Tawa

(Seputar Indonesia, Minggu, 30 September 2007)

Ayu Utami

Telah lama saya agak percaya. Puisi Indonesia telah jadi seperti agama. Serius, suci, dan tak suka tawa. Ada satu dua pembaharu, memang. Seperti si Joko atau si Joni.

Tapi sebatas mata memandang, warna dasar cakrawala puisi panggung adalah Rendra dan Tarji. Dan nada dasar puisi halaman adalah Goenawan atau Sapardi. Tak ada yang salah dengan sajaksajak mereka, yang lahir dari sebuah zaman represif yang kasat-mata, yang mengikuti sebuah zaman bergolak. Ialah, ”angkatan 66”, lanjutan ”angkatan 45”—meski saya sangat tak suka memakai istilah angkatan.

Periode itu adalah zaman ketika bahasa dianggap sangat serius. Chairil muncul ketika Bung Karno menaklukkan Indonesia dengan retorika.Rendra dkk lahir ketika kata-kata dianggap senjata—pandangan yang pada pemerintah menghasilkan sensor atas media massa dan pertunjukan puisi.Tak heran—meski saya tak suka konsep angkatan—suasana demikian melahirkan sajak-sajak yang dalam dan tak berjarak dari persoalan.

Apa maksudnya: dalam dan tak berjarak dari persoalan? Kira-kira seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta dan patah hati: tak bisa menertawakan diri sendiri. Remaja itu mengira cinta pertama adalah abadi. Dan patah hati adalah akhir dunia.Tak ada yang salah dengan sajak-sajak mereka,sebab sajak-sajak mereka adalah sajak yang kuat.

Tapi ada yang tidak muncul dalam sajaksajak itu, yaitu tawa—sesuatu yang hanya bisa dilakukan jika manusia berhasil menjarakkan diri dari perasaannya. Yang nyaris tak ada pada mereka adalah humor dan ironi. Tentu sajak tak harus berhumor atau berironi.Tapi puisi yang dramatis atau deklamatis—dalam bentuk ekstrimnya: histeris—bukan satu-satunya pilihan. Yang liris dan melankolis juga bukan satu-satunya alternatif.Puisi bisa ironis. Ini,menariknya,belum mengarus utama di Indonesia.

Hanya sedikit sajak Indonesia yang mengadirkan humor dan ironi,di antaranya,ya,sajak si Joko Pinurbo dan Joni Aryadinata.Yang terbanyak adalah yang berdeklamasi.Apalagi kalau dibacakan para selebriti dengan bibir dan tangan bergetar. Saya melihat kontras yang menarik dengan para penyair muda Australia yang sempat saya temui.Saya menonton mereka di dua pesta sastra belakangan ini:Ubud Writers & Readers Festival,25–30 September, serta Bienal Sastra Utan Kayu, akhir Agustus lalu.

Ada tiga penyair Australia yang menakjubkan di atas panggung.Tiga-tiganya memiliki kemiripan: menguasai panggung, bervokal kuat,hafal puisi mereka luar kepala,dan sajak-sajak mereka menghadirkan humor dan ironi. Mereka juga terlibat dalam kelompok musik independen. Mereka bukan dari jenis puisi halaman buku. Mereka adalah jenis yang muncul dalam kompetisi poetry slam, ”bantingan puisi”.

Karya ketiganya termasuk juga dalam antologi dwibahasa Terra yang bulan lalu diluncurkan di Indonesia. Sam Wagan Watson adalah pemuda bertubuh subur berdarah campuran macam-macam.Kulitnya gelap,matanya hijau-coklat. Ia tampil di Bienal Sastra Utan Kayu dengan beberapa potong sajak pendek yang sangat menyentuh. Beberapa kalimatnya menghantui saya.

Ia mempermainkan kesamaan pengucapan ”terror”dan ”terra”.I’m a Frankenstein of a dreamtime, dari puisi yang berkisah tentang politik identitas pemerintah Australia, ia bacakan tidak dengan menghardik, melainkan dengan suara datar, besar seperti tubuhnya. Kita pun tahu ada yang tidak beres di bawah teks. Sean M Whelan hafal setiap kata sajaksajaknya, seperti seorang penyanyi.

