Celana, 2

Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana
yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis
seluk-beluk yang di dalam celana, sehingga kami pun
tumbuh menjadi anak-anak manis yang penakut
dan pengecut, bahkan terhadap nasibnya sendiri.

Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi
membuat coretan dan gambar porno di tembok
kamar mandi, sehingga kami pun terbiasa menjadi
orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.

Setelah loyo dan jompo, kami baru bisa berfantasi
tentang hal-ihwal yang di dalam celana:
ada raja kecil yang galak dan suka memberontak;
ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi
rahasia alam semesta;
ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma;
ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa
dan pendoa.

Konon, setelah berlayar mengelilingi bumi, Columbus
pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam
celana, dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana.

(Joko Pinurbo, 1996)


Dalam puisi di atas, penyair bermain-main dengan kata celana dan apa yang ada di dalam celana itu, yaitu alat kelamin (baik laki-laki maupun perempuan). Penyair mengkritik pendidikan di negeri kita yang kurang memperhatikan pendidikan seksualitas. Yang kita berikan/terangkan kepada anak-anak adalah apa yang terlihat di luar (celana), namun bukan pendidikan seksualitas yang sebenarnya (di dalam celana). Penyair menggambarkannya dengan larik ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana / yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis / seluk-beluk yang di dalam celana. Akibat pendidikan yang keliru itu, anak-anak menyalurkan rasa ingin tahu mereka lewat kami suka usil dan sembunyi-sembunyi / membuat coretan dan gambar porno di tembok / kamar mandi, sehingga kami pun terbiasa menjadi / orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.

Penyair mempunyai pandangan bahwa di balik celana setiap orang tersimpan banyak rahasia penting tentang manusia dan kehidupannya. Hal tersebut biasanya direnungkan oleh orang-orang yang sudah tua, loyo dan jompo. Mereka membayangkan bahwa “barang” yang ada di dalam celana mereka dapat menjadi raja kecil yang galak dan suka memberontak. Penyair juga menyatakan bahwa di dalam celana ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma. Di dalam celana itu ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa / dan pendoa. Larik ini bisa diinterpretasikan untuk para wanita penghibur yang alat kelaminnya sering “dikunjungi” oleh para pendosa (lelaki hidung belang), sedangkan untuk wanita baik-baik, alat kelamin mereka adalah organ yang dipergunakan untuk reproduksi sebagai salah satu karunia dari Tuhan.

Bait terakhir menunjukkan bahwa sebenarnya seksualitas adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Hanya saja bagi masyarakat kita, seksualitas sering dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Lewat puisi ini, penyair ingin mengkritik sikap masyarakat yang telah menghambat perkembangan pendidikan seks untuk masyarakat itu sendiri.

Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002