Tampilkan postingan dengan label Tempo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempo. Tampilkan semua postingan

Joko Pinurbo dan Tahi Lalat

Sekali lagi karya Joko Pinurbo menjadi karya sastra pilihan Tempo. Ia mampu mengolah sudut pandang anak-anak dengan permainan waktu yang memikat.

Di rumah itu mereka tinggal berdua.
Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku.
Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.

“Suatu hari aku dan ibu pasti tak bisa lagi bersama.”
“Tapi kita tak akan pernah berpisah bukan?”
Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.


Baris-baris kalimat itu berasal dari sepotong puisi berjudul Jendela, tentang hubungan anak dan ibu dari mata sang anak. Ada ungkapan polos sang anak (...”meluncur ke jeram sungai yang dalam, byuuuuurr..."), ada kekhawatiran tentang perpisahan di masa yang akan datang, dan ada permainan imaji (“siapa tahu bulan akan melompat ke dalam/menerangi tidur mereka yang bersahaja...”).

Tengok pula puisi Ulang Tahun ini

Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50. 
Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49. 
Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48. 
Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17. 
Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun.

Dengan cerdik, Joko Pinurbo menggunakan kepolosan anak-anak untuk berbicara tentang kematian. Proses kematian dijabarkan secara terbalik, dari mengurangi angka umur manusia hingga ke titik nol, saat belum dilahirkan. Dengan sudut pandang anak-anak, Joko mampu mengolah kematian yang sesungguhnya serius itu menjadi nakal.

Ulang Tahun adalah salah satu puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi berjudul Tahilalat. Ini adalah buku terbaru Joko Pinurbo yang dipilih menjadi karya sastra pilihan Tempo tahun 2012. Ini kedua kali Joko Pinurbo dipilih Tempo.

Menurut Melani Budianta, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI yang menjadi salah satu juri sastra, keistimewaan puisi-puisi Joko Pinurbo adalah dia memiliki aspek seksualitas, sensualitas, banyak dimensi, juga hubungan dengan ibu yang digarap dengan apik, dengan bahasa yang tidak pretensius.

 Joko Pinurbo mulai memikat pembaca sastra setelah terbitnya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), dan Kepada Cium (2007). Dari karya-karya sebelumnya, Joko meraih sejumlah penghargaan. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana, memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001. Buku puisi ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga mendapatkan Sih Award 2001 untuk trilogi puisi “Celana 1”, “Celana 2”, “Celana 3”, dan penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002 untuk kumpulan puisi Di Bawah Kibaran Sarung (2001). Pada 2005, Joko menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004).

Lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962, sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Joko menulis sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Sebagai penyair, lulusan IKIP Sanata Dharma Jurusan Pendidikan dan Sastra ini menjelajahi banyak tema. Namun, tahun-tahun terakhir, ia banyak menggeluti obyek keseharian seperti celana, kamar mandi, atau bagian dari tubuh manusia. Semua diungkap dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi (juga parodi), yang akhirnya jadi ciri khasnya.

“Saya tidak suka mengangkat tema yang berat, tapi yang umum dengan pendekatan metafor baru, khususnya di Tahilalat ini,” kata ayah dua anak ini.

Dalam Tahilalat, Joko tak hanya mampu mempertahankan kekuatan puitik yang menjadi ciri khasnya. Ia juga mampu mengembangkan sudut pandang “dia liris” atau “aku liris” yang sangat peka akan waktu dan generasi. Motif dalam kebanyakan puisinya adalah bagaimana ia memberi kesempatan sepenuhnya pada kenaifan untuk menyuarakan dirinya sendiri tanpa intervensi, tanpa interpretasi dari penulisnya. Itulah salah satu keberhasilan Joko Pinurbo sebagai sastrawan.

Kepiawaian Joko mengolah sudut pandang anak dengan amat menyentuh dan ketangkasannya bermain-main dengan waktu-flashback dan rentang yang melompat-lompat – menjadi alasan mengapa Tempo memilih Tahilalat sebagai buku sastra terbaik.