Memang ia seorang pemusik dalam kelompok indie di Australia. Saya tanya bagaimana ia bisa menghafal seluruh sajaknya.”Seperti menghapal syair lagu,” katanya. Sajak datang bersama melodi, maka sajak menetap di kepalanya. Yang ketiga adalah Miles Merill,keturunan Afro-Amerika yang lahir di Chicago. Ia bisa membunyikan pelbagai suara. Angin, tekukur, dan entah bunyi apa itu.Pembacaannya selalu membuat penonton tertawa.

Saya bilang padanya, ”Mendengar Anda, tak bisa tidak, saya terhibur. Tapi, buat Anda pentingkah puisi menghibur atau membikin tawa?” Ia bercerita.Tapi pendek kata: tentu tidak harus.Tak harus sajak membikin pecah tawa.Yang penting puisi itu menguak. Saya catat bagaimana ia merumuskannya: ”Saya ingin melucuti orang dengan tawa.Setelah ia tak berdaya,baru kita pukul ulu hatinya.” Humor membuat kita terbuka. Setelah itu barulah serangan yang sesungguhnya.(*)

Rinduku: Pulang dan Rumah dalam Seni

(Kompas, Minggu, 7 Oktober 2007)

Angin manis meniup pasir benua Afrika.
-Di Eropa kutahu masih salju
sampai ke padang-padang Siberia
Aku harus ke Moskow, tapi
Memenuhi harapan yang kusayang
untuk kumpul di akhir Ramadhan
Aku pulang malam terbang garuda rindu

Hari-hari ini, sajak di atas mungkin paling tepat menggambarkan keadaan pikiran dan hati semua orang. Ramadhan segera berakhir. Saatnya untuk pulang. Saatnya untuk berhenti sejenak mengejar arus kehidupan. Saatnya untuk menengok ke belakang, menghadirkan lagi makna keluarga, kerabat, dan sahabat, sambil menikmati kembali masakan ibunda.

Sajak berjudul Panggilan itu ditulis Sitor Situmorang dalam kumpulan puisi Dinding Waktu (1976), dan menjadi satu dari sekian banyak wujud seni yang muncul dari lamunan tentang pulang dan kampung halaman.

Sitor menulis banyak sajak bertema pulang. Simak kerinduan penyair Angkatan 45 itu terhadap Harianboho, kampung halamannya di tepi Danau Toba, dalam puisi yang dipersembahkan untuk ayah dan ibunya:

’Ku yakin menemukan jalan selalu
kembali padamu,
jalan pulang ke lembah landai
di tepi danau
sepanjang pantai.
’Ku yakin selalu padamu kembali
di akhir nanti,
saat kembara berakhir,
tiba sadar para musafir

Bahkan saat ia bermukim di Eropa pada tahun 1953-1954, Sitor mendapat inspirasi menulis sajak-sajaknya dari kenangan tentang rumah dan kampung halamannya. Sajak Pulau Samosir dan Jalan Batu ke Danau (kumpulan sajak Dalam Sajak, 1955) adalah dua contoh paling gamblang.

Tak hanya dalam sastra, pulang dalam makna lain juga mengilhami pelukis Achmad Sadali (almarhum). Lukisan- lukisan abstraknya mengundang perenungan tentang makna pulang secara spiritual, pulang kepada Sang Pencipta.

Jika kita ingat-ingat lagi karyanya, Sadali sering menampilkan bentuk gunungan dalam lukisannya, sebuah simbol pendakian vertikal manusia menuju Tuhan yang transenden. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah lukisannya berjudul Gunungan Emas (1980).

Ranah pop

Dalam ranah yang lebih populer, kita pasti mengenal beberapa karya musik dan lagu bertema pulang atau kerinduan akan pulang. Lagu daerah asal Sumatera Barat Kampuang Nan Jauh di Mato, misalnya, berada di memori hampir semua orang Indonesia.

Atau kalau mau lebih relevan dengan nasib para tenaga kerja kita di Malaysia, yang mungkin tak bisa mudik Lebaran tahun ini, mungkin lagu lama D’Lloyd dari era 1970-an, Semalam Di Malaysia, masih bisa memberi makna tersendiri. Kita pasti hafal penggalan liriknya: Inilah kisahku semalam di Malaysia/Diri rasa sunyi aduhai nasib/Apakah daya, cinta hampa, hidupku pun merana/Mana dia....

