http://www.jurnalkalam.org/
Tiga puluh tiga puisi Joko Pinurbo (biasa disapa Jokpin) selama tahun 2005-2006 tercakup dalam buku tipis ini. Dengan kalimat pendek dan bahasa sederhana, puisi Jokpin kerap mencuatkan emosi sekaligus ironi di benak pembaca. Benda dan peristiwa yang remeh yang ditampilkannya pun tak jarang menyimpan kejutan. Ia bicara tentang doa sehabis sembahyang, rambut bertutup jilbab, atau tubuh yang kesakitan. Puisi yang tampak bermain-main namun menyimpan kedalaman yang tak terduga.
Jokpin kerap terlibat dalam acara pembacaan puisi, misalnya Festival Puisi Internasional 2001 di Teater Utan Kayu, Jakarta. Pada Januari 2002, ia mengikuti perhelatan sastra di Belanda dan Jerman, termasuk Festival Sastra Winternachten di Den Haag. Bersama teman-temannya di Yogyakarta, Jokpin menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo. Kegiatan komunitas ini antara lain festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak.
Joko Pinurbo meraih Sih Award 2001 dari Jurnal Puisi dan, di tahun yang sama, Hadiah Sastra Lontar. Pada tahun 2005 ia mendapat Khatulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi Kekasihku (2004). Ia juga menjadi salah satu Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Kumpulan puisinya sebelum Kepada Cium adalah Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Gengam (2003), dan Pacar Senja - Seratus Puisi Pilihan (2005). Puisinya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.
Sihir Pemulung Kata
Anwar Holid
(Selisik-Republika, Minggu, 17 Juni 2007)
Nyaris semua kritik menyatakan salah satu puncak puisi Indonesia era 2000-an ada di pundak Joko Pinurbo (Jokpin). Bahkan blurb buku puisinya dengan bersemangat menyatakan: masa depan puisi Indonesia terletak pada tangannya.
Bukti pengakuan itu tentu sejumlah prestasi: memenangi Khatulistiwa Literary Award berkat Kekasihku (2004); buku-bukunya laris, padahal hampir semua penerbit pikir panjang bila hendak menerbitkan buku puisi saking trauma betapa sulit menjual buku puisi. Menurut seorang editor GPU, Kepada Cium, terjual 800 kopi dalam tiga minggu pertama masuk ke toko pada awal April 2007. Pencapaian itu sulit disamai penyair lain.
Kepada Cium, kumpulan puisi kedelapan dia, amat lain dari segi materi dibandingkan buku dia sebelumnya. Beda paling signifikan yaitu hilangnya tradisi tambahan esai terhadap puisi dalam edisi tersebut, termasuk tak ada endorsement sastrawan lain maupun pujian dari kritikus terkemuka. Ini bisa jadi semacam keyakinan makin besar bahwa Jokpin berani menyerahkan puisi kepada pembaca tanpa harus ditemani kritik maupun komentar yang biasanya cenderung dingin, serius, dan membatasi kebebasan pembaca yang ingin menikmati puisi seenak-enaknya.
Buku ini sangat tipis, hanya terdiri dari 33 puisi yang rata-rata relatif pendek. Kesan tipis ini disiasati dengan menambah sejumlah drawing karya Mirna Yulistianti, editor buku tersebut. Hasilnya, buku tampil tambah manis. Karena tipis, Kepada Cium bisa selesai dalam sekali baca, mungkin hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menamatkannya.
Tapi, juga justru karena tipis, pembaca akan mudah sekali terpikat oleh puisi-puisi itu, dan mereka akan mengulang-ulang membaca. Jokpin tak menerangkan kenapa memutuskan hanya memuat 33 puisi, padahal dalam periode 2005-2006 dia produktif dan karyanya terus bermunculan di media massa. Barangkali dia ingin memastikan pilihan tersebut bakal menyihir publik, sesuai ucapannya, "Puisi yang baik adalah yang bisa menyihir."
Setelah bolak-balik membaca Kepada Cium, yang paling terasa ialah Jokpin mengurangi kadar main-main yang mencapai puncaknya dalam Telepon Genggam (2003). Dia mengembara, memain-mainkan imajinasi dan logika, namun semua disampaikan hati-hati, lebih tenang, dan bilapun lucu, efeknya hanya menimbulkan senyum simpul, atau nyengir getir saking sangat menyindir.
Di buku ini dia jelas berusaha mengekang hasrat mengembangkan puisi jadi flash fiction agar betul-betul tetap merupakan puisi asli. Dari sana kita bisa yakin atas komentar Dr Okke Kusuma Sumantri Zaimar bahwa keahlian Joko Pinurbo mengemukakan pisau bermata dua bukan bualan untuk meyakin-yakinkan publik maupun demi menyenang-nyenangkan penyair.
Tahun 2005-2006 merupakan periode perih bagi Indonesia; pada awal 2005 terjadi tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, kemudian menyusul berbagai bencana alam, banjir bandang, kebocoran lumpur panas Lapindo, termasuk gempa di Yogyakarta, yang sempat merusakkan rumah Jokpin dan meruntuhkan rumah dua adiknya. Dia pun menulis puisi tentang tsunami dan gempa, juga terpukul oleh kejadian fatal yang menimpa anak-anak karena kalah oleh kemiskinan. Wajar bila beberapa puisi bernuansa sedih, sekaligus religius dan peka sosial. Yang terbaik melampiaskan perasaannya terhadap keperihan, antara lain Kepada Uang, Harga Duit Turun Lagi, dan Sehabis Sembahyang.
Menilik subyek yang muncul, Jokpin justru banyak mengulang atau makin mengulik tema yang dulu dia perkenalkan dalam Telepon Genggam. Kepada Cium banyak menggunakan citra telepon genggam, kesulitan komunikasi, kondisi sosial, dan tentu saja terus mencari sisi baru citra lama yang membuat penyair ini legendaris: celana, celana dalam, kasih sayang, kenangan masa kecil, perihal tubuh dan benda-benda rumah. Sisanya macam-macam: menafakuri waktu, harapan, absurditas menghadapi kenyataan hidup, mengejek kepura-puraan, dan eksplorasi terhadap puisi dan bahasa itu sendiri.
Dengan begitu, Kepada Cium menghasilkan dua jenis puisi: yang langsung bisa dinikmati, bermakna jelas, menyinggung perasaan -- jenis mata pisau pertama, karena langsung mengarah, menusuk ego manusia yang profan, ragawi, senantiasa kurang puas dan sulit sekali bersyukur. Lainnya kabur, unik, mengedepankan naluri, menarik-narik pembaca ke batas samar antara makna tersirat dan harfiah -- jenis mata pisau kedua, yang mengarah lebih pada permainan tafsir dan berbagai kemungkinan.
Membahas 'pisau bermata dua', bisa diperdebatkan apakah itu suatu keunggulan atau justru merupakan tanda ambiguitas dan ciri kelemahan? Bila merujuk pada Saini KM dalam Puisi dan Beberapa Masalahnya, ambiguitas di antaranya disebabkan oleh kegagalan penyair dalam menemukan lambang yang tepat untuk pikiran dan perasaannya, atau penyair sendiri ragu-ragu serta belum memutuskan apa sebenarnya yang menjadi pokok renungannya, sikap dan perasaan apa yang dialami dalam hubungannya dengan pokok tersebut.
Puisi sangat pendek Jokpin sangat potensial menghadirkan ambiguitas, misalnya Ranjang Kecil, Magrib, Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita. Barangkali disebabkan ketersediaan ruang penafsiran dari teks itu pun sangat sempit. Pembaca awam pasti kesulitan menentukan maksud persis sang penyair sebenarnya apa. Ambiguitas sering sengaja disisakan penyair agar melahirkan polemik, macam-macam tafsir, bahkan mistifikasi.
Kepada Cium tampaknya merupakan kado tanda ulang tahun ke-44 Jokpin. Dalam bingkisan itu dia memasukkan banyak isi, dari yang universal, menyangkut perhatian semua insan hingga ke detil batin individu, yang intim, hanya bisa diresapi khusyuk sendirian.
(Anwar Holid, editor buku )
(Selisik-Republika, Minggu, 17 Juni 2007)
Nyaris semua kritik menyatakan salah satu puncak puisi Indonesia era 2000-an ada di pundak Joko Pinurbo (Jokpin). Bahkan blurb buku puisinya dengan bersemangat menyatakan: masa depan puisi Indonesia terletak pada tangannya.
Bukti pengakuan itu tentu sejumlah prestasi: memenangi Khatulistiwa Literary Award berkat Kekasihku (2004); buku-bukunya laris, padahal hampir semua penerbit pikir panjang bila hendak menerbitkan buku puisi saking trauma betapa sulit menjual buku puisi. Menurut seorang editor GPU, Kepada Cium, terjual 800 kopi dalam tiga minggu pertama masuk ke toko pada awal April 2007. Pencapaian itu sulit disamai penyair lain.
Kepada Cium, kumpulan puisi kedelapan dia, amat lain dari segi materi dibandingkan buku dia sebelumnya. Beda paling signifikan yaitu hilangnya tradisi tambahan esai terhadap puisi dalam edisi tersebut, termasuk tak ada endorsement sastrawan lain maupun pujian dari kritikus terkemuka. Ini bisa jadi semacam keyakinan makin besar bahwa Jokpin berani menyerahkan puisi kepada pembaca tanpa harus ditemani kritik maupun komentar yang biasanya cenderung dingin, serius, dan membatasi kebebasan pembaca yang ingin menikmati puisi seenak-enaknya.
Buku ini sangat tipis, hanya terdiri dari 33 puisi yang rata-rata relatif pendek. Kesan tipis ini disiasati dengan menambah sejumlah drawing karya Mirna Yulistianti, editor buku tersebut. Hasilnya, buku tampil tambah manis. Karena tipis, Kepada Cium bisa selesai dalam sekali baca, mungkin hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menamatkannya.
Tapi, juga justru karena tipis, pembaca akan mudah sekali terpikat oleh puisi-puisi itu, dan mereka akan mengulang-ulang membaca. Jokpin tak menerangkan kenapa memutuskan hanya memuat 33 puisi, padahal dalam periode 2005-2006 dia produktif dan karyanya terus bermunculan di media massa. Barangkali dia ingin memastikan pilihan tersebut bakal menyihir publik, sesuai ucapannya, "Puisi yang baik adalah yang bisa menyihir."
Setelah bolak-balik membaca Kepada Cium, yang paling terasa ialah Jokpin mengurangi kadar main-main yang mencapai puncaknya dalam Telepon Genggam (2003). Dia mengembara, memain-mainkan imajinasi dan logika, namun semua disampaikan hati-hati, lebih tenang, dan bilapun lucu, efeknya hanya menimbulkan senyum simpul, atau nyengir getir saking sangat menyindir.
Di buku ini dia jelas berusaha mengekang hasrat mengembangkan puisi jadi flash fiction agar betul-betul tetap merupakan puisi asli. Dari sana kita bisa yakin atas komentar Dr Okke Kusuma Sumantri Zaimar bahwa keahlian Joko Pinurbo mengemukakan pisau bermata dua bukan bualan untuk meyakin-yakinkan publik maupun demi menyenang-nyenangkan penyair.