“Ini menambah kekuatan kesederhanaan dan ekonomi kata-kata yang menjadi andalan Jokpin dalam menciptakan ironi, ketaksaan, humor dan kedalaman makna dalam syair-syairnya,” kata kritikus sastra Manneke Budiman, yang menjadi salah satu juri.

Tahilalat diikat pada narasi besar soal hubungan manusia. Joko melihat perilaku manusia melalui hubungan anak-ibu, anak-ayah, serta anak-ibu-ayah. Hubungan itu diangkat tidak semata dalam konteks psikologis dan hubungan darah. Ia memainkan banyak metafor untuk membolak-balik pola hubungan  itu. Bisa sebagai hubungan individu dengan Tuhan, warga negara dan negara, dan lainnya.

Dalam puisi berjudul Asu, misalnya, ia mengangkat idiom biasa dan mempermainkan kata itu: Di saat yang membahayakan itu saya teringat Ayah/Dulu saya sering menemani Ayah menulis/Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul/mesin ketiknya dan mengumpat, “Asu!”/Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran,/Ayah tersenyum senang dan berseru, “Asu!”/Saat bertemu temannya di jalan/,Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar asu. Meski lokal dari bahasa Jawa, idiom asu yang merujuk pada jenis hewan anjing sekaligus umpatan dan keakraban sapaan kawan dekat itu kini sudah lazim digunakan di beberapa daerah Tanah Air.

Joko mengaku seperti baru menamatkan ritual puasa panjang ketika buku itu akhirnya bisa diterbitkan. Maklum, untuk menyelesaikan buku yang “hanya” memuat 55 puisi itu, dia membutuhkan waktu tak kurang dari lima tahun, dari 2007 hingga 2012. “Tahilalat benar-benar menguras saya,”katanya. Sepanjang 2007-2012, Joko hanya mencurahkan waktunya untuk membuat puisi-puisi itu. Dalam setahun, mantan editor buku pendidikan Grasindo itu rata-rata hanya menghasilkan 11 puisi.

Di buku yang diterbitkan penerbit Omahsore Jakarta ini, penyair berusia 50 tahun itu terasa lebih selektif pada karyanya sendiri. Ia tidak lagi longgar, vulgar, dan terlalu prosais dalam mencipta rangkaian kata. “Saya lebih banyak pertimbangan. Kalau belum matang benar ya tidak saya publikasikan. Tidak kejar tayang dua tahun sekali, saya sedang tidak ada beban,” kata Joko, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merenung demi menata logika puisi dan sistematika ide puisi.

Selain lebih selektif, Joko juga mengaku sering mengalami kebuntuan. Dalan satu hari, ia bisa hanya mendapat satu baris kalimat. Jika satu puisi buntu di tengah jalan, biasanya ia akan berpindah mengeksplorasi puisi yang lain. Puisi berjudul Kamar 1105, misalnya. Gara-gara sering buntu di tengah jalan, puisi itu baru selesai setelah dua tahun. Kamar 1105 merupakan sebuah sandi rekaan Joko yang merujuk pada tanggal kelahirannya sendiri, 11 Mei. Dalam puisi itu Joko bertutur tentang perputaran nasib manusia yang mirip perjudian.

Langkah Joko yang kian hati-hati dalam membuat dan mempublikasikan puisi di Tahilalat dibayangi kekhawatiran pada sebuah cap yang dirasa semakin melekat pada sosoknya. Ia pun berupaya meninggalkan ikon “celana” seperti yang biasa digunakan dalam buku kumpulan puisi sebelumnya. Hanya ada dua puisi dalam kumpulan Tahilalat yang masih menyinggung soal celana, yakni Cenala dan Kredo Celana. “Kalau penyair sudah terlanjur dicap dengan gaya tertentu, sebenarnya dia sudah mati. Saya tak mau mati dan terjebak dengan stempel tertentu, itu mematikan kreativitas,” katanya.