Saat ramai-ramainya artis dan selebriti menulis buku, model dan presenter Happy Salma pun membuat buku kumpulan cerpen populer berjudul Pulang (2006). Delapan cerpen dalam buku itu membicarakan pulang dalam berbagai makna, mulai dari pulang ke kampung halaman, pulang pada kenangan masa kecil, atau bahkan pulang dalam kematian. "Semua orang ingin pulang. Saat pulang, saya bisa berefleksi, mengingat kenangan masa kecil, sambil menerawang masa depan," ujar Happy.

Kadang dari karya-karya tentang pulang itu kita bisa merenungkan lagi makna pulang. Apa sebenarnya arti pulang? Apakah artinya sekadar berada di sebuah bangunan bernama rumah? Penyair Joko Pinurbo memancing renungan itu dalam puisinya berjudul Tiada (2003).

Tiada pengembara yang tak merindukan
sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada
di balik iklan yang ia baca di perjalanan.

Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam.

Lebih baik punya ibu daripada punya rumah,
kata temanku yang rumahnya konon baru enam
sementara sosok ibunya belum juga ia temukan.

Ya lebih baik punya keduanya, kata saya,
dan entah mengapa airmatanya leleh perlahan.

Rindu akan rumah adalah rindu akan ibu, suatu entitas tempat kita berasal dan menjadi. Perjalanan pulang adalah perjalanan ke tempat seperti itu, tempat hati kita senantiasa berada. (DHF/IAM)

Membuat Batu Nisan untuk Celana

(GATRA, 6 Juni 2007)

Benarkah penyair celana hendak menanggalkan celana di sajak-sajak barunya? Yang jelas, rombongan ide baru lebih singkat dan seperti lebih susah cara bikinnya.

DARI Joko Pinurbo atawa Jokpin untuk Nurcahyaningsih. “Selamat Ulang Tahun ke-44,” begitu bunyi baris pertama. Lempang, tidak puitis, tanpa basa-basi. Jokpin tidak mengenal Nurcahyaningsih. Baru saja, seorang teman memintanya menulis sederet kata sebagai kado buat ulang tahun si empunya nama.

Dan malam itu, enak saja lelaki kurus itu menuliskan sebaris lagi, “tua cuma perasaan”. Begitu sederhana rangkaian kata itu, sehingga orang merasa pernah mengucapkan atau sering mendengarnya. Terasa sedap seperti sup ayam pelipur bagi lara yang cemberut. Kado awet muda yang tidak kalah mujarab ketimbang krim muka antikerut.

Tak sampai menghabiskan sebatang rokok untuk menemukan deretan kata, yang kata anak sekarang, dalem banget itu. Dan saya tidak menyesal telah terburu-buru menyetor sedikit kekaguman atas keahlian Jokpin mencari kata-kata itu dalam waktu singkat.

Padahal, belakangan lelaki berbibir lumayan tebal itu memberi pengakuan, “Sebetulnya itu kutipan dari salah satu puisi saya berjudul ‘Februari yang Ungu’(kumpulan puisi Kekasihku, 2004). Mungkin nggak cocok buat yang ulang tahun, ya?” kata Jokpin berlagak kurang percaya diri.

Menurut dia, membuat kata-kata puitis jauh lebih berat daripada membuat puisi. Secuil kisah itu terjadi setelah rangkaian acara peluncuran dua buku kumpulan puisi Joko Pinurbo, Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung dan Kepada Cium, di Toko Buku Aksara, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat malam lalu.

Judul buku yang disebut duluan merupakan gabungan tiga kumpulan puisi Jokpin yang telah dipublikasikan penerbit Indonesia Tera. Masing-masing, Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), dan Pacar Kecilku (2002).

“Yang belum sempat masuk Celana saya taruh dalam Sarung. Tapi Sarung tidak lagi memuat yang berasal dari Celana,” ujar Jokpin. Kali ini, ia berkelakar tentang “hubungan intim” antar-dua dari tiga judul kumpulan puisinya yang digabung jadi satu buku itu.

Sementara itu, kumpulan Kepada Cium berisi 33 puisi yang dibuat sepanjang tahun 2005-2006. Dia menjadi semacam rangkuman dan pengendapan semua kumpulan puisi Jokpin sebelumnya. Di dalamnya ada “kisah pendek” tentang celana, ranjang, telepon genggam, dan kamar mandi. Juga tentang kuburan, nisan, becak, dan objek-objek banal lainnya. Semuanya pernah hidup dalam puisi-puisi Jokpin sebelumnya.