Tahun 2005-2006 merupakan periode perih bagi Indonesia; pada awal 2005 terjadi tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, kemudian menyusul berbagai bencana alam, banjir bandang, kebocoran lumpur panas Lapindo, termasuk gempa di Yogyakarta, yang sempat merusakkan rumah Jokpin dan meruntuhkan rumah dua adiknya. Dia pun menulis puisi tentang tsunami dan gempa, juga terpukul oleh kejadian fatal yang menimpa anak-anak karena kalah oleh kemiskinan. Wajar bila beberapa puisi bernuansa sedih, sekaligus religius dan peka sosial. Yang terbaik melampiaskan perasaannya terhadap keperihan, antara lain Kepada Uang, Harga Duit Turun Lagi, dan Sehabis Sembahyang.
Menilik subyek yang muncul, Jokpin justru banyak mengulang atau makin mengulik tema yang dulu dia perkenalkan dalam Telepon Genggam. Kepada Cium banyak menggunakan citra telepon genggam, kesulitan komunikasi, kondisi sosial, dan tentu saja terus mencari sisi baru citra lama yang membuat penyair ini legendaris: celana, celana dalam, kasih sayang, kenangan masa kecil, perihal tubuh dan benda-benda rumah. Sisanya macam-macam: menafakuri waktu, harapan, absurditas menghadapi kenyataan hidup, mengejek kepura-puraan, dan eksplorasi terhadap puisi dan bahasa itu sendiri.
Dengan begitu, Kepada Cium menghasilkan dua jenis puisi: yang langsung bisa dinikmati, bermakna jelas, menyinggung perasaan -- jenis mata pisau pertama, karena langsung mengarah, menusuk ego manusia yang profan, ragawi, senantiasa kurang puas dan sulit sekali bersyukur. Lainnya kabur, unik, mengedepankan naluri, menarik-narik pembaca ke batas samar antara makna tersirat dan harfiah -- jenis mata pisau kedua, yang mengarah lebih pada permainan tafsir dan berbagai kemungkinan.
Membahas 'pisau bermata dua', bisa diperdebatkan apakah itu suatu keunggulan atau justru merupakan tanda ambiguitas dan ciri kelemahan? Bila merujuk pada Saini KM dalam Puisi dan Beberapa Masalahnya, ambiguitas di antaranya disebabkan oleh kegagalan penyair dalam menemukan lambang yang tepat untuk pikiran dan perasaannya, atau penyair sendiri ragu-ragu serta belum memutuskan apa sebenarnya yang menjadi pokok renungannya, sikap dan perasaan apa yang dialami dalam hubungannya dengan pokok tersebut.
Puisi sangat pendek Jokpin sangat potensial menghadirkan ambiguitas, misalnya Ranjang Kecil, Magrib, Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita. Barangkali disebabkan ketersediaan ruang penafsiran dari teks itu pun sangat sempit. Pembaca awam pasti kesulitan menentukan maksud persis sang penyair sebenarnya apa. Ambiguitas sering sengaja disisakan penyair agar melahirkan polemik, macam-macam tafsir, bahkan mistifikasi.
Kepada Cium tampaknya merupakan kado tanda ulang tahun ke-44 Jokpin. Dalam bingkisan itu dia memasukkan banyak isi, dari yang universal, menyangkut perhatian semua insan hingga ke detil batin individu, yang intim, hanya bisa diresapi khusyuk sendirian.
(Anwar Holid, editor buku )
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Kepada Cium, Kepada Puisi, Kepada Jokpin
Judul buku : Kepada Cium
Penulis : Joko Pinurbo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I – Februari 2007
Tebal : 42 hlm
Kau adalah mata, aku air matamu.
(Kepada Puisi, Joko Pinurbo, 2003)
Kira-kira demikianlah pengakuan tulus Joko Pinurbo kepada puisi, dunia kata-kata yang digelutinya sejak ia masih remaja. Puisi bagi penyair bertubuh ceking yang biasa disapa Jokpin ini, adalah hidupnya. Menyatu. Tak terpisahkan. Bagaikan mata dengan air mata.
“Puisi adalah kekasihku. Adalah kebahagiaanku”, ujarnya saat saya mewawancarainya pada satu kesempatan tahun lalu. “Aku merasa eksis sebagai Jokpin berkat puisi. Aku paling bisa bicara dengan diriku dan dengan dunia di luar diriku melalui puisi”, tambahnya lagi seperti ingin menegaskan betapa puisi adalah segalanya bagi lelaki Jawa kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 ini.
Dari tubuh yang tampak ringkih itu telah lahir ratusan puisi; di antaranya tertuang dalam 6 buah buku yang sudah kita kenal : Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecil (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), dan Pacar Senja (2005) serta buku ke tujuhnya yang baru saja terbit : Kepada Cium (2007).
Buat saya yang awam, puisi-puisi penyair ini bagaikan oase menyejukkan tapi sekaligus juga memerihkan hati. Menyejukkan, sebab di sana saya menemukan kejujuran yang relijius, bukan saja kepada Tuhan tetapi juga kepada diri sendiri. Puisi-puisi itu seakan cermin diri kita (manusia) yang serakah dan munafik sembari tetap terus merayu-rayu Tuhan dalam setiap doa-doa kita. Misalnya saja pada puisi Sehabis Sembahyang (hlm 11) dan Di Perjamuan (hlm.30) ini :
Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.
Terima kasih atas segala pemberianmu,
Mohon lagi kemurahanmu : sekadar mobil baru
Yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya
Agar aku bisa lebih cepat mencapaimu
(Sehabis Sembahyang, 2005)
Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
Masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
Kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
Yang baik dan benar, Sayang
(Di Perjamuan, 2006)
Dan memerihkan, itu sudahlah pasti. Yang perih-perih menyayat hati itu dengan mudah bisa kita dapatkan, karena sebagian besar puisi-puisi Jokpin merupakan potret/rekaman nasib orang miskin yang berlumur penderitaan, seperti tukang becak umpamanya (dalam buku ini ada 3 puisi tentang tukang becak, profesi yang masih banyak ditemukan di Yogyakarta di mana penyair kita ini bertinggal). Kendati demikian, puisi-puisi tersebut tak lantas tampil mewujud berupa puisi cengeng yang mengiba-iba memohon belas kasihan. Malah yang sering terjadi adalah puisi arif yang dengan bijak menertawakan kemalangan:
Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah : onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.
Sesekali ia bercanda juga :
“Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibu melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.”
Dikumpulkannya pula rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak : “Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga.”
Kemudian dia pergi dan masuk ke relung tidurku.
(Pemulung Kecil, 2006)
Tetapi kali ini yang paling membuat saya begitu tersentuh (percaya nggak? Saya sampai meneteskan air mata membacanya) adalah sajak Harga Duit Turun Lagi (hlm.14). Dalam sajak itu, Jokpin berkisah tentang seorang anak yang mati menggantung dirinya sendiri karena malu telah menunggak uang sekolah selama berbulan-bulan. Kemiskinan yang melilit orang tuanya menyebabkan bocah kecil itu putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya yang baru saja mulai. Barangkali, puisi ini dicipta Jokpin karena terinspirasi peristiwa riil serupa yang terjadi di beberapa tempat di tanah air (salah satu kasus ditemukan di Provinsi Jawa Tengah) beberapa waktu silam.
Sajak ini serasa menggedor-gedor perasaan saya. Kebetulan saya membacanya di tengah-tengah ramainya berita perihal pengadaan sejumlah besar laptop seharga 20 juta rupiah untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Emosi saya yang telah tersulut marah oleh berita tersebut semakin terbakar oleh sajak ini. Alangkah tumpulnya mata hati para pejabat ini, tak terusik oleh realita memilukan yang dialami rakyat seperti bocah malang itu. Untunglah, belakangan usulan sinting yang tanpa nurani itu, dibatalkan.
Untung juga Jokpin tak lupa untuk beromantis-romantis ihwal cinta. Pada puisi Kepada Cium, Magrib ,Wintermachten, 2002, dan Cinta Telah Tiba, kita bisa temukan romantisme yang manis itu. Ia pun sempat pula mengabadikan dua peristiwa bencana alam besar yang pernah menimpa negeri ini, yaitu tsunami di Aceh (Aceh, 26 Desember 2004) dan gempa bumi di Yogya (Surat dari Yogya)
Buku tipis ini seluruhnya memuat 33 buah sajak Jokpin yang dibuat dalam kurun waktu 2005-2006. Sebagian besar telah pernah dipublikasi di harian Kompas.
Menurut saya yang sekadar seorang penikmat puisi, sepanjang kariernya Jokpin telah sukses menelurkan puisi-puisi yang baik dan indah, yakni puisi-puisi yang – seperti pernah dikatakannya – mampu menyentuh dan menghidupkan perasaan dan pikiran; membuat imajinasi makin cerdas; dan bisa menyihir (pembacanya). Dan saya - dengan segala kesadaran serta tanpa paksaan mengakui - adalah salah satu ‘korban’ sihir cium, eh..maksud saya, puisi-puisi itu :)
Endah Sulwesi 1/4/2007
http://www.perca.blogdrive.com/
Penulis : Joko Pinurbo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I – Februari 2007
Tebal : 42 hlm
Kau adalah mata, aku air matamu.
(Kepada Puisi, Joko Pinurbo, 2003)
Kira-kira demikianlah pengakuan tulus Joko Pinurbo kepada puisi, dunia kata-kata yang digelutinya sejak ia masih remaja. Puisi bagi penyair bertubuh ceking yang biasa disapa Jokpin ini, adalah hidupnya. Menyatu. Tak terpisahkan. Bagaikan mata dengan air mata.
“Puisi adalah kekasihku. Adalah kebahagiaanku”, ujarnya saat saya mewawancarainya pada satu kesempatan tahun lalu. “Aku merasa eksis sebagai Jokpin berkat puisi. Aku paling bisa bicara dengan diriku dan dengan dunia di luar diriku melalui puisi”, tambahnya lagi seperti ingin menegaskan betapa puisi adalah segalanya bagi lelaki Jawa kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 ini.
Dari tubuh yang tampak ringkih itu telah lahir ratusan puisi; di antaranya tertuang dalam 6 buah buku yang sudah kita kenal : Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecil (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), dan Pacar Senja (2005) serta buku ke tujuhnya yang baru saja terbit : Kepada Cium (2007).
Buat saya yang awam, puisi-puisi penyair ini bagaikan oase menyejukkan tapi sekaligus juga memerihkan hati. Menyejukkan, sebab di sana saya menemukan kejujuran yang relijius, bukan saja kepada Tuhan tetapi juga kepada diri sendiri. Puisi-puisi itu seakan cermin diri kita (manusia) yang serakah dan munafik sembari tetap terus merayu-rayu Tuhan dalam setiap doa-doa kita. Misalnya saja pada puisi Sehabis Sembahyang (hlm 11) dan Di Perjamuan (hlm.30) ini :
Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.
