Pacar Senja: Sebuah Biografi Estetika Joko Pinurbo
(Pertunjukan Estetik Joko Pinurbo Hingga Akhir dan Pasca Orde Baru)

Oleh Agung Dwi Ertato

“Puisi adalah suara lain.” (Octavio Paz)
“These words were created by me with my blood,
with my pains they were created!” (Pablo Neruda)

I

Quote Octavio Paz dan Potongan puisi Pablo Neruda mengawali esai saya ini. Ada sesuatu yang menarik di balik quotes tersebut. Pablo Neruda mengajarkan pada kita tentang puisi. Puisi yang dimaksudkan oleh Neruda adalah kumpulan kata-kata yang dibuat melalui darah melalui kepedihan dari pembuatnya. Kepedihan dan darah tersebut terbentuk melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dialami atau dengan kata lain sebagai pengalaman pribadi dari seorang pengarangnya. Sedangkan Octavio Paz, beranggapan bahwa “Puisi adalah suara lain”. Menurut Paz, “Puisi tidak menyuarakan sejarah atau antisejarah, namun suara yang dalam sejarah senantiasa mengatakan sesuatu yang berbeda.” Lalu bagaimana dengan kondisi sastra atau perpuisian khususnya di Indonesia?

Tentu saja hal ini juga terjadi di Indonesia. Roman pertama Indonesia yang terbit pada prakemerdekaan, Siti Nurbaya, juga merupakan bagian dari darah Marah Roesli yang ia peroleh dari kehidupan kolonial di Hindia Belanda. Bagaimana dengan perpuisian? Puisi Indonesia Modern dipelopori oleh wacana estetika Chairil Anwar yang menawarkan (menjadikan tawar) perpuisian Indonesia dari pengaruh-pengaruh kesusastraan Melayu dan menggantinya dengan perpuisian yang lebih individualis. Wacana estetika tersebut kemudian diteruskan atau dirombak oleh penyair-penyair sesudahnya seperti Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Taufik Ismail, Danarto, Putu Wijaya, Afrizal Malna, Dorothea, Nenden Lilis, Oka Rusmini, hingga Joko Pinurbo. Namun, sebelum Chairil Anwar, Amir Hamzah juga telah menanamkan embrio dalam perpuisian Indonesia Modern. Embrio tersebut adalah konvensi tentang kesunyian yang dialami oleh penyair seperti yang terdapat pada buku kumpulan puisi Amir Hamzah, Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi. Kesunyian tersebut juga bisa diartikan sebagai darah dari penyair yang ia dapatkan dari perenungan tentang kondisi psikologi eksistensial atau kondisi sosial sekitarnya.

Karya sastra tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan keadaan sosial masyarakat yang menaungi penulis atau sastrawan. Sastrawan sendiri hidup di antara lingkungan sosial masyarakat. Menurut Sapardi Djoko Damono, “Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri merupakan kenyataan sosial.” ( Damono: 1978). Di Indonesia, sastra memang sangat dipengaruhi dengan kondisi sosial tempat puisi dibuat. Entah itu, sastrawan dalam membuat puisi memilih wacana estetik ‘perenungan akan kesunyian’ maupun ‘melihat kondisi sosial secara langsung’. Kondisi sosial sangat berpengaruh kuat dalam penciptaan karya sastra. Kondisi sosial politik merupakan sangat berpengaruh terhadap karya sastra di Indonesia, terutama ketika hegemoni Orde Baru berkuasa. Banyak sastrawan secara langsung atau tidak langsung menyoroti permasalahan yang disebabkan oleh hegemonik Orde Baru tersebut seperti Taufik Ismail, W.S. Rendra, Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Joko Pinurbo, dan lain-lain.

II

Dalam esai ini, saya akan lebih memfokuskan pembicaraan saya pada nama terakhir yang saya sebut di atas yaitu Joko Pinurbo. Ada hal yang unik dari pertunjukkan estetik Joko Pinurbo hingga akhir Orde Baru dan pasca-Orde Baru. Pertunjukkan tersebut tentu saja sangat berkaitan dengan wacana yang sedang menaungi pada awal kepenyairan Joko Pinurbo. Awal kepenyairan Joko Pinurbo sendiri dimulai pada tahun 1979 dengan munculnya puisi Prajurit di Malam Sebelum Perang.

PRAJURIT DI MALAM SEBELUM PERANG

ya akulah abdimu
dari kandung leluhurku aku telah lahir
kubawa namanya dalam berkatmu
di tengah hutan memancar kesegaran mata air yang berlinang
dengan jari-jari perkasa
kauhembuskan napasku
dan kualirkan darah
dalam tubuhku yang mungil
hingga sungai pun tetap mengalir
dan bocah-bocah yang berbaris di tebingnya
bersorak gembira
lalu ingin kupersembahkan padamu:
setetes darah yang amis
sekerat daging yang tawar
sehelai rambut yang rapuh
sepotong tulang yang lapuk
dan sebaris napas yang cair
– korban ini begitu sederhana
...

(dikutip dari “Humor yang Polits, Humor yang Tragis” , Bandung Mawardi.)

Jika dilihat secara seksama puisi tersebut masih terpengaruh oleh wacana estetik puisi lirik yang memang merebak pada masa itu. Sebelum membahas pertunjukkan estetika Joko Pinurbo hingga akhir Orde Baru dan pasca Orde Baru, tentu saja ada baiknya kita kembali membaca perkembangan Sastra Indonesia pada masa Orde Baru.

Agus R. Sarjono pernah menulis esai tentang perkembangan Sastra Indonesia pada masa Orde Baru. Dalam tulisan tersebut Agus R. Sarjono membagi periodisasi menjadi empat yaitu Sastra dan Orde Baru I, Sastra dan Orde Baru II, dan Sastra dan Orde Baru III & IV. Setiap periode tersebut mempunyai ciri-ciri tersendiri. Namun, dari semua periode tersebut, sejak periode Sastra dan Orde Baru II, 1980-an, pemerintahan di Indonesia mulai menunjukkan sikap represif terhadap para penentang pemerintahan termasuk sastrawan.

Di dunia sastra, sikap represif yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru adalah dengan politik bahasa. Pemerintah menggunakan jargon-jargon seperti bebas bertanggung jawab, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan lain-lain. Jargon-jargon tersebut tentu saja menyebabkan penguasa politik lebih hegemonik hingga puncaknya pada peristiwa Mei 1998 sebagai akhir kekuasaan hegemonik Orde Baru.

Michael Bodden menyebutkan pula bahwa, “Pemerintahan Orde Baru melakukan kontrol kebudayaan hingga terbentuk kebudayaan yang sejenis.” Ia juga menambahkan bahwa, “Kontrol tersebut menyebabkan hegemonik dari pemerintahan Orde Baru di bidang Kebudayaan”(Bodden: 1998). Kekuasaan hegemonik memunculkan kaum-kaum postmodern di Indonesia yang ingin menentang kekuasan hegemonik Orde Baru.

III

Joko Pinurbo adalah penyair yang tumbuh dan berkembang pada era kekuasaan hegemonik Orde Baru. Seperti yang telah disebutkan di atas, Joko Pinurbo mulai menulis puisi sejak tahun 1979. Pria kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 melakukan metamorfosis estetik kepenyairannya. Metamorfosis tersebut merupakan pertunjukkan estetik yang ditampilkan oleh Joko Pinurbo dalam menentang hegemoni penguasa Orde Baru. Pertunjukkan tersebut terekam dalam buku kumpulan puisi Joko Pinurbo, Pacar Senja (2005).

Pacar Senja merupakan buku puisi yang berisi puisi-puisi Joko Pinurbo yang tersebar dalam beberapa buku puisi sebelumnya, Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003, dan Kekasihku (2004). Melalui pertunjukkan estetikanya, ia mendapatkan Penghargaan Buku Puisi Pusat Kesenian Jakarta (2000), Hadiah Sastra Lontar (2001), Sih Award (2001), dan Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2002).

Bagaimana metaforsis estetika yang dilakukan Joko Pinurbo hingga berakhirnya hegemoni Orde Baru yang ditandai dengan Reformasi 1998?

Dalam buku Pacar Senja, puisi yang berusia paling tua adalah puisi ‘Layang-layang’ (1980). Di dalam puisi tersebut kita bisa melihat wacana estetik yang digunakan Joko Pinurbo pada awal kepenyairannya.

LAYANG-LAYANG

Dulu pernah kau belikan sebuah layang-layang
pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak
tapi hanya sejenak.

Sebab layang-layang itu kemudian hilang,
entah ke mana ia terbang.
Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang
dan kembali ketemu
Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu.

Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.
Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan
meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.
Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang.

1980


(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 133)

Puisi tersebut dibuat Joko Pinurbo pada usia 18 tahun. Tergolong muda sekali, bahkan Chairil Anwar baru mempublikasikan puisinya pada umur 20 tahun. Di usia semuda itu, wacana estetik yang digunakan oleh Joko Pinurbo masih terpengaruh oleh wacana estetik penyair terdahulunya seperti Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono. Aku lirik masih sebagai aku yang individu dan sajak tersebut masih masih berkisar pada permasalahan eksistensi psikologi.

Tradisi puisi lirik juga masih kuat diikuti oleh Joko Pinurbo—memang pada masa itu wacana estetik puisi masih berkisar pada jenis puisi lirik yang dikembangkan oleh Goenawan Muhamad dan Sapardi Joko Damono. Pada tahun 1989, wacana estetik Joko Pinurbo mulai bergeser atau bermetamorfosis melalui puisi ‘Tukang Cukur’ walaupun pada tahun 1990, Joko Pinurbo masih menunjukkan pengaruh estetika puisi lirik seperti pada puisi ‘Hutan Karet’ dan ‘Pohon Bungur’. Puisi ‘Tukang Cukur’ setidaknya menjadi titik awal perubahan orientasi dalam puisi-puisinya pada masa menjelang akhir Orde Baru dan pasca-Orde Baru.

TUKANG CUKUR

Ia membuat padang rumput yang subur
Di kepalaku. Ia membabat rasa damai
Yang merimbun sepanjang waktu.

“Di bekas hutan ini akan kubangun bandar,
hotel, dan restoran. Tentu juga sekolah,
rumah bordil, dan tempat ibadah.

Ia menyayat-nyayat kepalaku,
mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku.

“Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu.
Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.”

Suara guntingnya selalu menggangu tidurku.

1989


(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 17)

Dalam puisi ‘Tukang Cukur’, wacana estetik Joko Pinurbo pelan-pelan bergeser. Ia sudah tidak lagi menggunakan wacana estetik puisi lirik yang dulu ia gunakan pada awal kepenyairannya. Ia mulai menggunakan gaya narasi dalam lirik-lirik puisinya. Menggunakan potongan cerita atau kisah pendek namun tetap menggunakan metafora-metafora yang menimbulkan ironi. Puisi ‘Tukang Cukur’ juga merupakan perlawanan terhadap modernisasi yang dilakukan kuasa Orde Baru. Simbol-simbol modernisasi terlihat pada kata bandar, hotel, restoran, sekolah, rumah bordil, dan tempat ibadah. Kata-kata tersebut merupakan penanda bagi kehidupan kota yang menuju metropolitan. Pada masa Orde Baru pembangunan sangat didengung-dengungkan melalui PELITA (Pembangunan Lima Tahunan). Pembangunan tersebut persis seperti yang digambarkan oleh Joko Pinurbo dalam puisi ‘Tukang Cukur’.

Relasi kuasa yang dibangun oleh pemerintah Orde Baru menginginkan Indonesia menuju modern melalui kerja-kerja budaya yang sangat diatur ketat guna menuju Indonesia yang berbudaya tunggal atau penyeragaman budaya. Relasi kuasa itu kemudian ditentang oleh beberapa penyair dan tentu saja Joko Pinurbo salah satunya. Relasi kuasa Orde Baru diciptakan menggunakan bahasa sebagai alat tersebut. Bahasa sengaja dimatikan oleh pemengang kekuasaan dengan pemaknaan seragam. Hal ini menjadi keresahan bagi beberapa penyair karena bahasa merupakan ‘rumah’ bagi puisi. Dampak dari penyeragaman pemaknaan bahasa oleh Orde Baru adalah kesadaran masyarakat Indonesia tentang kesusastraan mulai berkurang. Namun, beberapa penyair, termasuk Joko Pinurbo, menggunakan bahasa untuk melawan balik hegemoni Orde Baru. Pada tahun 1989, Afrizal Malna juga menggunakan bahasa sebagai sarana melawan arus hegemoni Orde Baru.
….
Di stasiun, orang-orang berdiri. Mereka saling berdiam di hadapan spiker. Tahu, jam-jam berlalu, tidak membawa siapa pun pergi ke rumah sendiri. Sebuah kota penuh spiker, tahu, tidak perlu mendengar suaramu.