“Sehabis ini, saya akan bikin puisi dengan jenis beda lagi. Pilihan objeknya belum jelas,” kata lelaki kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962 itu. “Saya tidak bisa memastikan apa yang mau saya tulis, tapi pasti lain dari yang sebelumnya,” Jokpin menambahkan. Selintas seperti gimmick pemasaran, padahal itu keputusan beneran.

Keputusan untuk berpaling itu, janji Jokpin kepada kata-kata. Reaksi atas kemapanan dan kenyamanan objek serta tema yang lima tahun belakangan sudah bisa mengongkosi kelahirannya sendiri: menjadi puisi. Dulu, menurut Jokpin, rombongan Celana dan kawan-kawan itu lahir karena dirinya ingin mengambil tema berbeda dari yang dituliskan penyair lain.

“Kadang-kadang proses yang dialami penyair itu aneh,” kata Jokpin, yang berhasil memboyong Hadiah Sastra Lontar 2001 untuk buku kumpulan puisi pertamanya, Celana.

Selama 20 tahun, ia mengaku berlatih teknik untuk menulis puisi romantis, lembut, dengan imajinasi tentang hujan, senja, sungai, dan hal-hal seperti itu, yang akhirnya dia tinggalkan.

Ketika Celana lahir pada 1999, nama Joko Pinurbo mulai disebut-sebut dalam ranah sastra Indonesia. Ia seperti penyair iseng yang secara mengejutkan berhasil mengentaskan kata, kalimat, dan tema sehari-hari menjadi raising star di panggung sastra Indonesia modern. Dan berangsur menjadi superstar lewat tujuh kumpulan puisi berikutnya.

Sapardi Djoko Damono menyebutkan, Jokpin memberikan warna baru dalam puisi Indonesia. Penyair “senior” yang karya-karyanya dituduhkan secara relatif mempengaruhi gaya Jokpin itu menambahkan. “Dia menggunakan suatu cara pengungkapan yang mungkin orang lain tidak pernah mau mengembangkannya.”

Nirwan Dewanto menuliskan bahwa puisi Celana dan rombongannya telah berhasil membangkitkan bahasa sehari-hari dengan frasa yang terang sebagai alat puitik. Dan Ayu Utami menilai puisi Jokpin melampaui estetika, menyentuh wilayah peka manusia.

Itu baru contoh sanjungan yang bersifat non-ekonomi. Karena ada juga beberapa penghargaan buat Jokpin yang punya nilai ekonomi lumayan untuk ukuran penyair domestik. Terakhir, kumpulan puisi Kekasihku (2004) berhasil meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005 dengan hadiah duit sebesar Rp 50 juta.

“Lima tahun terakhir ini, dari puisi, saya bisa mengongkosi aktivitas membuat puisi,” kata Jokpin. Selain honor menulis di halaman sastra beberapa media massa, duit puisi paling rutin didapatnya dari undangan diskusi atau membacakan puisi-puisinya di berbagai tempat. Tarifnya “damai”, disesuaikan dengan kemampuan pengundang.

Kadang duit yang diterimanya pas banderol. Lain kali di atas rata-rata air. Satu-satunya kuitansi pembayaran honor “berlebih” yang masih disimpan rapi adalah ketika Jokpin membaca puisi-puisinya dalam perhelatan sebuah apartemen mewah di bilangan Pakubuwono, Jakarta Selatan. “Saya baca tiga puisi selama satu menit, honornya Rp 5 juta,” katanya. Sampai saat ini, kuitansi itu jadi rekor honor baca puisi tertinggi dalam sejarah kepengarangannya.

Setelah semua yang didapat itu, Jokpin mau berpaling dari celana dan kawan-kawan? Antara terkesan dan khawatir, saya menduga-duga ke mana arah perubahan yang dia maksudkan.

Ternyata tidak perlu repot-repot. “Sebagian terlihat dalam sajak-sajak yang saya buat tahun 2007,” ujar Jokpin, sembari menyebut alamat http://matarindu.blogspot. com, tempat puisi-puisi baru itu ia publikasikan. Sampai awal pekan ini, seperti terbaca dalam blog-nya, ada lima puisi yang itulis/dikirim Jokpin sepanjang Mei 2007.