Terima kasih atas segala pemberianmu,
Mohon lagi kemurahanmu : sekadar mobil baru
Yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya
Agar aku bisa lebih cepat mencapaimu
(Sehabis Sembahyang, 2005)
Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
Masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
Kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
Yang baik dan benar, Sayang
(Di Perjamuan, 2006)
Dan memerihkan, itu sudahlah pasti. Yang perih-perih menyayat hati itu dengan mudah bisa kita dapatkan, karena sebagian besar puisi-puisi Jokpin merupakan potret/rekaman nasib orang miskin yang berlumur penderitaan, seperti tukang becak umpamanya (dalam buku ini ada 3 puisi tentang tukang becak, profesi yang masih banyak ditemukan di Yogyakarta di mana penyair kita ini bertinggal). Kendati demikian, puisi-puisi tersebut tak lantas tampil mewujud berupa puisi cengeng yang mengiba-iba memohon belas kasihan. Malah yang sering terjadi adalah puisi arif yang dengan bijak menertawakan kemalangan:
Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah : onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.
Sesekali ia bercanda juga :
“Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibu melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.”
Dikumpulkannya pula rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak : “Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga.”
Kemudian dia pergi dan masuk ke relung tidurku.
(Pemulung Kecil, 2006)
Tetapi kali ini yang paling membuat saya begitu tersentuh (percaya nggak? Saya sampai meneteskan air mata membacanya) adalah sajak Harga Duit Turun Lagi (hlm.14). Dalam sajak itu, Jokpin berkisah tentang seorang anak yang mati menggantung dirinya sendiri karena malu telah menunggak uang sekolah selama berbulan-bulan. Kemiskinan yang melilit orang tuanya menyebabkan bocah kecil itu putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya yang baru saja mulai. Barangkali, puisi ini dicipta Jokpin karena terinspirasi peristiwa riil serupa yang terjadi di beberapa tempat di tanah air (salah satu kasus ditemukan di Provinsi Jawa Tengah) beberapa waktu silam.
Sajak ini serasa menggedor-gedor perasaan saya. Kebetulan saya membacanya di tengah-tengah ramainya berita perihal pengadaan sejumlah besar laptop seharga 20 juta rupiah untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Emosi saya yang telah tersulut marah oleh berita tersebut semakin terbakar oleh sajak ini. Alangkah tumpulnya mata hati para pejabat ini, tak terusik oleh realita memilukan yang dialami rakyat seperti bocah malang itu. Untunglah, belakangan usulan sinting yang tanpa nurani itu, dibatalkan.
Untung juga Jokpin tak lupa untuk beromantis-romantis ihwal cinta. Pada puisi Kepada Cium, Magrib ,Wintermachten, 2002, dan Cinta Telah Tiba, kita bisa temukan romantisme yang manis itu. Ia pun sempat pula mengabadikan dua peristiwa bencana alam besar yang pernah menimpa negeri ini, yaitu tsunami di Aceh (Aceh, 26 Desember 2004) dan gempa bumi di Yogya (Surat dari Yogya)
Buku tipis ini seluruhnya memuat 33 buah sajak Jokpin yang dibuat dalam kurun waktu 2005-2006. Sebagian besar telah pernah dipublikasi di harian Kompas.
Menurut saya yang sekadar seorang penikmat puisi, sepanjang kariernya Jokpin telah sukses menelurkan puisi-puisi yang baik dan indah, yakni puisi-puisi yang – seperti pernah dikatakannya – mampu menyentuh dan menghidupkan perasaan dan pikiran; membuat imajinasi makin cerdas; dan bisa menyihir (pembacanya). Dan saya - dengan segala kesadaran serta tanpa paksaan mengakui - adalah salah satu ‘korban’ sihir cium, eh..maksud saya, puisi-puisi itu :)
Endah Sulwesi 1/4/2007
http://www.perca.blogdrive.com/
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Sabar, Lembut, dan Misterius
(Ruang Baca – Koran Tempo, Edisi 30 Oktober 2005)
Joko Pinurbo layak disebut penyair yang sabar. Tiga tahun berturut-turut ia menunggu hingga dewan juri memutuskan dialah yang layak menyandang gelar terbaik di Khatulistiwa Award tahun ini. Tidak heran Richard Oh, pendiri jaringan toko buku QB dan penggagas penghargaan ini, menyebut kemenangan Joko Pinurbo sebagai pencapaian tertinggi dalam karier kepenyairannya.
"Ini juga sekaligus pembebasan atas kungkungan selama tiga tahun ini," kata Richard. Pembebasan atau apa pun namanya, dewan juri menilai Kekasihku karya Pinurbo unggul dalam banyak kategori. Menurut koordinator juri Riris K Toha-Sarumpaet, Pinurbo dengan sangat intens menggarap karya yang beragam.
"Ia menjungkirbalikkan kaidah artistik puisi dengan justru mengembalikan bahasa puitik ke bahasa sehari-hari," kata Riris dalam pidato pengumumannya. Sajak-sajaknya juga kaya akan simbol, lembut, dan mengandung misteri kehidupan.
Selain itu, keunggulan Pinurbo juga terletak pada gaya ekspresinya, yang pada umumnya berupa kontradiksi: ironi dan paradoks dan gaya surealistis dan imajis. "Permainan citranya sarat kejutan," kata Riris. Pinurbo juga dinilai mampu menciptakan metafor yang unik dan menyegarkan.
Ia juga mahir menghidupkan bahasa sehingga menciptakan kekhasan pribadi. Kelebihan Pinurbo lainnya, ia piawai menjaga ketegaran sajak naratifnya agar tidak ikut arus aliran modern. "Ketika yang sederhana menjadi puisi, maka baik kata, tema, maupun keheningan yang dibawanya menjadi sangat tidak sederhana dan tidak biasa."
Dengan keunggulannya itu tidak heran Pinurbo mengandaskan karya unggulan lain dengan nama tidak kalah besarnya. Ada Gugusan Mata Ibu karya Raudal Tanjung Banua, Indonesiaku karya Hamid Jabbar, Kerygma dan Martyria karya Remy Sylado dan Matahari-matahari Kecil karya Iman Budhi Santosa.
Atas kemenangannya itu, Joko Pinurbo berhak meraih hadiah sebesar Rp 50 juta dan akses ke sejumlah festival penulis tingkat dunia. (angela)
Joko Pinurbo layak disebut penyair yang sabar. Tiga tahun berturut-turut ia menunggu hingga dewan juri memutuskan dialah yang layak menyandang gelar terbaik di Khatulistiwa Award tahun ini. Tidak heran Richard Oh, pendiri jaringan toko buku QB dan penggagas penghargaan ini, menyebut kemenangan Joko Pinurbo sebagai pencapaian tertinggi dalam karier kepenyairannya.
"Ini juga sekaligus pembebasan atas kungkungan selama tiga tahun ini," kata Richard. Pembebasan atau apa pun namanya, dewan juri menilai Kekasihku karya Pinurbo unggul dalam banyak kategori. Menurut koordinator juri Riris K Toha-Sarumpaet, Pinurbo dengan sangat intens menggarap karya yang beragam.
"Ia menjungkirbalikkan kaidah artistik puisi dengan justru mengembalikan bahasa puitik ke bahasa sehari-hari," kata Riris dalam pidato pengumumannya. Sajak-sajaknya juga kaya akan simbol, lembut, dan mengandung misteri kehidupan.
Selain itu, keunggulan Pinurbo juga terletak pada gaya ekspresinya, yang pada umumnya berupa kontradiksi: ironi dan paradoks dan gaya surealistis dan imajis. "Permainan citranya sarat kejutan," kata Riris. Pinurbo juga dinilai mampu menciptakan metafor yang unik dan menyegarkan.
Ia juga mahir menghidupkan bahasa sehingga menciptakan kekhasan pribadi. Kelebihan Pinurbo lainnya, ia piawai menjaga ketegaran sajak naratifnya agar tidak ikut arus aliran modern. "Ketika yang sederhana menjadi puisi, maka baik kata, tema, maupun keheningan yang dibawanya menjadi sangat tidak sederhana dan tidak biasa."
Dengan keunggulannya itu tidak heran Pinurbo mengandaskan karya unggulan lain dengan nama tidak kalah besarnya. Ada Gugusan Mata Ibu karya Raudal Tanjung Banua, Indonesiaku karya Hamid Jabbar, Kerygma dan Martyria karya Remy Sylado dan Matahari-matahari Kecil karya Iman Budhi Santosa.
Atas kemenangannya itu, Joko Pinurbo berhak meraih hadiah sebesar Rp 50 juta dan akses ke sejumlah festival penulis tingkat dunia. (angela)
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Puisi untuk Pembebasan
(Kompas, Senin, 26 Juni 2006)
Jakarta, Kompas - Menulis puisi berarti melepas sumbatan yang ada dalam diri kita. Dengan menulis puisi kita akan mendapatkan pembebasan. Karena itu, menulis puisi memerlukan kepekaan jiwa untuk mengekspresikan berbagai hal.
"Menulis puisi itu sebenarnya gampang. Kita santai saja dan rileks," kata penyair Joko Pinurbo saat berbicara di acara "Kebun Kata" yang digelar komunitas puisi cyber Bunga Matahari di Jakarta, Sabtu (24/6).
Selain belajar dari Joko, komunitas juga belajar dari cerpenis Joni Ariadinata yang dulunya adalah seorang tukang becak, namun kini menjadi cerpenis yang telah menjelajah Jerman dan Belanda karena karya-karyanya.
Acara "Kebun Kata" merupakan acara bulanan komunitas tersebut sebagai ajang saling mengenal dan belajar karena selama ini mereka hanya berkomunikasi melalui milis di dunia maya.
Orang pada umumnya menganggap bahwa membuat puisi itu sesuatu yang berat dan menakutkan. Padahal, puisi sebenarnya adalah bentuk sastra yang menyenangkan.
Bagi Joko Pinurbo, menulis puisi adalah ’perayaan’. Perayaan di tengah keseharian hidup. Menurutnya, bekerja, mencari nafkah sehari-hari di kantor adalah sebuah ’kemestian’, namun menciptakan sesuatu dengan kreativitas baginya adalah ’perayaan’.
Melalui puisi kita bisa mengeksplorasi sebuah obyek menjadi banyak kemungkinan ungkapan. "Kata ranjang bisa saya eksplor sebagai suatu imaji yang sangat berwatak perempuan. Seperti ibu misalnya. Ranjang itulah yang menampung kita, sangat keibuan. Ada sekitar 20 puisi ranjang yang saya ciptakan," kata Joko.
Di sini kepekaan puitik diperlukan untuk mengekspresikan berbagai hal. Menangis, misalnya, dipandang Joko sebagai suatu ’perayaan’, meratapi ’kebodohan’ yang kita lakukan. "Dengan berpuisi kita melepas sumbatan dan mendapatkan pembebasan," katanya. Menurutnya, yang terpenting dalam menulis puisi adalah menciptakan sesuatu yang sederhana namun menyentuh. (LOK)
Jakarta, Kompas - Menulis puisi berarti melepas sumbatan yang ada dalam diri kita. Dengan menulis puisi kita akan mendapatkan pembebasan. Karena itu, menulis puisi memerlukan kepekaan jiwa untuk mengekspresikan berbagai hal.
