DI langit malam menggeriap titik-titik bercahaya, tak terkira jumlahnya, tak tepermanai jauhnya, entah ukurannya, usianya. Namun, pada suatu masa, manusia menarik sejumlah garis khayal di antara bintang-bintang itu dan membayangkan mereka sebagai makhluk-makhluk: kalajengking, kepiting, kambing, ikan, si kembar, perawan, … Dan menyematkan nama-nama: Aldebaran, Cassiopeia, Danu, Hamal, Orion, Southern Cross, Waluku, … Kerlap-kerlip yang sunyi itu mungkin sudah menggetarkan, tetapi tak cukup. Mata membutuhkan rupa, telinga mendambakan nama, otak merangkai pola. Sejak mula, agaknya, kita tak bisa mengelakkan "penasaran" yang mengasyikkan ini: bahwa di balik setiap gejala adalah sebuah (atau sejumlah) cerita.
MAKA, di antara serakan gemintang itu tersebutlah sesosok raksasa pemburu yang meregang busur panahnya, lelaki pembawa segentong air, perempuan penabur biji gandum, pembajak sawah, dan seterusnya. Ruang angkasa yang membentang jauh dan asing itu lalu seakan-akan jadi meriah, hidup, akrab. Mungkin pembayangan dan penamaan itu adalah sebentuk (dan bagian dari) penaklukan atau penjinakan atas hal-ihwal yang tak dikenal. Tetapi, sebenarnya itu sekaligus menunjukkan betapa perjalanan pengetahuan bukan hanya riwayat penguasaan, melainkan juga sejarah kegamangan dan ketakutan manusia.
Nyatanya, semenjak zaman dahulu sekali cerita merupakan perangkat penerang kepala manusia yang ajaib di semesta yang gulita penuh misteri. Berceritalah, agar kami mengerti mengapa dan bagaimana dunia ini tercipta, siapa dan dari mana nenek moyang kami gerangan, agar kami maklum di mana kami berada dan ke mana kiranya kami akan menuju. Dan, kitab-kitab pun bercerita tentang surga permai yang jauh, manusia lempung yang jatuh, bumi durhaka yang dilanda banjir besar; tentang mahadentuman, debu yang berpusar-pusar hingga bolongan hitam, makhluk bersel satu hingga kecerdasan buatan; tentang lautan kabut, para dewata dan pahlawan, jimat dan air keabadian.
Dan bukankah puisi-puisi tertua di dunia adalah kisah-kisah? Sebutlah epik Gilgamesh, Ramayana, Iliad. Pada mulanya penyair adalah sang juru kisah. Ia menjawab hasrat yang dalam di lubuk hati khalayaknya: keinginan membayangkan jalannya cerita dengan laku tokoh-tokoh yang dapat menggugah dan mengilhami hidup mereka sehari-hari. Tetapi, zaman puisi yang demikian tentu sudah lewat lama. Tradisi bercerita-yang sejatinya berdasar alam mitos dan berlatar belakang dunia epos-kini diteruskan oleh seni teater, novel, dan film.
Sedangkan si penyair adalah pelantun kata-kata yang ganjil dan indah. Puisi adalah pena yang bermimpi, kata filosof Gaston Bachelard. Dari hari ke hari puisi terus menemui khalayak yang kian lama kian terbatas, khusus, khusyuk. Tentu itu bukan niscaya kekeliruan. Tak ada yang patut disesali. Tradisi lirik, yang setia menyanyikan bisik hati, adalah sebuah riwayat tersendiri yang panjang juga.
Betapapun, puisi di zaman modern ternyata bertemu dengan sejumlah semangat militan yang tak terduga. Salah satunya adalah semangat yang hendak mencari intisari puisi yang tak akan ditemui dalam jenis ekspresi yang lain. Saya teringat sebuah cerita tentang mendiang Jose Garcia Villa. Penyair terkemuka asal Filipina yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di tengah kaum avant-gardis New York abad ke-20 itu berniat "memurnikan" puisi dengan membersihkannya dari unsur-unsur naratif sekecil apa pun. Puisi harus hanya menyosokkan keajaiban hadirnya kata demi kata, imaji demi imaji, bunyi demi bunyi.