Selain belum muncul objek celana dan rombongannya itu, perbedaan paling menonjol dibandingkan dengan puisi-puisi sebelumnya: kali ini Jokpin lebih hemat dalam jumlah baris. Puisinya lebih pendek-pendek. Sementara yang masih tidak lupa setor muka adalah gaya ungkap yang —meminjam diksi Jokpin— simpel dan sederhana, liris, seperti narasi singkatnya dalam puisi “Sungai Kecil” yang cuma sebaris: “Aku mengalir, kau gemercik sampai ke hilir.”

Atau lima baris puisi “Mata Bulan”:
Bulan tak akan meminta kembali cahaya
yang telah dicurahkannya ke matamu
supaya bila redup atau tertutup awan
ia masih bisa melihat kecantikannya
yang tak pernah padam.


Karakter lain yang tidak membuat puisi-puisi baru Jokpin terbaca berbeda dari karya sebelumnya adalah diksi sehari-hari yang melahirkan situasi jenaka; humor yang sekali waktu kurang ajar, kali lain terasa getir. Ini terbaca pada puisi pendek berjudul “Rumah Horor”:

Hi.... Aku merinding masuk ke rumahmu:
semua dindingnya penuh dengan fotomu.


Membuat puisi pendek tidak semudah yang dibayangkan. Strategi mempersingkat baris kata dan kalimat dengan sendirinya melahirkan pekerjaan baru; memeras dan mengkristalisasi ide. Syariatnya bisa berupa memotong kata sambung dan ornamen-ornamen yang biasanya memberi efek puitis pada puisi “konvensional”.

Bisa dibayangkan jika sebelumnya rata-rata Jokpin membutuhkan ratusan kali untuk keluar-masuk mereparasi satu judul puisinya sebelum siap dipublikasikan. Dengan pekerjaan tambahan itu, rantai menuju “kesempurnaan” puisi mestinya akan lebih panjang.

Ditambah lagi, Jokpin bukanlah tipe penyair yang spontan. Sesekali ia mengaku berhasil memproduksi sebuah puisi dalam hitungan hari. Tapi kebanyakan butuh dua sampai tiga tahun untuk mencerap dan mengendapkan sebuah gejala atau peristiwa menjadi ide yang siap dituliskan.

Contohnya, sudut pandang Jokpin soal tragedi Mei 1998 baru berhasil dirampungkannya sebagai puisi berjudul “Mei” pada tahun 2000. “Rata-rata satu bulan saya membuat satu setengah puisi,” kata Jokpin. “Tapi setiap detik saya berpikir tentang puisi,” ia menambahkan.

Jadi, jangan bertanya “sedang apa” jika suatu saat Anda melihat Jokpin tepekur di depan salah satu puisi yang sedang digubahnya. Apalagi sampai mengolok-oloknya dengan lontaran stereotipe penyair. Nanti Jokpin menjawab: “Sedang membuat batu nisan untukmu” (“Sedang Apa”, dari kumpulan Kepada Cium, 2006).

Bambang Sulistiyo

Sarapan Puisi Senin Pagi

(GATRA, 14 Februari 2004)

”Persekongkolan” iklan dengan puisi dianggap positif. Melahirkan info produk bermartabat kultural. Bermunculan penyair dadakan.

BEBERAPA minggu lalu, sebuah map bertuliskan ”Kantor Sekretariat Wakil Presiden RI” mampir di Jalan Pakubuwono 6 Nomor 68, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kertas-kertas dalam map itu bukanlah dokumen negara atau surat-surat kerja resmi. Hanya sekumpulan puisi gubahan Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto, Sekretaris Wakil Presiden.

Senin lalu, salah satunya, Kehidupan, nampang di pojok kiri bawah halaman pertama harian Kompas. Bunyinya: usia yang panjang/dalam sebuah kamarkosong/tidak lebih dari keniscayaan/ yang tak pernah terpikirkan//.

Sejak September 2003,saban Senin setiap pekannya,nongol puisi di halamanmuka surat kabar yang sama. Ruang itu bukanlah bagian dari rubrik sastra yang mendapat kehormatan tampil sejajar dengan headline isu-isu nasional atau dunia, melainkan iklan tentangapartemen hunian.

The Pakubuwono Residence (TPR), apartemen di Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, membayar ruang itu sekitar Rp 50 juta setiap pekan untuk memuat iklan yang bermaterikan puisi-puisi; baik karya penyair populer Tanah Air maupun tokoh-tokoh masyarakat yang gemar menuangkan ekspresinya lewat rangkaian kalimat indah.