"Menulis puisi itu sebenarnya gampang. Kita santai saja dan rileks," kata penyair Joko Pinurbo saat berbicara di acara "Kebun Kata" yang digelar komunitas puisi cyber Bunga Matahari di Jakarta, Sabtu (24/6).
Selain belajar dari Joko, komunitas juga belajar dari cerpenis Joni Ariadinata yang dulunya adalah seorang tukang becak, namun kini menjadi cerpenis yang telah menjelajah Jerman dan Belanda karena karya-karyanya.
Acara "Kebun Kata" merupakan acara bulanan komunitas tersebut sebagai ajang saling mengenal dan belajar karena selama ini mereka hanya berkomunikasi melalui milis di dunia maya.
Orang pada umumnya menganggap bahwa membuat puisi itu sesuatu yang berat dan menakutkan. Padahal, puisi sebenarnya adalah bentuk sastra yang menyenangkan.
Bagi Joko Pinurbo, menulis puisi adalah ’perayaan’. Perayaan di tengah keseharian hidup. Menurutnya, bekerja, mencari nafkah sehari-hari di kantor adalah sebuah ’kemestian’, namun menciptakan sesuatu dengan kreativitas baginya adalah ’perayaan’.
Melalui puisi kita bisa mengeksplorasi sebuah obyek menjadi banyak kemungkinan ungkapan. "Kata ranjang bisa saya eksplor sebagai suatu imaji yang sangat berwatak perempuan. Seperti ibu misalnya. Ranjang itulah yang menampung kita, sangat keibuan. Ada sekitar 20 puisi ranjang yang saya ciptakan," kata Joko.
Di sini kepekaan puitik diperlukan untuk mengekspresikan berbagai hal. Menangis, misalnya, dipandang Joko sebagai suatu ’perayaan’, meratapi ’kebodohan’ yang kita lakukan. "Dengan berpuisi kita melepas sumbatan dan mendapatkan pembebasan," katanya. Menurutnya, yang terpenting dalam menulis puisi adalah menciptakan sesuatu yang sederhana namun menyentuh. (LOK)
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Perceraian Puisi dan Prosa
(Koran Tempo, Kamis, 6 Oktober 2005)
Tahun ini, Khatulistiwa Literary Award memisahkan kategori puisi dan prosa.
Jakarta -- Seno Gumira Ajidarma tengah berbahagia. Pasalnya, seperti tahun lalu, ia kembali meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2005 pada Jumat (30/9). Seno menyabet 100 juta rupiah lewat novel karyanya, Kitab Omong Kosong, sebagai karya prosa terbaik.
Sementara itu, penghargaan utama untuk kategori puisi jatuh ke tangan penyair Joko Pinurbo. Jokpin--sapaan akrabnya--akhirnya meraih penghargaan itu setelah beberapa kali hanya menjadi nomine. Kali ini, ia sukses meraih hadiah uang 50 juta rupiah lewat buku kumpulan puisinya, Kekasihku. Kitab Omong Kosong menyisihkan empat nomine lainnya, dua di antaranya novel, yaitu Cermin Merah karya N. Riantiarno dan Nayla karangan Djenar Maesa Ayu. Sementara itu, dua lainnya berbentuk antologi cerpen: Parang Tak Berulu ciptaan Raudal Tanjung Banua dan Sihir Perempuan milik Intan Paramaditha.
Novel Kitab Omong Kosong pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada 2001 dengan judul Rama-Sinta. Novel terbitan Bentang itu bercerita tentang pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan serta kehadiran tokoh Rama dan Sinta. Namun, dalam novel setebal 624 halaman itu, tokoh Rahwana tak mampu dimusnahkan oleh Rama. Menurut ketua dewan juri Riris K. Toha Sarumpaet, novel karya Seno itu piawai mengolah gagasan dengan bobot yang matang. Novel itu juga mengusung kearifan lokal dan mengawinkan nilai-nilai kemanusiaan dengan nilai-nilai kebatinan manusia. Kendati mengobrak-abrik mitos baku, kata Riris, "Tulisan Seno yang gesit. Bisa membuat pembaca untuk bertahan (membaca hingga selesai)."
Sementara itu, Kekasihku karya Jokpin menyingkirkan kumpulan puisi Gugusan Mata Ibu karya Raudal Tanjung Banua, Kerygma dan Martyria karya Remy Sylado, Indonesiaku karya Hamid Jabbar, dan Matahari-matahari Kecil karya Iman Budhi Santoso. Keunggulan karya Jokpin, menurut juri, terletak pada kesederhanaannya. Puisi-puisi Jokpin kadang membahas hal-hal remeh yang jarang singgah dalam pikiran orang biasa. Selain itu "Puisinya ringan, diselingi humor, dan penuh dengan metafora yang segar," kata Riris.
Metafora itu, misalnya, hadir dalam puisinya berjudul Pacar Senja. Di situ, Joko melakukan personifikasi atas senja. Senja digambarkan hidup dan bercinta dengan pantai. Joko mengakui, puisi-puisi di Kekasihku lebih sederhana dan tidak seliar puisi-puisi terdahulu. "Kekasihku adalah muara dari pencapaian estetika saya yang selama ini menggumpal," kata Jokpin.
Penghargaan Khatulistiwa tahun ini memang sedikit berbeda dengan tahun lalu. Kategori puisi dan prosa, yang tahun lalu berada dalam kategori yang sama, yakni fiksi, sekarang dipisahkan. Hal itu, menurut ketua penyelenggara penghargaan Richard Oh, sengaja dilakukan setelah mendengar aspirasi yang berkembang.
Sementara itu, kategori nonfiksi tahun ini ditiadakan karena dirasakan pesertanya kurang. Tahun lalu, dalam kategori fiksi, muncul dua pemenang, yaitu Seno Gumira Ajidarma dengan novel Negeri Senja dan Linda Christanty dengan kumpulan cerpennya Kuda Terbang Mario Pinto. Atas prestasinya itu, Seno dan Linda menyabet hadiah masing-masing 50 juta rupiah.
Adapun untuk kategori nonfiksi, Sapardi Djoko Damono meraih penghargaan atas karyanya, Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan. Sastrawan-sastrawan yang pernah meraih penghargaan Khatulistiwa lainnya adalah Hamsad Rangkuti (2003) atas kumpulan cerpennya Bibir dalam Pispot, Remy Sylado (2002) atas novelnya Kerudung Merah Kirmizi, dan Goenawan Mohamad (2001) atas kumpulan puisi Sajak-sajak Lengkap 1961-2001.
INDRA DARMAWAN
Tahun ini, Khatulistiwa Literary Award memisahkan kategori puisi dan prosa.
Jakarta -- Seno Gumira Ajidarma tengah berbahagia. Pasalnya, seperti tahun lalu, ia kembali meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award 2005 pada Jumat (30/9). Seno menyabet 100 juta rupiah lewat novel karyanya, Kitab Omong Kosong, sebagai karya prosa terbaik.
Sementara itu, penghargaan utama untuk kategori puisi jatuh ke tangan penyair Joko Pinurbo. Jokpin--sapaan akrabnya--akhirnya meraih penghargaan itu setelah beberapa kali hanya menjadi nomine. Kali ini, ia sukses meraih hadiah uang 50 juta rupiah lewat buku kumpulan puisinya, Kekasihku. Kitab Omong Kosong menyisihkan empat nomine lainnya, dua di antaranya novel, yaitu Cermin Merah karya N. Riantiarno dan Nayla karangan Djenar Maesa Ayu. Sementara itu, dua lainnya berbentuk antologi cerpen: Parang Tak Berulu ciptaan Raudal Tanjung Banua dan Sihir Perempuan milik Intan Paramaditha.
Novel Kitab Omong Kosong pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada 2001 dengan judul Rama-Sinta. Novel terbitan Bentang itu bercerita tentang pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan serta kehadiran tokoh Rama dan Sinta. Namun, dalam novel setebal 624 halaman itu, tokoh Rahwana tak mampu dimusnahkan oleh Rama. Menurut ketua dewan juri Riris K. Toha Sarumpaet, novel karya Seno itu piawai mengolah gagasan dengan bobot yang matang. Novel itu juga mengusung kearifan lokal dan mengawinkan nilai-nilai kemanusiaan dengan nilai-nilai kebatinan manusia. Kendati mengobrak-abrik mitos baku, kata Riris, "Tulisan Seno yang gesit. Bisa membuat pembaca untuk bertahan (membaca hingga selesai)."
Sementara itu, Kekasihku karya Jokpin menyingkirkan kumpulan puisi Gugusan Mata Ibu karya Raudal Tanjung Banua, Kerygma dan Martyria karya Remy Sylado, Indonesiaku karya Hamid Jabbar, dan Matahari-matahari Kecil karya Iman Budhi Santoso. Keunggulan karya Jokpin, menurut juri, terletak pada kesederhanaannya. Puisi-puisi Jokpin kadang membahas hal-hal remeh yang jarang singgah dalam pikiran orang biasa. Selain itu "Puisinya ringan, diselingi humor, dan penuh dengan metafora yang segar," kata Riris.
Metafora itu, misalnya, hadir dalam puisinya berjudul Pacar Senja. Di situ, Joko melakukan personifikasi atas senja. Senja digambarkan hidup dan bercinta dengan pantai. Joko mengakui, puisi-puisi di Kekasihku lebih sederhana dan tidak seliar puisi-puisi terdahulu. "Kekasihku adalah muara dari pencapaian estetika saya yang selama ini menggumpal," kata Jokpin.
Penghargaan Khatulistiwa tahun ini memang sedikit berbeda dengan tahun lalu. Kategori puisi dan prosa, yang tahun lalu berada dalam kategori yang sama, yakni fiksi, sekarang dipisahkan. Hal itu, menurut ketua penyelenggara penghargaan Richard Oh, sengaja dilakukan setelah mendengar aspirasi yang berkembang.
Sementara itu, kategori nonfiksi tahun ini ditiadakan karena dirasakan pesertanya kurang. Tahun lalu, dalam kategori fiksi, muncul dua pemenang, yaitu Seno Gumira Ajidarma dengan novel Negeri Senja dan Linda Christanty dengan kumpulan cerpennya Kuda Terbang Mario Pinto. Atas prestasinya itu, Seno dan Linda menyabet hadiah masing-masing 50 juta rupiah.
Adapun untuk kategori nonfiksi, Sapardi Djoko Damono meraih penghargaan atas karyanya, Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan. Sastrawan-sastrawan yang pernah meraih penghargaan Khatulistiwa lainnya adalah Hamsad Rangkuti (2003) atas kumpulan cerpennya Bibir dalam Pispot, Remy Sylado (2002) atas novelnya Kerudung Merah Kirmizi, dan Goenawan Mohamad (2001) atas kumpulan puisi Sajak-sajak Lengkap 1961-2001.
INDRA DARMAWAN
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Kutub Estetik Dua Penyair
Putu Fajar Arcana
(Kompas, Minggu, 31 Juli 2005)
Barangkali lebih dari tiga dekade, WS Rendra sebagai penyair dan pembaca puisi hidup menjadi mitos di kepala kita. Mitos membuat manusia penyair yang hidup sesudahnya rikuh, salah tingkah, kehilangan inspirasi, dan akhirnya harus tunduk sebagai epigon.