Tetapi, barangkali memang ada sesuatu dalam diri kita yang mudah terpesona oleh rangkaian sebab-akibat, dengan situasi- situasi yang bergerak dan tokoh-tokoh yang terasa bernapas. Karena itu, sajak-sajak yang bercerita dengan kuat, yang menyuling drama pertemuan manusia, tak mati-mati dalam ingatan, atau akan selalu bangkit kembali dari sana. Kasan dan Patima atau Maria Zaitun dari balada-balada Rendra, manusia pertama di angkasa luar dari Subagio Sastrowardoyo, pacar kecil Joko Pinurbo: mereka adalah beberapa tokoh tak terlupakan yang lahir dalam puisi, di antara sekian banyak yang lain, yang bernama atau tak.
Barangkali selalu ada sejumlah garis yang harus ditarik, alur yang disusun, untuk menyederhanakan kerumitan dan ketidakpastian yang kian meresap ke lapis-lapis terdalam dunia (dan) manusia. Ada selarik kata-kata Hannah Arendt yang lirih, "Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita." Barangkali saja ada yang menunggu, untuk menerima, untuk mengingat-seperti orang menerima dan mengingat si kembar, kalajengking, bajak, perawan, meski mereka jauh di langit yang asing.
HASIF AMINI
Bentara-Kompas, Rbu, 1 Oktober 2003
Tampilkan postingan dengan label Hasif Amini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasif Amini. Tampilkan semua postingan
Ironi
LEWAT majas, bahasa kiasan, puisi terbiasa menautkan ranah-ranah pengalaman yang sering tampak berjauhan. Di dalamnya kita bisa mengalami sebentang tamasya dunia dengan anasir yang beragam, kadang saling berlawanan, namun bersahut-sahutan; kita menghadapi keserbamungkinan.
AMIR Hamzah, kita tahu, gemar memerikan kerinduan dan rasa penasaran akan Tuhan dalam kata-kata yang seakan bergerak dan bergetar ke arah lain: Engkau pelik menarik ingin/ Serupa dara di balik tirai; atau, Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Walt Whitman mendaftar dan merayakan manusia, debu, lembu, rumput, tikus, lokomotif, kapal, kamera, dewa, bintang, dan sebagainya, sebagai para anggota yang lemah tetapi juga kuat di alam semesta. Omar Khayyam kerap melukiskan kefanaan dan kerentanan hidup dalam rangkaian citra yang intim seperti anggur, cawan, lampu, pena, papan catur, dan taman karavan yang marak di tengah maha kelam yang luas dan dalam.
Majas membuat orang sadar bahwa ia hidup sebagai tubuh dan jiwa, nama dan makna, di sebuah jagat yang nyata sekaligus niskala, yang unsur-unsurnya saling berhubungan. Hubungan-hubungan yang lebih sering laten: karena itulah puisi mampu mengejutkan kita dari waktu ke waktu, dengan menemukan atau membangun jembatan kiasan yang memperjodohkan satu dan lain hal yang semula tak tampak punya kaitan. Maka, ketika kita sudah lama kehilangan rasa takjub terhadap kiasan mati semacam "matahari", "bulan sabit", "ibu jari", "jari manis", "tahilalat", "cinta monyet", … kita pun kemudian bertemu dengan, sebutlah, "baju bulan" (Joko Pinurbo), "bulan limau retak" (Rendra), "desir hari lari berenang" (Chairil Anwar), "hari terus rontok dari pohon abadi" (Subagio Sastrowardoyo).
Dalam puisi (juga sastra pada umumnya) kita memang bertemu dengan rangkaian kiasan, tetapi sesungguhnya kita bergerak di sebidang lapangan bernama ironi. Di sanalah kita bisa belajar tentang jarak antara kata dan dunia. Pelbagai hal tak terduga bisa terjadi: kearifan bertopeng kebodohan, atau sebaliknya, tata yang muncul dari gebalau, dan seterusnya. Sebuah karya barangkali bergerak seperti Sokrates yang senantiasa tampil sebagai sosok yang tak tahu dan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada lawan bicaranya (si pembaca) agar terus mencari dan mengolah pengertian yang lebih dalam tentang diri dan dunia yang dialaminya.