1989


(“Spiker di Jendela Kereta”, Afrizal Malna,dalam Arsitektur Hujan, hal. 36)

Afrizal Malna juga mempersoalkan arus modernitas yang dibangun oleh penguasa Orde Baru, sama seperti Joko Pinurbo. Namun, bahasa yang digunakan oleh Afrizal dan Joko Pinurbo berbeda walaupun Joko Pinurbo masih cenderung sedikit menguntit wacana estetik yang dibangun Afrizal Malna. Penggunaan kata-kata yang digunakan Joko Pinurbo masih mencitrakan unsur-unsur gelap seperti menyayat. Unsur-unsur gelap juga terdapat pada klausa-klausanya. Ia menyayat-nyayat kepalaku, aku akan mencukur lentik bulu matamu. Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu. Citraan tersebut merupakan unsur gelap dan bersifat ironi. Bagi mereka yang hidup dan tumbuh dalam kekuasaan hegemonik Orde Baru seperti Joko Pinurbo, tentu saja akan merasakan getirnya pencukuran yang dilakukan oleh Tukang Cukur atau akan merasakan seperti Afrizal Malna, kota-kota yang tidak perlu mendengarkan suaramu.

IV

Pada periode awal 1990-an hingga mendekati masa keruntuhan kekuasaan hegemoni Orde Baru, wacana estetik yang dilakukan Joko Pinurbo terus berkembang dan menemukan bentuk khasnya. Pada tahun 1990-an, Joko Pinurbo membuat puisi dengan gaya yang berbeda, tidak lagi kembali pada tradisi puisi lirik ataupun terjebak pada kegelapan puisi à la Afrizal Malna. Ia mengembangkan gayanya sendiri berupa gaya humor dengan menggunakan bahasa yang sering kita jumpai sehari-hari seperti celana, ranjang, dan sarung.

Pada periode itu pula, Orde Baru sedang gencar-gencarnya melakukan represif terhadap penentangnya. Buktinya adalah pembredelan sejumlah media massa seperti Tempo. Joko Pinurbo, dalam sajak ‘Tuhan Datang Malam Ini’, berhasil menangkap peristiwa pemberedelan Tempo. Kritiknya terhadap hegemoni Orde Baru memang tak sekeras W.S. Rendra, namun ironi muncul pada puisi tersebut.

....
Tuhan datang malam ini
di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus
dan celoteh sepi. Ia datang dengan sebuah headline
yang megah: “Telah kubredel ketakutan
dan kegemetaranmu. Kini bisa kaurayakan kesepian
dan kesendirianmu dengan lebih meriah.”
Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai
di atas halaman-halaman yang hilang,
rubrik-rubrik terbengkelai.
....


(“Tuhan Datang Malam Ini”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja, hal. 111)

Metafora yang dilakukan oleh Joko Pinurbo untuk penguasa Orde Baru adalah Tuhan. Orde Baru pada masa tahun 1990-an memang seperti “Tuhan”. Penguasa dengan mudah membredel media massa yang menentang penguasa Orde Baru. Orde Baru seperti “Tuhan”, mempunyai kekuasaan tak berbatas di Indonesia.

.....
Dan Tuhan datang malam ini
di gudang gelap, di bawah tanah, yang cuma dihuni
cericit tikus dan celoteh sepi.
Ia datang bersama empat ribu pasukan,
lengkap dengan borgol dan senapan.
Dengar, mereka menggedor-gedor pintu dan berseru:
“Jangan halangi kami. Jangan lari dan sembunyi.
Kami cuma orang-orang kesepian.
Kami ingin bergabung bersama Anda
di sebuah kolom yang teduh, kolom yang rindang.
Kami akan kumpulkan senjata
dan menyusunnya jadi sebuah komposisi kebimbangan.”

Tuhan, mereka sangat ketakutan.
Antarkan mereka ke sebuah rubrik yang tenang.

1997


(“Tuhan Datang Malam Ini”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 112)

Tuhan yang dimetaforkan oleh Joko Pinurbo sebagai penguasa Orde Baru adalah orang-orang yang kesepian dan orang-orang yang mengumpulkan senjata dan menyusunnya jadi komposisi kebimbangan. Gambaran represif penguasa Orde Baru terlihat pada metafor Tuhan. Penguasa memang sering melakukan tindakan represif dengan senjata dan menciptakan ‘kedamaian’ yang dipaksakan tetapi sebenarnya adalah sebuah komposisi kebimbangan. Ironi, baru dimunculkan pada bait terakhir. Bait terakhir dicetak dengan huruf miring. Hal ini merupakan bagian yang coba ditekankan oleh Joko Pinurbo bahwa orang-orang yang ditekan oleh sikap represif penguasa Orde Baru ternyata masih memohonkan “doa” kepada Tuhan (yang sebenarnya) untuk penguasa Orde Baru agar mereka “sadar”.

Beberapa puisi Joko Pinurbo lainnya seperti “Celana 1”, “Celana 2”, “Celana 3”, “Boneka 1”, “Boneka 2”, dan “Boneka 3” tetap menggunakan gaya humor tapi masih disisipi permasalahan sosial. Ia tetap menyisipi kritik sosial yang terjadi pada masa hegemoni Orde Baru.

...
Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih
yang menunggunya di pojok kuburan.
Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.”

Tapi perempuan itu lebih tertarik
pada yang bertengger di dalam celana.
Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!”
...


(“Celana 3”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 5)

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Joko Pinurbo melakukan kritik terhadap pengaruh asing dalam pemerintahan Orde Baru. Pengaruh asing tersebut disimbolkan pada Ini asli buatan Amerika. Amerika Serikat berpengaruh besar terhadap Indonesia terbukti dengan adanya Freeport di Indonesia bahkan hingga sekarang. Pengaruh tersebut juga terjadi di bidang ekonomi hingga menyebabkan krisis ekonomi pada tahun 1997-1998. Kritik tersebut terbungkus melalui bahasa humor –melalui percakapan sehari-hari. Puisi “Celana 3” memang tidak menggunakan bahasa puitik. Kekuatan puisinya adalah bahasa humor yang sederhana. Hal ini merupakan bagian dari metamorfosis wacana estetik yang diusung Joko Pinurbo dalam puisi-puisinya.

Pada puisi “Boneka 1”, Joko Pinurbo kembali menampilkan kritik terhadap kehidupan bernegara di Indonesia. Ia tetap mengusung wacana estetiknya yaitu narasi humor melalui percakapan.

BONEKA, 1

Setelah terusir dan terlunta-lunta
di negerinya sendiri,
pelarian itu akhirnya diterima
oleh sebuah keluarga boneka.

“Kami keluarga besar yang berasal
dari berbagai suku bangsa.
Kami telah menciptakan adat istiadat
menurut cara kami masing-masing,
hidup damai dan merdeka
tanpa menghiraukan lagi asal-usul kami.
Anda sendiri, Tuan, datang dari negeri mana?”

“Saya datang dari negeri yang pemimpin
dan rakyatnya telah menyerupai boneka.
Saya tidak betah lagi tinggal di sana
karena saya ingin tetap menjadi manusia.”
...


(“Boneka 1”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 25)

Ia mengibaratkan pemerintah Orde Baru sebagai boneka. Boneka merupakan simbol mainan. Hal ini berarti bahwa pemerintah Orde Baru merupakan mainan asing terutama Amerika. Simbol lain dari boneka adalah sebagai benda mati. Pemimpin bangsa dan rakyat di Indonesia sudah menjadi benda mati, tidak lagi menjadi manusia yang mempunyai hati dan perasaan—manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

V

Mei 1998 merupakan akhir dari hegemoni Orde Baru di Indonesia. Berakhirnya hegemoni Orde Baru berawal dari krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada medio akhir 1997 dan menyebabkan kerusuhan Mei 1998. Dalam buku Kerusuhan Mei: 1998 Fakta, Data, dan Analisa menyebutkan bahwa, “Kerusuhan Mei 1998 disebabkan oleh krisis ekonomi dan IMF memiliki peran penting dalam menciptakan krisis moneter yang meluas menjadi krisis ekonomi.” Program-program yang ditawarkan IMF lebih bersifat politis ketimbang ekonomis. Pemerintah Orde Baru juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak internasional. Akibatnya adalah harga-harga barang melambung dan menyebabkan kerusuhan di Indonesia.

Kondisi negara yang carut-marut menggerakkan mahasiswa untuk berunjuk rasa menuntut reformasi di Indonesia. Puncak unjuk rasa tersebut adalah tertembaknya mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Pada tanggal 13 Mei 1998 hingga 15 Mei 1998 kerusuhan mulai menyebar di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kerusuhan berubah menjadi kerusuhan rasial terbukti dengan pembakaran pertokoan yang mayoritas didiami oleh etnis Tionghoa. Bulan Mei 1998 kemudian menjadi bulan mencekam bagi sejarah Indonesia. Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur dari jabatan presiden. Peristiwa tersebut kemudian disebut sebagai Reformasi Mei 1998 dan sebagai akhir dari hegemoni Orde Baru.

Beberapa penyair kemudian menulis tentang Reformasi Mei 1998, seperti Taufik Ismail, W.S. Rendra, Agus R. Sarjono, Sitok Srengenge, Hamid Jabbar, Ikranegara, Danarto, Slamet Sukirnanto, Soni Farid Maulana, dan Iyut Fitria. Puisi karya nama-nama tersebut dimuat dalam majalah Horison bulan Juni 1998. Bahkan, penyair yang sering menulis tentang kegelisahan eksistensial ikut pula menulis puisi yang menggambarkan Reformasi Mei 1998. Wacana estetik pada periode ini berubah menjadi wacana estetik kontekstual karena sebagian besar sastrawan menulis tentang peristiwa Mei 1998.

Joko Pinurbo, dalam buku puisi Pacar Senja, juga mengikuti wacana estetik di akhir hegemoni Orde Baru. Peristiwa Mei 1998 disebut Agus R. Sarjono sebagai peristiwa terdahsyat di penghujung abad 20, sehingga tidak ada alasan lain untuk tidak menulis peristiwa tersebut kecuali alasan kemanusiaan dan kritik sosial terhadap kondisi tersebut. Perasaan carut marut Joko Pinurbo terhadap peristiwa tersebut terdapat pada puisi “Patroli”, “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, dan “Mei”.

Dua buah puisi Joko Pinurbo, “Patroli” dan “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, menggambarkan kondisi aksi unjuk rasa pada Mei 1998. Pada puisi “Patroli”, Joko Pinurbo tetap menggunakan wacana estetiknya, dengan gaya narasi humor penuh ironi. Puisi tersebut merupakan potongan cerita seperti yang terdapat pada puisi-puisi lain Joko Pinurbo namun perbedaannya dalam puisi “Patroli” lebih jelas kontekstualnya yaitu Mei 1998.

PATROLI

Iring-iringan panser mondar-mandir
di jalur-jalur rawan di seantero sajakku.
Di sebuah sudut yang agak gelap komandan
melihat kelebat seorang demonstran
yang gerak-geriknya dianggap mencurigakan.
Pasukan disiagakan dan diperintahkan
untuk memblokir setiap jalan.
Semua mendadak panik. Kata-kata kocar-kacir
dan tiarap seketika. Komandan berteriak,
“Kalian sembunyikan di mana penyair kurus
yang tubuhnya seperti jerangkong itu?
Pena yang baru diasahnya sangat tajam
dan berbahaya.”Seorang peronda
memberanikan diri angkat bicara,
“Dia sakit perut, Komandan, lantas terbirit-birit
ke dalam kakus. Mungkin dia lagi bikin aksi
di sana.” “Sialan!” umpat komandan geram sekali,
lalu memerintahkan pasukan melanjutkan patroli.
Di huruf terakhir sajakku si jerangkong itu
tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil
menepuk-nepuk perutnya. “Lega,” katanya.
Maka kata-kata yang tadi gemetaran
serempak bersorak dan merapatkan diri
ke posisi semula. Di kejauhan terdengar letusan,
api sedang melahap
dan menghanguskan mayat-mayat korban.