Untuk mengasah kreativitas pula, setahun belakangan ini penyair yang menetap di Yogyakarta itu kini gemar membuat puisi pendek dan mengunggahnya di Twitter. Rencananya, pada Januari 2013, separuh dari 700 puisi yang sudah diunggah di jejaring sosial itu akan diterbitkan dalam buku berjudul Puitwit. Buku itu sekaligus sebagai bukti bahwa Joko mampu meramu puisi-puisi pendek yang menurut dia sangat menguras otak. “Di puisi pendek saya belajar tentang efektivitas kata secara ketat. Keblinger sedikit, bubar,” ujarnya.***

TEMPO, Edisi 7-13 Januari 2013

Yang Lahir dan Tumbuh dalam Gelanggang

DUA tahun yang lalu, majalah ini (dalam edisi milenium) menampilkan sekian tokoh, pokok, dan peristiwa yang telah mapan dalam sejarah kesenian modern di Indonesia—masa yang kurang-lebih terentang dari 1900 ke 1970. Namun, patut segera disadari bahwa kemapanan bukanlah kebajikan utama dalam proses berkesenian. Sebagaimana terbukti dalam sejarah seni dunia, apa yang dianggap penting di suatu masa dapat menjadi remeh-temeh di masa yang lain, dan apa yang termasyhur oleh publisitas di masa kini bisa lenyap tanpa bekas di masa datang. Adalah tugas sejarawan seni dan kritikus seni untuk menguji terus-menerus ketangguhan karya seni.

Jika kini majalah ini kembali memilih sejumlah nama lagi, itu karena kesenian kita tumbuh dan berubah. Sejak awal 1990-an, ada banyak karya baru muncul—sebagian bahkan mampu mengubah paradigma lama kesenian kita sekaligus meraih pengakuan internasional. Secara khusus kami—sebuah tim yang terdiri atas Leila S. Chudori, Yusi A. Pareanom, Seno Joko Suyono, Hermien Y. Kleden, Tony Prabowo, dan Nirwan Dewanto—mengamati seniman dan pelaku seni berusia 18-45 tahun. Keajekan (konsistensi) dalam produktivitas dan terlebih lagi mutu adalah kriteria utama kami dalam memilih nama-nama: mereka yang berada di puncak kreativitas dan mempunyai prospek yang bagus. Bukankah prospek tak lain proyeksi dari himpunan karya yang sudah menunjukkan garis perkembangannya sendiri?

Memihak pertumbuhan bukanlah perkara mudah. Ada begitu banyak sastrawan yang lahir, misalnya, tapi sebagian besar adalah penyair yang mendaur ulang gaya dan teknik perpuisian yang sudah mapan, serta penulis prosa yang menghasilkan cerita pendek yang sarat dengan tema klise dan tokoh stereotip. Mereka terjebak ke dalam rutin pekerjaan: mereka tak kunjung menyegarkan dan memperbarui medium utama mereka, yakni bahasa. Dengan ukuran ini, majalah ini sulit membayangkan prospek mereka ke depan (kecuali mereka sendirilah kelak yang mengubah orientasi penciptaan). Tapi penyair Joko Pinurbo dan novelis Ayu Utami adalah dua nama yang sungguh menyimpang dari arus umum itu. Dua kumpulan sajak Pinurbo, Celana dan Di Bawah Kibaran Sarung, menunjukkan bahwa puisi bisa ditulis dengan bahasa yang cair dan sehari-hari tapi tajam, penuh dengan ironi dan humor hitam. Sedangkan dua novel Ayu, Saman dan Larung, menandaskan bahwa novel adalah bentuk yang kaya, yang bisa menampung berbagai genre sejak puisi sampai budaya-pop, dan bukan sekadar alat untuk menyiarkan pandangan moral atau politik sebagaimana terjadi dalam khazanah sastra kita selama ini.

