Celana Joko Pinurbo

Kepada Cium adalah bab penutup episode Celana.

Penyair itu akan menanggalkan "celana". "Episode Celana sudah selesai," katanya saat bedah buku puisi terbarunya, Kepada Cium, di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Rabu pekan lalu. Celana yang dimaksud adalah diksi yang kerap dipakai dalam puisi-puisi lelaki kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962, itu.

Di samping kata celana, Joko Pinurbo, penyair itu, kerap memakai kata telepon genggam dan kamar mandi dalam puisinya. Dalam kumpulan puisi terbaru, kata-kata itu masih dengan mudah ditemukan. "Saya mengangkat kata-kata yang tidak puitis dan menjadi berkekuatan puitik," kata Joko lagi.

Dan buku puisi Kepada Cium yang dalam satu bulan pascaterbit telah terjual sebanyak seribu eksemplar itu adalah bab penutup dari episode celana tersebut, yang sudah berlangsung sepuluh tahun. "Ini sebagai penutup episode kepenyairan saya selama ini dan membuka episode baru," tutur Jokpin, panggilan akrab penyair yang menjadi tokoh sastra pilihan Tempo 2001 itu.

Awal episode celana itu ditandai dengan lahirnya kumpulan puisi Celana pada 1999. Buku itu memperoleh Hadiah Sastra Lontar pada 2001. Kemudian, pada 2002, kumpulan Celana itu diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris berjudul Touser Dol (2002).

Puisi-puisinya memang mendapatkan sejumlah penghargaan. Masih seputar celana, puisinya Celana 1, Celana 2, dan Celana 3 mendapatkan penghargaan Sih Award, penghargaan untuk puisi terbaik jurnal Puisi.

Buku puisinya, Di Bawah Kibaran Sarung, yang terbit pada 2001, memperoleh Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional pada 2002. Kumpulan puisinya, Kekasihku, memperoleh penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2005.

Kumpulan puisi lainnya adalah Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), dan Pacar Senja (2005). "Kekuatan puisi Joko bersumber pada ironi yang ditata, terutama dengan personifikasi, yang menyebabkan semua benda, tak terkecuali yang abstrak, menjadi manusiawi," tutur penyair Sapardi Joko Damono dalam pengantar Antologi Puisi 10 Penyair, Dari Seberang Cuaca.

Total ada enam kumpulan puisi yang telah dilahirkannya. Tapi, sebagai penyair, ia termasuk terlambat mempublikasikan karya-karyanya. Ia mulai menulis pada 1979 dan baru menerbitkan kumpulan puisi pada 1999. "Dua puluh tahun saya menulis puisi tidak untuk menjadi apa-apa," kata Joko.

Bahkan ia mengaku puisi-puisinya saat itu dibuang ke tempat sampah. Baru pada "celana", ia merasa menjadi penyair. Tentu untuk menemukan "celana" itu bukan perjalanan singkat. Ia menggali dan membaca karya-karya penyair lain. "Lalu saya temukan celana, kamar mandi, dan telepon genggam," tuturnya.

Tapi kini ia telah memutuskan menanggalkan "celana". Ia tidak tahu, "Mau saya apakan lagi celana saya, telepon genggam saya, mau saya apakan lagi kamar mandi."

MUSTAFA ISMAIL
Koran Tempo, Rabu, 18 April 2007