(1998)


Dalam puisi tersebut, sikap represif militer terhadap demonstran digambarkan melalui gaya narasi. Komandan, panser, patroli merupakan simbol militer sedangkan simbol demonstran digambarkan oleh kata-kata. Peristiwa Mei 1998 memang seperti yang digambarkan oleh Joko Pinurbo. Militer membubarkan para demonstran menggunakan panser dan menembaki demonstran tersebut hingga menimbulkan korban jiwa bagi demonstran. Humor yang muncul pada puisi tersebut terdapat pada bagian “Si jerangkong tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil menepuk-nepuk perutnya.” Si jerangkong kurus tersebut sampai harus bersembunyi di dalam kakus—tempat yang berkonotasi jorok—hanya untuk mengelabui militer yang represif terhadapnya. Hal itulah yang terjadi pada masa hegemoni Orde Baru hingga berakhirnya masa tersebut, para aktivis, yang disimbolkan melalui si Jerangkong, harus bersembunyi untuk menghindari sikap represif (sikap represif tersebut biasanya dengan cara penculikan) dari penguasa Orde Baru.

Pada puisi “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, Joko Pinurbo lebih menggunakan ironi. Joko Pinurbo menggambarkan kerusuhan Mei 1998 seperti peristiwa penyaliban Yesus di bukit Golgota. Sebelum penyaliban, Yesus di arak menuju Golgota melewati via dolorosa. Via dolorosa kemudian penuh dengan darah Yesus.

MINGGU PAGI DI SEBUAH PUISI

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah
ketika hari masih remang dan hujan, hujan
yang gundah sepanjang malam
menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi
berbasah-basah ke sebuah ziarah.

Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara
di sepanjang via dolorosa.
Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.
Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)
berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.
...


(“Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja, hal. 114)

Pada kerusuhan Mei 1998, banyak korban berjatuhan di beberapa sudut kota Jakarta. Pembakaran terjadi di pertokoan-pertokoan Tionghoa. Darah-darah banyak tersebar di jalan-jalan kota Jakarta. Jakarta seperti via dolorosa yang banyak bercak-bercak darah. Bahkan pada kerusuhan tersebut langit kehilangan warna dan jejak kehilangan suara hanya untuk berduka pada kerusuhan tersebut. Simbol-simbol tersebut merupakan ironi yang diungkapkan oleh Joko Pinurbo untuk menggambarkan kerusuhan Mei 1998 melalui puisi.

Pada puisi “Mei” tidak ada lagi humor yang biasanya menjadi ciri khas puisi Joko Pinurbo. Joko Pinurbo kembali pada gaya liris yang penuh ironi. Puisi “Mei” sendiri di tulis pada tahun 2000, pasca-Orde Baru. Hal ini menunjukkan bahwa kerusuhan Mei 1998 sangat membekas dalam ingatan.

MEI

: Jakarta, 1998

Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kaupersembahkan kepada api.
Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.
Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.
Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit yang cuma ilusi.
Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei
adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan tubuh dusta kami dengan membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei
Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia cintanya
ketika tubuhmu hancur
dan lebur dengan tubuh bumi;
ketika tak ada lagi yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.

2000


(“Mei”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 120)

Membaca puisi “Mei” Joko Pinurbo mengingatkan saya pada puisi Sapardi Djoko Damono “Ayat-ayat Api” terutama fragmen pertama. Ada kesamaan kelirisan dari kedua sajak tersebut.
...
mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan
...


(“Ayat-ayat Api”, Sapardi Joko Damono, dalam Ayat-ayat api, hal. 115)

Kedua puisi tersebut sama-sama menangkap kerusuhan Mei 1998 dan mempunyai kemiripan lirisnya. Apa yang menyebabkan Joko Pinurbo menanggalkan sejenak wacana estetiknya berupa humor yang biasa ia gunakan dalam beberapa puisinya? Tentu saja, peristiwa kerusuhan Mei 1998 itu sendiri yang begitu pilu dan menyedihkan sampai-sampai Joko Pinurbo kembali pada wacana estetik tradisi puisi lirik, kembali pada aku lirik yang mengalami perenungan. Mei disimbolkan sebagai perempuan cantik yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998.

Jika kita melihat seksama diksi yang dipilih Joko Pinurbo sebagai judul puisinya, maka kita akan mendapatkan nama Tionghoa. Mei adalah nama perempuan Tionghoa yang berarti cantik. Kerusuhan Mei 1998 menjadi kerusuhan rasial. Banyak korban etnis Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan. Mei merupakan simbol korban Tionghoa yang dibakar tanpa tahu apa kesalahannya—tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.

VI

Pascakeruntuhan hegemoni Orde Baru, wacana estetik Joko Pinurbo berubah sedikt demi sedikit. Beberapa puisinya ada yang berupa aforisma-aforisma pendek (pada puisi “Kepada Puisi”, 2003).

KEPADA PUISI

Kau adalah mata, aku airmatamu.

2003


(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 147)

Pada puisi “Kepada Puisi”, Joko Pinurbo melakukan percobaan-percobaan estetik. Tidak lagi berupa narasi panjang maupun narasi humor. Joko Pinurbo mempertunjukkan kerja kreatifnya dengan kata-kata yang padat dan hanya menggunakan satu larik saja.

Beberapa puisinya juga ada yang berbentuk puisi sentimentil (pada puisi “Pacar Senja”, 2003).

PACAR SENJA

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.
Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.

“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.

2003


(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal .45)

Letak sentimental puisi tersebut adalah pada pemilihan tema yang digarap oleh Joko Pinurbo. Jarang sekali Joko Pinurbo menampilkan tema-tema percintaan. Pada periode pasca-Orde Baru, Joko Pinurbo mencoba memainkan tema percintaan. Yang menjadi unik, Puisi “Pacar Senja” tidak tenggelam pada arus romantik seperti penyair setelah Sapardi Djoko Damono, namun masih saja menimbulkan ironi. Ironi tersebut terdapat pada bait keempat.

Beberapa lagi masih terdapat wacana estetik yang orisinil dan khas yaitu narasi humor tragisnya (pada puisi “Celana Ibu”, 2004)

CELANA IBU

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus untuk mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana cinta buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

2004


(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 14)

Pada puisi tersebut, Joko masih menjaga eksistensi wacana estetik khasnya. Kekuatan puisi tersebut tidak pada diksi yang puitik namun pada alur narasi yang dibangun oleh tokoh-tokoh dalam sajak. Tokoh-tokoh tersebut menimbulkan ironi. Peristiwa paskah yang tragis masih bisa kita tertawakan. Kata paskah menjadi ambigu ketika dikaitkan dengan kata pas. Itulah kekuatan ironi yang dikembangkan dalam puisi-puisi Joko Pinurbo.

VII

Perubahan wacana estetik merupakan kewajaran karena penyair pasti mengalami dinamika dalam pencapaian estetiknya sejalan dengan pengalaman hidupnya bersinggungan dengan dunia nyata, dunia yang penuh dinamika sosial.
Yang menjadi unik, biografi estetika Joko Pinurbo diberi nama Pacar Senja yang diambil dari puisi sentimentilnya.

...
Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.
...
Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.
...


(“Pacar Senja”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja hal. 45)

Pertunjukkan estetik Joko Pinurbo hingga 2004, seperti sebuah tragic comedy, berisi humor-humor yang tragis. Pacar Senja merupakan sebuah pertunjukkan estetik Joko Pinurbo yang terus bersinggungan dengan lingkungan sosialnya dari masa Orde Baru hingga pascaruntuhnya hegemoni Orde Baru. Pertunjukkan estetiknya seperti Pacar Senja yang sentimentil dan tak ada matinya.


Daftar Pustaka

Bodden, Michael. 2004. “Satuan-satuan Kecil dan Improvisasi Tak Nyaman Menjelang Akhir Orde Baru” dalam Keith Foulcher dan Tony Day (ed.), Clearing a Space. Jakarta: Yayasan Obor dan KITLV.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
____________________. 2000. Ayat-ayat Api. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Jusuf, Ester Indahyani, dkk. 2007. Kerusuhan Mei 1998: Fakta, Data, dan Analisa. Jakarta: SNB dan APHI.
Kleden, Ignas. 2004. “Membaca Kiasan Badan: Kumpulan Sajak Joko Pinurbo” dalam Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Freedom Institute.
Malna, Afrizal. 1995. Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Bentang.
Mawardi, Bandung. 2010. “Humor yang Politis, Humor yang Tragis” dalam Zen Hae (ed.), Dari Zaman Citra Ke Metafiksi: Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ. Jakarta: KPG.
Paz, Octavio. 2002. Puisi dan Esai Terpilih terjemahan Arif. B. Prasetyo. Yogyakarta: Bentang.
Pinurbo, Joko. 2005. Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.
Redaksi Horison, Tim (ed.). 1998. “Puisi-puisi Reformasi” dalam majalah Horison, XXXII/6/1998.
Sarjono, Agus R. 1998. “Sastra Indonesia dalam Empat Orde Baru” dalam Majalah Horison, XXXII/7-8/1998.
Utami, Ayu. 2005. “Joko Pinurbo: Mengapa Kematian, Penyairku” dalam Joko Pinurbo, Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.

Sumber: http://agungdwiertato.blogspot.com/

Tragedi Pada Minggu Pagi

Oleh Agung Dwi Ertato

MINGGU PAGI DI SEBUAH PUISI

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah
ketika hari masih remang dan hujan, hujan
yang gundah sepanjang malam
menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi
berbasah-basah ke sebuah ziarah.

Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara
di sepanjang via dolorosa.
Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.
Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)
berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.

“Ibu hendak ke mana?” Perempuan muda itu menyapa.
“Aku akan cari dia di Golgota, yang artinya:
tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu
sambil menunjukkan potret anaknya.
“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:
surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.

Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa.
Lalu katanya, “Ia telah menciumku
sebelum diseret ke ruang eksekusi.
Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata
telah menjarah perempuan lemah ini.

Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya
pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;
pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk;
pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah
ketika hari mulai terang, kata-kata
telah pulang dari makam,
iring-iringan demonstran makin panjang,
para serdadu berebutan kain kafan, dan dua perempuan
mengucapkan salam: Siapa masih berani menemani Tuhan?

(Joko Pinurbo, 1998)



/1/

Membaca sajak-sajak Joko Pinurbo (Jokpin), kita akan dihadapkan pada retorika yang bersifat humor namun menampilkan tragedi. Dalam proses kreatif Jokpin, ia sempat mengalami ketegangan antara puisi lirik dan puisi naratif. Jika membicarakan puisi lirik, tidak akan terlepas pada nama-nama seperti Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono. Pada awal tahun 1970, perkembangan puisi lirik di Indonesia sangat pesat. Joko Pinurbo sendiri pernah mengaku bahwa dalam menulis puisi dia sangat terpengaruh pada Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, dan Sapardi Djoko Damono (Koran Tempo, Minggu, 3 Juni 2007). Jokpin kemudian mencapai pada penemuan estetikanya yaitu mentransformasikan aku lirik ke pengucapan epik dengan penguatan kisah dari sifat lirik murni.

Tragedi di sekitar penyair kemudian ditangkap oleh penyair dan diubahnya menjadi sajak yang lebih humor namun menyimpan kepedihan yang dalam.

Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang
bertengger di dalam celana. Ia sewot juga.
“buka dan buang celanamu!”
Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang
gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan burung
yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana.
(Celana, 3: 1996)


Tragedi tentang peristiwa tahun 1998 juga tidak luput dari kacamata Joko Pinurbo. Ada beberapa puisi yang sangat berkaitan dengan tragedi tahun 1998. Dalam puisi-puisi tersebut, Joko Pinurbo kembali menampilkan gaya yang khas—humor— namun kali ini Joko Pinurbo lebih banyak menampilkan unsur tragedi seperti yang ada pada sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi.


/2/

Seperti yang kita ketahui, pada tahun 1998, Indonesia mengalami gejolak politik. Gejolak politik kemudian disebut Reformasi 1998. Reformasi 1998 menghasilkan perubahan politik yang cukup signifikan. Namun, perubahan dalam proses perubahan tersebut terjadi berbagai masalah yaitu masalah demonstrasi (penembakan mahasiswa), penjarahan, dan masalah etnis (etnis tionghoa banyak menjadi korban).