Ajek berkarya dalam rentang 10 tahun terakhir adalah jalan mahasulit. Tak ada koreografer muda usia yang tinggal di gelanggang menjaga mutu dan eksperimen kecuali Boi G. Sakti. Memang ada sejumlah koreografer muda yang muncul satu-dua kali, untuk kemudian hilang tanpa bekas. Pada umumnya mereka hanya berkarya untuk festival khusus, seperti Pekan Penata Tari Muda (kini sudah tidak ada) atau Indonesian Dance Festival; di luar itu, mereka seperti gersang-membeku. Sejak 1987, Boi menunjukkan perkembangan menarik, khususnya dalam menggali khazanah teater-tari yang eklektik. Bersama kelompok tari Gumarang Sakti yang diwarisinya dari ibunya, almarhumah Gusmiati Suid, ia mengocok tari Minang dengan pelbagai khazanah tari modern dengan gagasan skenografi yang kuat. Karyanya Di Jalan Tua yang tampil dalam Art Summit III 2001 barangkali adalah pencapaian puncaknya yang layak bersaing dengan karya tari dari mancanegara.

Kebanyakan koreografer kita memulai karirnya sebagai penari, tak terkecuali Boi. Namun, menari dan mencipta tari adalah dua hal yang berbeda. Penari yang mencoba "naik pangkat" dengan menjadi koreografer kebanyakan gagal dalam menguji ulang dan menciptakan kembali khazanah gerak yang pernah mereka akrabi; walhasil, mereka hanya "mengarang-ngarang" tari tanpa nalar. Maka sudah sepantasnya kita menghargai penari sederajat dengan penata tari. Dua penari yang datang dari khazanah Jawa, Martinus Miroto dan Eko Supriyanto, layak dicatat. Sekalipun piawai dalam tradisi asal mereka, mereka begitu terbuka dalam menyerap pelbagai khazanah dalam lingkungan global. Yang menonjol adalah kehadiran mereka di panggung-panggung kolaborasi internasional.

Dari khazanah musik baru, kami memilih dua komposer: Tony Prabowo dan Wayan Sadra. (Catatan: Tony tak lagi bergabung dengan tim ketika kami harus memilih nama.) Hampir mirip dengan tari, penciptaan musik "serius" juga hanya terdorong oleh festival semacam Pekan Komponis Muda (yang kini juga sudah tiada): banyak komposer yang "sekali berarti, sudah itu mati." Tapi keduanya terus berkarya, lebih banyak untuk panggung internasional (dan di situlah mereka beroleh pengakuan), sejak awal 1990-an: Tony dengan bertolak dari prinsip musik modern Barat (sekalipun ia pernah mempunyai kelompok yang terdiri atas pemusik asal Sumatra Barat) dan Sadra bereksperimen tanpa batas dengan khazanah musik Nusantara, khususnya Jawa dan Bali. Ada komposer lain yang kami pertimbangkan, yakni A.L. Suwardi, yang eksperimennya dengan genta dan piano bekas dalam Art Summit III 2001 telah membuka kemungkinan baru dalam khazanah gamelan Jawa. Namun, Suwardi sudah bertahun-tahun tak tampil berkarya, hal yang membuat ia tak bisa bersanding dengan Tony dan Sadra.

Nama lain yang layak mendapat kredit tinggi adalah konduktor Avip Priatna dan pianis Ananda Sukarlan. Avip satu-satunya pemimpin paduan suara di negeri kita yang sukses membawa kelompoknya, Paduan Suara Universitas Parahyangan dan Batavia Madrigal Singers, dalam tiga hal sekaligus: membawakan karya musik baru dengan tafsir yang tepat, menjadikan paduan suara sebagai tontonan bermartabat, dan meraih sejumlah penghargaan internasional yang penting. Sedangkan Ananda, yang kiprah utamanya di Eropa, adalah pianis kita yang memainkan karya-karya klasik ataupun kontemporer dengan teknik dan pemahaman yang tinggi. Ia satu-satunya solis kita yang beroleh pengakuan dunia; ia, antara lain, bermain di bawah arahan konduktor-komposer Pierre Boulez.