Selubung "besi" mitos itulah yang harus ditembus dua penyair Joko Pinurbo (Yogyakarta) dan Warih Wisatsana (Denpasar) saat pertama mengibarkan kepenyairan mereka di era awal tahun 1990-an. Hebatnya, ketika membaca puisi, Jumat (29/7) di Teater Utan Kayu, Jakarta, keduanya menunjukkan bahwa mitos itu kehilangan jejaknya.
Joko dengan ciri khas di mana puisi tidak tampil sebagai sesuatu yang "angker" di satu kutub, sementara kutub lainnya Warih mengisyaratkan keterampilan dan upaya yang sungguh-sungguh di dalam mengolah kata. Warih adalah ciri penyair yang bisa berteriak histeris ketika menemukan "kimiawi" kata, dan Joko dingin-dingin saja ketika menuliskan tentang kuburan atau celana kesukaannya.
Barangkali agar mendapatkan gambaran lebih utuh kutub mereka masing-masing, saya kutipkan penggalan puisi kedua penyair, yang bisa saja kita interpretasikan sebagai kredo kepenyairan mereka.
Dalam puisi berjudul Bertelur, Joko Pinurbo menulis://...Aku ini seorang peternak: saban hari/mengembangbiakkan kata, dan belum kudapatkan kata/yang bisa mengucapkan kita/Kata yang kucari, konon, ada di dalam telurku ini//Kuperam telurku di ranjang kata-kata yang sudah lama/tak lagi melahirkan kata/Kuerami ia saban malam/sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan...//
Langsung kita perbandingkan dengan puisi Grafiti Penuh Grafiti dari Warih Wisatsana://...Aku temukan celah masuk/di retak tembok itu/bagi sebaris sajakku/yang malu- malu/yang ragu-ragu//Sekelumit kalimat/penahan sayat sakit/pil penenang semalaman/sebelum tiang gantungan...//
Secara sederhana dan tampak tak "susah-susah", Joko membuat analogi "pekerjaan" menyair tak berbeda jauh dari pekerjaan seorang peternak. Meski tekun saban hari "mengembangbiakkan" kata, belum juga ia memperoleh kata-kata yang mampu mewakili sebagian terbesar dari kehidupan.
Warih barangkali lebih penuh dengan metafor. Diksi adalah soal terbesar penyair ini yang harus terus-menerus disikapi. Karena dari diksi ia berhasrat menemukan "kimiawi" kata untuk membentuk rima sehingga sangat indah ketika dibacakan. Puisi ibarat grafiti yang dituliskan untuk mewakili satu ekspresi terkini dari satu generasi.
Bahkan, Warih menganggap aliran puisi telah merembes pada retak celah dirinya. Di situlah ia mencoba membaca dirinya, yang lebih dari 16 tahun "bergaul" dengan puisi. Apa dan siapa aku?
Tombak
Dua penyair ini ibarat tombak kembar dari dua kutub berbeda yang hadir menerobos keterkungkungan generasi terkini dari mitos Rendra. Era bahwa puisi membutuhkan penghayatan untuk menggelorakan heroisme, yang kemudian melahirkan puisi-puisi pamflet, berakhir di ujung pena mereka. Era ini pula yang menyumbang kegandrungan sebagian besar demonstran memperalat puisi sebagai orasi dalam berbagai demonstrasi sampai kini.
Pada Joko dan Warih, puisi adalah sebuah kebersahajaan dan kesungguhan. Ia tidak perlu dibebani oleh misi-misi di luar dirinya, yang pada akhirnya menjerumuskannya pada deretan kata-kata penuh pekik.
Simaklah caranya Joko mengatakan nasib seorang guru yang terpaksa menjadi pengojek. Tetapi, ketika "aku", mantan muridnya, naik ojek, guru itu malah menolak dibayar. Padahal, sang murid ingin memberinya ongkos kejutan. //...Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru/sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah/Ah, aku ingin kasih bayaran mengejutkan/Dasar sial/Belum sempat kubuka dompet, beliau/sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja...//Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba/ bangkit berdiri dan berseru padaku, "Dengan kata lain/kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu!"// (Dengan Kata Lain)
Puisi-puisi Joko adalah ironi-ironi hidup manusia sehari-hari yang diungkapkan dengan kata-kata banal. Ia merasa tidak perlu meletakkan puisi sebagai sesuatu yang "sakral" meski tidak berarti ia menyepelekan kepenyairannya.
Sementara Warih seakan berada di kutub seberang. Penyair ini terkenal sangat perfeksionis. Sebelum puisi- puisinya dipublikasi bila perlu ia igaukan dalam tidurnya. Pada akhirnya memang tercipta satu puisi yang indah secara diksi dan sublim di dalam pemaknaan.
Soalnya sekarang tinggal bagaimana menjaga agar kebersahajaan tidak jatuh menjadi eksploitasi estetik dan kesungguhan tidak menjadi "penghambaan" yang bablas. Kata Chairil Anwar, penyair harus tetap berjaga di garis batas pernyataan dan impian.
(Kompas, Minggu, 31 Juli 2005)
Barangkali lebih dari tiga dekade, WS Rendra sebagai penyair dan pembaca puisi hidup menjadi mitos di kepala kita. Mitos membuat manusia penyair yang hidup sesudahnya rikuh, salah tingkah, kehilangan inspirasi, dan akhirnya harus tunduk sebagai epigon.
Selubung "besi" mitos itulah yang harus ditembus dua penyair Joko Pinurbo (Yogyakarta) dan Warih Wisatsana (Denpasar) saat pertama mengibarkan kepenyairan mereka di era awal tahun 1990-an. Hebatnya, ketika membaca puisi, Jumat (29/7) di Teater Utan Kayu, Jakarta, keduanya menunjukkan bahwa mitos itu kehilangan jejaknya.
Joko dengan ciri khas di mana puisi tidak tampil sebagai sesuatu yang "angker" di satu kutub, sementara kutub lainnya Warih mengisyaratkan keterampilan dan upaya yang sungguh-sungguh di dalam mengolah kata. Warih adalah ciri penyair yang bisa berteriak histeris ketika menemukan "kimiawi" kata, dan Joko dingin-dingin saja ketika menuliskan tentang kuburan atau celana kesukaannya.
Barangkali agar mendapatkan gambaran lebih utuh kutub mereka masing-masing, saya kutipkan penggalan puisi kedua penyair, yang bisa saja kita interpretasikan sebagai kredo kepenyairan mereka.
Dalam puisi berjudul Bertelur, Joko Pinurbo menulis://...Aku ini seorang peternak: saban hari/mengembangbiakkan kata, dan belum kudapatkan kata/yang bisa mengucapkan kita/Kata yang kucari, konon, ada di dalam telurku ini//Kuperam telurku di ranjang kata-kata yang sudah lama/tak lagi melahirkan kata/Kuerami ia saban malam/sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan...//
Langsung kita perbandingkan dengan puisi Grafiti Penuh Grafiti dari Warih Wisatsana://...Aku temukan celah masuk/di retak tembok itu/bagi sebaris sajakku/yang malu- malu/yang ragu-ragu//Sekelumit kalimat/penahan sayat sakit/pil penenang semalaman/sebelum tiang gantungan...//
Secara sederhana dan tampak tak "susah-susah", Joko membuat analogi "pekerjaan" menyair tak berbeda jauh dari pekerjaan seorang peternak. Meski tekun saban hari "mengembangbiakkan" kata, belum juga ia memperoleh kata-kata yang mampu mewakili sebagian terbesar dari kehidupan.
Warih barangkali lebih penuh dengan metafor. Diksi adalah soal terbesar penyair ini yang harus terus-menerus disikapi. Karena dari diksi ia berhasrat menemukan "kimiawi" kata untuk membentuk rima sehingga sangat indah ketika dibacakan. Puisi ibarat grafiti yang dituliskan untuk mewakili satu ekspresi terkini dari satu generasi.
Bahkan, Warih menganggap aliran puisi telah merembes pada retak celah dirinya. Di situlah ia mencoba membaca dirinya, yang lebih dari 16 tahun "bergaul" dengan puisi. Apa dan siapa aku?
Tombak
Dua penyair ini ibarat tombak kembar dari dua kutub berbeda yang hadir menerobos keterkungkungan generasi terkini dari mitos Rendra. Era bahwa puisi membutuhkan penghayatan untuk menggelorakan heroisme, yang kemudian melahirkan puisi-puisi pamflet, berakhir di ujung pena mereka. Era ini pula yang menyumbang kegandrungan sebagian besar demonstran memperalat puisi sebagai orasi dalam berbagai demonstrasi sampai kini.
Pada Joko dan Warih, puisi adalah sebuah kebersahajaan dan kesungguhan. Ia tidak perlu dibebani oleh misi-misi di luar dirinya, yang pada akhirnya menjerumuskannya pada deretan kata-kata penuh pekik.
Simaklah caranya Joko mengatakan nasib seorang guru yang terpaksa menjadi pengojek. Tetapi, ketika "aku", mantan muridnya, naik ojek, guru itu malah menolak dibayar. Padahal, sang murid ingin memberinya ongkos kejutan. //...Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru/sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah/Ah, aku ingin kasih bayaran mengejutkan/Dasar sial/Belum sempat kubuka dompet, beliau/sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja...//Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba/ bangkit berdiri dan berseru padaku, "Dengan kata lain/kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu!"// (Dengan Kata Lain)
Puisi-puisi Joko adalah ironi-ironi hidup manusia sehari-hari yang diungkapkan dengan kata-kata banal. Ia merasa tidak perlu meletakkan puisi sebagai sesuatu yang "sakral" meski tidak berarti ia menyepelekan kepenyairannya.
Sementara Warih seakan berada di kutub seberang. Penyair ini terkenal sangat perfeksionis. Sebelum puisi- puisinya dipublikasi bila perlu ia igaukan dalam tidurnya. Pada akhirnya memang tercipta satu puisi yang indah secara diksi dan sublim di dalam pemaknaan.
Soalnya sekarang tinggal bagaimana menjaga agar kebersahajaan tidak jatuh menjadi eksploitasi estetik dan kesungguhan tidak menjadi "penghambaan" yang bablas. Kata Chairil Anwar, penyair harus tetap berjaga di garis batas pernyataan dan impian.
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Joko Pinurbo Raih "Sih Award"
(Kompas, Senin, 10 Desember 2001)
Yogyakarta, Kompas -- Puisi berjudul Celana 1, Celana 2, dan Celana 3, karya penyair Joko Pinurbo (39) asal Yogyakarta, meraih Penghargaan Puisi Terbaik Pertama berupa Anugerah Sih Award (Anugerah Jeihan), penghargaan nasional yang dikeluarkan oleh Yayasan Pengembangan Rupa Seni Indonesia Bandung. Sedangkan dua pemenang Sih Award lain untuk Penghargaan Puisi Terbaik Kedua dan Ketiga masing-masing diraih oleh Oka Rusmini (34), dan Ulfatin CH (34), penyair wanita dari Bali dan Yogyakarta.