Pada tahun 1998, banyak penyair yang menyoroti permasalahan tersebut. Beberapa di antaranya adalah Acep Zamzam Noor, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, dll. Puisi-puisi yang dihasilkan oleh penyair tersebut sangat gamblang dan transparan dalam menyampaikan kemarahan terhadap tragedi 1998.

(3)

ada seorang perempuan
diam saja berdiri
di dekat tukang rokok
di seberang jalan raya itu

ada satpam memperhatikannya
dari ujung gang itu
ada polisi sekilas melihatnya
dari dekat gardu telepon itu
ada anak tetangga sebelah
menyapanya
ada guru sd
yang masih mengenalnya
menepuk bahunya
ada neneknya di rumah
yang sudah suka lupa —

ada suaminya ada anak-anaknya
(yang
mungkin
saja
sedang
memikirkannya
juga)
yang kini
(tentunya
mungkin
moga-moga
saja
tidak!)
berada dalam sebuah toko besar
(atau
tidak
lagi
bisa)
yang sedang terbakar

(Fragmen ketiga dari Ayat-ayat Api, Sapardi Djoko Damono, 2000)


Pada kutipan sajak di atas, Sapardi dengan gamblang menggambarkan peristiwa 1998 dengan jelas dan kontekstual. Kebiasaan Sapardi dalam menulis puisi adalah ia jarang menulis puisi secara kontekstual pada peristiwa-peristiwa besar. Berbeda dengan Sapardi, Joko Pinurbo menangkap peristiwa 1998 menggunakan metafor-metafor yang mengaburkan peristiwa tersebut jika dibaca sepintas. Pada sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi, Joko Pinurbo menggunakan menggunakan analogi peristiwa 1998 dengan peristiwa paskah yang dialami oleh Yesus.

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah
ketika hari masih remang dan hujan, hujan
yang gundah sepanjang malam
menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi
berbasah-basah ke sebuah ziarah.
.

Paskah menjadi suatu kisah yang pedih dan sendu pada hari Minggu pagi yang seharusnya diisi oleh suatu kebahagian. Minggu pagi identik dengan hari libur yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk melepas kelelahan setelah bekerja selama seminggu. Kebahagiaan hari Minggu kemudian dirusak oleh berita pagi yang memberikan berita tentang tragedi. Tragedi tersebut kemudian dikuatkan dengan suasana hari yang masih remang disertai hujan yang gundah sepanjang malam. Ziarah menambah kengerian hari Minggu. Ziarah menandakan suatu perjalanan menuju kubur.

Apa yang ditampilkan dalam bait pertama tidak lain adalah penggambaran suasana. Kata Paskah, remang, hujan, pergi, basah, dan ziarah memberikan efek suasana yang melankolia. Kata Paskah memberikan suasana yang mencekam. Paskah dalam ajaran Kristiani adalah peristiwa Yesus disalib. Sebelum penyaliban, Yesus disiksa hingga berdarah-darah, hingga ia sangat tersiksa tak bisa lagi mengatakan sesuatu hal hingga pada akhirnya ia disalib di bukit Golgota. Dari kata Paskah saja gambaran tentang tragedi sudah tergambar penuh luka dan darah.

Pada bait kedua sampai kelima kisah Paskah dijabarkan. Isian tragedi Pada Minggu Pagi kemudain berawal dari bait dua. Kengerian tragedi lebih ditampilkan. Darah-darah berceceran sepanjang jalan. Tidak ada suara sepanjang jalan. Yang tersisa adalah langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.

Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara
di sepanjang via dolorosa.
Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.
Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)
berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.


Darah menandai keadaan yang penuh luka, penuh rasa perih dan pedih. Penderitaan yang terjadi menyebabkan suasana yang sunyi sehingga jalan kecil tak dilewati kata-kata.

“Ibu hendak ke mana?” Perempuan muda itu menyapa.
“Aku akan cari dia di Golgota, yang artinya:
tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu
sambil menunjukkan potret anaknya.
“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:
surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.

Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa.
Lalu katanya, “Ia telah menciumku
sebelum diseret ke ruang eksekusi.
Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata
telah menjarah perempuan lemah ini.

Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya
pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;
pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk;
pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”


Pada bait ketiga sampai kelima, penyair menampilkan gaya naratif. Gaya tersebut menggunakan dialog-dialog yang sering digunakan pada karya sastra jenis prosa. Gaya tersebut menimbulkan efek yang tersirat melalui percakapan. Metafor-metafor menyelinap di antara percakapan antara dua perempuan.

Pada bait ketiga dan keempat, kata penculikan, perusuh, terperkosa, eksekusi, senjata, menjarah, perempuan, dan lemah merupakan penanda bagi keadaan kota yang chaos. Keadaan kota yang sangat berantakan. Kota yang tidak mempunyai norma dan bahkan agama telah menjarah perempuan lemah. Golgota menjadi anologi Jakarta yang merupakan tempat penculikan dan surga para perusuh.Golgota merupakan tempat penyaliban Yesus. Tempat tersebut merupakan tempat kejam. Kepedihan yang dialami Yesus terjadi di Golgota. Bisa dikatakan bahwa Golgota merupakan tempat yang kejam. Lalu bagaimana dengan Jakarta? Jakarta tidak ubahnya seperti Golgota. Jika Golgota adalah tempat penyiksaan Yesus, Jakarta lebih parah lagi. Jakarta menjadi surga para perusuh. Ini berarti bahwa Jakarta adalah tempat tindak kejahatan bermukim. Hal tersebut menjadikan Jakarta menjadi kota yang kejam.

Permasalahan kelamin dimunculkan pada bait kelima. Vagina secara harfiah mempunyai arti alat kelamin perempuan. Dalam sajak tersebut Vagina mempunyai makna kuburan. Kuburan yang sangat gelap dan sunyi-senyap. Kuburan tempat jasad yang penuh luka bermukim. Pada akhirnya kematian sangat identik dengan tragedi.

Kisah Paskah yang terdapat pada puisi tiba-tiba lagi muncul ketika hari mulai terang. Serombongan demonstran dihadang oleh para serdadu. Keadaan chaos akan terulang lagi dan tidak lagi terjadi pada sebuah puisi. Keadaan tersebut merupakan tragedi pada minggu pagi.


/3/

Setelah mendapatkan makna-makna dari tanda-tanda yang terdapat pada sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi, kita akan mengkaitkan dengan peristiwa yang terjadi atau konteks sosial masyarakat pada tahun sajak tersebut dibuat. Sajak Minggu Pagi di Sebuah Puisi dibuat oleh Joko Pinurbo pada tahun 1998. Seperti yang kita ketahui bahwa pada tahun 1998, Indonesia mengalami keadaan yang chaos. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Jakarta menjadi tempat yang sunyi dan mencekam. Penjarahan, pembakaran, dan pemerkosaan terjadi di kota Jakarta.

Berita-berita tentang kerusuhan Jakarta setiap hari menjadi headline di media massa maupun media elektronik. Bahkan, pada hari Minggu yang seharusnya diisi oleh berita ringan, diisi oleh berita tentang tragedi kerusuhan. Minggu yang seharusnya menjadi hari melepaskan kepenatan menjadi hari penuh kecemasan.

Joko Pinurbo berhasil menangkap tragedi tersebut ke dalam sajaknya. Metafor-metafor yang digunakan berbeda dari penyair-penyair lain dalam menangkap peristiwa tersebut. Jika Sapardi menangkap peristiwa tersebut ke dalam metafor api, Joko Pinurbo menangkap peristiwa tersebut ke dalam metafor Paskah, via dolorosa, golgota, dan vagina. Kesemua metafor tersebut tetap menggambarkan tragedi yang sangat menyayat, tragis, kelam, dan sendu seperti tragedi pada tahun 1998. Tragedi Paskah yang terjadi pada sajak Joko Pinurbo dikisahkan pada Minggu Pagi di Sebuah Puisi sedangkan tragedi Mei 1998 dikisahkan pada media massa maupun media elektronik setiap hari pada bulan dan tahun tersebut bahkan pada Minggu pagi sekalipun.


/4/

Joko Pinurbo sebagai penyair mempunyai ciri khas. Ia mampu mengolah bahasa, menampilkan, menerjemahkan peristiwa-peristiwa di sekitarnya menggunakan metafor-metafor yang tak lazim digunakan penyair-penyair lainnya. Ia mampu menangkap tragedi Mei 1998 sebagai Paskah bagi Indonesia—tragedi pada hari Minggu. Sapardi Djoko Damono menyebutkan bahwa Joko Pinurbo dengan teknik surealis berusaha memberikan tanggapan terhadap berbagai masalah sosial dan konflik batin manusia.***

Sumber Acuan
Damono, Sapardi Djoko. 1999. “Burung dalam Celana” dalam Joko Pinurbo Celana. Magelang: Indonesia Tera.
________. 2000. Ayat-ayat Api. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Pinurbo, Joko. 1999. Celana. Magelang: Indonesia Tera.
________. 2005. Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.
Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
________. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Utami, Ayu. 2005. “Joko Pinurbo: Mengapa Kematian, Penyairku?” dalam Joko Pinurbo Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.

Sumber: http://agungdwiertato.blogspot.com, Sabtu, 03 April 2010

Perempuan-perempuan Jokpin: Tubuh, Luka, dan Kuasa

Oleh M. Fauzi Bodoh

Tak ada yang benar-benar mengenalinya
selain angin yang masih menyebutnya perempuan.

(Joko Pinurbo, “Penyanyi yang Pulang Dinihari”, 1991)


1/ mukjizat

DALAM sejarah manusia, perempuan memiliki mukjizat yang datang dari bumi, bukan dari langit: dari tulang-belulang yang dibungkus daging, dari anggitan buas kekuasaan manusia, dari luka yang menggairahkan tragedi, di atas bumi makhluk manusia. Mukjizat ini tidak menjadikan perempuan nabi atau rasul, tapi sering menjadi aktor sekaligus korban tragedi dalam sejarah peradaban manusia. Inilah yang menjadikan perempuan menjadi mukjizat dalam arti yang sebaliknya: menggugah tapi digugat.

Mukjizat perempuan itu terus-menerus menemani perjalanan manusia, khususnya perempuan, dalam mengalami tubuh, mengalami ingatan, mengalami pergolakan, mengalami kekuasaan, mengalami waktu: mengalami sejarah manusia. Sejarah itu perempuan: selalu bertumpu pada tubuh dalam luka, yang hendak dikuasai dan menguasai manusia.

Dan sastrawan-penyair, sepertinya, adalah yang selalu mendapatkan wahyu untuk menuliskannya. Atau, paling tidak, orang yang selalu beredekatan, bersinggungan, dan bersitegang dengan perempuan-perempuan zamannya. Lalu, mewartakan kepada segenap manusia. Sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul, seperti yang dialami Musa di tanah gunung Sinai, seperti yang dialami Muhammad di gua Hira, dan bahkan seperti seperti manusia-manusia yang beberapa saat yang lalu menyebut diri nabi-nabi: selalu dirundung protes, penentangan, pertikaian, peperangan, pengabaian, pengucilan, pengebirian, dan sebagainya, tapi hampir selalu menggairahkan: membentuk spektrum.

Spektrum mukjizat perempuan yang datang dari bumi itu selalu menggairahkan sastrawan-penyair untuk mewarnai karya-karya mereka. Ada yang datang membawa ketakjuban; ada yang datang membawa pentungan agama; ada yang membawa kerajaan dan negara; ada yang datang membawa simbolisme; ada yang datang membawa gairah; ada juga yang membawa tawa yang tragis penuh luka; juga ada yang membawa protes.

Untuk saat ini dan di Indonesia, berdasarkan pengalamanan dan pengetahuanku yang ceroboh dan bodoh, wahyu kenabian itu datang kepada Joko Pinurbo (Jokpin). Hampir sepertiga puisi-puisi Jokpin mengenai perempuan, terutama sebagai tokohnya, yang terhimpun dalam Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2007. Jokpin datang membawa nubuwat, kisah, luka, gairah, kenaifan, melankoli, protes, pengakuan, kesadaran, dan sebagainya, yang diwartakan-disampaikan dalam bait-bait tubuh perempuan.

2/tubuh

BAGI Jokpin, sepertinya tidak ada kitab suci yang pantas untuk diwartakan selain kitab tubuh. Dan tubuh, sebagaimana terwahyukan dari bumi, adalah perempuan, manusia yang paling intens mengalami bertubuh. Perempuan adalah tubuh; tubuh adalah perempuan, demikian wahyu bumi mengatakan kepada kita melalui Jokpin.

