmad Arsuka
Tebal : x + 77 halaman
Cetakan I : Mei 2003


Ia tidurkan telepon genggamnya di kuburan,
lalu ia buang ke laut

(Sajak "Selamat Tinggal", halaman 8)

Dalam perkembangan tulisan, produksi puisi menempati urutan yang paling banyak ditulis. Mungkin, hal ini disebabkan bila wilayah kreatif sebuah puisi berdiri pada tataran, yang oleh banyak orang, dianggap paling mudah untuk ditulis. Maka, tidak mengherankan bila dalam sebuah media massa, redaktur budaya selalu “kebanjiran” puisi untuk dimuat.

Pun dalam masyarakat, puisi merupakan sebuah bentuk yang tak pernah mengalami krisis, selalu ada penemuan baru, penyemaian estetika, tata cara ungkap, diksi-diksi yang turut memperkaya kerja bahasa. Puisi, merupakan sebuah permulaan, bagaimana kata-kata dibentuk, dan penyair merupakan orang yang tak habis-habisnya melakukan eksplorasi. Sebagai kerja kreatif, puisi seperti tak pernah kehilangan energi. Ia senantiasa membangkitkan metafora, igauan, sugesti, cambukan, kegetiran. Semua ihwal tersebut menjelma jadi ledakan yang kembali menjumpai pembacanya. Dan, puisi selalu menampakkan arus tersebut, ibarat memandang suatu “benda” di ruangan kaca, yang tentunya akan melahirkan persepsi yang berbeda pula.

Kemudian, sebuah kumpulan puisi hadir, dalam bentuk cetakan buku. Ditulis oleh penyair Yogya yang tampil unik memainkan diksi. Mencari berbagai celah sunyi, dari sebuah hamparan peradaban beku. Di mana kita senantiasa disuguhi dengan kemajuan teknologi. Sepertinya, puisi itu hadir secara serius—namun dengan tiba-tiba berubah haluan, membuat kita tersenyum (tertawa sekuatnya) sendirian. Kita disuruh untuk memaknai kegilaan hidup, dipermainkan, dibuat tegar. Kumpulan puisi kali ini, bertajuk Telepon Genggam, Joko Pinurbo, yang juga sebelumnya telah menerbitkan Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), memang tak dapat dipungkiri jika ia begitu produktif dalam menulis puisi. Itu pulalah yang diminta dalam Kata Penyair di buku ini, keinginannya yang tersisa hanyalah untuk bisa menulis saja, titik.

Sebagaimana sajak-sajak sebelumnya, sajak yang terhimpun di buku ini juga masih menandakan kepiawaian Joko dalam mengolah bahasa. Banyak penggunaan kata yang masih belum baku, semacam elo, gua, enggak, amat, dll. Terkadang beberapa tema yang ditawarkan begitu kasat dengan realitas. Kita seperti dihadapkan membaca sebuah peristiwa, sehingga tak perlu menafsir terlampau dalam. Ada kelucuan yang menjengkelkan, terkadang menciptakan ironi yang tertinggal di kepala. Sebentuk kegetiran yang terapung ketika menghadapi kehidupan dengan—peristiwa-peristiwa yang terasa begitu tidak masuk akal. Maka, kita terpaksa diajarkan kembali untuk membacanya pelan-pelan. Seperti yang tertuang dalam sajak Telepon Genggam: berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan dan tak pernah ada balasan. Hanya sesekali ia terima pesan, itu pun cuma iseng: Selamat, Anda mendapat hadiah undian mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda untuk dicocokkan dengan kodoknya.

Kita menganggap menulis semacam itu, mungki mudah. Sehingga acap membuat kita kembali menyesali, mengapa saya tak menulis seperti itu. Tetapi itu pun dibantah oleh Joko dalam sajak Buku. Pelajaran berharga bagi seorang penulis adalah buku—pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian. Lebih lanjut di halaman 24, Joko pun berkhotbah, memberi tahu bagaimana cqara membaca buku yang baik dan benar. Lengkap secara sistematis berdasarkan urutan angka:

1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu.
2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kaupahami suatu saat toh akan membukakan diri.
3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu.
4. Jangan sok filsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, kata-kata yang kau baca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu.

Demikianlah, sajak-sajak yang hadir memang masih merupakan ruang permenungan. Beberapa ada yang sama persis dengan konsep yang pernah digaungkan oleh Remy Sylado, Jihan—dengan puisi mbeling-nya. Namun, tetap saja membuka sebuah wilayah tafsir sendiri. Kata-kata dalam puisi Joko, seperti meminta untuk bertahan, meminta kita untuk tidak berlalu begitu saja. Membuat sebuah bekas, tapak perjalanan. Di mana si-aku selalu terkesiap menghadapi riuh dunia, dengan lalu-lintas teknologi yang terus berkecipak. Tetapi, itu pun nampaknya belum cukup, pesona lain yang ditawarkan oleh Joko adalah menyikapi “kekanak-kanakan” kita terhadap kehidupan.

Betapa kita mudah cengeng, terharu, kemudian membuat kita terasa begitu lemah. Tetap saja, di balik itu semua terdapat sebuah tawaran perlawanan yang berbeda dalam menyikapi hidup, bukan hanya sekadar mengepalkan tangan ke langit. Melainkan Joko lebih asik untuk menggodanya dengan lelucon-lelucon yang segar. Simak dalam sajak Ibu yang Tabah: Setiap subuh ibu itu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah. Malam hari diam-diam ia memeras air mata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya kepada anak-anaknya bila mereka sakit.