Pemberian penghargaan, dilaksanakan Sabtu (8/12) malam di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta oleh penyair dan pemrakarsa penghargaan, sekaligus Pemimpin Jurnal Puisi, Prof Dr Sapardi Djoko Damono. Bersamaan dengan itu diluncurkan pula antologi puisi Mata Jendela, dan antologi cerpen dunia Sang Pendeta dan Kekasihnya, keduanya karya asli dan terjemahan Sapardi Djoko Damono.
Puisi Oka Rusmini yang memenangi penghargaan ini berjudul Pelabuhan Api, sedangkan puisi Ulfatin CH berjudul Rumah Masih yang Dulu. Puisi yang dinilai adalah puisi-puisi yang pernah dimuat pada berkala Jurnal Puisi antara 1 Juni 1997 hingga 5 September 2001. Ketiga penyair memperoleh sejumlah uang tunai, dan lencana emas yang sayangnya baru akan diberikan beberapa waktu lagi, karena proses pembuatan ketiga lencana emas itu terlambat jadi.
Pengumuman Juara I, II, dan III dilakukan oleh Ketua Dewan Juri sastrawan Dr Bakdi Soemanto, dibantu dua juri lain penyair Dr Suminto A Sayuti, serta Drs B Rahmanto.
Bakdi Soemanto mengemukakan, ketiga puisi Joko Pinurbo, Celana 1, Celana 2, dan Celana 3, dipandang sebagai satu kesatuan yang dalam bahasa novel sering disebut trilogi. "Dalam menentukan penilaiannya, dewan juri menggunakan unsur penilaian kepaduan seluruh unsur puisi, kelancaran ucap, ungkapan sederhana, jujur tetapi bernas, menawarkan kurang lebih kebaruan bagi jagad perpuisian Indonesia masa kini, serta kematangan berekspresi," kata Bakdi Soemanto sambil menambahkan tak dapat dipungkiri, dewan juri sangat dipengaruhi pandangan kesehariannya yang sedang menjadi jiwa zaman era sekarang.
Joko Pinurbo, dalam tahun 2001 memenangi dua penghargaan puisi yang lain yaitu salah satu pemenang Penghargaan Kumpulan Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Sastra Lontar. (hrd)
Yogyakarta, Kompas -- Puisi berjudul Celana 1, Celana 2, dan Celana 3, karya penyair Joko Pinurbo (39) asal Yogyakarta, meraih Penghargaan Puisi Terbaik Pertama berupa Anugerah Sih Award (Anugerah Jeihan), penghargaan nasional yang dikeluarkan oleh Yayasan Pengembangan Rupa Seni Indonesia Bandung. Sedangkan dua pemenang Sih Award lain untuk Penghargaan Puisi Terbaik Kedua dan Ketiga masing-masing diraih oleh Oka Rusmini (34), dan Ulfatin CH (34), penyair wanita dari Bali dan Yogyakarta.
Pemberian penghargaan, dilaksanakan Sabtu (8/12) malam di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta oleh penyair dan pemrakarsa penghargaan, sekaligus Pemimpin Jurnal Puisi, Prof Dr Sapardi Djoko Damono. Bersamaan dengan itu diluncurkan pula antologi puisi Mata Jendela, dan antologi cerpen dunia Sang Pendeta dan Kekasihnya, keduanya karya asli dan terjemahan Sapardi Djoko Damono.
Puisi Oka Rusmini yang memenangi penghargaan ini berjudul Pelabuhan Api, sedangkan puisi Ulfatin CH berjudul Rumah Masih yang Dulu. Puisi yang dinilai adalah puisi-puisi yang pernah dimuat pada berkala Jurnal Puisi antara 1 Juni 1997 hingga 5 September 2001. Ketiga penyair memperoleh sejumlah uang tunai, dan lencana emas yang sayangnya baru akan diberikan beberapa waktu lagi, karena proses pembuatan ketiga lencana emas itu terlambat jadi.
Pengumuman Juara I, II, dan III dilakukan oleh Ketua Dewan Juri sastrawan Dr Bakdi Soemanto, dibantu dua juri lain penyair Dr Suminto A Sayuti, serta Drs B Rahmanto.
Bakdi Soemanto mengemukakan, ketiga puisi Joko Pinurbo, Celana 1, Celana 2, dan Celana 3, dipandang sebagai satu kesatuan yang dalam bahasa novel sering disebut trilogi. "Dalam menentukan penilaiannya, dewan juri menggunakan unsur penilaian kepaduan seluruh unsur puisi, kelancaran ucap, ungkapan sederhana, jujur tetapi bernas, menawarkan kurang lebih kebaruan bagi jagad perpuisian Indonesia masa kini, serta kematangan berekspresi," kata Bakdi Soemanto sambil menambahkan tak dapat dipungkiri, dewan juri sangat dipengaruhi pandangan kesehariannya yang sedang menjadi jiwa zaman era sekarang.
Joko Pinurbo, dalam tahun 2001 memenangi dua penghargaan puisi yang lain yaitu salah satu pemenang Penghargaan Kumpulan Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Sastra Lontar. (hrd)
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001
Joko Pinurbo:
Penyair Bertubuh Tipis dengan Hasrat Besar
Seandainya saja Joko Pinurbo adalah sebuah balon yang penuh sesak dengan ego, tahun 2001 akan menjadi tahun yang melambungkannya ke angkasa ruang. Bayangkan, di tahun 2001 itu Joko meraup tiga penghargaan sekaligus: dari Dewan Kesenian Jakarta untuk kumpulan puisinya Di Bawah Kibaran Sarung, kemudian ia juga dinyatakan sebagai pemenang SIH Award (lembaga yang dimotori pelukis Jeihan) untuk trilogi puisi Celana, dan dari Yayasan Lontar, juga untuk Celana. "Terus terang, saya kaget," kata Joko.
Dia kaget karena pada dasarnya dia adalah sosok yang pemalu, pendiam, dan sederhana dengan ego yang luar biasa di bawah tanah. Itulah sebabnya, karena Joko Pinurbo-tak seperti seniman Indonesia umumnya yang sibuk dengan ego dengan ukuran XL-bukan sebuah balon, dia tak melayang ke angkasa ruang, tapi hanya terpana karena "tak menduga akan mendapat penghargaan Lontar". Maklum, menurut dia, kumpulan puisi Celana adalah, "buku puisi saya yang pertama dan merupakan buku puisi percobaan," tutur Joko dengan rendah hari.
Lahir di Sukabumi, 11 Mei 1962, sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Joko menulis sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Karena orang tuanya tak punya cukup uang untuk membelikannya kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya. Hobi membacanya hanya tersalur lewat koran bekas pembungkus yang dibawa ayahnya. Setelah duduk di bangku SMA Mertoyudan, kegemarannya membacanya bisa disalurkan dengan jauh lebih baik karena perpustakaan sekolahnya memiliki koleksi yang mengagumkan.
Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya. Akibatnya, rapornya jeblok. Sebagai penyair, Joko menjelajahi banyak tema. Namun, tahun-tahun terakhir, ia banyak menggeluti obyek keseharian seperti celana, kamar mandi, atau bagian dari tubuh manusia. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi (juga parodi), yang akhirnya jadi "merek dagangnya".
Apa sebetulnya alasan Joko memilih tema keseharian tersebut? "Saya orang yang kuper (kurang pergaulan) karena sejak kecil sakit-sakitan," kata Joko. Dari kesendiriannya itulah ia jadi makin peka dengan hal-hal kecil yang mungkin tak tak terlalu memancing minat penyair lainnya.
Lulusan IKIP Sanata Dharma Jurusan Pendidikan dan Sastra ini tak cuma menggeluti puisi. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak. Penyair yang juga aktif di Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar-didirikan mendiang Y.B. Mangunwijaya-ini memiliki hasrat untuk membentuk acara kesenian yang bisa menjadi jembatan dialog antarmasyarakat lewat kesenian.
Meski pemalu, lelaki bertubuh tipis karena digerus penyakit di masa kecilnya ini memiliki bahasa yang witty, yang cerdas tanpa pretensi. Beberapa tahun silam, dia mempresentasikan sebuah makalah tentang puisi di Indonesia di Teater Utan Kayu, dan menyatakan, "Begitu banyak puisi di dalam cerita pendek dan novel Indonesia yang jauh lebih baik dan puitis daripada di dalam 'puisi resmi'," demikian ia bertutur santai. Dan ucapan itu memancing tawa gemuruh.
Kini, meskipun sudah mengantongi tiga hadiah, ayah dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai editor bank naskah Grup Gramedia di Yogyakarta itu mengaku masih punya rasa "iri". Joko penasaran kenapa puisi tidak bisa menjaring puluhan ribu pembaca seperti novel Saman karya Ayu Utami, misalnya. "Ini tantangan buat saya," kata Joko, yang tahun 2002 ini akan menerbitkan kumpulan puisi Pacarkecilku.
(TEMPO, Edisi Akhir Tahun, 31 Desember 2001)
Joko Pinurbo
"Saya memerlukan kesendirian," kata penyair Joko Pinurbo. Kesendirian itu dibutuhkan untuk mengolah ide, yang datangnya sewaktu-waktu, menjadi bait-bait puisi. Di tahun 2001 lalu, puisi yang meluncur dari tangan Jokpin -- panggilan akrab Joko Pinurbo -- telah melambungkan namanya. Itu karena, pada tahun itu, ia menerima tiga penghargaan untuk buku puisi Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, dan trilogi puisi Celana.
Entah karena kesendirian itu atau oleh sebab lain, Jokpin menjadi peka terhadap hal-hal kecil, seperti celana, kamar mandi, atau bagian tubuh manusia, yang dijadikan tema puisinya di tahun-tahun terakhir ini. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi. Pada puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Celana I, yang ditulis pada 1996, "Saya telah menemukan gaya dalam menulis puisi," katanya. Dengan penemuan itu ia makin bersemangat untuk terus berkarya.
Sulung dari lima bersaudara ini berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya guru sekolah dasar dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Sosok pemalu dan pendiam ini suka menulis sejak sekolah dasar di kota kelahirannya, Sukabumi. Karena orangtuanya tak punya cukup uang untuk membelikan kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya. Lulus SMP Joko melanjutkan ke SMA Mertoyudan, Magelang, dan di sana ia leluasa menyalurkan hobinya membaca, karena perpustakaan sekolah memiliki koleksi yang lengkap. Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya. Berkat beasiswa dari berbagai pihak, lulus SMA ia melanjutkan ke IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma), Yogyakarta, lulus 1987. Sempat mengajar beberapa tahun di almamaternya sebelum pindah bekerja sebagai editor di bank naskah kelompok Gramedia sampai sekarang.
Joko Pinurbo juga dikenal sebagai seniman yang aktif dalam berbagai diskusi dan pembacaan puisi di berbagai tempat ataupun forum. Misalnya festival puisi internasional Winternachten Overzee 2001 di Teater Utan Kayu, Jakarta. Pada Januari 2002, ia mengikuti perhelatan sastra di Belanda dan Jerman, antara lain dalam festival Sastra Winternachten di Den Haag. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak.
Menikah dengan Nurnaeni -- teman kuliahnya, yang kini guru SMP -- pada 1989, Joko kemudian menjadi ayah dua anak. "Saya selalu memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan keinginannya," ujarnya. Tapi, ia tidak menginginkan anak-anaknya jadi pengarang.