Berbeda dengan cabang seni yang lain, seni rupa adalah bidang yang dibanjiri nama-nama. Pasar, pengakuan internasional, pendidikan, dan sayembara seni rupa adalah perangsang penting bagi para pendatang baru. Di tengah keramaian demikian—tempat kaum perupa bereksperimen memburu gaya dengan sewenang-wenang—Heri Dono dan Agus Suwage mencitrakan kemantapan tersendiri dalam satu dasawarsa terakhir. Merengkuh bentuk dari kartun, wayang, seni rupa jalanan, mainan anak-anak, dan pelbagai produk budaya pop, Heri membuat lukisan, instalasi, dan seni rupa pertunjukan (performance art). Sedangkan Suwage bebas menggabungkan coret-moret, komik, realisme, fotografi, tulisan, dan cuplikan dari pelukis lain: hasilnya adalah ejekan tajam terhadap diri dan masyarakatnya.

Ada juga seni rupa yang sungguh menyimpang dari arus besar. Inilah karya yang, tanpa membubuhkan cap pribadi, tampil langsung di ruang publik. Di tembok-tembok Kota Yogya, kelompok Apotik Komik menampilkan komik berukuran raksasa. Sementara itu, Taring Padi menampilkan realisme sosial dalam baliho, poster, ataupun media lain, demi "penyadaran politik untuk rakyat banyak." Keberanian kedua kelompok itu untuk menyangkal pasar dan menjumpai langsung khalayak ramai patut mendapat penghargaan tersendiri.

Kehadiran sutradara Garin Nugroho dengan film layar lebarnya sepanjang 10 tahun terakhir tak pelak telah menghindarkan sinema Indonesia dari kematian. Kini, jika perfilman kita terlihat menggeliat bangkit dengan sejumlah sutradara baru yang bersemangat, kita pantas menyimpulkan bahwa Garinlah yang menjadi gara-gara. Tapi membuka ruang alternatif di tengah lautan penonton yang terjajah oleh sinetron dan film Hollywood sungguh pekerjaan yang tak kurang peliknya. Adalah Shanty Harmayn, bersama Natacha Devillers, yang dalam tiga tahun ini piawai melembagakan acara tahunan Jakarta International Film Festival. Inilah upaya untuk membangun penonton kritis dan memperluas cakrawala sinema kita. Sementara itu, Mira Lesmana berhasil meruntuhkan ketidakpercayaan penonton pada film dalam negeri melalui produksinya, Petualangan Sherina, yang terbukti dibanjiri penonton.

Dari khazanah teater, sejumlah kelompok baru yang pernah meramaikan panggung sampai pertengahan 1990-an kini hanya tinggal nama. Sejumlah sutradara dan aktor muda tak cukup beriman untuk bertahan menghidupi profesi teater. Ketidakkonsistenan, kehancuran dini, adalah salah satu masalah terbesar kesenian kita. Dalam kondisi ini, pantas dicatat kehadiran Rahman Sabur dan kelompoknya, Teater Payung Hitam, yang setia mengusung teater yang berlandaskan eksplorasi tubuh aktor. Juga Slamet Gundono, yang menghidupkan kembali wayang suket (rumput) ke konteks mutakhir.

Di dunia sana, fotografi sejak dulu sudah merupakan cabang seni. Tapi, di negeri kita, fotografi baru-baru ini saja mendapat perhatian dan telaah serius sebagaimana kesenian yang lain, khususnya sejak berdirinya Galeri Foto Jurnalistik Antara di awal 1990-an. Oscar Motulah dan Kemal Jufri adalah dua fotografer kita yang tak henti-hentinya merekam pelbagai aspek kehidupan social politik orang Indonesia: mereka menggabungkan jurnalisme yang tajam dengan estetika yang peka.