Penyair yang mulai melihat dunia ini sejak tanggal 11 Mei 1962 ini, memang begitu gemar untuk memainkan sebuah realitas. Secara gamblang, realitas itu ditarik dengan jelas, diuraikan pelan-pelan, kemudian disambungnya menjadi sebuah cerita. Pada umumnya, sajak-sajak yang ada dalam kumpulan ini bersifat prosa, dengan tuturan bercerita yang baik. Tema, bentuk, mauipun pemilihan diksi bersifat sederhana. Pun, ada sajak yang ternyata—mencoba untuk “menertawai” sajak penyair yang mapan Sapardi Djoko Damono. Sebagaimana yang tertulis dalam Laki-Laki tanpa Celana, Joko menghadirkan kutipan sajak Sapardi Pada Suatu Pagi Hari, yang terasa begitu memesona si-aku, sehingga menghubungkan sebuah jeda, untuk sebagai “umpan” bagi kalimat-kalimat selanjutnya.

Seperti yang pernah disinggung Nirwan Dewanto, dalam Tempo edisi khusus 2002, dirangkum pula dalam halaman depan buku ini. Jika Joko cenderung untuk melakukan antipoda dari pertautan puisi lirik dan protes. Bahasa sehari-hari dirangkum, dan dikembangkan kembali, sehingga menimbulkan pertautan makna dan bunyi yang baru. Puisi Joko, kebanyakan menertawai “keakuan”—dengan mendedahkan naluri kejahatan manusia, yang ternyata begitu suka untuk berpura-pura suci. Padahal, dalamnya begitu penuh kedengkian, kekotoran, sekaligus kemaksiatan. Joko membuka semua labirin moralitas yang terus menjadi hantu dalam sajak-sajaknya.

Dalam sajak-sajak sebelumnya, repitisi kata yang hadir, justru menambah kekuatan tema dan penggarapan secara maksimal. Seakan-akan, Joko mencoba mempermainkan kebodohan kita, menyulap kita agar tak perlu bermanja-manja menghadapi kehidupan yang memang dipenuhi dengan kekerasan ini. Sehingga membuat kita, terpaksa untuk mencurigai segala hal, bahkan bayangan diri sendiri. Meminta kita untuk “bertarung” di gelanggang, supaya tak lelah menghadapi kegagalan-kegagalan.

Kata-kata dalam sajak-sajak ini seperti telah bernapas dengan sendirinya. Tanpa bantuan dari si-penyair. Joko menghadirkan logika berpikir yang teramat sederhana, tanpa mengabaikan unsur puitik yang membentuk metafora tersebut. Sehingga sajak-sajak bisa dengan lepas berlarian kesana-kemari, tanpa harus memedulikan tempat muasalnya. Sajak itu lahir, untuk kemudian bernyanyi dengan sendirinya.
Dengan kata lain, dalam telepon genggam ini, sesungguhnya Joko sedang menghidupkan lagi telepon selulernya. Kemudian menunggu dalam sebuah ruang yang sunyi, adar sinyal masuk segera dan tidak lari ke mana-mana. Namun, ternyata yang didapati hanyalah carut-marut bencana. Membuat kita termenung, tentang sebuah kehidupan yang selalu menghadirkan trauma. Joko ingin menggugah sebuah kesadaran baru, yang ternyata belum lengkap ditemui. Ia ingin kita membongkar intelektualitas kita, mencemuburinya. Membukat kita selalu ingin membaca kelanjutan kalimat dalam puisinya. Untuk tetap kuat menghadapi realitas tersebut. Seperti dalam sajak Panggilan Pulang (halaman 6):

Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram.
Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan. Bagaimana tidurmu semalam? Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya? Tadi saya nunggu lama di kuburan.adzan subuh berkumandang. Penuh hujan. Ia buka telepon genggam. Tumben, ayah kirim pesan. Ibu sakit. Kangen berat. Nenek sudah tiga hari hilang. Makam kakek belum sempat dibersihkan. Sarung ayah dicuri orang. Utang stabil. Pohon nangka di samping rumah tumbang. Bisa pulang? Bisa minta ijin telepon genggam?
Pesan berakhir. Musik. Telepon genggam menyanyikan The Beatles: Mother…

Ya, nampaknya kita begitu cemburu. Gramatika yang dibangun teramat sederhana, membuat kita jadi kepingin menjelajahi kembali masa silam. Membuka semua kenangan yang pernah singgah. Meski, yang ditemui hanya suara-suara sunyi yang terasa sahut-menyahut, ataupun tiba-tiba bisu sama sekali. Sajak-sajak di buku ini telah membuka keterjagaan kita terhadap bentangan realitas yang ada di adapan. Dengan tawaran nuansa kata-kata yang ajaib, yang seperi mencoba, membuat sebuah jeda. Supaya kita menelusuri dongeng masa kecil yang membuat raup mata kita jadi bahagia. Kata-kata seperti terus berlahiran dari sajak-sajaknya, mengintip dari ruang si-penyair, untuk cepat-cepat menjumpai para pembaca. Kok, bukan kita yang menulis seperti itu, ya?

Alex R. Nainggolan,
Ketua YMS (Yayasan Multimedia Sastra) Bandar Lampung,
koordinator Komunitas Sastra Pelangi (KSP) Bandar Lampung