Memahami ironi berarti menangkap apa yang dikatakan dan tak dikatakan. Mengutarakan ironi berarti merengkuh posisi-posisi yang berlawanan sekaligus secara bersamaan. Mengatakan Z sambil memaksudkan N, atau N sekaligus Z, mengawinkan keduanya, seraya mengambil jarak dari masing-masing. Mengutarakan ironi berarti tidak menyampaikan sesuatu secara langsung melainkan menciptakan sebuah versi, sebuah rentang, sebuah ruang. Ini membutuhkan dan membangkitkan imajinasi. Peran pembaca dalam memetik dan memasak makna tentu menjadi niscaya. Dan, bisa saja, proses itu melewati rute-rute yang tampak jauh dari apa yang biasa disebut akal waras. Ia bisa tampak bersungguh-sungguh sekaligus bermain-main. Ia bisa tampak khusyuk sekaligus kurang ajar.
Ironi dan dusta sama-sama mengatakan kebalikan, atau sesuatu yang lain, dari ungkapan yang berterus terang. Bahwa sesuatu yang dinyatakan, yang harfiah, bukanlah yang sebenarnya. Tetapi ada perbedaan mendasar. Dusta menjadi efektif jika pihak lain tidak tahu apa yang sebenarnya. Ironi justru menjadi efektif jika pihak lain mafhum apa yang sebenarnya (dimaksudkan): sesuatu yang berada di ruang lain, bahkan mungkin terus bergerak ke ruang-ruang lain, seluas cakrawala masing-masing orang. Pembacaan (dan pembacaan adalah juga penulisan, yakni pembubuhan tafsir oleh pembaca) dengan demikian menjadi proses yang berjalan tak henti-hentinya.
Di sini kita bisa melihat bahwa karya sastra, atau seni pada umumnya, sesungguhnya bukanlah bekerja dengan dusta (seperti sering dikatakan tentangnya) melainkan bermain dengan ironi dalam arti yang luas. Sebab pada dasarnya pihak pencipta maupun penikmat sama-sama sadar akan "sesuatu yang lain" yang juga disaran dalam ungkapan demi ungkapan. Sebab itu apa yang disebut kejujuran dalam karya sastra bisa datang dengan seribu satu wajah: ekspresi-ekspresi bahasa yang mengajak orang menatap dunia dengan lebih tajam, lebih intens, dan menghadirkan pemandangan-pemandangan baru yang lebih hidup. Yang harfiah, apa boleh buat, hanyalah salah satu pilihan-dan jangan-jangan pilihan yang menjemukan-dalam pengutaraan makna.
HASIF AMINI
Bentara-Kompas, Rabu, 7 Juli 2004
AMIR Hamzah, kita tahu, gemar memerikan kerinduan dan rasa penasaran akan Tuhan dalam kata-kata yang seakan bergerak dan bergetar ke arah lain: Engkau pelik menarik ingin/ Serupa dara di balik tirai; atau, Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Walt Whitman mendaftar dan merayakan manusia, debu, lembu, rumput, tikus, lokomotif, kapal, kamera, dewa, bintang, dan sebagainya, sebagai para anggota yang lemah tetapi juga kuat di alam semesta. Omar Khayyam kerap melukiskan kefanaan dan kerentanan hidup dalam rangkaian citra yang intim seperti anggur, cawan, lampu, pena, papan catur, dan taman karavan yang marak di tengah maha kelam yang luas dan dalam.