(www.pdat.co.id/hg/apasiapa/)
Penyair Bertubuh Tipis dengan Hasrat Besar
Seandainya saja Joko Pinurbo adalah sebuah balon yang penuh sesak dengan ego, tahun 2001 akan menjadi tahun yang melambungkannya ke angkasa ruang. Bayangkan, di tahun 2001 itu Joko meraup tiga penghargaan sekaligus: dari Dewan Kesenian Jakarta untuk kumpulan puisinya Di Bawah Kibaran Sarung, kemudian ia juga dinyatakan sebagai pemenang SIH Award (lembaga yang dimotori pelukis Jeihan) untuk trilogi puisi Celana, dan dari Yayasan Lontar, juga untuk Celana. "Terus terang, saya kaget," kata Joko.
Dia kaget karena pada dasarnya dia adalah sosok yang pemalu, pendiam, dan sederhana dengan ego yang luar biasa di bawah tanah. Itulah sebabnya, karena Joko Pinurbo-tak seperti seniman Indonesia umumnya yang sibuk dengan ego dengan ukuran XL-bukan sebuah balon, dia tak melayang ke angkasa ruang, tapi hanya terpana karena "tak menduga akan mendapat penghargaan Lontar". Maklum, menurut dia, kumpulan puisi Celana adalah, "buku puisi saya yang pertama dan merupakan buku puisi percobaan," tutur Joko dengan rendah hari.
Lahir di Sukabumi, 11 Mei 1962, sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Joko menulis sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Karena orang tuanya tak punya cukup uang untuk membelikannya kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya. Hobi membacanya hanya tersalur lewat koran bekas pembungkus yang dibawa ayahnya. Setelah duduk di bangku SMA Mertoyudan, kegemarannya membacanya bisa disalurkan dengan jauh lebih baik karena perpustakaan sekolahnya memiliki koleksi yang mengagumkan.
Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya. Akibatnya, rapornya jeblok. Sebagai penyair, Joko menjelajahi banyak tema. Namun, tahun-tahun terakhir, ia banyak menggeluti obyek keseharian seperti celana, kamar mandi, atau bagian dari tubuh manusia. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi (juga parodi), yang akhirnya jadi "merek dagangnya".
Apa sebetulnya alasan Joko memilih tema keseharian tersebut? "Saya orang yang kuper (kurang pergaulan) karena sejak kecil sakit-sakitan," kata Joko. Dari kesendiriannya itulah ia jadi makin peka dengan hal-hal kecil yang mungkin tak tak terlalu memancing minat penyair lainnya.
Lulusan IKIP Sanata Dharma Jurusan Pendidikan dan Sastra ini tak cuma menggeluti puisi. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak. Penyair yang juga aktif di Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar-didirikan mendiang Y.B. Mangunwijaya-ini memiliki hasrat untuk membentuk acara kesenian yang bisa menjadi jembatan dialog antarmasyarakat lewat kesenian.
Meski pemalu, lelaki bertubuh tipis karena digerus penyakit di masa kecilnya ini memiliki bahasa yang witty, yang cerdas tanpa pretensi. Beberapa tahun silam, dia mempresentasikan sebuah makalah tentang puisi di Indonesia di Teater Utan Kayu, dan menyatakan, "Begitu banyak puisi di dalam cerita pendek dan novel Indonesia yang jauh lebih baik dan puitis daripada di dalam 'puisi resmi'," demikian ia bertutur santai. Dan ucapan itu memancing tawa gemuruh.
Kini, meskipun sudah mengantongi tiga hadiah, ayah dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai editor bank naskah Grup Gramedia di Yogyakarta itu mengaku masih punya rasa "iri". Joko penasaran kenapa puisi tidak bisa menjaring puluhan ribu pembaca seperti novel Saman karya Ayu Utami, misalnya. "Ini tantangan buat saya," kata Joko, yang tahun 2002 ini akan menerbitkan kumpulan puisi Pacarkecilku.
(TEMPO, Edisi Akhir Tahun, 31 Desember 2001)
Joko Pinurbo
"Saya memerlukan kesendirian," kata penyair Joko Pinurbo. Kesendirian itu dibutuhkan untuk mengolah ide, yang datangnya sewaktu-waktu, menjadi bait-bait puisi. Di tahun 2001 lalu, puisi yang meluncur dari tangan Jokpin -- panggilan akrab Joko Pinurbo -- telah melambungkan namanya. Itu karena, pada tahun itu, ia menerima tiga penghargaan untuk buku puisi Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, dan trilogi puisi Celana.
Entah karena kesendirian itu atau oleh sebab lain, Jokpin menjadi peka terhadap hal-hal kecil, seperti celana, kamar mandi, atau bagian tubuh manusia, yang dijadikan tema puisinya di tahun-tahun terakhir ini. Semua diungkapkan dengan bahasa sederhana tapi tetap kaya imajinasi. Pada puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Celana I, yang ditulis pada 1996, "Saya telah menemukan gaya dalam menulis puisi," katanya. Dengan penemuan itu ia makin bersemangat untuk terus berkarya.
Sulung dari lima bersaudara ini berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya guru sekolah dasar dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Sosok pemalu dan pendiam ini suka menulis sejak sekolah dasar di kota kelahirannya, Sukabumi. Karena orangtuanya tak punya cukup uang untuk membelikan kertas, Joko menulis di awang-awang dengan jarinya. Lulus SMP Joko melanjutkan ke SMA Mertoyudan, Magelang, dan di sana ia leluasa menyalurkan hobinya membaca, karena perpustakaan sekolah memiliki koleksi yang lengkap. Tergelitik oleh buku-buku yang dibacanya, Joko keranjingan menulis di majalah dinding sekolahnya. Berkat beasiswa dari berbagai pihak, lulus SMA ia melanjutkan ke IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma), Yogyakarta, lulus 1987. Sempat mengajar beberapa tahun di almamaternya sebelum pindah bekerja sebagai editor di bank naskah kelompok Gramedia sampai sekarang.
Joko Pinurbo juga dikenal sebagai seniman yang aktif dalam berbagai diskusi dan pembacaan puisi di berbagai tempat ataupun forum. Misalnya festival puisi internasional Winternachten Overzee 2001 di Teater Utan Kayu, Jakarta. Pada Januari 2002, ia mengikuti perhelatan sastra di Belanda dan Jerman, antara lain dalam festival Sastra Winternachten di Den Haag. Bersama teman-temannya di Yogya, Joko menggerakkan Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwo, yang kegiatannya antara lain menggelar festival selawat, wayang kampung, ketoprak, dan dongeng anak-anak.
Menikah dengan Nurnaeni -- teman kuliahnya, yang kini guru SMP -- pada 1989, Joko kemudian menjadi ayah dua anak. "Saya selalu memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan keinginannya," ujarnya. Tapi, ia tidak menginginkan anak-anaknya jadi pengarang.
(www.pdat.co.id/hg/apasiapa/)
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Puisi yang Naratif, Prosa yang Puitis
(Kompas, Minggu, 2 April 2006)
F. Rahardi
Membaca penggalan novel dan puisi berikut ini, kalangan awam akan sulit membedakan mana puisi dan mana prosa. Tren sastra Indonesia mutakhir, puisi cenderung naratif, prosa makin puitis.
(1) Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu. Ia tersenyum. "Tak apa, kalau tak ada siang di sini," katanya. Aku segera meletakkan tas. Aku lihat matanya, sebuah pemandangan baru mendapatkan sinar. "Bisakah besok kamu jadi ibu rumah tangga," katanya.
(2) Aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah? Tetapi perempuan selalu disesah dengan lebih bergairah. Ke manakah pria yang bersetubuh dengan wanita yang dibawa orang-orang Farisi untuk dilempari batu di luar gerbang Yerusalem? Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu dihukum. Tetapi kamu sungguh cantik, seperti dinyanyikan Kidung Raja Salomo.
Membaca kutipan pertama, asosiasi pembaca awam lebih tertuju ke prosa. Bisa penggalan cerpen, bisa potongan novel. Sebaliknya, kutipan berikutnya lebih layak disebut puisi. Padahal kutipan pertama adalah puisi (Afrizal Malna, Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga 1997). Kutipan kedua adalah Novel (Ayu Utami, Saman 1998). Afrizal dan Ayu kemudian diikuti oleh generasi penyair, cerpenis, dan novelis yang lebih muda.
Kecenderungan purba
Selalu ada kecenderungan prosa menjadi puitis, sementara puisi mencair menjadi bernarasi. Kecenderungan inilah yang melahirkan epik (epos) dan prosa lirik. Karya sastra besar seperti Mahabharata menggunakan bentuk epos. Meskipun saduran paling awal, yang dilakukan para pujangga Jawa terhadap karya ini, justru mengambil bentuk prosa (parwa). Baru kemudian, karya ini disadur dalam bentuk puisi (kakawin).
Prosa memang sudah dibedakan dengan puisi sejak era sastra purba. Prosa digunakan untuk menuliskan kisah raja, dongeng binatang cerita kepahlawanan. Puisi difungsikan sebagai doa dan mantra. Puisi purba adalah alat komunikasi untuk menyampaikan perasaan kolektif kepada satu individu. Komunitas itu bisa berupa suku atau kumpulan keluarga. Individunya bisa Tuhan, dewa, atau roh nenek moyang.
Puisi modern kebalikan dari puisi purba. Ia merupakan sarana menyampaikan perasaan individu (penyair) kepada komunitas yang lebih luas, terutama publik sastra. Puisi purba maupun modern sama-sama bersifat individual. Dalam arti, puisi purba individual sesuai individu Tuhan, dewa atau roh yang dituju oleh doa atau mantra tersebut. Misalnya, mantra untuk dewa hujan, doa bagi roh penunggu gunung. Puisi modern juga bersifat individual, tergantung dari individu penyairnya.
Baik prosa maupun puisi purba bersifat kolektif dan anonim. Perubahan prosa menjadi puitis dan puisi menjadi naratif juga berlangsung secara kolektif, baik lisan maupun tertulis, melalui proses puluhan bahkan ratusan tahun. Hingga dari proses prosa yang puitis dan puisi yang bernarasi itu, terciptalah epos dan prosa lirik. Proses demikian, dalam sastra Indonesia mutakhir berlangsung secara individual dengan rentang waktu sangat pendek.
Khitah puisi
Puisi adalah medium untuk mengungkap perasaan, bukan pikiran, dan tidak mungkin disampaikan melalui prosa. Perasaan takut, berharap, pasrah, bersyukur dari masyarakat purba hanya bisa terungkap lewat puisi berupa doa dan mantra. Bukan prosa. Dalam kehidupan modern, perasaan penyair juga hanya bisa disampaikan melalui medium puisi. Bukan cerita pendek, novel, roman, maupun tulisan nonfiksi (artikel, opini, kolom, dan esai).
Itulah sebabnya secara konvensional, puisi yang dianggap baik adalah yang tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair. Perasaan galau dan kesepian Chairil Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil, Untuk Sri Ajati sangat kuat dan masih bisa dirasakan oleh publik sastra sekarang. Kekuatan itu muncul justru karena puisi tadi tidak terlalu dibebani pesan dan pikiran si penyair, yang biasanya sangat kontekstual.