Untuk memilah-pilih puisi yang laik turun cetak setiap minggunya, tim marketing TPR yang dikepalai Yunianto Gatot Sedyadi tak ubahnya editor rubrik sastra sebuah surat kabar. Mereka menimbang dan menentukan satu di antara sekian banyak karya yang masuk.

Syarat-syarat pun ditetapkan, meski tidak formal. Misalnya; jumlah baris puisi harus
proporsional dengan ruang klan yang tersedia, tema diutamakan tidak terlalu personal, eksplorasi seksual, politis, dan kaidah-kaidah relatif lainnya; kesimpulannya mesti sesuai dengan konteksd an selera TPR.

Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan Eka Budianta adalah beberapa di antara nama-nama penyair beken yang karyanya pernah muncul. Untuk karya-kara ”jadi” dan pernah dipublikasikan, pihak TPR merasa meminta izin kepada si penyair terlebih dulu sebelum menurunkannya sebagai materi iklan.

Namun banyak juga karya relatif baru yang sampai di meja kerja tim marketing
TPR setiap pekan. Biasanya karya macam ini ditulis oleh figur publik non-penyair atau penulis pemula yang tertarik membaca iklan reguler apartemen yang harga paling
murahnya mencapai Rp 2 milyar ni.

Lantas, berapa seorang penyair menerima ”honor” atas puisi yang ”dimuat”? Joko Pinurbo menyebutkan bahwa honor satu puisi yang dimuat setara dengan
honor ”sekian puisi yang dimuat di rubrik seni” sastra media massa.

Biar begitu, Joko tak ambil pusing perkara honor. ”Saya cuma berpikir sederhana: baguslah kalau puisibisa ditayangkan di halaman pertama surat kabar yang dibaca
sekian banyak orang,” begitu penyair ”Celana” ini menjawab lewat surat elektronik.

Kehadiran puisi sebagai bagian dari iklan komersial, menurut kritikus sastra Nirwan Dewanto, bukanlah perkara yang mestidiambilberat.Tradisi menempatkan puisi penyair masyhur dalam karya iklan komersial lazim terjadi di Amerika dan Eropa Barat. ”Puisi bisa ditempatkan di mana-mana, bahkan untuk tujuan komersial,” ujar Nirwan.

Penyair Sutardji Calzoum Bachri sependapatdengan Nirwan. Seniman yang menyebut diri sebagai ”Presiden Penyair Indonesia” ini menganggap positif ”persekongkolan” puisi dengan iklan sehingga melahirkan informasi produk yang bermartabat kultural.

Bahkan,jika seorang penyair membuat puisinya berdasarkan pesanan untuk produk iklan komersial, Tardji mengaku tak mempersoalkannya.Asalkan si penyair mampu mengutarakan aspek estetik dalam karya itu. ”Banyak seniman dunia pada dasarnya adalah seniman pesanan,” kata Tardji, sembari menambahkan bahwa dirinya belum tentu sanggup menulis puisi pesanan.

Pesanan atau bukan pesanan, modus iklan yang memuat puisi secara utuh begini terhitung baru bagi wilayah keseniandan produksi iklan komersial di Tanah Air. Pembaca koran tak kalah untungnya; pagi-pagi disuguhi puisi indah Joko Pinurbo:

Setelah punya rumah, apa cita-citamu?
Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah
saat senja, supaya saya dan senja
sempat minum teh bersama di depan jendela


BAMBANG SULISTYO

Kekinian Celana dan Kilau Cahaya

(GATRA No. 52 Tahun VII, 17 November 2001)

Joko Pinurbo dan Gus tf Sakai memenangkan Hadiah Sastra Lontar. Memenuhi selera penerjemahan ke bahasa Inggris.

Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang bertengger di dalam celana. Ia sewot juga. "Buka dan buang celanamu!" Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan burung yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana.

LARIK-larik sanjak nan "saru" ini adalah penggalan dari Celana (3). Sajak utuhnya tercantum dalam buku kumpulan puisi Joko Pinurbo ber judul Celana (1999), yang diterbitkan Indonesia Tera, Magelang, Jawa Tengah. Larik-larik puisi di atas bagaikan merepresentasikan keseluruhan isi kumpulan itu, yang temanya tak bergerak jauh dari perempuan, ranjang, malam, celana, dan... "burung" itu tadi.