Jika kami memilih nama-nama, itu bukankah untuk mengawetkan mereka ke dalam museum khazanah nasional. Tantangan terbesar bagi mereka adalah pembaruan diri terus-menerus, demi memperluas cakrawala kesenian kita. Sesungguhnya khazanah seni kita masih miskin kompetisi: terlalu sedikit jumlah seniman, terlalu cepat datang pengakuan nasional, terlalu miskin telaah dan kritik seni. Kepada semua seniman kita, tanpa kecuali, penting diingatkan bahwa mereka masih harus bekerja keras untuk meraih ukuran yang wajar—ukuran yang berlaku di tingkat dunia. Apa boleh buat, ukuran nasional masih dihantui kesedang-sedangan (mediokritas).

Bagaimanapun, sebagian—belum semua—nama itu sudah menyentuh panggung internasional dan agaknya menyadari betapa sulitnya untuk menjadi bagian dari warga dunia.

Tim Panelis
TEMPO No. 44/XXX 31 Desember 2001

Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001

Joko Pinurbo:
Penyair Bertubuh Tipis dengan Hasrat Besar


Seandainya saja Joko Pinurbo adalah sebuah balon yang penuh sesak dengan ego, tahun 2001 akan menjadi tahun yang melambungkannya ke angkasa ruang. Bayangkan, di tahun 2001 itu Joko meraup tiga penghargaan sekaligus: dari Dewan Kesenian Jakarta untuk kumpulan puisinya Di Bawah Kibaran Sarung, kemudian ia juga dinyatakan sebagai pemenang SIH Award (lembaga yang dimotori pelukis Jeihan) untuk trilogi puisi Celana, dan dari Yayasan Lontar, juga untuk Celana. "Terus terang, saya kaget," kata Joko.

Dia kaget karena pada dasarnya dia adalah sosok yang pemalu, pendiam, dan sederhana dengan ego yang luar biasa di bawah tanah. Itulah sebabnya, karena Joko Pinurbo-tak seperti seniman Indonesia umumnya yang sibuk dengan ego dengan ukuran XL-bukan sebuah balon, dia tak melayang ke angkasa ruang, tapi hanya terpana karena "tak menduga akan mendapat penghargaan Lontar". Maklum, menurut dia, kumpulan puisi Celana adalah, "buku puisi saya yang pertama dan merupakan buku puisi percobaan," tutur Joko dengan rendah hari.

Lahir di Sukabumi, 11 Mei 1962, sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Joko menulis sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Karena orang tuanya tak punya cukup uang untuk membelikannya kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya. Hobi membacanya hanya tersalur lewat koran bekas pembungkus yang dibawa ayahnya. Setelah duduk di bangku SMA Mertoyudan, kegemarannya membacanya bisa disalurkan dengan jauh lebih baik karena perpustakaan sekolahnya memiliki koleksi yang mengagumkan.

Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya. Akibatnya, rapornya jeblok. Sebagai penyair, Joko menjelajahi banyak tema. Namun, tahun-tahun terakhir, ia banyak menggeluti obyek keseharian seperti celana, kamar mandi, atau bagian dari tubuh manusia. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi (juga parodi), yang akhirnya jadi "merek dagangnya".

Apa sebetulnya alasan Joko memilih tema keseharian tersebut? "Saya orang yang kuper (kurang pergaulan) karena sejak kecil sakit-sakitan," kata Joko. Dari kesendiriannya itulah ia jadi makin peka dengan hal-hal kecil yang mungkin tak tak terlalu memancing minat penyair lainnya.