Tubuh perempuan, dalam puisi-puisi Jokpin, menjadi kisah, tema, pokok, dan sekaligus, meminjam istilah Ignas Kleden, “tubuh sebagai suatu alat ucap”. Tubuh perempuan menjadi serangkaian huruf, yang membentuk kata dan kalimat, untuk menggapai isi dan makna. Pada akhirnya, membentuk kitab tubuh perempuan.

Siapakah dan apakah tubuh dalam kitab tubuh Jokpin? Aku tidak bisa menjawab dengan pasti. Tanya saja pada penyairnya sendiri jika Anda ingin jawaban pasti. Tapi aku menduga, sekali lagi menduga, Jokpin memang mengisahkan kitab tubuh perempuan sebagai “penjara/makam jiwa” seperti dikatakan Platon, bahwa ada dualisme tubuh-jiwa, yang membedakan antara yang materi dan ide, dan yang memposisikan nilai tubuh lebih rendah di bawah ide. Namun, lebih jauh, Jokpin lebih pas kalau dikatakan mengikuti pemikiran Aristoteles, muridnya Platon, yang menolak dualisme Platon tersebut. Aristoteles menggambarkan ketakterpisahan antara tubuh dan jiwa (ide) seperti lilin dan bentuknya lilin (Synnott: 2002, 14-15).

Yang menarik, Jokpin sepertinya lebih banyak menggambarkan dan bergolak tentang lilin itu sendiri. Ya, tubuh perempuan sebagai lilin yang bisa membakar diri sendiri, menerangi orang lain, pemicu kebakaran, dan selalu bermasalah. Tubuh lilin: metafor, pokok, dan makna. Dengan cara ini, Jokpin bebas memainkan tubuh dalam puisi-puisinya dengan elegan, estetis, tragis, melankolis, dan terkadang naif yang menantang. Dan dengan cara itu, Jokpin memasuki tubuh tidak hanya sebagai “bait Roh Kudus” seperti yang dikatakan Santo Paulus (dalam puisi Jokpin tubuh bahkan bisa tidak kudus), tapi juga memasuki wilayah eksistensialisme tubuh seperti yang dikatakan Jean Paul Sartre, “Tubuh adalah saya…Saya adalah tubuh” (Synnott: 2002, 11).

ADA beberapa perempuan yang laik dicatat dalam esai aneh dan jelek ini. Yang pertama adalah perempuan yang sudah termaktub dalam sejarah masa lalu: Kartini dan Maria Magdalena. Yang kedua adalah perempuan-perempuan kontemporer di sudut-sudut perkotaan seperti para penyanyi kelas bawah, PSK, dan sebagainya.

Perempuan yang termasuk dalam kategori yang pertama bisa kita lihatlah pada puisi Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem. Puisi ini dengan baik menangkap kegelisan, harapan, dan keputusasaan RA Kartini. Juga mampu menangkap suasana zaman dengan pernik-perniknya seperti kereta api, sawah-sawah, perempuan-perempuan tangguh, kebaya, batik, pabrik-pabrik gula, dan perahu layer. Tapi, dalam puisi ini, Jokpin tidak begitu intens menggunakan kepiawaiannya mengolah tubuh baik sebagai metafor, pokok masalah, atau alat ucap. Bisa dibilang, Jokpin gagal kalau kita mengaitkan dengan keintimanan dan kepiawaian Jokpin menggunakan tubuh perempuan. Padahal, kita tahu, kisah kasus RA Kartini sangat erat kaitannya dengan status dan identitas keperempuanan (femininitas) RA Kartini yang terkait dengan tubuh.

Berikutnya, penggambaran tubuh, pergolakan, dan pemberontakan perempuan bisa kita baca dalam Minggu Pagi di Sebuah Puisi. Puisi ini menggambarkan permasalahan seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang dan Maria Magdalena:

“Ibu hendak kemana?” Perempuan muda itu menyapa.
“Aku akan mencari dia di Golgota, yang artinya:
tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu
sambil menunjuk potret anaknya.
“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:
surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.

Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa.
Lalu katanya: “Ia telah menciumku sebelum diseret
ke ruang eksekusi. Padahal Ia cuma bersaksi
bahwa agama dan senjata telah menjarah
perempuan lemah ini.”

Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya
pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;
pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk;
pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”

(Joko Pinurbo, “Minggu Pagi di Sebuah Puisi”, 1998)


Dalam puisi ini, yang profan dan sakral, yang kudus dan yang kotor, yang lemah dan yang kuat, memiliki eksistensinya sendiri dalam persentuhan dengan bagian-bagian tubuh: bibir, jari, dan vagina. Kedua perempuan itu sama-sama kehilangan; yang satu kehilangan anaknya yang pernah bertemu dengan Magdalena; Magdalena kehilangan eksistensinya yang telah dijarah oleh agama dan senjata. Jopkpin menggunakan tokoh-tokoh sejarah dengan membuat puisi-cerita yang memukau, padat, dan penuh protes kalau tidak mau mengatakan mendekonstruksi pemahaman.

Sayang, saya tidak begitu banyak tahu tentang Magdalena. Yang aku tahu dia, konon, adalah seorang pelacur. Ada juga yang mengatakan bahwa dia termasuk santo perempuan pada zaman dahulu ketika perempuan masih memiliki kekuasaan dalam gereja.

Yang menarik, pada akhir puisi ini, Jokpin memberikan gebrakan pertanyaan mistis-filosofis, bukan sekadar salam, “dan dua perempuan/mengucapkan salam: Siapa masih berani menemani Tuhan?” Ada pemberontakan dan gugatan dalam puisi ini. Penutup puisi ini menggugat dan memprotes dengan sopan dan satiris. Perempuan dan agama dalam puisi Jokpin, sangat kental dengan aroma pemberontakan dan perlawanan terhadap pemahaman yang selama ini menghinggapi benak masyarakat. Selain itu, penggambaran bagian-bagian tubuh perempuan yang dianggap tabu untuk diucapkan malah digambarkan dengan muram, sedih, dan tragis, tapi tidak pornografis.

Berikutnya adalah perempuan-perempuan Jokpin kontemporer. Eksistensi tubuh perempuan menjadi tema reflektif yang memukau dalam puisi Di Salon Kecantikan. Pergolakan, pertentangan, keinginanan, hasrat muda, penundaan kekalahan, dan gugatan dalam tanya-tanya filosofis, masuk ke dalam kehidupan perempuan melalui tarikan tubuh yang termanifestasikan dalam konsep kecantikan. Kecantikan merasuki kehidupan perempuan untuk dibawa ke alam cemas, gundah, gelisah, was-was, dan kesadaran yang kalah dan tak berarti lagi di hadapan hasrat cantik. Eksistensi tubuh perempuan seakan mau tidak mau harus ditautkan dengan kecantikan: konsep yang terus-menerus berubah oleh kehendak zaman dan kepastian usia.

Semua itu bisa kita baca pada penggalan puisi Di Salon Kecantikan: “Mata, kau bukan lagi bulan binal/yang menyimpan birahi dan misteri”//”Rambut, kau bukan lagi padang rumput/yang dikagumi para pemburu.”// “Dada, kau bukan lagi pengunungan indah/yang dijelajahi para pendaki.”

Tentu sudah banyak yang membahas dan menulis tentang kecantikan. Tapi yang menulis puisi seintens, sedalam, dan sefilosofis Jokpin dengan menggunakan tubuh, aku belum menemukan bahkan dari para pemikir feminis. Apalagi yang menggunakan tubuh sebagai tema pokok dan alat pengucapan, aku belum pernah membacanya. Saat membacanya, aku bertanya-tanya: apakah Jokpin seorang perempuan? Apakah Jokpin sedang berada di salon berhari-hari untuk mengamati gejolak hati seorang perempuan?

Kalau dalam Di Salon Kecantikan kita membaca kecemasan yang tak terelakan, kita tidak menemukan kecemasan serupa dalam Gambar Porno di Tembok Kota. Kita dihadapkan pada perempuan tegar menghadapi kegetiran hidup yang termanifestasikan dalam tubuh-tubuh penuh luka. Bahkan, perempuan dalam puisi ini tampak cuek dengan permasalahan yang dihadapinya.

Dalam Gambar Porno di Tembok Kota (juga dalam Perempuan Jakarta, Di Sebuah Vagina, dan Perempuan Senja, dan Mei, meski tidak begitu intens penggunaan tubuhnya) kita dihadapkan pada bagian-bagian tubuh perempuan dalam suasana muram penderitaan yang disimpan. Tubuh perempuan ditempatkan dan digambarkan dalam situasi-kondisi paradoks, antara kegairahan pesona tubuh dengan penderitaan. Tubuh, dalam puisi ini, menjadi alat ucap yang estetis tragis yang tersimpan dalam tubuh perempuan.

Tubuhnya kuyup diguyur hujan.
Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam.
Tapi enak saja ia nongkrong, mengangkang
seperti ingin memamerkan kecantikan:
wajah ranum yang merahasiakan derita dunia;
leher langsat yang menyimpan beribu jeritan;
dada montok yang mengentalkan darah dan nanah;
dan lubang sunyi, di bawah pusar,
yang dirimbuni semak berduri.
...

“Tapi malam cepat habis juga ya. Apa boleh buat,
mesti kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar
di puncak risau. Maaf, aku tidak punya banyak waktu
buat bercinta. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara
di papan-papan iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang
dari Amerika cuma untuk jadi penghibur
di negeri orang-orang kesepian?”

“Terima kasih, gadisku.”
“Peduli amat, penyairku.”

(Joko Pinurbo, “Gambar Porno di Tembok Kota”, 1996)


Jokpin mengembangkan konsep metafor tubuh menjadi alam semesta pada Kisah Semalam. Kita seakan dihadapakan dengan tubuh perempuan selaiknya kita berhadapan dengan alam. Tapi, kalau nuansa naturalisme bisa membuat kita merasa teduh, damai, dan tentram, kita malah dihadapkan pada tubuh dengan nuansa yang mengerikan, seperti saat kita menonton film 2012.

Dan suntuklah ia bekerja, membangun kembali keindahan
yang dikira bakal cepat sirna:
kota tua yang porak poranda pada wajah
yang mulai kumal dan kusam;
langit kusut pada mata yang memancarkan
cahaya redup kunang-kunang;
hutan pinus yang meranggas pada rambut
yang mulai pudar hitamnya;
pada rumput kering pada ketiak
yang kacau baunya;
bukit-bukit keriput pada payudara yang sedang
susut kenyalnya;
pegunungan tandus pada pingul dan pantat
yang mulai lunglai goyangnya;
dan lembah duka yang menganga antara perut
dan paha.

(Joko Pinurbo, “Kisah Semalam”, 1996)


Perempuan-perempuan Jokpin berhadapan dengan kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Kehidupan mereka tetap sama dan diceritakan dalam bait-bait tubuh penuh luka. Mereka berhadapan dengan budaya massa yang memperdayai tubuh-tubuh mereka. ”Memang tampak cantik ia/ dengan celana merah menyala// senja berduyun-duyun/mengejar petangmengejar malam// Pada sebuah billboard masih juga ia bertahan/dengan airmata yang disembunyikan//. Perempuan-perempuan Jokpin tak ubahnya hiasan moral yang di tembok-tembok kota. Mereka menjadi ornamen kota.Mereka menghadirkan kemeriahan penuh luka. ”Kota akan kehilangan dia bila ia tidak lagi di sana,” kata Jokpin pada penutup puisi Perempuan Jakarta.

Tubuh perempuan, dalam puisi-puisi Jokpin, bukan hanya kulit-daging dan tulang belulang, yang dirangkai dari bagian-bagiannya. Tubuh perempuan membentuk semacam spektrum warna kelabu, yang membawa aroma tragis-puitis. Spektrum warna itu membentang dari atas kepala sampai dengan organ-organ intim.

3/luka

DARI pembacaan saya terhadap puisi-puisi Jokpin, bisa disimpulkan bahwa perempuan-perempuan Jokpin merupakan cerita-puisi yang kelam, penuh dengan luka di sekujur tubuhnya. Organ-organ tubuh perempuan terluka sayatan kekuasaan terutama pada bagian-bagian tubuh yang perlu atau harus menarik, bergairah, menawan, menggiurkan, dan penuh kontroversi seperti rambut, mata, bibir, wajah, buah dada, pinggul, vagina dan sebagainya.