Majas membuat orang sadar bahwa ia hidup sebagai tubuh dan jiwa, nama dan makna, di sebuah jagat yang nyata sekaligus niskala, yang unsur-unsurnya saling berhubungan. Hubungan-hubungan yang lebih sering laten: karena itulah puisi mampu mengejutkan kita dari waktu ke waktu, dengan menemukan atau membangun jembatan kiasan yang memperjodohkan satu dan lain hal yang semula tak tampak punya kaitan. Maka, ketika kita sudah lama kehilangan rasa takjub terhadap kiasan mati semacam "matahari", "bulan sabit", "ibu jari", "jari manis", "tahilalat", "cinta monyet", … kita pun kemudian bertemu dengan, sebutlah, "baju bulan" (Joko Pinurbo), "bulan limau retak" (Rendra), "desir hari lari berenang" (Chairil Anwar), "hari terus rontok dari pohon abadi" (Subagio Sastrowardoyo).
Dalam puisi (juga sastra pada umumnya) kita memang bertemu dengan rangkaian kiasan, tetapi sesungguhnya kita bergerak di sebidang lapangan bernama ironi. Di sanalah kita bisa belajar tentang jarak antara kata dan dunia. Pelbagai hal tak terduga bisa terjadi: kearifan bertopeng kebodohan, atau sebaliknya, tata yang muncul dari gebalau, dan seterusnya. Sebuah karya barangkali bergerak seperti Sokrates yang senantiasa tampil sebagai sosok yang tak tahu dan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada lawan bicaranya (si pembaca) agar terus mencari dan mengolah pengertian yang lebih dalam tentang diri dan dunia yang dialaminya.
Memahami ironi berarti menangkap apa yang dikatakan dan tak dikatakan. Mengutarakan ironi berarti merengkuh posisi-posisi yang berlawanan sekaligus secara bersamaan. Mengatakan Z sambil memaksudkan N, atau N sekaligus Z, mengawinkan keduanya, seraya mengambil jarak dari masing-masing. Mengutarakan ironi berarti tidak menyampaikan sesuatu secara langsung melainkan menciptakan sebuah versi, sebuah rentang, sebuah ruang. Ini membutuhkan dan membangkitkan imajinasi. Peran pembaca dalam memetik dan memasak makna tentu menjadi niscaya. Dan, bisa saja, proses itu melewati rute-rute yang tampak jauh dari apa yang biasa disebut akal waras. Ia bisa tampak bersungguh-sungguh sekaligus bermain-main. Ia bisa tampak khusyuk sekaligus kurang ajar.
Ironi dan dusta sama-sama mengatakan kebalikan, atau sesuatu yang lain, dari ungkapan yang berterus terang. Bahwa sesuatu yang dinyatakan, yang harfiah, bukanlah yang sebenarnya. Tetapi ada perbedaan mendasar. Dusta menjadi efektif jika pihak lain tidak tahu apa yang sebenarnya. Ironi justru menjadi efektif jika pihak lain mafhum apa yang sebenarnya (dimaksudkan): sesuatu yang berada di ruang lain, bahkan mungkin terus bergerak ke ruang-ruang lain, seluas cakrawala masing-masing orang. Pembacaan (dan pembacaan adalah juga penulisan, yakni pembubuhan tafsir oleh pembaca) dengan demikian menjadi proses yang berjalan tak henti-hentinya.
Di sini kita bisa melihat bahwa karya sastra, atau seni pada umumnya, sesungguhnya bukanlah bekerja dengan dusta (seperti sering dikatakan tentangnya) melainkan bermain dengan ironi dalam arti yang luas. Sebab pada dasarnya pihak pencipta maupun penikmat sama-sama sadar akan "sesuatu yang lain" yang juga disaran dalam ungkapan demi ungkapan. Sebab itu apa yang disebut kejujuran dalam karya sastra bisa datang dengan seribu satu wajah: ekspresi-ekspresi bahasa yang mengajak orang menatap dunia dengan lebih tajam, lebih intens, dan menghadirkan pemandangan-pemandangan baru yang lebih hidup. Yang harfiah, apa boleh buat, hanyalah salah satu pilihan-dan jangan-jangan pilihan yang menjemukan-dalam pengutaraan makna.
HASIF AMINI
Bentara-Kompas, Rabu, 7 Juli 2004
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Langganan:
Postingan (Atom)