Barangkali itulah yang disebut sebagai "khitah puisi". Rintisan genre puisi modern Indonesia yang dipelopori Amir Hamzah dan Chairil Anwar telah melahirkan penyair-penyair hebat, misalnya Sitor Situmorang, Ramadhan KH, Soebagio Sastro Wardojo, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi, khitah puisi yang dikembalikan Chairil Anwar akhirnya juga sampai pada titik buntu. Puisi menjadi naratif tetapi dangkal.
Puncak dari pendangkalan puisi terjadi pada awal tahun 1970-an. Para epigon Goenawan dan Sapardi telah terjebak dalam genre "puisi gelap". Puisi yang asal panjang dan asal sulit dipahami. Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG malah sekalian menjadi prosa lirik. Kebuntuan inilah yang pernah melahirkan peristiwa "Pengadilan Puisi" untuk mengembalikan puisi pada khitahnya. Lahirlah genre "puisi mbeling" yang dimotori Remy Silado dan mengkristal dalam sosok Sutardji Calzoum Bachri.
Kunang-kunang Kayam
Upaya Sutardji mengembalikan puisi pada khitahnya cukup berhasil. Lahirlah sosok penyair kuat seperti Afrizal Malna dan Joko Pinurbo. Puisi mereka memang naratif, tetapi rasa puitiknya masih terjaga dengan baik. Generasi penyair naratif selanjutnya, kualitas puisinya banyak yang mirip dengan genre puisi gelap tahun 1970-an. Para pengikut Afrizal dan Jokpin ini mengira bahwa puisi yang baik adalah yang bernarasi dan temanya aneh-aneh.
Bersamaan dengan itu, dalam khazanah prosa lahirlah genre Ayu Utami. Prosa yang puitis secara sporadis sebenarnya pernah muncul jauh sebelumnya, misalnya pada Seribu Kunang-kunang dari Manhattan (Umar Khayam). Cerpen ini tidak ada plotnya, setting-nya tunggal, dan tokohnya juga tidak penting. Tetapi kekuatannya luar biasa, justru karena Khayam mampu menangkap suasana kesia-siaan manusia di tengah modernitas New York yang hiruk-pikuk.
Generasi berikutnya ada Beni Setia. Suasana cerpen Beni yang puitis telah mengalahkan tokoh, plot, dan setting-nya. Sayang, setelah menyepi di Madiun, dia seperti berhenti menulis. Puitisasi prosa inilah yang oleh Ayu Utami dicoba dieksploitasi habis- habisan dalam Saman. Meskipun dalam Larung, upaya Ayu kurang berhasil. Seperti biasa, tren ini kemudian diikuti ramai-ramai oleh cerpenis dan novelis yang lebih muda. Puncaknya adalah booming teenlit dan chicklit awal tahun 2000-an yang sekarang sudah mulai mereda.
Eksploitasi linguistik berupa puitisasi prosa, sesuatu yang sehat. Risikonya, kekuatan karakter tokoh terabaikan. Ini ibarat pelukis Amri Yahya yang melulu mengeksploitasi tekstur dalam lukisannya. Garis, bidang, dan warna sebagai komponen pokok seni lukis konvensional telah diabaikannya. Generasi perupa yang lebih muda kemudian melakukan eksplorasi lebih jauh berupa seni grafis dan instalasi. Sastra instalasi tentu sulit direalisasi sebaik dalam seni rupa.
F. Rahardi, Penyair dan Wartawan
F. Rahardi
Membaca penggalan novel dan puisi berikut ini, kalangan awam akan sulit membedakan mana puisi dan mana prosa. Tren sastra Indonesia mutakhir, puisi cenderung naratif, prosa makin puitis.
(1) Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu. Ia tersenyum. "Tak apa, kalau tak ada siang di sini," katanya. Aku segera meletakkan tas. Aku lihat matanya, sebuah pemandangan baru mendapatkan sinar. "Bisakah besok kamu jadi ibu rumah tangga," katanya.
(2) Aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah? Tetapi perempuan selalu disesah dengan lebih bergairah. Ke manakah pria yang bersetubuh dengan wanita yang dibawa orang-orang Farisi untuk dilempari batu di luar gerbang Yerusalem? Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu dihukum. Tetapi kamu sungguh cantik, seperti dinyanyikan Kidung Raja Salomo.
Membaca kutipan pertama, asosiasi pembaca awam lebih tertuju ke prosa. Bisa penggalan cerpen, bisa potongan novel. Sebaliknya, kutipan berikutnya lebih layak disebut puisi. Padahal kutipan pertama adalah puisi (Afrizal Malna, Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga 1997). Kutipan kedua adalah Novel (Ayu Utami, Saman 1998). Afrizal dan Ayu kemudian diikuti oleh generasi penyair, cerpenis, dan novelis yang lebih muda.
Kecenderungan purba
Selalu ada kecenderungan prosa menjadi puitis, sementara puisi mencair menjadi bernarasi. Kecenderungan inilah yang melahirkan epik (epos) dan prosa lirik. Karya sastra besar seperti Mahabharata menggunakan bentuk epos. Meskipun saduran paling awal, yang dilakukan para pujangga Jawa terhadap karya ini, justru mengambil bentuk prosa (parwa). Baru kemudian, karya ini disadur dalam bentuk puisi (kakawin).
Prosa memang sudah dibedakan dengan puisi sejak era sastra purba. Prosa digunakan untuk menuliskan kisah raja, dongeng binatang cerita kepahlawanan. Puisi difungsikan sebagai doa dan mantra. Puisi purba adalah alat komunikasi untuk menyampaikan perasaan kolektif kepada satu individu. Komunitas itu bisa berupa suku atau kumpulan keluarga. Individunya bisa Tuhan, dewa, atau roh nenek moyang.
Puisi modern kebalikan dari puisi purba. Ia merupakan sarana menyampaikan perasaan individu (penyair) kepada komunitas yang lebih luas, terutama publik sastra. Puisi purba maupun modern sama-sama bersifat individual. Dalam arti, puisi purba individual sesuai individu Tuhan, dewa atau roh yang dituju oleh doa atau mantra tersebut. Misalnya, mantra untuk dewa hujan, doa bagi roh penunggu gunung. Puisi modern juga bersifat individual, tergantung dari individu penyairnya.
Baik prosa maupun puisi purba bersifat kolektif dan anonim. Perubahan prosa menjadi puitis dan puisi menjadi naratif juga berlangsung secara kolektif, baik lisan maupun tertulis, melalui proses puluhan bahkan ratusan tahun. Hingga dari proses prosa yang puitis dan puisi yang bernarasi itu, terciptalah epos dan prosa lirik. Proses demikian, dalam sastra Indonesia mutakhir berlangsung secara individual dengan rentang waktu sangat pendek.
Khitah puisi
Puisi adalah medium untuk mengungkap perasaan, bukan pikiran, dan tidak mungkin disampaikan melalui prosa. Perasaan takut, berharap, pasrah, bersyukur dari masyarakat purba hanya bisa terungkap lewat puisi berupa doa dan mantra. Bukan prosa. Dalam kehidupan modern, perasaan penyair juga hanya bisa disampaikan melalui medium puisi. Bukan cerita pendek, novel, roman, maupun tulisan nonfiksi (artikel, opini, kolom, dan esai).
Itulah sebabnya secara konvensional, puisi yang dianggap baik adalah yang tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair. Perasaan galau dan kesepian Chairil Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil, Untuk Sri Ajati sangat kuat dan masih bisa dirasakan oleh publik sastra sekarang. Kekuatan itu muncul justru karena puisi tadi tidak terlalu dibebani pesan dan pikiran si penyair, yang biasanya sangat kontekstual.
Barangkali itulah yang disebut sebagai "khitah puisi". Rintisan genre puisi modern Indonesia yang dipelopori Amir Hamzah dan Chairil Anwar telah melahirkan penyair-penyair hebat, misalnya Sitor Situmorang, Ramadhan KH, Soebagio Sastro Wardojo, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi, khitah puisi yang dikembalikan Chairil Anwar akhirnya juga sampai pada titik buntu. Puisi menjadi naratif tetapi dangkal.
Puncak dari pendangkalan puisi terjadi pada awal tahun 1970-an. Para epigon Goenawan dan Sapardi telah terjebak dalam genre "puisi gelap". Puisi yang asal panjang dan asal sulit dipahami. Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG malah sekalian menjadi prosa lirik. Kebuntuan inilah yang pernah melahirkan peristiwa "Pengadilan Puisi" untuk mengembalikan puisi pada khitahnya. Lahirlah genre "puisi mbeling" yang dimotori Remy Silado dan mengkristal dalam sosok Sutardji Calzoum Bachri.
Kunang-kunang Kayam
Upaya Sutardji mengembalikan puisi pada khitahnya cukup berhasil. Lahirlah sosok penyair kuat seperti Afrizal Malna dan Joko Pinurbo. Puisi mereka memang naratif, tetapi rasa puitiknya masih terjaga dengan baik. Generasi penyair naratif selanjutnya, kualitas puisinya banyak yang mirip dengan genre puisi gelap tahun 1970-an. Para pengikut Afrizal dan Jokpin ini mengira bahwa puisi yang baik adalah yang bernarasi dan temanya aneh-aneh.
Bersamaan dengan itu, dalam khazanah prosa lahirlah genre Ayu Utami. Prosa yang puitis secara sporadis sebenarnya pernah muncul jauh sebelumnya, misalnya pada Seribu Kunang-kunang dari Manhattan (Umar Khayam). Cerpen ini tidak ada plotnya, setting-nya tunggal, dan tokohnya juga tidak penting. Tetapi kekuatannya luar biasa, justru karena Khayam mampu menangkap suasana kesia-siaan manusia di tengah modernitas New York yang hiruk-pikuk.
Generasi berikutnya ada Beni Setia. Suasana cerpen Beni yang puitis telah mengalahkan tokoh, plot, dan setting-nya. Sayang, setelah menyepi di Madiun, dia seperti berhenti menulis. Puitisasi prosa inilah yang oleh Ayu Utami dicoba dieksploitasi habis- habisan dalam Saman. Meskipun dalam Larung, upaya Ayu kurang berhasil. Seperti biasa, tren ini kemudian diikuti ramai-ramai oleh cerpenis dan novelis yang lebih muda. Puncaknya adalah booming teenlit dan chicklit awal tahun 2000-an yang sekarang sudah mulai mereda.
Eksploitasi linguistik berupa puitisasi prosa, sesuatu yang sehat. Risikonya, kekuatan karakter tokoh terabaikan. Ini ibarat pelukis Amri Yahya yang melulu mengeksploitasi tekstur dalam lukisannya. Garis, bidang, dan warna sebagai komponen pokok seni lukis konvensional telah diabaikannya. Generasi perupa yang lebih muda kemudian melakukan eksplorasi lebih jauh berupa seni grafis dan instalasi. Sastra instalasi tentu sulit direalisasi sebaik dalam seni rupa.
F. Rahardi, Penyair dan Wartawan
:: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi -
Joko Pinurbo
Langganan:
Postingan (Atom)