Aku bahkan tidak menemukan satu perempuan pun dengan sedikit suka-cita, bahagia, tanpa derita dalam kehidupan puisi-puisi Jokpin. Jika pun ada, itu adalah perempuan yang hendak mengelak dengan cara cuek dan mengekspresikan kelukaannya dengan kebahagiaan yang perih. Perempuan-perempuan Jokpin adalah perempuan luka pada sekujur tubuhnya tanpa ampun. Perempuan Jokpin adalah perempuan yang berada dalam kondisi ″dukamu abadi″.

4/kuasa

SIAPA yang membubuhkan luka pada sekujur tubuh perempuan, penyairku? Siapa?

Eksplorasi tubuh perempuan dalam puisi-puisi Jokpin selalu bersinggungan dengan berbagai kekuatan eksternal tubuh itu sendiri. Di sini, Jokpin memasuki daerah kekuasaan, apapun itu, dengan membawa tubuh perempuan untuk bercerita, menjadinya tema, pokok masalah, dan terkadang menantang pemahaman dan perlakuan kejam terhadap tubuh perempuan.

Kebanyakan kisah, tema, pokok, dan alat ucap tubuh Jokpin adalah perempuan (luka). Kesadaran tubuh perempuan Jokpin ini memang tidak lepas dari pergolakan tubuh (perempuan) dalam sejarah manusia. Tubuh perempuan selalu menjadi masalah, pergolakan, permainan, pelecehan, pelarangan, perebutan, dan sebagainya atas nama kuasa-kuasa pemikiran filosofis, wahyu-wahyu agama, kerajaan-pemerintah, norma-norma tradisional, dan bahkan korporasi yang sekarang banyak menemani kehidupan perempuan.

Tubuh bagi Jokpin adalah “mayat//yang saya pinjam//dari seorang korban tak dikenal// dan tergeletak di pinggir jalan” (“Tubuh Pinjaman” 1999/2007). Puisi ini memang agak aneh jika menempatkan tubuh sebagai korban yang tidak dikenal. Padahal, kalau kita membaca puisi-puisi Jokpin, kita akan melihat dengan jelas, korban itu adalah tubuh perempuan. Tubuh perempuan adalah korban, yang sudah menjadi mayat yang dipinjam. Dengan kata lain, tubuh yang tidak bisa lagi dikuasai oleh penggunanya, perempuan. Sekadar pemakai.

Meski demikian, anehnya, akan selalu ada “petugas yang menanyakan status,//ideologi, agama, dan terutama harta kekayaan//.” Petugas itu bisa keluarga, negara, agamawan, politikus, media massa, atau bahkan pacar dan teman kita.

Aneh memang, adakah tubuh berstatus, berideologi, beragama? Pada bagian mana tubuh itu beragama dan berideologi? Bagaimana tulang-belulang dengan segumplan daging dengan aneka warna dan coraknya bisa memiliki semua itu? Bukankah status, ideologi, dan agama, merupakan sebentuk non-materi, bagaimana cara memungkinkan semua itu melekat pada tubuh yang materi?

“Sudah kurambah seluruh// kilometer tubuhmu
sampai ke gua-guanya yang paling dalam
dan tebing-tebingnya yang paling curam
dan hanya labirin yang kutemukan.”

(Joko Pinurbo, “Perburuan”, 1999)


Kalau melihat secara kronologis, petikan dua larik puisi ini mewakili puisi-puisi Jokpin yang paling terbaru sedangkan yang menggambarkan pergolakan tubuh perempuan kebanyakan ditulis pada tahun 1991 sampai tahun 1999. Itu artinya dalam permenungan Jokpin tentang tubuh perempuan ternyata hanya menemukan labirin. Jokpin mendapati jawaban jalan tak ada ujung tentang kuasa terhadap tubuh perempaun. Labirin, menurut pengamatanku terhadap puisi-puisi Jokpin, mengandaikan perjalanan derita dan luka yang tidak pernah selesai. Sepanjang perempuan memiliki tubuh, sepanjang itu pula, sepertinya, jalan tak ada ujung yang harus ditempuh dalam derita dan luka.

Akan selalu ada kuasa pada tubuh-tubuh perempuan. Dan tubuh itu, memang, satu-satunya yang bisa didera, dipenjara, dibuat derita, dan dikuasai. Dalam puisi Jokpin, itu tidak sepenuhnya terpenuhi, bahkan setelah orang-orang menyerukan revolusi dan revolusi beberapa kali melanda dunia. Perempuan-perempuan Jokpin masih berada dalam kondisi setengah bebas dan setengah menderita. “Tinggallah airmata yang menetes pelan/ ke dalam segelas bir yang menempel pada dada/ yang setengah terbuka, setengah merdeka.”// (Joko Pinurbo, “Perempuan Pulang Pagi”, 1997/2007).

Terakhir, beruntunglah, Jokpin mulai mengurangi penulisan puisi tentang perempuan pada tahun-tahun belakangan, sejak tahun 2000-an. Aku berharap, tubuh-tubuh perempuan Jokpin mulai sembuh. Sehingga mereka bisa menjadi perempuan tanpa luka-derita, sehingga penggalan puisi ini tidak akan pernah kita temukan lagi: "Tak ada yang benar-benar mengenalinya / selain angin yang masih menyebutnya perempuan"//. []

(Dimuat di Litera edisi Juli-September 2010)

Surakarta, 13 Maret 2010

M. Fauzi, yang lahir di Madura, masih berstatus mahasiswa sastra Inggris UNS, tapi hampir tidak pernah membaca buku sastra apalagi yang berbahasa Inggris, dan tidak mengambil kajian sastra atau linguistik. Dia mengambil Kajian Amerika (American Studies). Lebih suka menulis catatan tentang dirinya dan teman-temannya. Tulisan esai ini sekadar kecelakaan. Email: fauzi_sukri@yahoo.co.id

Sumber: www.balesastrakecapisolo.blogspot.com

Pergeseran Tradisi Lirik Menuju Bentuk Naratif

Joko Pinurbo adalah salah satu sastrawan yang cukup diperhatikan di dalam kesusastraan Indonesia, khususnya genre puisi. Jokpin (Joko Pinurbo) menawarkan hal baru dalam konvensi puisi. Ia berusaha untuk menggeser keberadaan kekuatan lirik dalam puisi. Ada beberapa hal yang mendasarinya untuk meninggalkan lirik dalam puisi-puisinya. (?)

Pada awal karirnya menulis puisi, puisi-puisi Jokpin juga masih dipengaruhi oleh tradisi lirik. Namun, setelah lama begelut dalam perpuisian Indonesia, ia mulai mencoba untuk sedikit menggeser tradisi lirik tersebut menjadi bentuk naratif. Pada dasarnya, Jokpin juga tidak menampik adanya kekuatan lirik di dalam puisi karena lirik merupakan suatu pola ekspresi dengan kebeningan suasana, keindahan bunyi, dan kejernihan perasaan. Akan tetapi bagi Jokpin tradisi lirik tersebut haruslah diolah kembali agar tidak terlalu lugu. Pengolahan ini ditunjukkan oleh Jokpin dengan gaya humor dalam puisi-puisinya. Gaya inilah yang menjadikan puisi tidak terkesan lugu. Ada semacam belokan ketika puisi itu dibaca.

Bentuk naratif yang digunakan dalam puisi-puisi Jokpin menjadikan puisi tersebut mudah dinikmati oleh orang dalam berbagai kalangan. Sehingga puisi-puisi Jokpin pun dapat dikatakan sebagai cerita mini. Jokpin menggabungkan bentuk lirik dan naratif dalam puisi-puisinya. Hal inilah salah satu faktor yang menjadikan puisi-puisi Jokpin menarik untuk dibaca. Sebut saja salah satu puisinya yang berjudul Kredo Celana. Puisi tersebut masih menggunakan tradisi lirik dengan jeda-jeda dan ditulis dengan bait-bait. Akan tetapi setelah dibaca, akan terasa bahwa terdapat kekuatan naratif di dalamnya.

Kredo Celana

Yesus yang seksi dan baik hati,
kutemukan celana jeans-mu yang koyang
disebuah pasar loak.
Dengan uang yang tersisa dalam dompetku
kusambar ia jadi milikku.

Ada noda darah pada dengkulnya.
Dan aku ingat sabdamu:
“Siapa berani mengenakan celanaku
akan mencecap getir darahku.”
Mencecap darahmu? Siapa takut!
Sudah sering aku berdarah,
walau darahku tak segarang darahmu.

Siapa gerangan telah melego celanamu?
Pencuri yang kelaparan,
pak guru yang dihajar hutang,
atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?
Entahlah. Yang pasti celanamu
pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan murah hati,
Malam ini aku akan baca puisi
Di sebuah gedung pertunjukan
Dan akan kupakai celanamu
Yang sudah agak pudar warnanya.
Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

...

(2007)


Memperhatikan kutipan puisi di atas, dapat dilihat bahwa pola dalam puisi Jokpin masih berbentuk puisi lirik. Akan tetapi, Jokpin tidak lagi mengutamakan ekspresi perasaan, emosi personal, dan kualitas musikal, seperti yang ada pada puisi-puisi lirik pada umumnya. Ia justru memasukkan bentuk naratif dalam penceritaan puisinya. Bagi Jokpin sendiri, persoalannya bukan pilihan untuk meninggalkan lirik akibat dominasinya dalam puisi. Melainkan untuk mengatasi kurangnya dialog pada lirik. Serta mengembangkannya dengan diksi-diksi yang belum dituliskan oleh penyair-penyair sebelumnya. Lirik dalam perpuisian Indonesia terkesan monoton dan tidak ada usaha untuk memperkaya gaya penulisan. Seolah bahwa menulis puisi adalah seperti yang sudah ditulis oleh penyair-penyair besar masa lalu. Seperti tidak ada usaha untuk sedikit bergeser atau keluar dari pakem yang sudah ada.

Pada dasarnya puisi-puisi Jokpin tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi lirik. Namun dengan variasi pengembangan corak, dari segi kosa kata, dan juga penjelajahan tema. Ia hanya mencoba mengembangkan gaya tulisan naratif supaya tidak terlalu dikuasai oleh tradisi lirik.
Mengenai diksi, Jokpin memilih kosa kata yang sederhana bahkan sering dipakai dalam bahasa keseharian, yang biasanya tidak digunakan dalam bahasa puisi. Hal itu kemudian divariasi dengan gaya humoris untuk mengiringi kedalaman maknanya. Sehingga sebelum mulai memahami isinya, pembaca akan merasa bahwa puisi-puisi Jokpin sangat ringan. Sebagai contoh penggunaan diksi “celana” dalam beberapa puisinya. Diksi tersebut dapat saja mengandung tema kesepian. Bagi Jokpin kesepian masa kini akan sangat berbeda ekspresinya dengan zaman dulu. Jadi kesepian tidak hanya dapat di ekspresikan seperti sepinya Amir Hamzah atau Sapardi. Ia menggunakan metafor celana yang di dalamnya pun dapat digali berbagai macam tema kesepian. Metafor itu ia pilih karena tidak ingin terkungkung oleh senja atau hujan saja dalam mengekspresikan kesepian.

Dan aku tersenyum juga membaca sajak Kredo Celana-nya Joko Pinurbo di hari minggu, dua hari sebelum hari Natal tiba. Lucu. Tapi kemudian aku meringis. Getir. Bukan karena merasa terhina karena Yesus jadi seperti bahan olok-olok. Malah sebaliknya, aku bisa merasakan bahwa seorang Joko Pinurbo bisa begitu bebasnya menikmati rasa keintiman dan kedekatan hubungan dia dengan Yesus-nya yang seksi dan murah hati dan rendah hati.
Murah hati dan rendah hati? Ya. Dia yang adalah Tuhan bisa mau turun ke dunia.
Mau menjelma jadi manusia dan sekaligus jadi Tuhan yang solider, mau merasakan bagaimana jadi manusia. Dan tak ada yang lebih seksi daripada orang yang mau murah hati dan rendah hati. Apalagi ia lahir sebagai bayi manis yang tertidur lelap di palungan dikelilingi bintang-bintang yang terang, serta sekumpulan gembala dan domba-dombanya yang riang.