Cara bertutur Joko, yang menurut Sapardi Djoko Damono urakan, memang jadi ciri khasnya. Dengan Celana itu pula Joko meraih Hadiah Sastra Lontar 2001. Penghargaan yang baru pertama kalinya diberikan Yayasan Lontar itu diumumkan Kamis dua pekan lalu. Hadiah Sastra Lontar juga diberikan kepada Gus tf Sakai lewat kumpulan cerita pendeknya, Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Penganugerahan ini merupakan rangkaian peringatan ulang tahun Yayasan Lontar, sekaligus peresmian gedung baru Lontar di Jalan Danau Air Tawar, Pejompongan, Jakarta. Perhelatan resmi anugerah sastra itu baru digelar Januari tahun depan. Lontar juga memberi penghargaan kepada Nh. Dini untuk "pengabdian sastra", dan Prof. A. Teeuw untuk "penghargaan antarbangsa Lontar".

Yang terbilang istimewa memang Hadiah Sastra buat Joko Pinurbo dan dan Gus tf Sakai. Kedua karya mereka menyisihkan 187 karya sastra lainnya selama periode 1999-2000, yang masuk dalam nominasi penilaian. Ia sukses melewati seleksi tim juri yang diketuai Sapardi Djoko Damono, salah satu pendiri Yayasan Lontar, dengan anggota John H. McGlynn, Melani Budianta, Nirwan Dewanto, dan Riris K. Toha Sarumpaet.

Karya Joko Pinurbo dan Gus tf Sakai itu, menurut Sapardi, paling sesuai dengan "selera" Yayasan Lontar. Yayasan Lontar sendiri, yang berdiri persis pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, 15 tahun lampau, selama ini identik dengan kegiatan penerjemahan sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Kriteria "cocok diterjemahkan" itulah yang jadi pertimbangan penting dewan juri.

Kumpulan cerita pendek dan kumpulan sanjak itu juga dinilai menyuguhkan kekinian untuk pembaca. "Sastra yang baik bisa men- ceritakan sesuatu yang biasa dengan cara berbeda, sehingga pembaca seolah-olah melihat pemerian itu untuk pertama kalinya," kata Riris Sarumpaet, pengajar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Selain itu, wacana yang diusung Joko Pinurbo dan Gus tf Sakai bergerak di wilayah lokal yang kental. Menurut John H. McGlynn, editor Yayasan Lontar yang juga ikut mendirikan yayasan ini, dan sudah banyak menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris, karya bernuansa lokal cenderung disukai penggemar sastra dunia.

Di "rimba persilatan" sastra Indonesia, nama Joko Pinurbo dan Gus tf Sakai memang bukan lema baru. Keduanya sama-sama produktif menulis puisi, cerita pendek, dan esai di berbagai media cetak. Kumpulan puisi Joko Pinurbo, Di Bawah Kibaran Sarung (1998), pernah dinobat- kan sebagai pemenang ketiga sayembara puisi Dewan Kesenian Jakarta, Februari lalu.

Sedangkan karya Gus tf Sakai, yang mukim di Payakumbuh, Sumatera Barat, bertebaran selama kurun 1996-2000. Kumpulan cerita pendeknya sebelum Kemilau Cahaya adalah Istana Ketirisan (1996). Ia juga menerbitkan tiga novel. Cerpen terakhirnya, Opit (2000), tercantum dalam Mata yang Indah (2001), kumpulan cerpen terbaik pilihan Kompas.

Lewat Kemilau Cahaya, Gus tf Sakai -nama aslinya Gustafrizal Busra- banyak bercerita tentang kekerasan di Indonesia. "Tapi, ia tak ter- jebak dalam kekerasan itu sendiri," kata Melani Budianta. Menurut Melani, Gus tf Sakai juga mampu mengajak pembacanya berpikir ulang tentang suatu masalah tanpa bermaksud menggurui.

Misalnya kisah perempuan buta dalam Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, yang dipetik menjadi judul buku. Perempuan buta tersebut mampu bertutur tentang cahaya, warna, dan segala hal yang biasa bagi orang melek, dengan sangat gamblang. Ada sindiran Gus tf Sakai tentang segala sesuatu yang selama ini kita anggap bukan masalah, tapi sebenarnya sama sekali tidak kita pahami.

Dipo Handoko dan Mariana Ariestyawati