Lulusan IKIP Sanata Dharma Jurusan Pendidikan dan Sastra ini tak cuma menggeluti puisi. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak. Penyair yang juga aktif di Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar-didirikan mendiang Y.B. Mangunwijaya-ini memiliki hasrat untuk membentuk acara kesenian yang bisa menjadi jembatan dialog antarmasyarakat lewat kesenian.

Meski pemalu, lelaki bertubuh tipis karena digerus penyakit di masa kecilnya ini memiliki bahasa yang witty, yang cerdas tanpa pretensi. Beberapa tahun silam, dia mempresentasikan sebuah makalah tentang puisi di Indonesia di Teater Utan Kayu, dan menyatakan, "Begitu banyak puisi di dalam cerita pendek dan novel Indonesia yang jauh lebih baik dan puitis daripada di dalam 'puisi resmi'," demikian ia bertutur santai. Dan ucapan itu memancing tawa gemuruh.

Kini, meskipun sudah mengantongi tiga hadiah, ayah dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai editor bank naskah Grup Gramedia di Yogyakarta itu mengaku masih punya rasa "iri". Joko penasaran kenapa puisi tidak bisa menjaring puluhan ribu pembaca seperti novel Saman karya Ayu Utami, misalnya. "Ini tantangan buat saya," kata Joko, yang tahun 2002 ini akan menerbitkan kumpulan puisi Pacarkecilku.

(TEMPO, Edisi Akhir Tahun, 31 Desember 2001)



Joko Pinurbo

"Saya memerlukan kesendirian," kata penyair Joko Pinurbo. Kesendirian itu dibutuhkan untuk mengolah ide, yang datangnya sewaktu-waktu, menjadi bait-bait puisi. Di tahun 2001 lalu, puisi yang meluncur dari tangan Jokpin -- panggilan akrab Joko Pinurbo -- telah melambungkan namanya. Itu karena, pada tahun itu, ia menerima tiga penghargaan untuk buku puisi Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, dan trilogi puisi Celana.

Entah karena kesendirian itu atau oleh sebab lain, Jokpin menjadi peka terhadap hal-hal kecil, seperti celana, kamar mandi, atau bagian tubuh manusia, yang dijadikan tema puisinya di tahun-tahun terakhir ini. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi. Pada puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Celana I, yang ditulis pada 1996, "Saya telah menemukan gaya dalam menulis puisi," katanya. Dengan penemuan itu ia makin bersemangat untuk terus berkarya.

Sulung dari lima bersaudara ini berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya guru sekolah dasar dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Sosok pemalu dan pendiam ini suka menulis sejak sekolah dasar di kota kelahirannya, Sukabumi. Karena orangtuanya tak punya cukup uang untuk membelikan kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya. Lulus SMP Joko melanjutkan ke SMA Mertoyudan, Magelang, dan di sana ia leluasa menyalurkan hobinya membaca, karena perpustakaan sekolah memiliki koleksi yang lengkap. Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya. Berkat beasiswa dari berbagai pihak, lulus SMA ia melanjutkan ke IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma), Yogyakarta, lulus 1987. Sempat mengajar beberapa tahun di almamaternya sebelum pindah bekerja sebagai editor di bank naskah kelompok Gramedia sampai sekarang.

Joko Pinurbo juga dikenal sebagai seniman yang aktif dalam berbagai diskusi dan pembacaan puisi di berbagai tempat ataupun forum. Misalnya festival puisi internasional Winternachten Overzee 2001 di Teater Utan Kayu, Jakarta. Pada Januari 2002, ia mengikuti perhelatan sastra di Belanda dan Jerman, antara lain dalam festival Sastra Winternachten di Den Haag. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak.

Menikah dengan Nurnaeni -- teman kuliahnya, yang kini guru SMP -- pada 1989, Joko kemudian menjadi ayah dua anak. "Saya selalu memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan keinginannya," ujarnya. Tapi, ia tidak menginginkan anak-anaknya jadi pengarang.

(www.pdat.co.id/hg/apasiapa/)