Dan lantas aku menjadi iri untuk punyai keintiman itu. Aku pun meringis dengan getir. Karena aku masih belum bisa membebaskan diri dari diriku sendiri untuk terjun bebas dalam keintiman yang dalam, yang membebaskan, yang penuh rasa, yang menggairahkan, bersama Yesus, yang tidak hanya dilihat seperti sekedar seorang junjungan, tapi seperti seorang teman lama SMA, dan seorang kekasih yang setia.

Saya meringis. Getir. Dan rindu. Rindu celana-Nya. Dalam rangka mengungkap alam mimpi tersebut, ada semacam kehendak sang penyair untuk menyiasati soal menakutkan ini (kematian) dengan metafor-metafor humoristis. Puisi yang tampak bermain-main namun menyimpan kedalaman yang tak terduga.***

Sumber: www.nairiru.blogspot.com

"Celana Tidur" dan Sindiran bagi Si Serakah

CELANA TIDUR

Walau punya bermacam-macam celana tidur,
Ia lebih suka tidur tanpa celana,
Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya
Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana


Menurut Wolfgang Iser dalam bukunya yang berjudul The Act of Reading, sebuah teks sastra hanya akan punya makna setelah ia diinterpretasikan oleh seorang pembaca (1987:21). Pendapat ini membuat saya berani mencoba menemukan makna puisi Joko Pinurbo yang paling menggelitik, yaitu puisi berjudul "Celana Tidur" (2003). Saya memang belum punya kemampuan analisa yang memadai, mungkin nanti kalau sudah semakin banyak membaca karya sastra atau barangkali kuliah di Sastra Inggris UTY. Tapi, sebagaimana kata Rimmon-Kenan, seorang pembaca punya kebebasan menginterpretasikan sebuah karya sastra sesuai dengan kemampuannya sendiri sehingga tidak ada benar dan salah dalam menganalisa (1989:4). Yang ada hanyalah bagaimana analisanya, menarik atau tidak, bagus atau biasa-biasa saja, atau malah kacau. Tapi, kalau mengacu Rimmon-Kenan, semua itu tidak masalah. Karenanya, saya "pede" saja mengutak-utik puisi ini.

Begitu membaca puisi yang judulnya saja nyeleneh, "Celana Tidur," saya merasa ada sesuatu yang nyantol di benak. Selama ini puisi-puisi yang saya baca selalu berkaitan dengan cinta. Karenanya, ketika nemu puisi aneh ini saya jadi tahu, ternyata banyak hal lain selain cinta yang juga ditulis dalam puisi. Puisi ini juga sangat pendek. Saya bertanya-tanya, bisa berkata apa si penyair dengan puisi sependek itu? Akhirnya, justru karena begitu pendek, hanya terdiri empat baris dan ditampilkan dengan lucu, puisi ini mengundang rasa penasaran saya karena dia benar-benar tidak biasa. Sekilas, judul puisi ini, "Celana Tidur," bisa membuat pembaca berpikiran bahwa yang dimaksud oleh mas atau Pak penyair adalah frasa benda "celana tidur" yang berarti celana yang dikenakan untuk tidur atau dengan kata lain celana sebagai seragam tidur. Tetapi, orang juga bisa melihat judul ini sebagai sebuah kalimat yang ditampilkan dengan gaya personifikasi, "Celana tidur." Celana sebagai subyek kalimat, tidur sebagai predikatnya. Apakah seperti itu maksud Joko Pinurbo? Apakah dia ingin menampilkan sebuah puisi yang jenaka? Apakah cuma ingin membuat gurauan bahwa celanapun bisa tidur seperti manusia? Itulah yang membuat puisi ini menggelitik. Mana yang benar, "celana tidur" sebagai kata benda yang berarti seragam tidur, ataukah "Celana tidur," sebuah personifikasi yang sengaja ditampilkan oleh Joko Pinurbo, pasti akan terjawab bila kita coba runut baris-baris yang mengikuti judul ini:

Kemungkinan pertama, Joko Pinurbo bermaksud menampilkan celana tidur sebagai frasa benda dan celana tidur mungkin berarti sebuah seragam tidur. Hal ini tampak ketika di baris pertama dan kedua dia mengatakan,

Walau punya bermacam-macam celana tidur,
Ia lebih suka tidur tanpa celana.


Si tokoh dalam puisi ini ditampilkan sebagai seseorang yang punya bermacam-macam celana tidur, namun memilih tidur tanpa celana. Inilah yang juga membuat pembaca mungkin bertanya-tanya. Ada seseorang yang punya koleksi beraneka macam celana tidur. Pastilah dia seseorang yang kaya karena tidur saja harus mengenakan pakaian khusus dan mungkin tiap tidur dia harus memakai celana tidur yang berbeda-beda. Kalau celana tidur saja punya seabreg, pastilah untuk busana lain, seperti busana kerja, busana datang kondangan, dan busana untuk keperluan lain, dia juga punya segudang. Setahu saya, tidak semua orang tahu tentang celana tidur alias seragam tidur. Itu gaya hidup kalangan menengah ke atas. Hanya orang kaya yang tidur saja musti berganti pakaian.

Atau, dia mungkin seorang pejabat yang punya banyak seragam, termasuk diantaranya seragam untuk tidur. Seperti kita ketahui, celana tidur adalah celana yang memang khusus dikenakan ketika akan tidur. Celana tidur sama sekali tidak cocok dikenakan dalam kesempatan lain, bahkan dalam acara-acara di rumah selain tidur. Ketika menemui tamu, orang akan segera berganti celana yang lebih sopan atau pantas dan bukannya mengenakan celana tidur. Jadi, celana tidur memang semacam seragam tidur. Paling tidak, begitulah pendapat umum tentang celana tidur.

Sepintas orang akan merasa kedua baris di atas bernada lucu, namun kalau disimak ternyata tidak hanya lucu tapi juga ada kesan ironis. Kalau memang si tokoh tidak suka mengenakan celana ketika tidur, buat apa dia membeli beraneka macam celana tidur? Baris ini membuat pembaca menangkap kesan bahwa celana atau seragam tidur tidaklah berguna bahkan mengganggu. Mungkin, si tokoh dalam puisi ini ingin menyatakan bagaimana dia benci mengenakan seragam tidur. Mungkin, sebagai orang kaya atau pejabat dia punya begitu banyak uang sehingga ingin memiliki beraneka macam celana tidur dengan beraneka warna dan model serta dengan merek-merek terkenal dari luar negeri. Sebagai orang yang punya kedudukan, mungkin dia merasa harus punya koleksi celana paling hebat di dunia. Selain itu, dia membeli seragam tidur karena kebanyakan orang kaya lainnya juga punya dan mungkin sebagai pejabat dia merasa harus punya aneka macam celana tidur untuk membedakannya dengan orang biasa yang hanya bisa beli dua setel pakaian, untuk kerja sekaligus untuk di rumah, yang sehabis dicuci segera dipakai kembali.

Lain sekali dengan tokoh dalam puisi Joko Pinurbo ini. Dia punya banyak dan bermacam celana tidur tapi akhirnya tidak suka mengenakannya waktu tidur. Mungkin celana-celana itu membuatnya risih. Mungkin dia merasa tidak leluasa dan tidak nyaman tidur bercelana. Ada kemungkinan, dia justru ingin mencemooh dirinya sendiri karena memiliki banyak celana tidur padahal dia sendiri tidak suka. Bisa saja dia akhirnya tersadar, betapa anehnya tidur saja pakai diatur-atur, musti pakai seragam seperti anak sekolah musti berseragam sekolah, atau seperti pegawai kantor pakai seragam kantor. Mungkin akhirnya dia merasa sebel juga karena hidupnya penuh seragam, sampai-sampai dalam aktivitasnya yang paling pribadi dan tidak berhadapan dengan umum, yaitu tidur, pun musti mengenakan seragam. Seragam bagaimanapun merupakan simbol identitas suatu kelompok. Si tokoh dalam puisi ini tidak suka mengenakan seragam tidur karena dia tidak mau tidurnya diembel-embeli beban yang terkait dengan identitas kelompoknya. Dia tidak mau tidurnya diganggu oleh aneka kewajiban sebagai anggota sebuah lembaga seperti itu. Dia tidak mau hidupnya diatur orang lain. Dia ingin menjadi dirinya yang apa adanya ketika tidur. Tidur adalah saat seseorang beristirahat dari segala aktivitas dan nyaris tidak sadarkan diri. Dalam keadaan seperti itu, si tokoh tidak mau terbebani. Dia tidak mau diganggu bahkan oleh selembar celana. Dia ingin menjadi dirinya apa adanya.

"Tidur tanpa celana" berarti tidur telanjang, tanpa busana yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Bisa dibayangkan, tokoh yang ditampilkan ini adalah seorang laki-laki karena seragam tidur yang biasa dikenakan perempuan namanya gaun tidur atau daster, bukan celana tidur. Jadi, si laki-laki dalam puisi ini yakin bahwa ketika tidur dia tidak perlu mengenakan seragam karena dia tidak sedang tampil di hadapan orang lain yang menuntutnya "jaim" alias jaga image. Ketika tidur, mungkin yang ada di dekatnya hanya istri atau anggota keluarga lain yang sangat dekat sehingga dia tidak perlu malu-malu tampil apa adanya. Dalam hal ini dia seperti menandaskan bahwa tidak mau kemerdekaannya menjalani kehidupan pribadi diganggu oleh keharusan "jaim" oleh sebuah seragam tidur yang membuatnya harus bersikap seperti orang-orang lain pada umumnya. Laki-laki ini ingin menekankan bahwa dia punya identitas sendiri, dia punya kehidupan pribadi sendiri yang tidak bisa diganggu gugat. Dia tidak mau diatur-atur, dia ingin dimanusiakan, sebagaimana dia mencontohkan betapa dia juga "memanusiakan" celana dengan membuat sebuah personifikasi yang jenaka yaitu "Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya." Pernyataan ini terdengar kocak, lucu, namun bila dicermati, ada makna yang sangat dalam didalamnya. Si tokoh ingin merdeka dan memiliki kehidupan pribadi yang bebas dari aneka macam seragam sebagai simbol identitas yang ditempelkan oleh orang lain. Tetapi, dia tidak mau menang sendiri atau egois. Dia juga melakukan hal yang sama pada pihak lain, bahkan pada sebuah celana tidur. Celana tidur seperti dikatakan di atas, memang diperuntukkan untuk dikenakan waktu tidur.

Tetapi, si tokoh dalam puisi ini berpendapat, selain menjalankan kewajiban dia juga musti diberi hak untuk merdeka menikmati kebebasan dari aneka beban dan kewajiban. Celana tidur pun berhak punya kehidupan pribadi. Dia tidak boleh hanya selalu digunakan oleh pemiliknya tanpa pernah diberi kesempatan melakukan sesuatu atas pilihannya sendiri. Yang dilakukan oleh si tokoh ini sangatlah aneh dan tentu saja sangat tidak lazim. Mungkin dia oleh kebanyakan orang dianggap sinting karena yang dilakukannya tidak biasa dilakukan orang, berpikir celana bisa tidur dan memberinya kesempatan tidur. Tapi tampaknya dengan cara ini Joko Pinurbo menandaskan betapa pentingnya tenggang rasa, kepedulian, dan kesediaan memberikan kemerdekaan bahkan kepada sebuah benda yang nyata-nyata adalah milik kita. Joko Pinurbo ingin menampilkan gambaran betapa indahnya bila orang bersedia memerdekakan apa yang dia miliki dari keegoisan dan keserakahan. Kesadaran si tokoh dalam puisi ini akan pentingnya sikap memerdekakan dan mencintai apapun yang dia miliki sangat tinggi sehingga dia tidak mau hanya memanfaatkan tapi juga memberi kesempatan untuk "tidur di luar tubuhnya" bahkan pada sebuah "celana tidur." Yang dimaksud si tokoh dengan pernyataan "di luar tubuhnya" barangkali adalah di luar kepentingan jasmaninya. Hal ini bisa jadi terkait dengan kegunaan celana sebagai pelindung sekaligus penutup alat kelamin, salah satu alat untuk mencapai kepuasan jasmani. Dia ingin celana terbebas dari tugas melindungi bagian tubuhnya dan memberinya kesempatan mencapai kepuasan jasmani, yang dalam puisi ini juga bisa diasosiasikan dengan aktivitas "tidur tanpa celana." Si tokoh ingin merdeka mencapai hasrat-hasrat jasmaniahnya tanpa dikekang oleh "seragam tidur," oleh berbagai macam aturan umum. Namun, tidak berarti dia bebas melakukannya tanpa aturan. Justru dalam kebebasan itu dia punya kesadaran mencintai dan memerdekakan si "celana tidur." Hal ini bukan lagi hasrat jasmaniah lagi melainkan sikap hati atau jiwa. Kalau dirasa-rasa, bagian ini mungkin bersifat batiniah, atau spiritual gitu. Bisa jadi, "tidur" pada baris keempat ini mungkin berbeda dengan "tidur tanpa celana" di bagian sebelumnya. Jika di bagian sebelumnya "tidur" bersifat jasmaniah karena terjadi pada "tubuhnya," kemungkinan besar "tidur" di bagian ini adalah tidur yang bersifat spiritual dan terkait dengan segala yang ada di "luar tubuhnya." Karennaya, personifikasi celana tidur ini sangat tepat. Dengan mencintai dan memerdekakan celana tidur dari keegoisannya, si laki-laki ini yakin, tidurnya tidak akan rusak oleh celana.

Kesimpulannya, kalau seseorang bisa mencintai sebuah benda (celana tidur), dia tidak akan kesulitan mencintai sesama makhluk hidup. Kalau seseorang itu egois dan selalu cenderung memiliki sesuatu dengan serakah, dia akan berat merespek sesama. Jika dalam hidup orang bersikap begitu, dia pasti tidak akan mampu menyelaraskan kebutuhan jasmani dan rohaninya sehingga bila tiba saatnya "tidur," maka tidurnya akan "rusak oleh celana." "Tidur" yang dimaksud di sini barangkali tidur yang bersifat spiritual, mungkin yang dimaksud adalah "mati." Jika seseorang penuh dosa dan keserakahan, kematiannya akan ternoda atau "rusak oleh celana," oleh benda-benda duniawi yang diperoleh dengan cara yang serakah dan egois itu. Gambaran yang dipaparkan oleh baris-baris pertama puisi ini: punya bermacam-macam celana tidur, tapi "lebih suka tidur tanpa celana" memang sangat pas.

Puisi Joko Pinurbo ini lebih mirip sindirian pada mereka yang serakah menumpuk harta tanpa tahu bagaimana memanfaatkannya dengan baik karena dia cuma ikut trend atau apa yang umum terjadi dalam masyarakat. Puisi ini merupakan hasil introspeksi yang menarik akan gaya hidup masa kini yang sangat materialistis dan membuat orang cenderung serakah dan egois, berusaha mendapat sesuatu yang sebenarnya mungkin kurang dia perlukan, atau menguber sesuatu sampai-sampai harus mengorbankan orang lain demi prestige atau gengsi dan keserakahan diri. (Chicha DR/ Stero/ XII IPS2)

Referensi
1. Joko Pinurbo, "Celana Tidur".
2. Iser, Wolfgang. 1987. The Act of Reading. London: John Hopkins University Press.
3. Rimmon-Kennan. 1989. Narrative Fiction. New York: Pocket books, Inc.


Sumber: http://sastrainggris-uty.edu2000.org, Sunday, 21 September 2008

Empat Merapal Sajak

Empat penyair terkemuka Indonesia membacakan sajak ciptaan mereka dalam sebuah pentas puisi di Teater Salihara.

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawa celana yang dijahitnya sendiri. "Paskah?" tanya Maria. "Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga.

Begitulah penyair Joko Pinurbo melukiskan saat-saat naiknya Yesus ke surga. Ia menuangkan peristiwa religius itu dengan sangat manusiawi dalam sajaknya yang bertajuk Celana Ibu. "Agama bukan sesuatu yang angker. Agama itu nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari," katanya.

Jokpin, begitu panggilan akrab sang penyair, sedang merayakan pesta puisi di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis malam pekan lalu. Jokpin tampil bersama tiga penyair terkemuka Indonesia lainnya--Remy Sylado, Acep Zamzam Noor, dan D. Zawawi Imron--dalam perhelatan Mendaras Puisi. Para penyair ini menyuguhkan karya mereka yang dekat dengan tradisi keagamaan di sekitar tempat mereka lahir dan tumbuh.

Boleh dibilang, pentas puisi malam itu cukup istimewa, karena pengarangnya sendiri yang membacakan karya-karyanya. Seperti diketahui, belakangan ini acara pembacaan puisi lebih kerap dibawakan oleh kalangan artis dan selebritas. Tak mengherankan jika ruang Teater Salihara penuh sesak dipadati oleh pendengar dan penikmat sastra. Sampai-sampai, banyak di antara yang hadir terpaksa berdiri atau duduk di undakan.

Celana Ibu, yang dibacakan Jokpin, mendapat sambutan sangat meriah. Tepuk tangan penonton yang bercampur gelak tawa terdengar riuh menyambut penampilan Jokpin. Artikulasi Jokpin yang sangat datar dengan logat Jawa yang begitu kental justru menimbulkan suasana berbeda. Terkesan nyeleneh dengan permainan logika yang unik.

Jokpin pernah mengenyam pendidikan calon pastor di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Karya-karyanya banyak menghadirkan suasana keagamaan yang dekat dengan wilayah domestik. Tak jarang ia juga menyuguhkan sebuah ironi dalam sajak-sajaknya.

Meski banyak karya Jokpin yang sudah dialihbahasakan, itu tidak berlaku untuk Celana Ibu. Masalahnya, idiom yang dipakai sebagai kata kunci tak lagi sesuai dengan ide cerita jika dialihbahasakan. Dalam prosesnya, Jokpin sering menemukan kata-kata kunci. Dari situlah ia kemudian membuat narasi untuk mendukung alur ceritanya.

Lain halnya dengan penyair serba bisa, Remy Sylado. Malam itu, Remy membawakan sajaknya yang berjudul Enam Puluh Lima Tahun yang Astaga. Penyair berambut keperakan ini masih saja menampilkan puisi mbeling-nya, sebuah label yang selama ini melekat pada karya-karyanya. Sajak-sajaknya penuh sindiran dan slenthingan pedas terhadap negeri yang, menurut Remy, sudah morat-marit.

Remy adalah pelopor puisi mbeling pada 1970-an. Puisinya sarat dengan pemberontakan terhadap kaidah estetika. Disertai empat penari yang membawa rebana sebagai alat musik, Remy membawakan karyanya dengan nuansa lain. "Kalau sudah di depan panggung, puisi menjadi sebuah pertunjukan," katanya. Karya tersebut khusus dibuat Remy untuk acara ini.

Yang tak kalah menarik adalah penampilan Zawawi Imron. Ia tampil sangat ekspresif. Sesekali ia bercerita bebas tentang pengalamannya yang tak jarang mengundang tawa penonton. Zawawi pernah nyantri di Pesantren Lambicabbi, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Maka tak aneh jika puisinya sarat dengan religiositas Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya tak kehilangan unsur humor khas Zawawi. Kumpulan sajaknya, Bulan Tertusuk Ilalang, pernah mengilhami sutradara Garin Nugroho untuk membuat film dengan judul yang sama.

Dan malam itu, penyair romantis sepertinya cocok diberikan untuk Acep Zamzam Noor ketika ia membacakan karyanya yang berjudul Sepotong Senja. Tak hanya itu, Acep juga menyuguhkan kelincahannya memainkan tema-tema urban dan pesantren serta religius yang dibenturkan dengan sekularisme. Lalu, melalui Sajak Nakal-nya yang sangat pendek, Acep memperlihatkan kenakalan imajinasinya.

ISMI WAHID
Koran Tempo Edisi Jumat, 27 Agustus 2010

Sastra dan Agama Berkelindan

Alif, alif, alif!/ Alifmu pedang di tanganku/Susuk di dagingku, kompas di hatiku/ Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut/ Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan/Terang/Hingga aku/ Berkesiur/ Pada/ Angin kecil/ Takdir-Mu

Fragmen puisi berjudul ”Dzikir” itu didaras dengan penuh penghayatan oleh penulisnya sendiri, D Zawawi Imron. Meski sudah berusia 65 tahun, suara penyair asal Madura itu tetap memendarkan energi.

Saat ia melafalkan kata-kata puisi itu secara susul-menyusul terdengar mirip sebuah mantra atau zikir yang berulang-ulang. Suaranya yang keras dan agak serak memenuhi ruang teater.

Sebagian penonton mungkin sudah akrab dengan puisi yang terkenal pada tahun 1980-an itu. Namun, tetap pendarasan itu menggedor kita untuk merenung soal kefanaan nasib dan hidup manusia serta hubungan kita dengan Tuhan. Penyebutan benda-benda sebagai manifestasi Tuhan mungkin mengajak kita memikirkan kemungkinan semangat penyatuan Tuhan dan semesta sebagaimana diyakini dalam filsafat emanasi.

Penyebutan kata yang berulang mengingatkan kita pada doa, mantra, atau zikir yang dilantunkan dengan cara ritmis setelah shalat. ”Puisi ini hasil penghayatan saya akan Tuhan dan kehidupan. Ini pergulatan saya sejak lama yang kemudian muncul tanpa direka-reka dalam bentuk puisi,” kata Zawawi seusai membaca puisi.

Pentas itu menjadi bagian dari pertunjukan ”Mendaras Puisi: Pembacaan Puisi di Bulan Puasa” di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (19/8) malam lalu. Hadir juga membacakan puisinya, penyair Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, dan Remy Sylado. Dalam catatan panitia, para penyair ini dianggap berkarya dengan ilham dari iman atau agama.

Memang, keimanan atau agama yang diyakini para penyair itu memperkaya bahasa ungkap para penyair. Tak seperti Zawawi menyerap semangat penghayatan ketuhanan untuk menciptakan puisi zikir, Acep Zamzam Noor merefleksikan pengalaman keagamaan dalam diksi penuh metafor. Puisi-puisinya banyak mengolah kesan tentang alam semesta yang dengan bahasa romantis.

Simak saja karyanya yang berjudul ”Trasimeno”: Kulihat bukit-bukit bersujud/Pohon-pohon merunduk, daun-daun basah/ Lampu-lampu meredupkan cahaya/Angin dan kabut bergulung di angkasa/Senja membelitkan kerudung kuningnya/Semuanya bersujud kepadamu. Sebuah danau/Hamparan sajadah bagi semesta/ Adalah ketenangan yang sempurna.

”Agama tak saya ungkapkan sebagai slogan yang permukaan, melainkan sebagai kesadaran batin yang penuh perenungan,” kata Acep yang lahir dan besar dalam lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Keseharian

Bagi Joko Pinurbo, agama juga memang tak perlu dipanggungkan dalam puisi penuh jargon mentah. Dia memilih untuk mengolah religiusitasnya dalam agama Katolik dengan berangkat dari cerita sehari-hari, seperti tukang bakso, tukang ojek, tukang becak, lantas mengajak orang berempati kepada orang lain. Dari empati ini, lantas dia menyentuh nilai kemanusiaan yang lebih mendalam.

Dia kerap mengulik narasi yang lebih manusiawi sehingga mudah menyentuh publik umum. Cerita Yesus, misalnya, dimainkan secara lebih lumer dengan mengeksplorasi sisi manusiawinya. Kadang, dia membenturkannya dengan suasana ironis yang nakal.

Salah satu puisinya cukup terkenal karena pendekatan ini, yaitu yang berjudul ”Celana Ibu” (tahun 2004).

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya/mati di kayu salib tanpa celana/dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit/dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang/ ke kubur anaknya itu, membawakan celana/ yang dijahitnya sendiri dan meminta/Yesus untuk mencobanya.”Paskah?” tanya Maria./ ”Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,/Yesus naik ke surga.


Menurut Ayu Utami, kurator sastra di Salihara yang malam itu sekaligus menjadi pembawa acara, karya-karya penyair itu memperlihatkan, sastra dan iman atau agama bisa berkelindan tanpa satu menaklukkan yang lain. Agama memberi artikulasi bagi sastrawan saat melihat peristiwa. Hubungan itu berlangsung secara leluasa dan saling memberikan inspirasi dan nilai-nilai, tanpa jatuh menjadi dakwah yang verbal.

Agama atau iman sudah lama mengendap dalam diri penyair, lantas mereka membuat karya. ”Mereka kemudian bisa bermain tanpa rasa kikuk, bebas, dan santai menggambarkan apa yang ada dalam dirinya. Ini selaras dengan semangat seni yang membebaskan dan membuka berbagai kemungkinan,” kata Ayu

Ilham Khoiri | Kompas | Minggu, 22 Agustus 2010